
Di.luar dugaan Opas Wu dan Jendral Wi Hong, saat keduanya yang satu tiba di Bei Qi menemui Han Wei.
Yang lainnya menemui Ying Wu di Si Qi.
Mereka berdua tidak pernah menyangka semua berjalan begitu mudah.
Begitu mereka berikan gulungan titah Guo Yun ketangan kedua gubernur itu.
Baik Han Wei maupun Ying Wu ditempat terpisah.
Mereka berdua langsung berlutut mengangkat titah Guo Yun diatas kepala tinggi tinggi.
"Terimakasih Yang Mulia, terimakasih atas kebijaksanaan, kebesaran hati dan pengampunan Yang Mulia berikan pada kami.."
"Kami akan memenuhi sumpah kami, sampai mati hanya akan mengabdi pada Yang Mulia.."
"Kami akan menebus dosa kami dengan merebut kota Yang Mulia titah kan pada kami.."
ucap Han Wei dan Ying Wu ditempat terpisah dengan penuh hormat dan haru.
Setelah menerima titah, kedua orang itu langsung menguras seluruh harta simpanan mereka, untuk di belikan ransum dan peralatan militer.
5 hari melakukan persiapan, mereka masing masing memimpin 300.000 pasukan, langsung berangkat meninggalkan kota masing masing.
Han Wei memimpin pasukannya menarget Luo Yang, sedangkan Ying Wu menarget kota Da Liang.
Opas Wu dan Jendral Wi Hong secara otomatis, mereka langsung di tunjuk, untuk menggantikan jabatan Han Wei dan Ying Wu
Opas Wu yang naik menjadi gubernur di Bei Qi, langsung melakukan pembersihan terhadap semua pejabat di bawahnya, yang terlibat kasus konspirasi Tuan Ding.
Dia memberhentikan hampir sebagian besar bupati di bawahnya, dan para camat bawahan para bupati itu.
Lalu mengadakan pemilihan ulang di setiap daerah, mencari orang yang jujur dan layak untuk ditempatkan.
Lewat suara rakyat yang di wakili oleh para tetua masyarakat, Gubernur Wu dengan mudah mendapatkan orang jujur, berkemampuan, untuk menempati posisi jabatan mereka.
Sedangkan para pejabat lama yang di tangkap, semua nya di penjarakan.
Harta mereka semua di sita oleh gubernur Wu, untuk pembelian ransum makanan dan peralatan persenjataan.
Hal yang sama juga di lakukan oleh Wi Hong di kota Si Qi, dia juga memenjarakan pejabat lama, memilih pejabat baru.
Menggunakan harta sitaan, untuk menumpuk ransum dan persenjataan militer.
Pihak kepala serikat dagang di kota Bei Qi dari Si Qi, yang tidak tahu informasi situasi dan keputusan di pusat sana.
Mereka dengan penuh semangat melayani semua pesanan dari Han Wei, Ying Wu, kemudian di sambung dengan pesanan Gubernur Wu dan gubernur Wi Hong.
Untuk memenuhi pesanan yang sangat banyak, dan tidak biasa itu, mereka bahkan harus mendatangkan barang dari distrik Qi dan Lang Ya, untuk memenuhi permintaan yang masuk ke mereka.
Secara bertahap dan terus menerus, mereka berusaha memenuhi semua pesanan itu, dari gudang stok mereka.
Para pengusaha, berlomba menarik keuntungan sebanyak-banyaknya, dari hasil keuntungan penjualan tersebut.
Mereka tidak sadar tindakan mereka ini justru akan merusak rencana Ying Zheng, yang hampir berhasil mengacaukan kerajaan Yue.
Gubernur Wu dan Gubernur Wi Hong, yang tidak memahami rencana Guo Yun.
Mereka hanya tahu terus membeli dan menumpuk persediaan sesuai perintah Guo Yun.
Bekas Wilayah Qi dan Yan, semakin terputus informasi dengan pusat.
Setelah Han Wei dan Ying Wu, melakukan gempuran mendadak, dan masing masing dari mereka berdua, berhasil menduduki kedua kota penting tersebut.
Ying Zheng di Xian Yang, menjadi panik. Saat mendapat kabar dua kota besarnya.
Kini sudah jatuh ketangan bawahan adik iparnya, Guo Yun.
Untuk mengantisipasi meluasnya kejatuhannya di wilayahnya, yang lain.
