
"Terutama setiap kami membahas tentang Lu Bu Wei.."
"Mengapa aku bisa begitu teledor dan bodoh..?"
ucap Guo Yun penuh penyesalan.
"Mengapa aku tidak meluluskan saja permintaan nya, ? melupakan semua tentang manusia laknat itu.."
"Mengapa,.."
ucap Guo Yun sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Gui Yun kembali menangis sedih dalam diam.
Gongsun Li dan Si Si selesai membaca surat itu, mereka berdua saling pandang sejenak.
Seperti menemukan kesepakatan, Gongsun Li mengambil surat baru di atas meja.
Mengeluarkan isi nya dan berkata,
"Yun ke ke sebentar lagi hari akan pagi..'
"Tahanlah dulu kesedihan mu, kamu harus baca pesan terakhirnya.."
"Biar Si Si menemani mu, aku mau pergi cari kereta kuda dan mengurus peralatan sembahyang.."
ucap Gongsun Li sambil merangkul kepala suaminya kedalam pelukannya dan menciumi kepala nya dengan lembut.
Guo Yun menanggapi dengan anggukan pelan dalam diam.
Gongsun Li kemudian melepaskan pelukannya, beranjak meninggalkan kamar tempat mereka menginap.
Setelah Gongsun Li pergi, Guo Yun mencoba menenangkan diri, dengan menarik nafas dan membuang nafas panjang.
Setelah mengulanginya beberapa kali, akhirnya Guo Yun mulai membuka surat terakhir yang berisi pesan Min Min.
Dengan wajah penuh penyesalan, Guo Yun mencoba menguatkan hatinya untuk membaca isi pesan Min Min.
"Yun ke ke, tersenyumlah, coba tersenyum untuk ku.."
"Tidak boleh bersedih harus tersenyum.."
Membaca dua kalimat baris pertama,
Dengan sekuat tenaga, Guo Yun berusaha untuk tersenyum.
Meski senyumnya sangat jelek mirip orang menahan tangis, Guo Yun tetap berusaha melakukan nya dengan air mata bercucuran.
Kemudian melanjutkan membacanya.
"Hapus airmatanya, jangan menangis lagi, jadilah pria yang membanggakan.."
"Pria boleh mengalirkan darah, tapi jangan mengalirkan air mata.."
"Nanti tulisan ku jadi kabur, cepat hapus airmatanya,..cepat..!"
Guo Yun sambil berusaha tetap tersenyum, dia menuruti permintaan Min Min.
Dia benar menghapus air matanya, Guo Yun mencoba menengadah keatas dan menghapus sisa airmatanya, agar tidak runtuh lagi.
__ADS_1
Setelah perasaannya sudah agak tenang, Guo Yun baru membacanya lagi.
"Nah ini baru benar, ini baru suami kebanggaan ku.."
"Yun ke ke terimakasih, terimakasih atas semua nya.."
"Bersama mu adalah hari hari terbahagia dalam hidup ku.."
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah menyesalinya.."
"Yun Ke ke saat kamu membaca surat ini, secara fisik aku sudah tidak mungkin menemani mu.."
"Tapi percayalah aku sebenarnya tidak pernah meninggalkan mu, aku masih tetap selalu ada di hati mu.. hingga kamu tidak menghendaki ku lagi.."
"Aku baru akan benar-benar pergi."
Guo Yun menghela nafas panjang dan berkata,
"Kamu membuat ku, melakukan hal itu, bagaimana aku bisa melupakan mu.."
"Dasar licik dan curang.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum sedih.
Dia sedikit kembali menengadah keatas, setelah perasaannya lebih tenang.
Guo Yun baru kembali melanjutkan membaca surat di tangannya.
"Yun Ke ke maafkan keputusan ku, yang membuat mu menyesal dan bersedih.."
"Tapi Yun ke ke, kamu harus tahu itu, aku tidak punya pilihan,.di satu sisi aku tidak bisa melihat mu dan dia saling bunuh, karena dia adalah ayah kandung ku.."
"Hanya dengan cara ini,. setelah kematian ku.."
"Aku baru berani dan punya muka untuk meminta sesuatu dari mu.."
"Yun ke ke kamu masih ingatkan hutang janji mu dulu pada ku..?"
