
"Baiklah Yang Mulia, bawalah ini buat jaga jaga, bila ada sesuatu yang berbahaya."
"Lepaskan saja, aku pasti akan menyusul kesana.."
ucap Zhou Tai sambil memberikan sebatang kembang api berukuran sekitar 15 cm kepada Si Si.
Si Si menerimanya sambil berkata,
"Terimakasih Jendral Zhou, kalau begitu aku tidak akan berlama lama lagi.."
"Aku akan pergi sekarang, aku titip semua yang ada di sini.."
"Aku berangkat duluan.."
ucap Si Si sambil bergerak meninggalkan tempat itu dan melambaikan tangannya kearah Jendral Zhou.
"Hati hati di jalan Yang Mulia.."
ucap Jendral Zhou menatap dengan cemas.
Tak lama setelah Si Si pergi, Zhou Tai juga kembali untuk mengatur barisan pasukan nya.
Bersiap siap menghadapi berbagai kemungkinan dari pasukan Qin yang sedang terjepit.
Satu yang di khawatirkan, bila terlalu di paksakan, di khawatirkan anjing yang ke pepet akan memilih melompati tembok.
Makanya Zhou Tai harus mempersiapkan barisan pasukan nya, untuk mengantisipasi hal tersebut.
Si Si hanya di temani oleh 10 orang pasukan wanitanya, rombongan kecil itu bergerak memutar menuju hulu sungai Han.
Mereka terus menyusuri sungai yang cukup besar dan lebar, sehingga tidak mungkin bisa di seberangi tanpa menghiraukan kapal atau pun perahu.
Bila di bandingkan dengan Yang Tze yang di mana seberang sungainya hampir tidak terlihat.
Tentu saja sungai ini jauh lebih kecil, seberang sungai masih bisa terlihat dengan cukup jelas.
Si Si terus bergerak di depan memimpin rombongan kecil nya, berjalan menyusuri tepi sungai Han.
Perjalanan mereka dengan berkuda harus terhenti, saat sungai Han membelok tajam di sebuah tingkungan tajam.
Perjalanan menyusuri tepi sungai, terhalang oleh sebuah hutan belantara yang sangat lebat.
Rumput rumput liar yang daunnya tajam melebihi pisau silet tumbuh subur di sana, dengan tinggi hampir sama tinggi dengan manusia.
Menghalangi perjalanan mereka untuk memasuki hutan itu dengan kuda tunggangan mereka.
Si Si sambil menghela nafas kecewa, dia melompat ringan turun dari atas punggung kudanya.
"Saudari ku semuanya, kita kelihatannya harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki."
"Ah Lan, dan Ah Siu,.. kalian berdua gunakan senjata panjang kalian, untuk mencoba menebas rumput rumput liar itu, membuka jalan."
"Sisanya kalian bantu aku dengan pedang kalian, kita coba membuka jalan dengan menebas sisa rumput liar yang lebih pendek..."
__ADS_1
ucap Si Si membagi bagi tugas.
Tapi dia sendiri juga ikut bergabung, menggunakan sepasang pedang nya, untuk ikut membantu menebas rumput liar yang menghalangi pergerakan mereka.
Mereka bergerak dengan sangat pelan untuk bisa memasuki hutan liar yang terletak di pinggiran sungai itu.
Si Si memimpin rombongan nya, tanpa mengenal lelah terus bergerak memasuki hutan rimba itu.
Setelah bekerja keras hampir 50 meter, perlahan-lahan semak belukar tinggi tinggi yang menghalangi perjalanan mereka mulai berkurang dan terus berkurang.
Hingga akhirnya setelah menempuh perjalanan 100 meter lebih.
Mereka tidak lagi di hadang oleh rumput liar lagi, melainkan menghadapi pohon pohon besar yang menjulang tinggi dengan dahan dan daun pohon yang sangat lebat.
Hingga matahari sulit menerobos masuk sinarnya sampai ke bawah sana.
Sehingga cuaca di dalam hutan menjadi remang remang.
Menebas rumput tanpa arah hanya terus maju, tanpa terasa mereka kini sudah tidak melihat lagi tepi sungai yang mereka susuri.
Si Si mencoba berjongkok sambil menempelkan telinganya di atas tanah.
Beberapa saat kemudian dengan wajah gembira, dia menunjuk kearah sebelah kanan dan berkata,
"Kita kesana.."
