
Melihat Agahai tinggal seorang diri, Guo Yun menoleh kearah Zhang Yi, Ling Tong dan Zhou Tai.
"Kalian bertiga pimpin mereka masuk kedalam, undang Panglima Meng Thian kemari.."
"Seorang diri saja, tak perlu bawa siapa siapa, katakan saja aku dan Agahai menantinya di sini.."
"Dia akan otomatis mengerti sendiri.."
"Selain itu, tolong sisa tawanan juga lepaskan semua, biarkan mereka bebas kemari.."
ucap Guo Yun berpesan pada ketiga ajudan nya itu.
Mereka bertiga mengangguk cepat, lalu mereka memimpin sisa pasukan harimau hitam, bergerak masuk kedalam celah tebing.
Tak lama kepergian mereka, panglima Meng Thian terlihat keluar dari celah tebing, sambil menunggang kuda nya.
Di belakangnya mengikuti rombongan kereta kuda, tawanan keluarga istana yang menjadi tawanan pasukan harimau hitam.
Melihat kedatangan Meng Thian, Guo Yun melompat turun dari punggung tunggangannya.
Dia memberi hormat kearah Meng Thian dan berkata,
"Salam hormat Panglima Meng.."
Meng Thian sambil tersenyum lebar, melompat turun dari kudanya.
Dia terlihat berjalan kaki menghampiri Guo Yun dengan langkah lebar.
"Saudara Yun,.. bagaimana keadaan mu..?"
tanya Meng Thian sambil membalas memberi hormat.
"Terimakasih perhatian nya panglima Meng, keadaan ku sangat baik.."
"Panglima Meng, untuk menghemat waktu, aku tidak akan berpanjang lebar, langsung saja.."
"Tujuan aku dan Raja Agahai mengundang panglima Meng kemari, adalah untuk membahas kesepakatan gencatan senjata antara Qin dan Xiongnu.."
ucap Guo Yun sambil menatap panglima Meng Thian dengan serius.
Meng Thian mengangguk dan berkata,
"Silahkan lanjutkan saudara Yun, aku siap mendengar nya.."
Guo Yun mengangguk, lalu melanjutkan berkata,
"Aku di sini hanya penengahnya saja, Panglima Meng dan Raja Agahai lah, yang punya wewenang menandatangani kesepakatan ini.."
"Kesepakatan ini isi nya adalah sebagai berikut.."
"Gencatan senjata selama 3 tahun tidak saling menganggu, siapapun yang bergerak menganggu, perjanjian otomatis batal.."
"He Xi menjadi milik kerajaan Xiongnu, sedangkan Yi Qu menjadi hak kerajaan Qin."
"Sebagai tambahan, aku telah mengembalikan tawanan dan perbekalan rampasan, untuk di kembalikan ke pihak kerajaan Xiongnu.."
Sedangkan Pihak Raja Agahai, dia telah menarik mundur seluruh pasukannya, menunggu di balik hutan sana.."
"Itulah isi perjanjiannya dan situasi saat ini, bagaimana menurut Panglima Meng..?"
ucap Guo Yun sambil menunggu respon dari Meng Thian.
Panglima Meng Thian mengangguk puas, dia tentu saja sangat setuju.
__ADS_1
Ini adalah perjanjian kesepakatan yang sangat menguntungkan.
Di mana pihak mereka yang kalah jumlah pasukan.
Bisa mendapatkan wilayah Yi Qu, sekaligus punya waktu bernafas lega selama 3 tahun.
Tanpa perlu mengkhawatirkan gangguan Xiongnu.
Sehingga Qin punya waktu untuk fokus menghadapi Chu Wei dan Zhao.
Bila sudah bisa mempersatukan seluruh China dalam 3 tahun, maka saat itu menghadapi Xiongnu sudah bukan masalah lagi..
Pikir Meng Thian dalam hati.
Dalam hal ini Meng Thian semakin kagum dan respek dengan kemampuan Guo Yun.
Prediksi perdana menteri Lu Bu Wei sangat tepat, Guo Yun memang sangat bisa di andalkan.
Dengan wajah gembira, panglima Meng Thian mengulurkan tangannya kearah Agahai, untuk berjabat tangan menyetujui perjanjian.
Agahai yang masih tetap duduk diatas punggung kuda, tidak bersedia turun dari sana.
Dia menyambut uluran tangan Meng Thian, dari atas punggung kudanya.
"Baiklah bila masing masing sudah sepakat, kita bisa buat kesepakatannya sekarang."
