LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
BERPISAH


__ADS_3

Guo Yun memejamkan matanya, mengalirkan energi berputaran di seluruh tubuhnya.


Tidak sampai 5 menit, dia membuka kembali matanya.


Sambil tersenyum nakal, Guo Yun menatap istrinya yang sedang bersandar dalam pelukannya.


Dia perlahan lahan menciumi keningnya, lalu turn ke pipinya.


"Mmmphhh,..!


Ngeluh Gongsun Li pelan.


Saat Guo Yun berpindah menciumi daun telinga istrinya.


Gongsun Li sedikit Bergerak menggelinjang dan berkata,


"Yun ke ke,.. jangan ganggu, aku ngantuk..ayo tidurlah.."


Tapi Guo Yun tidak berhenti, dia malah semakin bersemangat menciumi daun telinga, kemudian turun ke arah leher istrinya, yang putih jenjang.


Sambil lidah dan bibirnya bermain membuat lingkaran lingkaran kecil di leher istrinya.


Tangannya mulai bermain di sekitar gunung yang perlahan lahan mulai menegak menantang untuk di jelajahi.


Guo Yun terus meremasnya dengan lembut, sambil sedikit jempolnya dan telunjuknya sedikit bermain di ujung puncak yang berwarna pink.


Gunung semakin berdiri tegak, seolah olah siap meletuskan laharnya.


Mulut Gongsun Li sudah tidak bisa menahan diri untuk me rintih dan men de sah.


Tubuhnya naik turun melengkung keatas dan kebawah, mengikuti irama permainan tangan dan bibir Guo Yun.


Di mana perlahan-lahan Guo Yun mulai berpindah bermain bibir adu bibir.


Setelah nafas istrinya semakin memburu, Guo Yun pun kembali bermain di sisi leher yang lain, sebelum turun kearah puncak gunung.


Bermain di area baru itu beberapa saat, lalu berpindah menurun kebawah hingga ke pusar.


Kemudian dia membalikkan tubuh istrinya, kini sambil memberikan pijatan ringan, dia kembali bermain di sana dengan lidah dan bibirnya.


Gongsun Li semakin terlihat seperti cacing kepanasan.


Seluruh tubuhnya mulai berkeringat, meliuk liuk tiada henti, begitu pula suara de sah an yang keluar dari bibirnya.


Membuat Guo Yun semakin bersemangat, Rudal Guo Yun sudah sangat keras seperti mau meledak.


Tapi Guo Yun masih berusaha menahannya, agar tidak buru buru di masukkan kedalam sarangnya.


Guo Yun terus bertahan dengan permainan lidah di punggung istrinya, hingga tiba di pinggul istrinya yang bulat menantang.


Guo Yun baru berpindah ke ujung jari kaki istrinya, bermain di jari kaki dan telapak kaki sesaat.


Gongsun Li yang sepasang matanya meram melek, kini sedikit terbuka dengan kaget dia berkata.


",Yun ke ke..aduh..jangan di sana..aduh geli,..hi..hi..hi..aduh jangan.!"

__ADS_1


Dia menjerit kegelian sambil sedikit menoleh melihat aksi Guo Yun, bermain di telapak kakinya.


Guo Yun menghentikan aksinya di sana, Guo Yun membalikkan kembali tubuh istrinya, lalu dia berpindah ke betis istrinya, yang putih halus dan panjang, dia bermain di sana, sambil pelan pelan naik keatas, menuju pangkal paha yang putih kemerahan.


Tepat tiba di sasaran, tubuh Gongsun Li langsung mengejang melengkung keatas.


Sepasang tangannya di gunakan untuk meremas dan menahan kepala Guo Yun di bawah sana


Mulutnya yang membentuk huruf o, dia tidak berhenti mengeluarkan suara rin tih an, yang semakin lama semakin hebat.


Sepasang tangannya yang meremas kepala Guo Yun pun semakin keras.


Kepalanya mulai mendongak keatas, gigi geraham atas dan bawahnya mulai beradu, berusaha menahan ledakan ke nik mat an yang tiada Tara.


"Yun ke ke sekarang,..cepat..cepat,..aku hampir.. tidak kuat lagi..cepat..!"


teriak Gongsun Li tertahan dengan suara terputus putus.


Guo Yun melihat gelagat, waktu yang di tunggunya sedari tadi tiba.


