LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
ATTILA DAN HAN GU GUAN


__ADS_3

Ying Zheng langsung menegakkan punggungnya, menoleh kearah Zhao Gao dan berkata,


"Cepat sambut mereka, bawa kemari.."


Zhao Gao dengan tubuh terbungkuk bungkuk penuh hormat.


Segera bergegas menuju kearah pintu ruangan.


Di sana dia buru buru keluar dari dalam ruangan.


Lalu buru-buru menuruni tangga, bergegas pergi menyambut Ratu Camelia dan tunangannya yang sudah mencapai separuh dari anak tangga, untuk menuju ruangan Ying Zheng berada.


"Salam Yang Mulia Ratu kerajaan Xiongnu.."


"Salam Fu Ma Ye kerajaan Xiongnu


ucap Zhao Gao membungkukkan badannya dalam dalam penuh hormat.


Fu Na Ye adalah panggilan yang di berikan kepada suami ataupun calon suami seorang putri raja, ataupun ratu suatu kerajaan yang berkuasa.


Ratu Camelia mengangguk pelan, begitu pula calon suaminya, menanggapi sikap Kasim Zhao Gao yang menyambut mereka dengan penuh hormat.


"Terimakasih kasim Zhao sudah repot repot kemari menyambut kami.."


"Mohon tunjukkan jalan untuk kami, bila Yang Mulia Raja Yin Zheng. berminat menemui kami."


ucap Ratu Camelia sambil tersenyum ramah.


"Tentu,.. tentu.. silahkan Yang Mulia Ratu dan Fu Ma Ye.. silahkan mari Lao Nu antar .."


ucap Zhao Gao dengan sikap ramah manis penuh hormat.


Seperti kebiasaan semua Kasim yang pintar bersikap manis di depan, bila tidak waspada akan di tikam nya dari belakang.


Lao Nu adalah istilah yang sering digunakan oleh para Kasim untuk dirinya sendiri.


Istilah yang pura pura merendah, artinya kurang lebih adalah jongos tua, atau pelayan tua, atau hamba tua kurang lebih seperti itu.


Ratu Camelia dari Tunangannya akhirnya di antar oleh Zhao Gao hingga tiba di hadapan Raja Ying Zheng.


"Salam hormat kami Raja Ying Zheng.."


ucap Ratu Camelia sambil tersenyum dan memberi hormat Kearah Ying Zheng.


Ying Zheng sambil tersenyum lebar berkata,


"Silahkan duduk Yang Mulia Ratu tak perlu sungkan.."


"Apa kabar Yang Mulia Ratu, ? ada angin apa yang membuat Yang Mulia Ratu jauh jauh berkunjung kemari..?"


ucap Yin Zheng tersenyum ramah.


Di luar Ying Zheng terlihat cukup sopan dan ramah.


Tapi aslinya bila gadis cantik ini bukan ratu Xiong Nu, sekutunya yang memiliki kekuatan dan kekuasaan besar.


Mungkin gadis yang sangat cantik dan menggoda seleranya, sudah di seret ke kamarnya sebagai pelampiasan nafsunya yang menggebu gebu.


Ratu Camelia memang sangat cantik kulitnya putih mulus,


Sepasang bola matanya berwarna biru, sangat nyaman dipandang seperti warna laut teduh yang tenang tapi menghanyutkan dan sangat dalam.


Alis matanya kecil halus panjang, bulu matanya juga sangat lentik agak melengkung, menaungi sepasang matanya yang indah memukau.


Hidungnya kecil tipis mancung sangat menarik, bibirnya yang merah berbentuk gendewa sangat menggoda setiap pria yang melihatnya.


Dagunya sedikit runcing menambah kesempurnaan bentuk wajahnya.


Rambutnya berwarna keemasan sedikit bergelombang berwarna keemasan sangat serasi dengan leher yang jenjang dengan bahu yang putih mulus.


Tubuhnya tinggi langsing dengan lekuk lengkung sempurna, dada membusung padat, pinggang langsing, pinggul bulat sempurna seperti gitar.


Untuk ukuran wanita Han, Ratu Camelia termasuk tinggi diatas rata rata wanita pada umunya, dengan tinggi 175 Cm.


