
Wang Ben dan seluruh pasukannya, terus melakukan pengejaran terhadap kapal kapal perang Yue, yang sedikit terlihat dari posisi mereka.
Samar samar terlihat kapal perang Yue sedang bergerak melarikan diri mengandalkan kabut tebal.
Melihat hal itu, Wang Ben memberikan instruksi bergerak melakukan pengejaran.
Selama perjalanan pengejaran semua berjalan lancar.
Baru saat tiba di bagian tengah tengah Tebing Awan Putih.
"Duakkk..!" Duakkk..!" Duakkk..!"
"Duakkk..!" Duakkk..!" Duakkk..!"
"Brakkkk..! Brakkkk..! Brakkkk..!"
"Brakkkk..! Brakkkk..! Brakkkk..!"
Tiba tiba kapal Wang Ben yang sedang asyik mengikuti arus dan dorongan arah angin kandas.
Kapal kapal di sebelah depan sana kandas secara tiba tiba, tanpa terhindarkan lagi, langsung terjadi saling bertabrakan dengan kapal kapal yang datang dari belakang.
Tabrakan beruntun terjadi ditempat itu, hingga kapal kapal perang Qin, yang berada di tengah tengah kabut saling tumpang tindih.
Kebocoran pada kapal kapal mereka akibat tabrakan beruntun, membuat kapal kapal mereka mulai tenggelam.
Di saat kepanikan sedang berlangsung, terdengar suara tawa dingin dari Liu Qin Lung.
"Wang Ben,..! dengarlah baik baik..! hari ini akan menjadi hari peringatan kematian mu di tahun depan..!"
"Bersiaplah..!"
Bentak Liu Qin Lung dari tempat yang tidak terlihat, juga sulit terdeteksi dari mana asal suara tersebut.
Suara Liu Qin Lung yang terdengar berputar-putar di tempat itu, karena gema pantulan suara di sekitar Tebing Awan Putih, membuat asal suara sulit terdeteksi.
Selesai Liu Qin Lung berucap, tiba tiba di udara, tepat diatas kapal kapal yang saling bertabrakan dan terlihat tumpang tindih.
Muncul ribuan lampion beterbangan di udara memenuhi tempat itu.
Lampion lampion itu di lepaskan oleh Jendral Mo dan Jendral Li, yang bersama pasukannya, bersembunyi di tebing tebing terjal di kanan kiri perairan.
Pasukan Qin terlihat pada menengadah heran ke udara, dengan datangnya lampion lampion itu.
Tentu saja secara tidak langsung, lampion lampion itu berfungsi membantu memberikan penerangan kepada mereka.
Mereka awalnya heran dengan maksud dari pihak lawan.
Baru setelah lampion lampion itu tertembus anak panah dari berbagai penjuru.
Lampion itu pada pecah jatuh melayang turun kebawah.
Mereka di bawah sana yang terkena tetesan yang berhamburan dari udara.
Mereka segera berteriak,
"Ehhh ini minyak..!"
__ADS_1
"Ini minyak..!"
"Apa maksud mereka..!?"
Ucap pasukan Qin bertanya tanya dengan heran.
"Celaka...!"
Teriak Wang Ben.
"Awas mereka akan menggunakan Api...!"
Baru saja dia selesai berkata.
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
"Serrrrrrr..! Serrrrrrr..! Serrrrrrr..!"
Panah panah api terlihat datang dari segala penjuru memenuhi udara.
Saat jatuh kebawah.
"Wusssshhh...!"
Wusssshhh...!"
Wusssshhh...!"
"Arggghhh...!!"
"Arggghhh...!!"
"Arggghhh...!!"
Suara jerit ngeri dan kesakitan memenuhi udara, sekejab saja tempat itu sudah berubah menjadi lautan api.
Wang Ben dan pasukannya, yang selamat, berusaha melompat kedalam air.
Mereka mencoba berlindung di bawah air, menghindari serangan api.
Tapi usaha mereka sia sia, seluruh permukaan air yang begitu luas di penuhi oleh api.
Mereka bahkan tidak bisa naik keatas untuk sekedar mengambil nafas, karena seluruh permukaan air adalah api.
Tumpahan minyak yang mengambang diatas permukaan air lah, yang menjadi penyebab utama permukaan air dipenuhi oleh api yang tidak mau padam.
