
Li Kui mengangguk pelan, lalu maju memeluk Guo Yun dan berkata,
"Kakak jaga diri baik baik, bila ada waktu mampir lah kemari.."
Guo Yun mengangguk dan berkata,
"Kalian juga sama..jaga diri,.."
"kapan kapan kami pasti akan beramai ramai berkunjung ketempat mu.."
"Kasih tahu Cu Cu, agar bersabar sedikit, jangan sering sering bertengkar dengan kedua kakek mu..'
"Mereka sudah tua, ikuti sajalah kemauan mereka.."
"Hitung hitung untuk menghibur sisa hidup mereka yang tidak lama lagi.."
ucap Guo Yun memberi nasehat ke Li Kui.
Li Kui mengangguk dan berkata,
"Kamu benar kak, kami semalam juga sudah berunding, pagi ini rencananya, kami berdua mau pergi temui mereka berdua, sekaligus meminta maaf kepada mereka.."
"Tak perlu, kami sudah memaafkan kalian.."
"Kami juga salah terlalu memaksa.."
"Beberapa hari ini, kami lihat kalian berdua juga sedang berusaha.."
"Semua berkat bocah cerdas ini.."
"Aku sungguh heran kenapa Cu Cu dulu tidak pilih dia, malah pilih kamu.."
"Kalau pilih dia, cicit laki laki kami, mungkin sudah selusin.."
ucap Wu Ti Siaw Jen sambil tersenyum lebar, melangkah keluar dari bilik perahu, bersama Cu CU dan Kakek nya.
Wajah Cui Ming Koai Jen terlihat lebih normal, tidak sekusut kemaren, meski masih tetap terlihat dingin.
"Paman kakek ini kalau bicara selalu sembarangan.."
tegur Cu Cu sambil tersenyum jengah.
Guo Yun dan Li Kui tidak terlalu menanggapi ucapan terakhir Wu Ti Siaw Jen.
Mereka berdua justru merasa lega saat melihat kedua orang tua itu tidak lagi kesal.
"Kakek terlalu berlebihan, aku sendiri punya istri 3 anak juga cuma 3 mana ada lusinan.."
"Anak Li er juga perempuan, hanya Min Min dan Si Si yang ngasih anak laki laki.."
"Hal seperti itu mana bisa di atur oleh Yun er .."
ucap Guo Yun sambil tersenyum lebar.
"Hei bocah, katakan saja terus terang, kamu ke pulau Peng Lai ada masalah kan.?."
"Kamu tak perlu tutupi dari kami.."
"Kamu bisa tipu mereka berdua, kami tidak bisa tipu mata kami.."
"Sebagai balas jasa atas informasi mu, membantu mereka dapatkan cicit laki laki.."
__ADS_1
"Kami sudah putuskan akan membantu mu hingga tuntas.."
"Ayo kita langsung ke Peng Lai saja.."
ucap Cui Ming Koai Jen dengan suara dingin.
Cu Cu dan Li Kui menatap kearah Guo Yun dengan kaget.
"Benarkah kak..yang kakek katakan itu..?"
"Kamu sengaja berbohong,.agar kami tidak ikut terlibat..?"
tanya Li Kui menatap Guo Yun dengan kaget.
Guo Yun tersenyum canggung menatap kedua orang itu dan berkata,
"Kakek mu benar, aku memang sengaja lakukan itu.."
"Kalian ada Sin Yi yang masih kecil, aku mana boleh ajak ajak kalian pergi menempuh bahaya."
ucap Guo Yun sambil menatap serius kearah Cu Cu dan Li Kui.
"Sin Yi ada kami, yang jaga kalian khawatir apa..?"
"Ayo kita berangkat cepat.."
ucap Wu Ti Siaw Jen penuh percaya diri.
Li Kui dan Cu Cu mengangguk cepat, Li Kui segera pergi angkat sauh.
Cu Cu membantu mengembangkan layar, melihat hal itu mau gak mau Guo Yun membantu memutar kemudi.
Setelah kapal mulai bergerak meninggalkan pulau neraka, menuju pulau Peng Lai yang letaknya tidak terlalu berjauhan.
Li Kui dan Cu Cu langsung kembali kehadapan Guo Yun menunggu penjelasan.
Guo Yun sambil menghela nafas panjang, dia kemudian menceritakan semua kejadian sebenarnya yang terjadi.
