
"Ponakan manis, ini untuk mu..sesuai janji paman.."
"Tapi ponakan manis siapa nama mu..?"
ucap Guo Yun sambil tersenyum hangat.
"Sin Yi Ta Puo, tepatnya Ji Sin Yi.."
ucap anak itu sambil tersenyum gembira, saat dia mengulurkan tangannya menyambut mainan dan sebungkus Ping Tang Hu Lu dari Sin Yi.
Guo Yun menatap kearah Li Kui dengan heran.
Li Kui mengerti maksud tatapan Guo Yun, sambil tersenyum canggung dia berkata,
"Putri ku mengikuti marga kakek nya kak.."
Cu Cu terlihat sedang menatap kearah suaminya dengan tatapan mata tidak enak hati.
Tapi Li Kui yang tahu, tatapan istrinya ke dia, sambil tersenyum lebar dia berkata,
"Begini juga baik, jadi anak ku tidak bakal tertukar dengan anaknya kakak kedua.."
"Benar tidak..?"
ucap nya sambil menggenggam tangan istrinya.
Cu Cu hanya bisa mengangguk penuh haru, menanggapi ucapan suaminya yang ingin menghiburnya.
Dia balas menggenggam tangan suaminya dengan hangat dan penuh rasa cinta.
Dari gerak gerik dan tatapan mata, tidak bisa di pungkiri lagi, Cu Cu terlihat jelas sangat mencintai suaminya yang penyabar, penuh pengertian, dan tidak pandai berbicara itu.
Guo Yun menatap penuh kagum kearah Cu Cu dan Li Kui.
Dia turut gembira dan merasa bahagia melihat hubungan keduanya itu.
"Adik Kui kalian duluan saja, nanti kamu di omeli lagi.."
"Pergilah susul mereka berdua.."
ucap Guo Yun sambil menepuk pundak Li Kui.
Li Kui mengangguk cepat, lalu dia menggendong putri nya dengan tangan kanan, tangan kiri merangkul bahu istrinya.
Mereka bertiga segera bergerak menyusul kearah kedua kakek aneh, yang sudah jalan duluan di depan sana.
Guo Yun di dalam hati sudah putuskan, dia tidak akan mau melibatkan Li Kui dan Cu Cu.
Dia tidak ingin merusak ketenangan dan kebahagiaan keluarga kecil itu.
Masalah Li Ba dia akan selesaikan sendiri.
Tidak akan pernah melibatkan mereka.
Guo Yun sedikit bersyukur karena sikap aneh kedua kakek itu, dia jadi lupa menceritakan alasannya mengejar Li Ba.
Guo Yun berpikir dalam hati, dia akan mengarang alasan lain saja.
Dia tidak akan bicara yang sebenarnya ke mereka semua.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan pesanan makanan nya, Guo Yun baru menyusul.
Dengan alasan membungkus bekal makan, Guo Yun juga bisa sekalian bungkus sarapan buat dirinya makan di kapal nanti.
Karena dia sendiri, sebenarnya belum makan sama sekali dari semalam.
Setelah mendapatkan pesanan nya, Guo Yun segera bergerak menyusul kembali ke kapal. nya.
Begitu Guo Yun tiba, dia langsung di sambut oleh Li Kui dan isterinya.
Li Kui segera bergerak pergi melepaskan tali pengikat kapal dengan tepian dermaga.
Guo Yun menyerahkan barang belanjaan nya ke Cu Cu, untuk di bawa keatas kapal.
Dia sendiri segera turun tangan membantu Li Kui mengangkat sauh kapal.
Lalu mereka berdua bekerja sama mengembangkan layar kapal, menggunakan tiang kayu mendorong kapal menjauhi dermaga.
Beberapa saat kemudian kapal pun mulai bergerak bebas meninggalkan dermaga Chang Yang.
Li Kui menjadi nahkoda kapal, Cu Cu menemani di sampingnya, sedangkan putri mereka tidur di dalam bilik kapal bersama kedua kakek aneh itu.
Guo Yun yang sedang duduk santai, mulai menikmati sarapan yang dia beli tadi.
"Kakak kenapa kakak bisa sampai kemari mencari kakak kedua dan kakak ipar kedua..?"
"Apa yang sebenarnya terjadi..?"
tanya Li Kui sambil mengendalikan laju arah kapalnya.