"Nah sekarang aku akan menagihnya dan kamu tidak boleh menolaknya.."
"Kamu tidak boleh ingkar janji,.. ok..?"
Guo Yun mengangguk kecil dan berkata pelan,
"Baiklah aku janji pada mu, apapun itu, termasuk melepaskan dia.."
Setelah bergumam sendiri, Guo Yun baru melanjutkan membacanya.
"Pertama aku tidak mau di makamkan di mana pun, aku ingin Yun ke ke mengantar aku kembali ke pondok impian ku.."
"Yun Ke ke tahu kan tempat nya ?"
"Tempatkan aku duduk di kursi santai yang menghadap ke jendela kamar yang menghadap kearah aliran sungai bertingkat.."
Guo Yun tersenyum dengan perasaan hancur lebur, membaca permintaan Min Min yang pertama.
Karena di tempat itulah , tempat penuh kenangan, dimana Min Min sempat berulang kali mengajaknya menetap di sana..
Seolah-olah Min Min sudah ada firasat, saat mereka meninggalkan tempat itu, mungkin akan menjadi kebersamaan mereka yang terakhir, untuk bisa hidup tenang bersama .
__ADS_1
Guo Yun membutuhkan waktu cukup lama menenangkan perasaan nya.
Baru bisa melanjutkan membacanya.
"Permintaan kedua, Yun ke ke tidak boleh bersedih untuk ku, apalagi menyalahkan diri, apapun yang terjadi dengan ku itu adalah pilihan ku.."
"Tidak ada hubungan nya dengan siapapun.."
"Aku ingin Yun Ke ke hidup dengan bahagia, ada atau tidak ada diri ku, harus tetap bahagia.."
Membaca permintaan kedua Guo Yun mengangguk pelan, tapi airmata dan air dari hidung sudah tidak bisa dia tahan lagi.
Rasa asin silih berganti di cicipi nya, sambil menikmati pahit getirnya perasaan kehilangan Min Min yang sangat mencintai nya.
Guo Yun dalam keadaan hancur, memaksakan diri membaca, bagian kalimat terakhir yang tersisa..
"Yun Ke ke ini adalah permintaan terakhir dari ku, permintaan ini hanya asa ku, tidak memaksa dan tidak mengikat..'"
"Yun Ke ke kalau bisa ampunilah nyawanya, bagaimana pun dia adalah ayah kandung ku, termasuk ayah mertua mu.."
"Tapi bila terpaksa, usahakan jangan biarkan dia tewas di tangan mu.."
"Itu cuma asa terakhir ku, tidak memaksa tapi yang pertama dan kedua itu wajib.."
"Yun Ke ke jaga diri mu baik baik.."
"Yang selalu mencintai mu, istri mu Min Min.."
"Aku berjanji padamu, selama dia tidak datang mempersulit ku, aku juga tidak akan pernah pergi mencari nya.."
"Kalau pun dia datang, aku berjanji pada mu, aku akan memberinya 3 kali kesempatan untuk bertobat.."
"Guru Kui Zi, kau maafkanlah murid mu yang egois dan tidak berbakti ini.."
ucap Guo Yun sambil menengadah menatap langit langit kamar.
Beberapa saat kemudian, Guo Yun pun menyimpan semua surat itu kedalam cincinnya.
Melihat Gongsun Li sudah kembali ke dalam kamar.
Guo Yun sambil menghela nafas, dia berjalan kearah ranjang.
Menggendong tubuh Min Min, yang sudah di rias dengan sangat cantik.
"Min Min ayo kita berangkat, kembali kerumah impian kita.."
ucap Guo Yun pelan.
"Ayo sayang,.. kita berangkat sekarang,.."
ucap Guo Yun memberi kode pada Si Si dan Gongsun Li.
Gongsun Li dan Si Si mengangguk, lalu mereka menemani Guo Yun yang menggendong tubuh Min Min keluar dari kamar penginapan.
Saat melewati kasir Guo Yun sempat berhenti sejenak ingin mengurus pembayaran.
"Yun ke ke sudah aku sudah membereskan nya tadi, kita langsung saja."
ucap Gongsun Li mengingatkan.
__ADS_1