Mendengar cerita Guo Yun, Li Kui dan Cu Cu sangat kaget.
"Ahh kakak kita telah membuang banyak waktu, kita harus secepatnya kesana.."
"Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi pada kakak kedua dan kakak ipar.."
ucap Li Kui cemas dan merasa bersalah.
Karena masalah mereka, Guo Yun jadi tertunda langkah nya, menyusul Li Ba dan Sian Sian ke pulau Peng Lai.
"Kakak bagaimana bila aku bantu dorong dengan tenaga sakti, agar kapal kita lebih cepat sampai..?"
tanya Li Kui serius.
Guo Yun menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak adik Kui, bila kalian ingin ikut pergi membantu.."
"Kalian justru harus jaga kondisi dan kebugaran kalian.."
"Tidak boleh menghambur hamburkan tenaga.."
"musuh musuh kita yang menanti kita disana itu sangat kuat.."
__ADS_1
"Sebaliknya dari memboroskan tenaga kita harus atur rencana dengan matang."
"Begini rencananya,"
ucap Guo Yun sambil menjelaskan keseluruhan rencana yang dia buat.
Agar mereka bisa memenangkan pertempuran berat sebelah itu dengan baik.
Li Kui Cu Cu juga kedua Kakek nya hanya mendengarkan dan menganggukkan kepala saja.
Mereka terlalu mengenali Guo Yun yang sangat pandai mengatur strategi.
Selama ini strategi Guo Yun sudah berulang kali terbukti.
Bila di jalankan dengan benar, jarang dan hampir tidak pernah meleset jadi tidak perlu diragukan lagi.
Selesai menjelaskan strateginya, mereka.masing masing langsung sibuk mengendalikan kapal mereka secepatnya menuju pulau Peng Lai.
Hanya kedua kakek itu yang terlihat duduk santai menemani cicit mereka bermain
Sesuai saran dan rencana Guo Yun, arah gerak kapal menuju pulau Peng Lai, bergerak sedikit memutari.pulau tersebut.
Kapal yang ditumpangi oleh Guo Yun dan rombongannya, tidak langsung mendekati jalan utama menuju dermaga pulau itu.
Melainkan sedikit mengambil jalan memutar, kapal mereka kemudian di biarkan mengapung diam ditempat, yang agak jauh dari bibir pantai.
Posisi kapal mereka terletak di belakang sebuah tebing bukit karang.
Sehingga tempat nya agak sedikit tersembunyi, tidak mudah terlihat oleh penghuni pulau itu.
Terutama dari arah jalan utama di dermaga pulau Peng Lai.
Terlihat hanya Li Kui Guo Yun dan kedua kakek Li Kui yang bergerak menuju tepi pantai, dengan menggunakan sebuah perahu kecil.
Cu Cu tidak diijinkan ikut, Cu Cu bertugas menjaga kapal dan Sin Yi putrinya.
Setelah mendarat di tepi pantai, sebelum mulai bergerak, Guo Yun sekali lagi menjelaskan ulang strategi nya.
Sebelum mereka berempat kemudian dengan gerakan mengendap ngendap, mendaki tebing batu karang di tepi pantai yang menjadi bagian belakang sebuah bukit, yang cukup strategis.
Dari atas bukit itu Guo Yun bisa melihat dengan jelas situasi di tepi dermaga dan kota kecil d bagian tengah pulau.
Di mana banyak bangunan rumah di sana, termasuk bangunan induk tempat kediaman kakek Huang dulu.
Beberapa saat melakukan pengamatan, Li Kui langsung menunjuk kearah pintu gerbang kota dan berkata,
"Kak sepertinya di sana, pertempuran sudah mulai pecah'.."
ucap Li Kui sambil.menatap Guo Yun.
"Ayo kita kesana, ingat jangan bergerak sendiri sendiri, jangan lupa strategi kita.."
"Tak perlu ragu dan malu yang penting menang.."
ucap Guo Yun kembali mengingatkan.
Terutama dia khawatir dengan kedua kakek Li Kui yang dari dunia persilatan.
Mereka biasanya adalah orang yang suka bergerak sendiri sendiri sesuka hati.
Apalagi mereka termasuk senior dunia persilatan tentu saja mereka punya gengsi sendiri.
__ADS_1