Guo Yun sambil makan dengan santai berkata,
"Tidak apa apa, bukan masalah penting.."
ucap Guo Yun beralasan.
L Kui mengangguk dan tidak banyak bertanya lagi.
Dia tidak mau ikut campur masalah konflik seperti itu.
Tahu sedikit lebih baik, netral tidak tahu apa-apa adalah yang terbaik.
Daripada nanti salah bicara, bukannya semakin baik malah semakin rumit.
Cu Cu memilih diam saja tidak berkata apapun, tapi dia diam diam sempat melirik curiga kearah gerak gerik Guo Yun saat berbicara.
Dia menangkap Guo Yun sepertinya sedang menutupi sesuatu dari mereka.
Tapi Cu Cu yang cerdik dan teliti, dia menyimpan rapat rapat kecurigaannya di dalam hati.
Tidak mau banyak mulut, apalagi mendesak Guo Yun yang tidak mau berterus terang.
Akan percuma pikir Cu Cu, Guo Yun adalah orang seperti apa dia tidak mungkin tidak tahu.
Bila dia tidak ingin bicara, seribu satu alasan dia punya, dan pada akhirnya dia tetap tidak akan mau bicara.
Jadi percuma saja mendesaknya, pikir Cu Cu dalam hati.
Sementara Cu Cu larut dalam pikiran nya sendiri.
__ADS_1
Guo Yun yang sudah menyelesaikan sarapannya, dia sudah ikut berdiri di samping Li Kui.
Dengan suara setengah berbisik Guo Yun berkata,
"Adik Kui, kulihat sikap kedua kakek mu seperti nya agak lain dari biasanya..?"
"Apa kamu dan mereka berdua ada masalah..?"
tanya Guo Yun berbisik-bisik dengan hati hati.
Li Kui sambil mengendarai kapalnya menghela nafas berat dan berkata,
"Mereka bersikap begitu tidak ada salahnya.."
"Akulah yang bersalah dalam hal ini.."
ucap Li Kui penuh rasa sesal dan bersalah, wajahnya terlihat agak muram.
Cu Cu yang juga ada di samping suaminya, langsung merangkul mesra lengan suaminya dan berkata,
"Masalah seperti itu sudah ada yang mengaturnya, mana boleh kesalahan di tumpahkan ke kamu sayang.."
'Sayang kamu tidak perlu anggap serius keinginan kakek, mereka berdua dari dulu emang begitu.."
"Suka aneh aneh dan memaksakan kehendak, lihat saja hubungan mereka berdua.."
"Kakak beradik kandung pun tidak jarang saling serang hingga mau saling bunuh.."
"Mereka seperti anak kecil, tidak usah kamu menanggapinya.."
"Siapa yang anak kecil,..!? jaga mulutmu..!"
"Atau ku Hajar suami mu itu, yang tidak bisa mengajar istri bersikap sopan ke orang tua.."
ucap sebuah suara dingin yang seperti datang dari liang kubur.
"Mengapa kakek selalu suka menindas Kui ke ke, apa salah dia..!?"
bentak Cu Cu marah tidak mau kalah sambil menghadap kearah kakek nya.
Cui Ming Koai Jen tidak tahu sejak kapan tahu tahu sudah datang duduk di bagian atas bilik kamar.
Guo Yun tentu saja tahu kehadiran kakek itu di sana, dia sudah menangkap suar desir angin halus.
Saat kakek itu muncul di sana, dia ingin mencegah Cu Cu berbicara, dengan memberinya kode.
Tapi karena Cu Cu terlalu fokus dengan perasaan suaminya, dia tidak menangkap sinyal dari Guo Yun.
Sehingga muncullah masalah seperti ini.
"Apa salah dia !? kamu masih berani bertanya..!?"
"Tiap hari Siang malam pagi, ku biarkan kalian sebebas bebasnya, tapi kamu lihat hasil yang dia buat..!?"
"5 tahun,.. 5 tahun aku menunggu, dia malah kasih aku harapan palsu..!"
"Umur ku ini tidak tahu bisa bertahan berapa tahun lagi.."
"Kakek cuma berharap sebelum mati, bisa lihat penerus laki laki, untuk meneruskan marga Ji.."
__ADS_1
"Apa itu salah kami,.. ?! bila bukan salah dia, lalu salah siapa lagi..!?"
bentak Cui Ming Koai Jen dengan emosi.