
Pangeran Dan menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Terimakasih atas niat baik mu, tapi aku rasa itu akan percuma.."
"Setiap kerajaan punya kepentingan nya sendiri sendiri, akan sangat sulit di dipersatukan.."
"Contoh terbaik bukan kah kerajaan Zhao, menteri pertahanan Li Mu sudah meminta dukungan dari Wu Yue.!"
"Tapi hasilnya tidak ada bedanya, mereka tetap saja di tahlukkan Qin."
"Satu satunya masalah di sini adalah tidak ada kekompakan."
"Bila saat Zhao di serang, kita semua turun tangan membantunya, tidak bersikap ego."
"Pasti hasilnya akan sangat berbeda."
"Taruhlah Wu Yue bersedia membantu kita, tapi kerajaan lain diam menjadi penonton."
"Maka kerjasama ini hanya akan membawa kerugian buat kita dan Wu Yue.."
Lagipula kamu lihat, kita di ujung timur, sedangkan Wu Yue di ujung selatan letaknya.
Saat pasukan Qin kemari, lalu Wu Yue mengirim bala bantuannya kemari.."
"Bila Qin tiba tiba menyerang mereka dari Shoucun, kira kira apa yang akan terjadi..?"
ucap pangeran Dan mengemukakan jalan pemikirannya.
"Ching Ke jadi terdiam, tidak mampu berkata kata lagi."
Ching Ke akhirnya menghela nafas panjang dan berkata,
"Sayangnya saudara seperguruan ku Guo Yun sudah tiada.."
"Bila tidak, aku pasti akan pergi mengundangnya, untuk datang membantu di sini.."
"Dia pasti akan mampu membawa kita menuju kemenangan."
ucap Ching Ke sedikit menyesal.
Pangeran Dan tersenyum pahit, lalu melanjutkan minum, melepaskan rasa kecewa dan ketidak berdayaan nya.
"Lalu pangeran Dan punya rencana apa ?"
tanya Ching Ke, sambil menatap sahabat karibnya dengan penuh simpati.
Pangeran Dan menatap kearah Ching Ke dan berkata,
"Satu satunya cara adalah membunuh Ying Zheng, agar tercipta kekacauan di dalam internal Qin.."
"Hanya dengan cara ini, kita bisa menimbulkan kekacauan di internal tubuh Qin."
"Hal ini bisa membantu kita terhindar dari serangan Qin, yang sedang dalam perjalanan menuju kemari."
Ching Ke tiba tiba berlutut memberi hormat dan berkata,
"Paduka, bila paduka percaya dengan hamba.."
"Berikan lah misi ini kepada hamba, biar hamba yang akan pergi mencobanya.."
__ADS_1
ucap Ching Ke sambil menatap kearah sahabatnya dengan tulus.
Pangeran Dan buru buru membangunkan sahabatnya dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak sahabat ku, ini adalah misi berbahaya yang sama dengan bunuh diri."
"Bagaimana aku bisa tega mengirim mu kesana.."
"Tidak aku tidak bisa.."
ucap pangeran Dan sambil membalikkan badannya memunggungi Ching Ke.
Ching Ke menghela nafas panjang dan berkata,
"Paduka bila paduka menganggap ku sebagai sahabat, seharusnya misi ini berikan ke saya.."
"Kecuali bila paduka meragukan kesetiaan, kemampuan dan keberanian sahabat mu ini.."
"Maka aku juga tidak punya muka untuk terus menjadi sahabat mu, yang makan tidur nikmati kemewahan gratis di tempat mu.."
Pangeran Dan langsung membalikkan badannya, memegang tangan Ching Ke dengan erat dan berkata,
"Tidak sahabat ku, aku sangat menghargai persahabatan kita.."
"Makanya aku menolaknya, bukan aku tidak mempercayai mu.."
"Mengenai semua fasilitas ini, aku memang memberikan nya, secara tulus tanpa pamrih.."
"Karena aku sangat mengagumi kemampuan mu dalam hal seni beladiri.."
ucap Pangeran Dan sambil tetap memegang tangan sahabat nya, dia menatap mata Ching Ke dengan penuh haru.
Dia tidak berkata-kata, hanya menganggukkan kepalanya, saling tatap dan saling tersenyum penuh haru.
Mereka berdua tidak berkata kata, tapi masing masing saling memahami isi hati masing-masing.
