
Sementara Liu Qin Lung melarikan diri membawa Xiang Yu.
Kwa Tin Siong tidak ambil perduli dengan hal itu, dia juga tidak perduli Li Si memerintahkan pasukannya bergerak menyerang Shoucun.
Dia justru melayang pergi kearah rombongan pasukan harimau hitam yang semuanya mengenakan pakaian berkabung.
Begitu Kwa Tin Siong bergerak, keempat gadis yang selalu mendampinginya pun ikut bergerak menyusulnya.
Kedatangan Kwa Tin Siong langsung di sambut oleh Jendral Fu, Jendral Han Wei dan Jendral Ying Wu.
Mereka bertiga yang memimpin di barisan terdepan.
Rombongan kedua di isi oleh rombongan kereta kuda, yang di pimpin oleh Gongsun Li dan Si Si langsung.
Di sana ada dua kereta kuda, yang di hiasi dengan kain putih dan lampion putih tanda duka cita.
Satu ditempati oleh Min Min dan anak anak, yang lainnya ditempati oleh peti jenazah Guo Yun.
Kwa Tin Siong yang memiliki mata tajam, begitu tiba di sana.
Dia langsung bisa melihat hingga ke rombongan kedua, di mana Gongsun Li dan Si Si berada.
Sepasang matanya langsung berkilat gembira, begitu melihat kecantikan kedua istri Guo Yun.
"Kalian bertiga minggirlah bila sayang nyawa.."
Ucap Kwa Tin Siong sambil tersenyum mengejek.
Mulutnya berbicara dengan Jendral Fu, Jendral Ying Wu dan Jendral Han Wei.
Tapi matanya justru tidak berhenti dan terus menatap kearah Gongsun Li dan Si Si.
Jendral Fu Jendral Ying Wu, Jendral Han Wei bukan tidak menyadari sikap Kwa Tin Siong yang sangat meremehkan mereka.
Tapi dari cara kedatangan Kwa Tin Siong barusan mereka menyadari Kwa Tin Siong ini bukan orang sembarangan.
Jadi sambil menahan emosi Jendral Ying Wu berkata,
"Senior harap tidak menganggu perjalanan kami yang sedang dalam duka cita.."
"Itu bukan urusan ku.."
"Pilihan kalian adalah minggir atau mati.."
Ucap Kwa Tin Siong kembali dengan sikapnya yang memandang rendah.
"Cukup kamu manusia cabul..!"
"Jangan berani macam macam di hadapan kami..!"
Bentak Jendral Fu marah.
Tapi belum sempat dia berbicara lebih banyak.
Terdengar suara nyaring,
"Plakkkk..!"
"Plakkkk..!"
Jendral Fu langsung terjatuh dari atas punggung tunggangan nya.
Melihat yang di alami oleh rekan mereka Jendral Han Wei langsung hendak mencabut senjatanya.
Tapi Pedang yang ingin di cabut oleh Han Wei, justru tidak bisa tercabut keluar dari dalam sarungnya.
Karena Pedang Jendral Han Wei, ujung gagang pedang nya, justru dalam posisi tertahan oleh tangan Kwa Tin Siong.
Sebelum Jendral Han Wei sempat berbuat sesuatu, lagi lagi kembali terdengar suara tamparan keras dua kali mendarat di wajah Jendral Han Wei.
__ADS_1
"Plakkkk..!" Plakkkk..!"
"Brukkkk...!"
Jendral Han Wei menyusul Jendral Fu yang sudah terlebih dahulu terbanting dari punggung tunggangan mereka.
Beruntung saat serangan ketiga Kwa Tin Siong hampir menyentuh wajah Jendral Ying Wu.
Sebuah selendang merah tiba tiba muncul menghalau serangan Kwa Tin Siong.
"Plakkkk..!"
"Plakkkk..!"
Jendral Ying Wu selamat, tapi kain selendang yang bertemu dengan tangan Kwa Tin Siong terlihat hancur berkeping-keping, beterbangan di udara.
Pemilik kain selendang itu segera menarik pulang sisa kain selendangnya.
"Boneka cantik ku.."
"Ternyata ilmu silat mu boleh juga.."
"Menarik..ini semakin menarik saja.."
Ucap Kwa Tin Siong sambil tersenyum lembar, menunjukkan sederet giginya yang putih bersih.
Pemilik selendang itu bukan lain adalah Gongsun Li, Gongsun Li saat melihat kejadian di barisan depan.
Dia segera bergerak kedepan sana, meninggalkan ke Si Si, untuk mengurus barisan rombangan kedua.