Mereka di bawah sana sambil menyelam, berusaha mencari tempat yang tidak di kelilingi api untuk naik sekedar bisa mengambil nafas.
Tapi semua hanya harapan, mereka tidak ada yang berhasil menemukan tempat yang seperti mereka harapkan.
Pilihannya hanya dua, mati tenggelam tidak bisa bernafas, atau mati terbakar di permukaan.
__ADS_1
Wang Ben dan pasukannya yang akhirnya kehabisan nafas, mereka setelah menelan air cukup banyak.
Mereka mulai mengalami kejang kejang, sebelum gelembung udara berhamburan keluar dari mulut dan hidung mereka.
Setelah itu satu persatu tewas tenggelam kedasar sungai.
Di mulut jalan sana, Wang Jian terlihat menatap cemas kearah wilayah perairan Tebing Awan Putih, yang tertutup kabut tebal.
Dia mendengar suara jerit jerit ngeri, yang datang dari bagian tengah perairan itu.
Tapi dia hanya bisa menatap cemas di sana, sambil menduga duga asal suara itu dari pihak nya atau dari pihak lawan.
Wang Jian hanya bisa menunggu nunggu dengan hati cemas, dia tidak berani ambil resiko masuk kedalam kabut.
Apalagi membawa pasukannya ikut menyertainya masuk menyerbu kedalam sana.
Sementara itu Di kejauhan di kedalaman sana, Liu Qin Lung bersama pasukannya justru terlihat baik baik saja.
Mereka mengalami kerugian kehilangan 3000, tapi di tukar dengan nyawa 100.000 pasukan dan nyawa Wang Ben.
Hal ini sangatlah pantas, semua ini adalah berkat kecerdikan dan usaha keras, serta kerjasama dari seluruh pasukan harimau hitam mengikuti pengarahan dari Liu Qin Lung.
Liu Qin Lung di awal membagi pasukan nya menjadi 5 kelompok, satu kelompok dia bawa menuju mulut jalan masuk ke tebing awan putih.
Dengan tujuan memancing Wang Jian dan Wang Ben masuk kedalam jebakan alaminya, di tengah tengah perairan Tebing awan putih.
Di mana di bagian pertengahan perairan itu, menurut informasi yang dia dapatkan dari kakek Ma Siu.
Bagian tersebut berbahaya, dangkal tidak bisa di lewati kapal, kapal hanya bisa menyusuri dari bagian samping.
Kapal tidak boleh melewati bagian tengah yang selain dangkal, juga di penuhi oleh bebatuan sungai yang tajam.
Bila memaksa lewat kapal akan kandas dan pecah lambungnya di tempat itu.
Berdasarkan informasi tersebut, Liu Qin Lung langsung menyusun siasat jebakan maut di sana.
Saat pertempuran pecah di mulut jalan, Liu Qin Lung berpura pura terkena anak panah, lalu tumbang.
Padahal anak panah itu sebenarnya di jepit diantara ketiaknya.
Sehingga dari jauh terlihat seolah-olah dia terluka parah atau bahkan mungkin mampus tertembus anak panah.
Hal itu dilakukan untuk memancing Wang Jian dan Wang Ben mengejarnya.
Tapi Karena Wang Jian sangat berhati hati, akhirnya yang berhasil di jebak hanya putranya.
Jendral Mo dan Jendral Li di tugaskan untuk melepaskan lampion yang membawa kantong minyak.
Saat lampion terbang tepat di tengah sungai, di mana Wang Ben dan pasukannya terjebak.
Jendral Mo dan Jendral Li, memimpin pasukannya yang berbunyi di tebing untuk menembak jatuh kantong minyak dan lampion. yang mereka terbangkan.
Dengan cara itu, minyak pun berhamburan memenuhi tempat itu.
Jendral Ching dan Jendral Shou bersama pasukannya bertugas menembakkan panah api untuk mengeksekusi tempat itu berubah menjadi lautan api.
Kini Liu Qin Lung dan pasukannya hanya mengawasi saja tempat itu dari kejauhan.
__ADS_1
Tugas mereka belum sepenuhnya selesai, karena di luar sana Wang Jian dan pasukan besarnya masih ada
Sambil mengawasi tempat itu, Liu Qin Lung memutar otak, memikirkan jebakan lanjutan yang harus dia persiapkan untuk menghancurkan Wang Jian dan pasukan besarnya.