Keesokan harinya setelah melakukan perundingan serius dengan pangeran Dan.
Ching Ke selanjutnya mendatangi kediaman Jendral pembelot Qin yang bernama Fan Wu Ji.
Fan Wu Ji sendiri adalah seorang Jendral Qin yang melarikan diri ke negara Yan.
Karena tidak sepaham dengan Ying Zheng dan Lu Bu Wei.
Seluruh keluarga nya, di bantai oleh Ying Zheng, makanya dia menaruh dendam besar terhadap Ying Zheng.
Fan Wu Ji menyambut baik kedatangan Ching Ke, sebagai sesama orang dunia persilatan yang memilki kemampuan bela diri.
Mereka begitu bertemu langsung akrab, setelah makan minum bersama dan membahas teori teori ilmu bela diri.
Akhirnya Ching Ke mengemukakan maksud kedatangannya,
"Jendral Fan seperti anda, aku juga menginginkan kematian Ying Zheng.."
"Tapi demi untuk memuluskan maksud tujuan ku, agar bisa mendekati Ying Zheng."
"Aku memerlukan alat untuk rencana itu, alat pertama adalah peta wilayah Du Kang yang akan aku persembahkan kepada Ying Zheng.."
"Karena wilayah ini, adalah wilayah yang paling diinginkan oleh Ying Zheng selama ini.."
__ADS_1
"Sedangkan alat kedua adalah kepala anda jendral Fan.."
ucap Ching Ke menjelaskan dengan detail. dan jujur.
Fan Wu Ji tertawa dan berkata,
"Bila dengan kepala ku, bisa di tukar dengan dendam keluarga ku yang terbalaskan, kurasa ini adalah transaksi yang sangat pantas.."
"Tapi sebelum aku menyetujuinya, sebaiknya kita lakukan satu pertandingan persahabatan.."
"Agar aku yakin, kamu adalah orang yang cukup berkompeten untuk menjalankan misi ini.."
ucap Fan Wu Ji jujur.
Ching Ke tersenyum dan berkata,
"Baik aku setuju, ini adalah permintaan yang sangat pantas.."
"Mari kita mulai saja.."
ucap Ching Ke, sambil melayang mundur kearah halaman terbuka di dekat tempat mereka berdua makan minum dengan suasana santai.
"Singggg,..!"
Ching Ke mencabut pedang dari sarungnya, bersiap menghadapi Fan Wu Ji dalam pertandingan persahabatan saling menguji kemampuan masing-masing.
Fan Wu Ji sendiri memegang sebatang tombak panjang, yang terbungkus dalam kain, tergulung dengan rapi.
Karena dia sudah pensiun, tombak yang sudah mengikutinya selama ini juga ikut pensiun.
Dia menyimpan nya dalam gulungan kain yang terbungkus rapi.
Begitu Fan Wu Ji menghentakkan energinya, kain pembungkus itu langsung meledak hancur berkeping-keping.
Memunculkan sebatang tombak baja putih yang berkilauan tertimpa cahaya matahari pagi.
Sesaat kemudian Ching Ke dan Fan Wu Ji, susah sama sama terbang ringan kedepan saling serang dengan senjata andalan mereka masing-masing.
"Tranggg,..Trangggg ,.Trangggg ,!"
Pedang dan mata tombak saling beradu meninggalkan bunga api berpijar pijar.
Masing masing saling bergantian menyerang dan menghindar dari serangan lawan.
Dalam pertandingan penjajakan awal mereka berdua cukup imbang.
Belum terlihat siapa unggul siapa kalah.
Baru pada saat masing masing mulai mengeluarkan jurus andalan mereka.
Di mana Ching Ke terlihat menggerakkan pedangnya mendatangkan angin menderu deru mengikuti tarikan pedang ditangannya.
Sedangkan Fan Wu Ji juga memutar tombak di tangan nya, membentuk gulungan sinar putih siap menyambut serangan pedang Ching Ke.
Gulungan sinar putih itu setelah mendekati Ching Ke, berubah menjadi puluhan bayangan mata tombak yang datang menusuk kearah seluruh tubuh Ching Ke.
Ching Ke dengan gerakan ringan melangkah terbang mundur, lalu membelah diri menjadi delapan bayangan.
Lalu dia muncul dari delapan arah menyerang Fan Wu Ji dengan bayangan pedang nya
__ADS_1