"Aku mendengar suara aliran air kuat di sebelah sana.."
"Kemungkinan tepi sungai ada di sana.."
Rombongan kecil itu tanpa banyak membantah, mereka segera mengikuti arah pergerakan Si Si yang langsung menuju kearah yang di tunjuk nya tadi.
Menyelinap di antara pepohonan yang rimbun dan besar besar, dengan akar akar besar terlihat menonjol keluar dari atas tanah.
Mereka akhirnya tiba di tepi sungai yang mereka tuju.
Dari tempat mereka berdiri, ternyata aliran sungai berada jauh di bawah sana.
Si Si segera melompat turun dari tepian tebing hutan yang menurun tajam kebawah sana.
Rombongan pasukan wanitanya juga mengikuti jejaknya melompat turun kebawah dengan hati hati, sambil berpegangan pada akar dan rumput yang tumbuh subur di sekitar sana.
Si Si sendiri dengan cepat sudah tiba di tepi sungai Han yang ternyata setelah berbelok tajam.
Sungai itu menyempit, dangkal penuh dengan bebatuan besar yang menonjol di sana sini.
Air sungai yang dangkal mengalir deras melewati bebatuan besar yang menonjol di sekitar tempat tersebut.
Si Si tersenyum puas sambil mencoba menyeberangi sungai dangkal berair jernih tersebut.
Beberapa saat mengikuti Si Si menyeberangi sungai dangkal tanpa mengetahui apa maksud tujuan dari Si Si.
Akhirnya mereka melihat Si Si sambil tersenyum puas berkata,
__ADS_1
"Ah Siu kamu segera kembali ke perkemahan..!"
"Beritahu Jendral Zhou Tai, untuk segera membawa setengah dari kekuatan nya kemari.."
"Katakan juga padanya, agar tidak lupa membawa peralatan menggali dan karung kemari.."
ucap Si Si cepat.
Setelah nya dia baru melanjutkan berkata,
"Sisa pasukan harus terus bertahan di sana, harus buat suasana, agar pasukan Qin yakin kekuatan penuh kita masih tetap bertahan di sana."
ucap Si Si berpesan.
Ah Siu mengangguk paham akan pesan lisan Si Si, setelah Si Si menyelesaikan pesan nya.
Ah Siu memberi hormat, kemudian segera bergerak meninggalkan tempat tersebut.
Sambil menunggu kedatangan rombongan besar Zhou Tai.
Si Si mulai memimpin sisa pasukan wanitanya untuk mulai bekerja dari tepi sungai.
Mencoba memindahkan batu dan tanah dan pasir, untuk menghambat aliran air sungai dangkal, mulai dari bagian paling pinggir.
Mereka semua bekerja tanpa mengeluh dan tahu maksud dan tujuan dari Si Si.
Tapi mereka semua sudah lama mengikuti sisi, mereka semua sadar sepenuhnya akan kecerdikan pimpinan mereka yang banyak akalnya itu.
Keesokan paginya rombongan besar pasukan Zhou Tai sudah menyusul ketempat tersebut.
Begitu pasukan Zhou Tai tiba, Si Si segera menemui Jendral Zhou Tai.
Jendral Zhou Tai sambil tersenyum lebar segera melompat turun dari atas punggung kudanya dan berkata,
"Banyak orang bilang istri kedua Cu Kung adalah ahli strategi dan bangunan yang tiada duanya.."
"Kini Yang Tua ini benar benar tidak bisa lagi tidak percaya.."
"Yang Mulia apakah kamu memanggil kami kemari untuk membantu membendung aliran sungai Han ini..?"
ucap Jendral Zhou Tai yang berpengalaman perang sambil tersenyum lebar.
Si Si mengangguk dan berkata,
"Benar sekali Jendral Zhou."
"Sekali ini aku benar benar membutuhkan kerjasama, bantuan kerja keras dari kalian semuanya.."
"Agar rencana penutupan aliran sungai ini bisa berjalan lancar."
Zhau Tai tertawa keras dengan gembira dia berkata.
"Hutan ini begitu lebat, penuh dengan pepohonan besar."
__ADS_1
Dia adalah bahan dasar utama, untuk membantu kita mencegah dan menghentikan aliran sungai dangkal ini.."
ucap Zhou Tai gembira.