Dia segera dengan hati hati dan pelan pelan meletakkan rudalnya yang besar, dia oles oleskan dari atas kebawah, secara naik turun.


Seperti orang sedang mengoles selai roti, sebelum kemudian dia lesakkan kedalam sarang hangat di bawahnya.


Gongsun Li otomatis sepasang matanya mendelik keatas, mulutnya membentuk huruf o.


Dia yang kini sibuk sendiri menaik turunkan pinggulnya sendiri.


Kedua tangannya dari kepala Guo Yun.


Cengkraman nya semakin lama semakin kuat, hingga dia menahannya kuat kuat disana.


Dengan sepasang betis melingkar kuat di pinggang Guo Yun.


Tubuh Gongsun Li tersentak sentak hebat berulang kali.


Hingga akhirnya dia terkulai lemas di bawah sana, dan berkata,


"Ahhhhh,..!"


"Yun ke ke,..aku nyerah..nyerah .."


Melihat keadaan istrinya, Guo Yun belum bersedia menghentikannya.


Dia segera membalikkan tubuh istrinya menghadap kebawah, Kemudian dia menghujam nya dari belakang.


"Ahhhh,..!"


Gongsun Li kepalanya kembali mendongak keatas.


Sesaat kemudian, dia kembali men de sah mengikuti hentakan Guo Yun, yang semakin lama semakin cepat.


Hingga akhirnya dia merasakan semburan hangat di sarang nya, di mana dia dan Guo Yun kembali sama sama mencapai puncak, dengan nafas terengah engah.


Guo Yun rubuh kebawah menindih nya, sedangkan Gongsun Li terkulai lemas di bawah dengan mata terpejam.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mulai terdengar suara dengkuran halus Gongsun Li.


Gongsun Li tertidur pulas, dengan senyum.puas menghiasi bibirnya.


Guo Yun bergeser pindah kesebelah istrinya, dia tidur miring sambil memeluk istrinya.


Menjelang pagi mereka kembali melanjutkan aktivitas mereka.


Selama 3 hari yang tersisa, mereka berdua hampir tidak pernah berpisah.


Pagi siang malam jarang keluar dari kamar, mereka benar benar menikmati bulan madu mereka.


Kini senyum puas dan penuh kebahagiaan, hampir tidak pernah meninggalkan wajah Gongsun Li.


Dia kini tidak pernah berpikir salah pilih lagi, dia begitu lengket dan mesra.


Saat keluar dari kamar untuk makan, dia selalu bergelayut manja di samping Guo Yun.


Untuk makan minum, dia kini mulai mempercayakan ke asisten baru nya Xiao Tie.


Baru pada hari ketiga subuh pagi, Gongsun Li terlihat muram wajahnya.


Sambil membantu Guo Yun mengemas buntalan pakaian dan bekal perjalanan, dengan airmata bercucuran dia berkata,


"Yun ke ke di.luar sana penuh bahaya, kamu harus hati-hati ya.."


"Yun ke ke harus ingat, aku selalu menanti di sini..'


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Li mei tenang saja, aku juga tidak betah lama lama jauh dari mu.."


"Aku akan berusaha secepat nya pulang.."


Gongsun Li mengangguk pelan, lalu dia memberikan bungkusan perbekalan di tangannya ke Guo Yun.


Setelah itu dia berjalan pergi mengambil jubah luar Guo Yun yang tergantung.


Membantu Guo Yun mengenakannya, setelah selesai. Dia tidak bisa menahan diri, untuk menubruk ke dalam pelukan Guo Yun, dan menangis sedih disana.


Guo Yun membalas memeluk dan membelai rambut Istrinya, yang panjang halus dengan lembut.


Dia tidak berkata apa-apa, hanya terus membelainya berulang ulang.


Hingga Gongsun Li berhenti sendiri, dan berkata,


"Sudah pergilah, bila begini terus kamu nanti bisa terlambat."


Gongsun Li melepaskan pelukannya, membantu merapikan pakaian Guo Yun.


Lalu dia memutar tubuh Guo Yun memunggunginya, lalu mendorong Guo Yun keluar dari dalam kamar.


Dia melambaikan tangannya kearah Guo Yun, melepas kepergian suaminya.


Lalu dia menutup kembali pintu kamarnya, dengan bersandar di balik pintu.

__ADS_1


Gongsun Li menangis sambil menutup mulutnya dengan tangan.


__ADS_2