Ying Zheng segera mengirim Meng Thian dan Meng Yu untuk bertahan di An Yi.
Sedangkan Wang Jian dan Wang Ben ayah dan anak bertahan di Handan, dengan bantuan pasukan Xiongnu dari Ratu Camelia, yang punya dendam sedalam lautan dengan Guo Yun.
Asalkan mendengar tentang Guo Yun, Ratu itu dengan penuh semangat, akan mengirim bantuan untuk melawannya.
Ying Zheng yang memanfaatkan situasi itu, sukses mendapatkan dukungan dari Ratu Camelia, pimpinan bangsa Xiongnu di wilayah barat.
Tapi baik Han Wei, maupun Ying Wu, keduanya setelah berhasil merebut Da Liang dan Luo Yang.
Mereka diam tidak bergerak.
Mereka hanya membentuk pertahanan di kedua kota itu, mencegat arus informasi dan hubungan pusat Qin, dengan kedua wilayah tahlukkan mereka, wilayah Yan dan wilayah Qi.
Guo Yun sendiri yang melakukan perjalanan cepat, ditengah jalan akhirnya bertemu dengan Rombongan pasukan bantuan dari Guiji.
Rombongan itu di pimpin oleh Gongsun Li, Si Si, dan Li Ba.
Guo Yun berdiri di sana sambil tersenyum lebar, dengan sepasang tangan terbuka, menyambut Gongsun Li dan Si Si, yang langsung berlari meninggalkan barisan, maju menubruk kedalam pelukan hangat Guo Yun.
Gongsun Li sambil terisak, terus memukuli dada Guo Yun dengan gemas.
Sedangkan Si Si hanya memeluk dan menangis dalam pelukan Guo Yun.
Li Ba dan Sian Sian yang ikut hadir di sana, mereka berdua hanya tersenyum lebar, melihat pemandangan di hadapan mereka.
Seluruh pasukan harimau hitam dan pasukan wanita Si Si, terlihat berlutut di sana memberi hormat pada Raja mereka.
Guo Yun sambil tersenyum gembira menciumi pipi kedua istrinya, yang basah airmata, secara bergantian.
"Sayang sudah ya, malu di lihat pasukan bawahan kalian,.."
"Aku harus meminta mereka berdiri, kasihan mereka terus berlutut di sana."
ucap Guo Yun pelan.
Gongsun Li dan Si Si segera menyadari kekeliruan mereka, yang terlalu terbawa suasana.
Mereka segera melepaskan pelukan mereka, dengan wajah merah dan kepala tertunduk malu.
Mereka berdua dengan kompak, langsung mundur kebelakang Guo Yun.
Guo Yun tersenyum dan menganggukkan kepalanya kearah Sian Sian dan Li Ba.
Setelah itu dia baru berkata dengan suaranya, yang terdengar jelas hingga keseluruh penjuru.
"Kalian semua pejuang gagah perkasa dari kerajaan Yue,! berdirilah semuanya..!"
"Mari ikut dengan ku,! untuk mempertahankan tanah air kita yang tercinta..!"
"Demi kerajaan Yue!, demi Kerajaan kita,! rakyat kita,! saudara kita,! keluarga kita..!"
"Mari kita usir semua orang yang berani datang mengganggu tanah tumpah darah kita..!"
ucap Guo Yun berpidato dengan penuh semangat.
Sehingga seluruh pasukan yang hadir disana, semuanya terlihat bangkit berdiri.
Mengangkat senjata mereka tinggi tinggi di atas kepala, sambil berteriak,
"Hidup Raja Yue,..! Hidup Guo Yun,..! Hidup Raja Yue..! Hidup Guo Yun..!"
Suara sorakan membahana memenuhi seluruh tempat itu.
Beberapa saat setelah mengobarkan semangat juang mereka.
Guo Yun pun mengangkat kedua tangannya keatas, sehingga suasana kembali hening.
"Hari ini kita berkemah di sini..!"
"Besok sebelum matahari terbit, kita baru bergerak menuju Shoucun..!"
ucap Guo Yun memberi perintah, untuk mengistirahatkan pasukannya.
Setelah memberi perintah di mana masing masing pimpinan pasukan, mulai memberi perintah untuk membuat pertahanan dan perkemahan besar di tempat itu.
Guo Yun maju menghampiri Li Ba, saudara kedua nya itu, mereka sama sama maju untuk saling rangkul, dengan hangat, lalu sama sama tertawa gembira.
