LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
MELAWAN YAN LIANG


__ADS_3

"Terimakasih paman.."


ucap Guo Yun menerima dan menyimpan token tersebut.


Lalu dia mengemas semua gulungan kitab bambu dan buku.


Guo Yun menggendongnya, dan berjalan hendak meninggalkan ruangan tersebut.


"Yun Er,..!"


"Ya paman,.."


ucap Guo Yun sambil menghentikan langkahnya.


"Yun Er,.. putri angkat ku Min Min sepertinya sangat menyukai mu, kamu paham kan maksud paman.."


ucap Lu Bu Wei sambil menatap Guo Yun dengan cemas.


"Yun Er, paham paman."


"Yun er berjanji akan selalu menjaga jarak dan menjauhinya..'


ucap Guo Yun tegas.


Lu Bu Wei menghembuskan nafas lega dan berkata,


"Terimakasih Yun Er.."


Guo Yun mengangguk pelan, lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan kediaman Lu Bu Wei.


Guo Yun setelah kembali kedalam kemahnya, dia langsung larut dengan tumpukan gulungan bambu dan buku buku yang berserakan di atas meja nya.


3 Bulan di habiskan oleh Guo Yun merekrut dan melatih pasukan baru.


Di awal bulan keempat, pagi.pagi sekali di bawah komando Guo Yun dan di temani oleh Wang Ben putranya Wang Jian, yang kini menjadi wakilnya.


Guo Yun bergerak memimpin 300.000 pasukan menuju perbatasan kerajaan Wei menempati Hu Lao Kuan.


Membuat kemah di sana di balik gerbang Hu Lao Kuan.


Guo Yun bermaksud menyerang dari arah Utara, melewati dua kota Ye dan Wei, sebelum terus menuju Da Liang ibukota negara Kerajaan Wei.


Dia sudah mengirimi surat ke Wang Jian agar ikut bergerak menyusul merebut kota An Yi dan Luo Yang.


Setelah dia mendapatkan laporan dari mata matanya Ku Bu Wei, bahwa kerajaan Wei sudah menarik seluruh pasukannya untuk bertahan di kota Ye.


Jumlah pasukan di kota Ye di perkirakan mencapai 500.000 personil.


Atas informasi tersebut Wang Jian langsung bergerak memimpin 50.000 pasukan bersama Lu Bu Wei.


Tanpa kesulitan mereka berhasil menahlukkan dua kota besar itu tanpa perlawanan.


Tapi ada yang berbeda dalam penaklukan kali ini, tidak ada lagi pembantaian apalagi mengganggu rakyat jelata.

__ADS_1


Meski Guo Yun tidak ada di sana, tapi semua berjalan tertib di bawah pengawasan Lu Bu Wei dan Wang Jian langsung.


Lu Bu Wei sadar dan tidak mau membuat Guo Yun terganggu dengan masalah yang terlihat sepele dalam hukum militer Qin.


Tapi sangat menganggu bagi Guo Yun, jadi dia menaruh perhatian khusus dalam hal ini.


Bai Qi dan pasukannya hanya di minta menjaga Handan dan daerah perbatasan dengan Negara Yan.


Tidak diijinkan bergerak maju, hanya boleh bertahan.


Guo Yun yang menerima hasil laporan kemenangan di dua kota itu cukup gembira.


Pagi itu terlihat pasukan besar Guo Yun yang terbagi dua bergerak keluar dari Hu Lao Kuan.


Guo Yun memimpin 200.000 pasukan langsung menuju kota Ye.


Sedangkan Wang Ben dia tugaskan memimpin 100.000 pasukan untuk merebut kota pelabuhan, dermaga Bai Ma.


Di mana menurut informasi di sana hanya di jaga oleh 5000 pasukan Wei.


Guo Yun yang memimpin 200.000 pasukan Qin akhirnya bertemu dengan Pan Hong yang membawa 300.000 pasukan Wei, keluar dari gerbang sebelah barat kota Ye.