Berdiri di tengah tengah ruangan istana dia benar benar terlihat anggun sempurna, mirip bidadari kahyangan yang turun kedunia.


Senyumnya mampu membetot Sukma semua pria yang berhadapan dengan nya.


Ying Zheng termasuk diantaranya, hanya saja Ying Zheng tahu mana yang penting mana yang tidak.


Jadi dia masih bisa menyimpan hasratnya, agar tidak terlihat oleh tamu agungnya.


Pemuda yang berdiri di samping Ratu Camelia, termasuk cukup tampan.


Tubuhnya tinggi besar mungkin sekitar 185 cm, rambutnya di potong pendek di sisir kesamping kanan.


Warna rambutnya kuning keemasan, sepasang bola matanya juga biru, sama dengan Ratu Camelia.


Hidungnya besar mancung, kulitnya putih, hanya ada sedikit bulu bulu kuning keemasan, yang menerawang di sepasang lengannya yang besar dan kuat.


Dia terlihat sangat gagah dan kuat, bila berhadapan mungkin tinggi Ying Zheng hanya di bawah dagunya saja.


Dia dari awal hingga akhir tidak berkata apa-apa, hanya mengikuti Sang Ratu, seperti pengawal setianya.


Setelah mendengar Ying Zheng mempersilahkan mereka untuk duduk.


Ratu Camelia sambil tersenyum berkata,


"Terimakasih Yang Mulia.."


Lalu dia pun mengambil tempat duduk yang tersedia tidak jauh darinya.


Dia duduk dengan tubuh tegak dada membusung kedepan.


Dadanya yang pada dasarnya berukuran bulat besar.


Saat di busung kan kedepan, tentu saja terlihat semakin menonjol menantang kedepan.


Raja Ying Zheng yang melihat hal itu diam diam harus menelan ludahnya sendiri.


Perkakas di bawahnya mulai bergerak gerak liar, meminta mangsa.


Tapi sebelum Ratu itu menyadarinya, Ying Zheng buru buru mengalihkan perhatiannya kearah tunangan Ratu Camelia.


Tunangannya mengambil tempat duduk di sisinya.


Setelah duduk Ratu Camelia langsung berbicara ke pokok tujuan nya.


Seperti kebiasaan suku di daerah barat sana, mereka tidak biasa bertele-tele mutar mutar.


Kalau bicara akan langsung ke tujuan pokoknya saja.


"Yang Mulia, saya dengar Yang Mulia baru saja kehilangan dua kota penting, benarkah informasi tersebut..?"


tanya Ratu Camelia penuh perhatian.


Ying Zheng langsung muram wajahnya, saat di ingatkan hal itu.


Sambil menghela nafas berat, Ying Zheng dengan segan mengangguk dan berkata,


"Informasi itu tidak salah Yang Mulia Ratu Camelia.."


"Saya memang baru saja kehilangan kedua kota itu.."


"Tadi pun kami sedang berunding, bagaimana cara kami bisa mengambil kembali kedua kota kami itu.."


ucap Ying Zheng jujur apa adanya.


Ratu Camelia mengangguk pelan dan berkata,


"Lalu apa yang mulia sudah punya rencana untuk itu ?"


Ying Zheng menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak menutupi dari mu, kami sampai saat ini belum punya rencana.."


Ratu Camelia mengangguk, lalu berkata dengan wajah serius.


"Yang Mulia, bagaimana bila kami yang turun tangan membantu Yang Mulia untuk merebutnya kembali..?"


Raja Ying Zheng menatap kearah Ratu Camelia dengan serius dan berkata,


"Kata ini apa boleh di anggap serius..harap Yang Mulia Ratu tidak bercanda dengan ku dalam masalah ini.."


Ratu Camelia tersenyum dan menganggukkan kepalanya,


"Tentu saja aku sangat serius, aku mana berani menggunakan hal ini untuk mempermainkan emosi Yang Mulia."


Ying Zheng membalas menatap Ratu Camelia dengan serius, kini semua pikiran nafsu kotor nya terhadap Ratu Camelia, sepenuhnya menguap.


Terganti rasa penasaran dan ingin tahu.