Mereka kemudian mencari tempat duduk santai, berkumpul di bawah pohon rindang.
"Kakak ceritakan pengalaman petualangan mu ke Bai Yun San.."
"Apa yang terjadi ? mengapa lama sekali tidak ada kabar, juga tidak pulang .?"
"Apa lupa ingatan lagi ? lalu nambah kakak ipar keempat..?"
ucap Li Ba sambil tertawa keras.
Gongsun Li langsung menatap tajam kearah Guo Yun dan berkata,
"Apa benar seperti itu..?"
"Ehh jangan dengarkan dia, itu fitnah.."
ucap Guo Yun panik, melihat tatapan Gongsun Li.
Dia buru buru merangkulnya dan berkata,
"Tidak ada seperti itu, aku pergi kesana untuk menghadapi tantangan Ling Yun Lao Jen.."
"Baiklah aku akan ceritakan semuanya, agar tidak ada salah paham.."
ucap Guo Yun cepat.
Lalu dia pun dengan santai menceritakan semua pengalaman nya, dengan tenang, satu persatu hingga selesai.
Saat Guo Yun menyelesaikan ceritanya dia pun berkata,
"Nah begitulah ceritanya.."
"Kakak,.. Han Wei dan Ying Wu bagaimana kakak akan menangani mereka.?"
tanya Li Ba penasaran.
Guo Yun menghela nafas panjang dan berkata,
"Mereka berdua kini sedang berjuang menebus dosa, dengan merebut kota Luo Yang dan Da Liang."
"Membantu kita memecah belah kekuatan Qin, yang saat ini sangat besar. Setelah mereka berhasil mempengaruhi 5 kota perbatasan kita."
ucap Guo Yun menjelaskan.
__ADS_1
"Bila mereka tidak di hukum, apa akan adil..?"
tanya Li Ba lagi.
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Yang merasa tidak adil dan tidak puas, boleh coba pergi menahlukkan beberapa kota seperti Ye, Wei, An Yi, Handan, Lin Ji atau Ji dan Dai untuk kita.."
"Bila mereka bisa lakukan seperti yang Han Wei dan Ying Wu lakukan, aku juga akan melepaskan mereka.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum santai.
"Ha..ha..ha..ha..!"
"Kakak ini paling bisa, hebat hebat..hebat..ha..ha..ha..ha..!"
ucap Li Ba sambil tertawa dan mengacungkan jempol.
Guo Yun sambil tersenyum, lalu menoleh kearah Gongsun Li dan berkata,
"Li Er, kamu tulis surat kirim ke gubernur Wu dan Wi Hong, agar segera mengirim ransum dan peralatan perang buat kita.."
"Aku rasa saat ini mereka juga sudah menumpuk cukup banyak barang, yang kita perlukan itu."
ucap Guo Yun serius.
Gongsun Li mengangguk dan berkata,
"Kalau begitu kita kembali ke kemah sekarang, untuk menyiapkan hal itu.."
Guo Yun mengangguk, lalu dia bangkit berdiri dan berkata,
"Sian Sian awasi dia jangan minum lagi, pertempuran besar di depan mata.."
"Nanti kalau sudah berhasil mengambil kepala si Fan Sui, baru kamu boleh minum hingga puas.."
ucap Guo Yun mengingatkan Sian Sian dan Li Ba.
"Siap kakak pertama..aku akan awasi dia dengan ketat.."
ucap Sian Sian sambil tersenyum penuh kemenangan.
Sebaliknya Li Ba terlihat tidak puas dan bersungut sungut.
Sesaat setelah Guo Yun dan kedua istrinya pergi.
Li Ba dengan wajah memelas berkata,
"Istri ku boleh ya,..sedikit aja..?"
"Tidak,..tidak ada pintu untuk berunding..titik.."
ucap Sian Sian ketus.
Kemudian dia langsung berjalan meninggalkan Li Ba, Li Ba buru buru mengejar dan membujuk istrinya, seperti anak kecil minta permen.
Keadaan mereka berdua terlihat sangat lucu.
Guo Yun sambil berjalan menuju kemah utamanya ditemani kedua istrinya, dia berkata,
"Bagaimana dengan anak anak..?"
"Yun ke ke tenang saja, mereka ada Min Min yang mengawasi dan mengurusnya.."
ucap Gongsun Li santai.
