
"Kakek berdua,..! jangan ribut lagi, aku telah pulang..!"
Cui Ming Koai Jen yang tadinya hendak marah dan mengejar kearah adiknya.
Dia tidak jadi melakukannya, melainkan membalikkan badannya.
Lalu terbang ke arah kapal, yang sedang di kendalikan oleh Li Kui sedang melewati barisan batu karang tajam.
Dengan mudah kakek sakti itu sudah mendarat di atas kapal Li Kui.
"Bocah bodoh, ku kira kamu sudah kabur meninggalkan cucu ku.."
"Tidak ku sangka kamu sama bodohnya dengan dia, masih berani kembali kemari.."
Mulutnya mengomel tapi dari ekspresi wajah nya, terlihat jelas dia sangat gembira.
Li Kui hanya bisa nyengir dan berkata,
"Satu malam menjadi suami istri, budi diantara kami lebih dari 100 hari.."
"Aku mana mungkin pergi meninggalkan Cu Cu.."
"Aku sudah berjanji pada Cu Cu akan kembali maka aku pasti kembali.."
"Ha,..ha,..ha,..! kamu semakin bodoh, tapi justru semakin menyenangkan.."
ucap Kakek Cui Ming Koai Jen sambil tersenyum lebar.
"Anak bodoh,..ha,..ha..ha.. ! kamu kembali juga.."
ucap Wu Ti Siaw Jen yang baru saja mendarat di atas kapal dengan wajah gembira.
Padahal dia baru saja terluka dan bertengkar dengan kakaknya.
Tapi melihat Li Kui kembali, dia saking gembiranya sudah lupa dengan luka dan pertengkaran nya, dengan Cui Ming Koai Jen, kakaknya.
Wu Ti Siaw Jen meski mulutnya selalu jahat, sebenarnya dia sangat menyayangi cucu keponakannya.
Hanya dia tidak tahu cara mengungkapkan rasa sayang nya lewat kata-kata.
Makanya dia suka mengeluarkan kata-kata, yang menyakiti perasaan orang yang di sayangnya.
Hal ini juga diketahui oleh Li Kui dan Cu Cu, jadi mereka tidak terlalu menanggapinya.
"Buat apa kamu menyusul kemari ? masih ingin ribut..?"
tegur Cui Ming Koai Jen tajam.
Wu Ti Siaw Jen menoleh kearah kakaknya dan berkata,
"Siapa takut,? ayo aja kalau mau di lanjutkan.."
"Jangan di kira karena kemenangan tadi, aku jadi takut pada mu.."
"Siapa yang akan mati duluan masih belum jelas.."
ucap Wu Ti Siaw Jen tidak mau kalah sambil memasang kuda-kuda.
Tapi sebelum Cui Ming Koai Jen melesat menyerang nya.
__ADS_1
Li Kui sudah maju memeluk Wu Ti Siaw Jen dan berkata,
"Kakek hentikan jangan seperti ini, kita satu keluarga.."
"Lebih baik kakek antar aku pergi temui Cu Cu.."
"Hei bodoh,.. istri mu cucu ku bukan cucu nya, kenapa kamu minta tolong ke dia, bukan ke aku..?"
teriak Cui Ming Koai Jen kurang puas.
Wu Ti Siaw Jen sambil tertawa penuh kemenangan, dia segera memegang bahu Li Kui, lalu membawanya terbang menuju pantai.
Sedangkan Cui Ming Koai Jen sambil mengomel panjang pendek, dia segera terbang menyusul di belakang mereka berdua.
Wu Ti Siaw Jen dengan mudah membawa Li Kui mendarat di hadapan Cu Cu.
Cu Cu berdiri diam di sana sambil tersenyum dengan airmata bercucuran.
Begitu mendarat Li Kui langsung berlari maju memeluknya dan berkata,
"Maafkan aku sayang, aku telah membuat mu bersusah, menanti nanti kepulangan ku.."
Cu Cu tidak berkata apa-apa, dia hanya membalas memeluk suaminya dengan erat, melepaskan kerinduan nya.
Melihat hal itu, Wu Ti Siaw Jen sambil tertawa berkata,
"Bangsat kalian berdua, kalian membuat si tua ini jadi ikut menangis.."