Ratu Camelia sambil tersenyum, sengaja menunda ucapan nya, untuk mengundang rasa penasaran Ying Zheng.


Benar saja Ying Zheng terus menatap kearah bibirnya dengan tidak sabar.


Setelah mendapatkan rasa penasaran Ying Zheng, Ratu itu baru berkata dengan tenang,


"Seperti Yang Mulia ketahui, ayah ku, kakak ku juga paman ku, semuanya tewas di tangan nya.."


"Dia juga dulu pernah menahan aku dan nenek ku, dia mempermalukan kami.."


"Dendam ku padanya sedalam lautan, setinggi gunung Himalaya.."


"Aku membencinya hingga ingin makan daging dan minum darah nya.."


ucap Ratu Camelia dengan sepasang mata berkilat penuh dendam.


Ying Zheng mengangguk dan berkata,


"Aku mengerti dan paham perasaan Ratu, aku turut bersimpati karena nya.."


"Lalu kira kira apa yang bisa kami lakukan, agar Ratu Camelia dan bangsa Xiongnu bersedia membantu kami, merebut kembali dua kota kami itu..?"

__ADS_1


Ratu Camelia mengangguk dan berkata,


"Sejauh ini persekutuan dan persahabatan kedua kerajaan kita berjalan cukup baik dan memuaskan.."


"Tapi teman adalah teman , bisnis tetap adalah bisnis.."


"Tentu saja harus ada imbalan yang memuaskan, kami baru akan bergerak, benar tidak Yang Mulia..?"


tanya balik Ratu Camelia sambil tersenyum.


Ying Zheng mengangguk dan berkata,


"Itu sudah pasti, itu sangat adil, tentunya sudah semestinya harus seperti itu.."


"Coba katakan saja, Ki siap mendengar dan mempertimbangkannya.."


"Kecuali bila setelah berhasil kota itu menjadi milik kalian, dengan terpaksa aku tidak akan pernah bisa menyetujuinya.."


ucap Ying Zheng langsung memotong di depan.


Ratu Camelia tersenyum manis dan berkata,


"Tentu saja bukan, buat apa aku mengambil wilayah, yang tepat di tengah tengah antara dua kerajaan besar.."


"Begini Yang Mulia, bila yang Mulia tidak berkeberatan, bila masalah Luo Yang dan Da Liang selesai."


"Aku hanya minta janji tertulis dari Yang Mulia, agar daerah He Bei dan Dai, yang pernah menjadi Wilayah Zhao."


"Di mana kini wilayah tersebut sudah menjadi wilayah tahlukkan Yang Mulia, bisa di berikan ke kami."


Ying Zheng menoleh kearah Li Si dan Xu Fu secara bergantian.


Kedua orang itu mengangguk setuju.


Ying Zheng pun menoleh kembali kearah Ratu Camelia dan berkata,


"Itu sangat adil, baiklah kami menyetujuinya, surat perjanjian akan segera ku buat sesegera mungkin, nanti secepatnya di kirim ke Yang Mulia Ratu.."


Ratu Camelia tersenyum mengangguk, lalu berkata,


"Terimakasih Yang Mulia, tapi saya masih punya satu permintaan lagi."


"Apa itu, katakan saja..?"


ucap Ying Zheng sambil menunggu apa yang akan di sampaikan oleh sekutunya itu.


Ratu Camelia sambil tersenyum canggung berkata,


"Aku tahu dia Guo Yun masih termasuk adik ipar Yang Mulia."


"Setelah kedua kota itu jatuh ketangan kami, aku yakin dia Guo Yun secara pribadi pasti akan kesana.."


"Bentrokan pasti tidak akan terhindarkan, aku harap tiba waktunya nanti, Yang Mulia bisa bersikap netral, tidak turut campur.. bagaimana..?"


Ying Zheng berpura pura dengan wajah keberatan, padahal hatinya sangat girang.


Hingga bila diperbolehkan, dia akan melompat lompat gembira seperti anak kecil.


Di dalam hati Ying Zheng menertawai Camelia dan mengatainya, dasar wanita bodoh.


Seperti nya pepatah tidak salah, wanita berdada besar otaknya kecil.


Tapi tentu saja semua itu hanya Ying Zheng sendiri yang tahu.