"Bagaimana keadaannya..?"
tanya Guo Yun pelan sambil menoleh kearah Si Si.
"Min Min keadaan nya cukup baik, hanya agak merindukan Yun ke ke, lainnya normal.."
Jawab Si Si pelan.
Guo Yun mengangguk dan tersenyum lega.
Sesaat kemudian mereka bertiga sudah memasuki tenda besar mereka.
Gongsun Li langsung duduk menghadap meja, untuk menulis surat buat gubernur Wu dan gubernur Wi Hong.
Guo Yun dan Si Si duduk menemaninya di samping.
"Yun Ke ke menurut informasi mata mata kita, kelima gubernur di wilayah perbatasan dengan Qin."
"Mereka telah memutuskan memberontak, bergabung dengan kelompok serikat dagang di bawah pimpinan Fan Sui.."
"Kini Fan Sui sedang memimpin pasukan gabungan mereka, bergerak mengancam Shoucun.."
"Apa Yun ke ke sudah punya rencana menghadapi mereka.?"
"Kekuatan pasukan gabungan mereka, bersama kelompok pemberontak, bila di gabung di perkirakan bisa mencapai sekitar 800.000, hingga sejuta personil.."
"Sedangkan kekuatan kita di Shoucun dibawah pimpinan Jendral Zhang, Ling dan Zhou hanya kisaran 300.000."
"Ditambah dengan pasukan bantuan kita, mungkin hanya mencapai 500.000 hingga 600.000 personil saja.."
ucap Si Si memberikan informasi.
"Sekarang belum ada rencana, nanti kita lihat perkembangan situasi di lapangan saja dulu.."
"Baru kita susun rencana sesuai situasi Medan perang."
ucap Guo Yun tenang,
Si Si mengangguk menanggapi ucapan suaminya.
"Sudah beres.."
ucap Gongsun Li , sambil meletakkan alat tulisnya.
Lalu dia memberikan dua pucuk surat yang di tulis nya ke Guo Yun.
Guo Yun membacanya sebentar dan berkata,
"Bagus sempurna, kirimkan lewat merpati cepat ke mereka berdua.."
Gongsun Li menerimanya kembali, memberi stempel, kemudian dia gulung, dan masukkan kedalam tabung bambu kecil, yang penutup nya di beri segel dengan lilin.
"Pengawal...!"
teriak Gongsun Li.
Pengawal penjaga pintu, segera masuk memberi hormat dan berkata,
"Ada pesan Yang Mulia,..?"
"Segera gunakan merpati cepat, kirimkan ke Bei Qi dan Si Qi.."
"Tabung kecil merah ke kediaman gubernur Bei Qi, tabung kecil kuning ke kediaman gubernur Si Qi.."
ucap Gongsun Li.
"Siap Yang Mulia.."
ucap Pengawal itu maju menerima kedua tabung itu, untuk dia bawa pergi keluar dari kemah utama.
"Ahh akhirnya bisa meluruskan pinggang .."
ucap Gongsun Li sambil memguletkan tubuhnya yang indah mempesona.
Guo Yun sambil tersenyum memberi kode agar Si Si meninggal kemahnya.
Si Si mengerti, dia segera meninggalkan kemah, pergi kemahnya sendiri yang lebih kecil.
"Sayang, bagaimana bila aku bantu pijit, untuk menghilangkan capek capek."
Gongsun Li sambil tersenyum malu, berkata,
"Ini tenda militer, kamu mau apa ?"
"Jangan bikin malu, nanti kalau ada yang masuk gimana ? gak mau ahh.."
ucap Gongsun Li pura pura menolak.
Padahal dia sangat menginginkan nya, dia sudah lama merindukan kehangatan dan belaian kasih sayang dari Guo Yun.
Guo Yun sambil tersenyum berkata,
"Kamu tunggu sebentar.."
Guo Yun kemudian berjalan kearah pintu kemah.
"Kalian pergilah berjaga mundur 5 tombak dari sini."
"Siapapun di larang masuk kedalam tenda, sebelum ada ijin dari ku ."
ucap Guo Yun tegas pada para penjaganya.
Para penjaga itu mengangguk paham.
Mereka segera mengikuti perintah Guo Yun, mundur lima tombak berjaga nya.
Setelah berpesan, Guo Yun pun kembali masuk kedalam tendanya.