"Agar bisa segera di tandatangani dan di sahkan dengan stempel kekuasaan masing masing.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum.
Kedua orang itu sama sama mengangguk setuju.
Guo Yun menatap kearah Meng Thian dan berkata,
Meng Thian tertawa dan berkata,
"Aku orang kasar tidak pandai membuat surat menyurat, lebih baik aku siapkan alatnya."
"Saudara Yun yang bantu buatkan untuk kami.."
Guo Yun mengangguk dan berkata,
"Itu juga boleh, bukan masalah.."
Meng Thian memberi hormat ke Guo Yun dan Agahai, lalu berkata.
"Harap tunggu sebentar, aku pergi mempersiapkan segala sesuatunya sebentar.."
Setelah berkata, Meng Thian langsung melompat keatas punggung kudanya.
Lalu dia memacu kudanya menghilang ke balik tebing.
Beberapa waktu kemudian, dia sudah kembali dengan seorang prajurit, yang membawa segala perlengkapan dan keperluan, yang di perlukan untuk membuat surat perjanjian.
Prajurit itu dengan sigap menata meja dan peralatan tulis diatas meja kecil itu.
Guo Yun pun mengambil posisi menghadap meja, dia mulai menulis dengan tulisannya yang bergaya indah dan kuat.
Sebagai lulusan Mo Zi Su Yuan dan pernah mendapatkan didikan dari Fan Li langsung.
Di mana Fan Li adalah seorang perdana menteri yang memilki silat dan sastra tinggi.
Maka tidak heran, Guo Yun memilki pendidikan sastra yang cukup memuaskan.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan draft perjanjiannya, Guo Yun menoleh kearah Agahai dan Meng Thian secara bergantian.
Lalu berkata,
"Silahkan Raja Agahai dan Panglima Meng membacanya, bila ada yang kurang sesuai.."
"Guo Yun akan bantu memperbaikinya.."
Agahai sekali ini melompat turun dari punggung kuda nya, dia membacanya sekilas.
Lalu membubuhkan cap jempol dan stempel ayahnya di atas kertas perjanjian tersebut.
Setelah itu dia mundur naik kembali keatas punggung kudanya.
Panglima Meng Thian bergantian membacanya sejenak, lalu dia juga membubuhkan tanda tangan dan stempel militernya di sana.
Guo lalu maju menjemput surat perjanjian tersebut dan berkata,
"Siapa yang ingin menyimpan surat perjanjian ini.."
Agahai langsung berkata,
"Kalian simpan saja, aku tidak membutuhkannya.."
"Sampai jumpa.."
"Hieeehh,..!"
"Ciaaa..!"
Agahai menarik tali kekang kudanya, lalu memacu kudanya meninggalkan tempat tersebut.
Dia harus menahan diri dan menahan sabar, didepan lawan lawan yang tidak boleh di sentuh nya saat ini.
Bila terlalu lama di sana, Agahai takut dia tidak bisa menahan diri, untuk menyerang Guo Yun musuh besarnya itu.
Selama pembicaraan berlangsung, baik dirinya maupun Guo Yun, mereka masing masing sadar.
Mereka sedang memainkan sandiwara, di balik senyum tersimpan pisau pembunuh.
Mereka bukan tersenyum tulus seperti sahabat dan teman baik
Hubungan mereka adalah hubungan keterpaksaan, dengan perhitungan untung rugi, masing masing pihak.
Begitu Agahai meninggalkan tempat itu, rombongan pasukan besar di bawah pimpinan Temusa Hanif dan Hasan, segera bergerak mengikutinya dari belakang.
Rombongan keluarga istana dan kereta perbekalan juga bergerak di antara rombongan itu, ikut meninggalkan tempat tersebut.
Guo Yun menyerahkan gulungan surat perjanjian kepada Meng Thian dan berkata,
"Panglima situasi di sini sudah selesai, besok pagi kami akan langsung kembali ke Xian Yang.."
"Apa rencana panglima sendiri..?"
tanya Guo Yun sambil menuntun kudanya.
Meng Thian menatap Guo Yun dan berkata,
"Terimakasih banyak saudara Yun, kalau begitu mungkin kita akan berselisih jalan."
"Aku mungkin butuh tiga Minggu lagi disini."
"Setelah mengatur segala sesuatu di kota Yong dan Yi Qu wilayah baru kami.."
__ADS_1
"Aku baru bisa kembali ke Xian Yang."