"Memalukan,.. ya sudah aku mau kembali ke pondok ku berlatih.."
"Li Kui kalau kamu tertarik belajar ilmu silat, kamu boleh datang ke pondok ku kapan saja.."
Wu Ti Siaw Jen, meski dalam hal tenaga sakti, dia masih kalah dengan kakaknya Cui Ming Koai Jen.
Tapi dalam hal ilmu meringankan tubuh, dia justru jauh lebih unggul dari kakak nya.
"Bocah bodoh jangan dengarkan dia, asalkan kamu berani belajar dan berani ambil resiko.."
"Aku yang akan mengajari mu, tak perlu kamu pergi cari si cebol itu.."
ucap Cui Ming Koai Jen, tidak mau kalah.
"Tak perlu berebut, 3 hari bersama kakek, tiga hari lainnya bersama paman kakek, satu hari khusus, hanya untuk kami berdua.."
ucap Cu Cu tegas.
Cui Ming Koai Jen mengangkat bahu dan berkata,
"Kalau begitu bocah, besok pagi kamu harus temui aku duluan.."
"Hari ini aku ngalah buat kalian berdua saja dulu.."
Dengan demikian mulai hari esok dan seterusnya, Li Kui di gembleng oleh kedua setan tua itu secara bergantian.
Mereka berdua berlomba-lomba mendidiknya, Li Kui bagaikan sebuah mainan yang di perebutkan oleh dua orang anak kecil.
Dalam hal ini, yang paling untung adalah Li Kui, semua ilmu yang di miliki oleh kedua kakek aneh itu semua mereka turunkan ke Li Kui.
Bahkan untuk memudahkan Li Kui menyerap energi inti bumi dan energi inti neraka.
__ADS_1
Kedua kakek itu telah membuka seluruh nadi dan syaraf syaraf di tubuh Li Kui.
Sehingga dia bisa dengan bebas menyalurkan kemana pun tenaga sakti yang dia latih tanpa ada halangan.
Sementara itu Guo Yun bersama rombongan anak buah kakek Huang, akhirnya mereka tiba kembali ke gunung Ling San.
Pulang pergi tidak terasa, Guo Yun sudah menghabiskan waktu 3 bulan perjalanan.
Kedatangan Guo Yun langsung di sambut gembira oleh Lai Fu.
"Kakak Yun apa kabar ? bagaimana perjalanan nya lancar ?"
tanya Lai Fu sambil memberi hormat.
Guo Yun sambil tersenyum ramah berkata,
"Semua berjalan cukup lancar, kabar ku juga baik.. terima kasih adik Lai Fu.
"Kalian berempat sendiri bagaimana ? apa ada kabar sesuatu yang terjadi selama beberapa waktu ini..?"
tanya Guo Yun sambil menatap keempat saudara seperguruan nya.
"Keadaan kami baik baik saja, keadaan Su Yuan, juga biasa saja,"
"Semua berjalan lancar dan tenang."
"Hanya saja.."
ucap Lai Fu sedikit ragu berbicara.
"Hanya saja kenapa ? coba jelaskan adik Lai Fu.."
ucap Guo Yun penasaran.
Lai Fu setelah terlihat ragu sejenak akhirnya dia berkata,
"3 hari yang lalu, ada seorang pemuda bernama Ching Ke datang mencari mu.."
"Karena tidak berhasil menemukan mu, dia hanya menitip pesan ke kami, katanya negara Lu sedang dalam bahaya.."
"Negara Chu sudah mencaplok wilayah Yue, Han, dan Song."
"Kini dia sedang menarget negara Lu.."
"Pasukan bala bantuan dari Qin yang bekerja sama dengan Lu, untuk menghadapi pasukan Chu.."
"Kini terjebak di lembah sungai Huai, tidak bisa bergerak maju, ataupun mundur situasi sedang kritis."
"Bila pasukan Qin di bawah pimpinan pangeran Yin Zheng gagal dan di hancurkan.."
"Maka Lu pasti akan menghadapi bahaya besar."
"Begitulah pesannya.."
ucap Lai Fu sambil menyerahkan sepucuk surat ke Guo Yun.
"Ini adalah titipan Ching Ke, untuk kakak Yun.."
ucap Lai Fu cepat.
__ADS_1