"Sudah aman sekarang.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum penuh arti kearah istrinya.
"Dasar genit, gak pernah berubah ."
ucap Gongsun Li pura pura mengomeli suaminya.
Padahal di dalam sana, dia sangat gembira dan bahagia.
Guo Yun mulai membantu Gongsun Li melepaskan seragam militernya.
Setelah itu, dia mulai memberikan pijatan pijatan lembut di bagian belakang tubuh istrinya, yang terlihat tidur dengan posisi tengkurap.
Perlahan-lahan mulai terdengar suara de sah an nikmat dari Gongsun Li.
Sepasang mata nya yang indah sampai meram melek menikmati pijatan suaminya.
__ADS_1
Semakin lama suara de sah an mulai berubah menjadi suara rin tih an.
Gongsun Li yang malu, terpaksa harus menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
Agar suaranya tidak sampai terdengar oleh para prajurit penjaga di luar sana.
Guo Yun terus berusaha memberikan yang terbaik, buat menghibur Gongsun Li, yang sering terpaksa dia tinggal tinggal, karena banyaknya urusan pekerjaan yang harus di jalaninya.
Ditambah harus membagi waktu untuk 3 wanita yang dia cintai, dan buah hati mereka, waktu mereka berduaan pun semakin minim dan jarang.
Guo Yun menjelang tengah malam, baru keluar dari tendanya, pindah ke tenda Si Si.
Melanjutkan tugasnya menghibur istri keduanya, yang juga sudah sama hausnya seperti Gongsun Li.
Hingga menjelang pagi Guo Yun dan Si Si baru keluar dari tenda mereka.
Meski terlihat agak sedikit agak pucat wajah Si Si, tapi wajah itu terlihat bersinar cerah.
Begitu pula dengan wajah Gongsun Li, yang sedang menanti mereka berdua di depan tenda sambil tersenyum.
Sesaat kemudian mereka bertiga pun sudah berkumpul dengan Li Ba dan Sian Sian.
Untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Shoucun.
Setiba di Shoucun, dari atas sebuah bukit kecil, Guo Yun melihat kota itu sedang di kepung dari segala penjuru.
Dari pakaian para pengepung dan senjata di tangan mereka yang tidak beraturan.
Guo Yun bisa menebak, mereka ini adalah pasukan pemberontak, yang telah terhasut oleh aliran ajaran sesat, yang di propaganda kan oleh orang orang kepercayaan Ying Zheng.
"Kalian tunggu di sini saja, tunggu kode dari ku baru bergerak.."
ucap Guo Yun.
Setelah memberikan pesan ke Li Ba, Sian Sian, Gongsun Li dan Si Si.
Tentang bagaimana cara mereka menggerakkan pasukan harimau hitam nantinya.
Guo Yun seorang diri memacu kudanya menerjang kearah pintu gerbang selatan, pintu gerbang terdekat dengan posisinya berada.
Kedatangan Guo Yun yang memegang sepasang pedang Hung Sie Cien dan Han Kuang Cien di kanan kiri tangan nya.
Langsung berhasil membuyar kan pemberontak, yang sedang melakukan pengepungan di sana.
Setiap pedang biru berkelebat, pasti ada puluhan ribu orang tewas membeku, berubah menjadi patung es.
Sedangkan bila yang berkelebat adalah pedang merah, pasti ada puluhan ribu orang hangus terbakar.
Sinar merah dan Biru mendahului Guo Yun melesat menerjang gerombolan pemberontak, yang sedang melakukan pengepungan di gerbang selatan kota Shoucun.
Sebelum Guo Yun tiba di sana hampir 1/4 dari gerombolan pemberontak itu sudah di habisi oleh tebasan pedang sapu jagat, yang menggunakan jurus Je Ye Sen Cien.
Para pengepung menjadi ketakutan dan panik, melihat kedahsyatan serangan yang di lancarkan oleh Guo Yun.
Mereka terus bergerak mundur ketakutan, berusaha menjauhi Guo Yun.
Guo Yun terus memberikan tebasan pedang, untuk membuka jalan bagi kudanya untuk lewat.
Agar dia bisa segera tiba di depan gerbang selatan.
"Menyingkirlah bila sayang nyawa..!"
"Hiaaa...!"
"Menyingkirlah bila sayang nyawa..!"
"Hiaaa...!"
"Menyingkirlah bila sayang nyawa..!"
"Hiaaa...!"