Saat kedua barisan pasukan bertemu berhadap hadapan terpisah jarak 1 Li


Terlihat di barisan pasukan Ye yang berbaris rapi, di tengah tengah barisan mereka.


Ada sebuah kereta perang besar yang di tarik oleh 4 ekor kuda.


Dari bendera yang tertancap di kereta perang nya, bisa di pastikan, dia lah Pan Hong putra Pan Juan, pimpinan tertinggi dari pasukan kerajaan Wei.


Di sampingnya ada 4 orang berseragam hitam dari jubah dan seragamnya.


Bisa di tebak mereka adalah 4 orang Jendral andalan pasukan kerajaan Wei.


Keempat orang ini mengawal kereta perang Pan Hong, sambil duduk diatas punggung kuda mereka masing masing.


Sedangkan di pihak pasukan Qin, di barisan paling depan hanya terlihat Si Topeng Emas seorang diri.


Mengendarai kudanya berpacu dari tengah menuju ujung kanan hingga kembali ke ujung kiri, memeriksa barisan pasukan perisai nya.


Selesai memeriksa barisannya, Si Topeng Emas kembali ke barisan tengah.


Lalu dia menggerakkan kudanya maju kedepan dan berteriak,


"Siapa yang akan maju menyambut tantangan ku..!"


"Kamu bocah baju putih, apa kamu mau maju sendiri..!?"


"Atau mau maju sekaligus bersama 4 bawahan mu.!"


Mendengar tantangan yang di lepaskan oleh Si Topeng Emas yang sangat arogan.


Pan Hong terlihat tenang tenang saja, dia sama sekali tidak emosi.

__ADS_1


Sambil tersenyum dia berkata,


"Yan Liang saatnya kamu maju menyambut dan menutup mulut manusia sombong itu.."


"Siap panglima..!"


jawab salah satu dari 4 jendral itu maju memberi hormat.


Setelah memberi hormat, jendral berkulit gelap bermata besar, dengan wajah penuh brewok.


Memacu kudanya sambil membawa sebilah golok panjang, mirip mirip yang di gunakan oleh Li Thian Sin.


Hanya yang Li Thian Sin terlihat mewah dan mengeluarkan cahaya biru.


Sedangkan yang Jendral Yan Liang hanya berwarna hitam gelap dan kusam.


Sama sekali tidak terlihat istimewa, tapi hal ini tidak bisa di anggap remeh karena dengan golok jelek ini.


Yan Liang sudah memenggal ratusan jendral yang pernah menjadi lawannya.


Yan Liang terus memacu kudanya, keluar dari tengah barisan, bergerak mendekati Si topeng Emas.


Di mana terlihat si topeng emas juga memacu kudanya menghampiri Yan Liang, dengan tombak cagak tiga di tangannya.


Setelah berdekatan masing masing memutar senjata mereka diatas kepala, sebelum langsung di tebaskan kearah musuh.


"Trangggg..!"


Senjata beradu dengan keras di udara, bunga api berpijar saat kedua senjata beradu.


Mereka masing masing saling melintas lewat.


Masing masing menahan laju kuda mereka masing-masing.


Kemudian menarik tali kekang kuda mereka berputar arah.


Baru kembali melaju dengan kencang, kembali saling serang.


Hal ini berlangsung hingga 5 ronde, baru mereka berdua saling serang duduk diatas punggung kuda masing masing.


Yan Liang terlihat dengan antusias terus menyerang kearah si topeng emas dengan tebasan tebasan mautnya.


Dia tidak sadar si topeng emas hanya sedang mengulur ulur waktu.


Bila Si topeng emas menghendaki satu tebasan cukup membuatnya jatuh dari kuda, dua tebasan mengirimnya pergi ketemu nenek moyang.


Pertandingan terlihat berjalan seru Si topeng emas terlihat terdesak.


Hanya bisa terus menangkis dan menghindar, tidak mampu memberikan serangan balasan sama sekali.


Si topeng emas yang terlihat terdesak di serang terus secara bertubi-tubi.


Sedikit demi sedikit kudanya mulai bergerak mundur mundur kebelakang.

__ADS_1


__ADS_2