Si Si menyadari kemampuannya, dia tidak ikut maju kedepan sana.
Melainkan bergerak menghampiri kereta Guo Yun.
Si Si masuk kedalam kereta seorang diri.
Di barisan depan sana, Gongsun Li membalas menatap kearah Kwa Tin Siong dengan wajah dingin.
"Itu bukan urusan mu.."
"Minggirlah.."
"Kuda baik tidak menutupi jalan.."
"Ha..ha..ha..ha..!"
"Semakin menarik,..semakin menarik.. yang ini aku suka.."
"Dingin di luar membara di dalam bagus bagus.."
"Kalian berempat cepat ringkus dia.."
Ucap Kwa Tin Siong memberi perintah.
"Siap Cu Kung,.."
Jawab Keempat gadis berbaju putih itu cepat.
"Sringggg..! Sringggg..!
"Sringggg..! Sringggg..!"
Keempat gadis itu begitu mencabut pedang, mereka langsung terbang menyerang kearah Gongsun Li.
"Cuiiitt..Ciiiit....Ciiiit.."
"Cuiiitt..Ciiiit....Ciiiit.."
"Cuiiitt..Ciiiit....Ciiiit.."
__ADS_1
"Cuiiitt..Ciiiit....Ciiiit.."
Begitu keempat gadis itu, mulai bergerak mengepung dan melepaskan serangan mereka.
Pedang mereka berubah menjadi puluhan bayangan bercuitan di udara semuanya di arahkan ke Gongsun Li.
Kwa Tin Siong begitu melihat pergerakan bawahannya.
Dia buru buru mengingatkan nya.
"Tangkap hidup hidup, jangan sampai properti nya rusak.."
"Baik Cu Kung.."
Jawab keempat gadis baju putih itu cepat.
Gongsun Li melayang mundur dari atas punggung tunggangan, sambil membentangkan sepasang tangannya kesamping sebagai penyeimbang.
Sepasang belati berkilauan tertimpa cahaya matahari segera terlihat berada dalam genggaman tangan Gongsun Li.
Keempat gadis itu melanjutkan pengejaran, kemanapun Gongsun Li bergerak menghindar.
Pedang pedang mereka tetap saja selalu mengancam Gongsun Li.
Saat cahaya pedang mereka semakin dekat, Gongsun Li langsung memutar sepasang belati di tangan nya untuk menangkis.
"Tinggg..! Tinggg..! Tinggg..!"
"Tinggg..! Tinggg..! Tinggg..!"
"Tinggg..! Tinggg..! Tinggg..!"
"Tangggg.,! Tangggg..,! Tangggg.,!"
Terdengar suara berdenting memenuhi udara, saat senjata mereka berbenturan.
Bunga api juga terus berpijar, setiap kali senjata mereka berbenturan.
Gongsun Li mengerahkan tenaga sakti putri giok, untuk menangkis serangan yang datang.
Pedang keempat gadis itu berhasil di pentalkan oleh tangkisan Gongsun Li.
Gongsun Li sendiri menangkis sambil berputaran meluncur naik keatas.
Lalu dari atas sana dia melepaskan serangan energi pedang dari kedua belatinya.
Bayangan belati merah biru berhamburan, menyerang balik kearah keempat gadis baju putih, yang sedang meluncur keatas mengejar kearah Gongsun Li.
Keempat gadis baju putih itu, menggabungkan kekuatan mereka dengan saling berpegangan tangan.
Mereka membentuk sebuah kubah pelindung cahaya putih, untuk menahan serangan dari Gongsun Li.
Sekaligus mereka bergerak menekan keatas, dengan perisai pelindung sebagai tameng, untuk mendekati Gongsun Li.
Dengan perisai kekuatan gabungan itu, mereka berhasil mematahkan serangan Gongsun Li.
Mereka berempat kemudian berpencar di udara, lalu dari empat jurusan.
Mereka menembakkan sebuah jaring halus putih transparan, dengan senjata rahasia mereka yang mirip busur crosbow.
Gongsun Li yang melihat serangan mendadak tersebut, karena tidak bisa menghindar.
Dia mencoba menggunakan belatinya yang tajam, untuk menyambutnya.
Sekaligus ingin memutuskan tali jaring jaring halus itu.
Tapi usahanya tidak sesuai harapan.
Dia malah terkurung, terlilit didalam jaring halus dan sangat kuat tersebut.
__ADS_1
Gongsun Li berusaha meronta ronta, tapi tindakan itu sia sia dia malah semakin terlilit, hingga sulit berkutik.
Tubuhnya terus meluncur turun kebawah dengan cepat.