"Menyingkirlah bila sayang nyawa..!"
"Hiaaa...!"
Bentak Guo Yun sambil terus bergerak maju, dia terus memacu kudanya melewati barisan pasukan musuh, yang menyibak dengan sendirinya.
Tidak ada lagi yang berani menghalangi jalannya.
Pimpinan penjaga diatas benteng terlihat sangat gembira, ssat melihat kehadiran Guo Yun.
Dia segera berteriak penuh semangat.
"Raja Yue telah tiba..!!"
"Raja Yue telah tiba..!!"
"Raja Yue telah tiba..!!"
"Raja Yue telah tiba..!!"
"Dia datang untuk menyelamatkan kita...!"
"Ayo,..ayo..ayo... bersemangatlah..!!"
Saat Guo Yun hampir mencapai pintu gerbang masuk, pintu gerbang sedikit terbuka.
Barisan pasukan harimau hitam, yang memegang tameng dan tombak panjang.
Terlihat keluar dari pintu gerbang, mereka, begitu keluar dari pintu gerbang, mereka langsung bergerak menyebar di depan pintu gerbang.
Mereka menggunakan panah panah cross bow, yang cepat dan akurat.
Untuk di tembakkan kearah pasukan pemberontak, yang terlihat berusaha untuk menyerang mereka.
Saat pasukan pemberontak semakin dekat memasuki jangkauan 5 meter.
Tombak tombak terbang, yang bagian mata tombaknya tersambung dengan rantai melesat ke depan.
"Singggg,..!"
"Creebbbb..!"
"Singggg,..!"
"Creebbbb..!"
"Singggg,..!"
"Creebbbb..!
Menerjang kearah pasukan pemberontak yang nekad berlari menerjang kearah mereka.
"Arggghh...!"
"Arggghh...!"
"Arggghh...!"
pasukan pemberontak menjerit ngeri, sebelum roboh terkapar, saat terkena serangan mata tombak, yang bisa terbang berseliweran di udara.
Selain mata tombak yang bisa memanjang dan membunuh lawan.
Rantai panjang itu, juga di gunakan untuk melilit tubuh para penyerang.
Untuk di lempar kesana kemari, guna membuyarkan kepungan lawan, yang berjumlah jauh lebih banyak.
"Werrrrr..!"
"Werrrrr..!"
"Werrrrr..!"
Terdengar suara rantai berseliweran melilit tubuh lawan.
"Wussss..!"
"Wussss..!"
"Wussss..!"
Tubuh mereka yang terlilit rantai, langsung di lempar kearah rekan rekan mereka, yang berdiri di belakang mereka.
"Brakkk...!"
Brakkk...!"
Brakkk...!"
Terdengar suara tubuh saling tabrak, hingga timbul suara hiruk pikuk di sana sini.
"Arggghh..!"
Arggghh..!"
Arggghh..!
Suara jerit kesakitan juga mewarnai, area pertempuran.
Saat musuh sudah terlalu dekat, tidak bisa di cegah lagi, pasukan harimau hitam baru mengangkat tameng di tangan mereka untuk menangkis.
Sambil memberikan serangan balasan dengan tombak di tangan mereka masing masing.
Dengan mengunakan tombak, yang mata tombak dan rantai sudah ditarik kembali, di sambung menjadi tombak biasa.
Guo Yun sendiri kudanya melompat tinggi, melewati barisan pertahanan pasukan Harimau Hitam.
Dia langsung bergerak melewati celah pintu gerbang yang sedikit terbuka.
Setelah Guo Yun masuk kedalam benteng, pasukan harimau hitam, dengan teratur pelan pelan bergerak mundur, satu persatu menghilang di balik pintu gerbang selatan.
Hingga tersisa barisan penghujung yang tinggal lima orang, mereka bertahan dengan tameng mereka, sambil terus bergerak mundur.
Dari atas tembok pertahanan diatas pintu gerbang, anak anak panah, di lepaskan berhamburan memaksa mundur gerombolan pasukan pemberontak, yang datang bagaikan air bah tumpah ruah.
Pasukan gerombolan pemberontak sedikit tertahan oleh hujan panah.
Kesempatan ini tidak di sia sia kan, lima personil terakhir pasukan harimau hitam, mereka langsung menghilang di balik pintu gerbang.
Pintu gerbang pun tertutup kembali dengan rapat.
__ADS_1