Dia di luar pura pura bingung dan berkata,


"Hal ini agak berat bagi ku, bagaimana pun dia adalah suami adik kesayangan ku.."


"Melihat nyawanya dalam bahaya, aku mana mungkin cuma diam berpangku tangan.."


Sambil menghela nafas berat, seperti orang yang terlihat berat dan sulit, Ying Zheng berkata,


"Bagaimana bila cukup sampai mengusir'nya saja ?"


Ratu Camelia dengan tegas langsung menggelengkan kepalanya.


"Kalau mengalahkan, dan mempermalukan nya,?"


tanya Ying Zheng berpura-pura nego.


Ratu Camelia kembali menggelengkan kepalanya.


Ying Zheng menghela nafas panjang kemudian berkata, "Bagaimana bila cukup asal dia bisa hidup saja..?"


"Seperti melumpuhkan kemampuannya, menjadikan dia seorang cacat, tidak bisa bersilat lagi.."


"Tapi masih bisa hidup sebagai orang normal..."


ucap Ying Zheng kembali berpura pura.


Sekali ini Ratu Camelia menanggapinya dengan berdiri dari tempat duduknya, memberi kode pada tunangannya hendak berlalu dari sana.


Seperti pembeli yang sedang tawar menawar harga, saat beli barang dengan orang Padang, pura pura tidak jadi beli.


Ying Zheng langsung ikut berdiri dan berkata,


"Ratu Camelia tunggu..!"


Ratu Camelia pun menghentikan langkahnya, menoleh kearah Ying Zheng dan berkata,


"Bagaimana keputusannya Yang Mulia..?"


"Baiklah aku setuju, tapi aku masih berharap kalau Ratu bisa mengampuninya, ampunilah nyawa kecilnya."


Ratu Camelia tersenyum kearah Ying Zheng dan berkata,


"Nanti lihat situasi, tapi tidak janji.."


Selesai berkata, Ratu Camelia menoleh kearah tunangan nya, mengangguk kecil.


Memberi kode, sudah waktunya mereka pergi.


Tunangannya mengangguk pelan, dia berdiri dari duduknya, menggenggam tangan Ratu Camelia dengan lembut.


Sekali berkelebat keduanya seperti bisa sihir, tahu tahu sudah menghilang dari hadapan Ying Zheng dan semua yang hadir di sana.


Ying Zheng dan kedua pembantunya saling pandang.


Xu Fu pun berkata,


"Pemuda itu sepertinya tidak sembarangan, kelihatannya sekali ini adik ipar Yang Mulia akan terbentur batunya.."


Li Si menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Itu belum tentu, berapa banyak jagoan masa kuno bertemu dengan nya, semua nya kalah.."


"Dia bukan hanya ilmu nya yang hebat, keberuntungan nya pun sangat luar biasa.."


"Kalau menurutku, sebaiknya jangan berharap terlalu banyak nanti malah kecewa."


Ying Zheng mengangguk dan berkata,


"Li Si benar, pendapat tabib Xu juga tidak salah.."


"Kita lebih baik lihat saja, dan jaga kenetralan kita jangan ikut campur.."


"Lebih baik fokus terus cari orang pandai melatih dan meningkatkan kualitas pasukan kita.."


ucap Ying Zheng berpesan pada dua pembantunya.


Sesaat kemudian dia sudah meninggal kan tempat itu, ditemani oleh Zhao Gao.


Dalam perjalanan menuju istana kediamannya, Ying Zheng berkata,


"Apa ada barang bagus..?"


"Ada ada yang mulia, barang bagus baru tiba dari goguryeo, putri raja goguryeo.."


"Bagaimana ? saya kirim ke kamar Yang Mulia atau bagaimana..?"


tanya Zhao Gao bersemangat, berusaha menarik perhatian junjungan nya.


"Boleh tapi awas kepala mu, bila seperti kemaren udah jelek banyak tingkahnya.."


tegur Ying Zheng yang terlihat sedikit kesal.


Kemudian dia langsung berlalu dari sana.


Kasim Zhao Gao langsung membungkukkan tubuhnya dalam dalam mengantar kepergian Junjungan nya, tanpa berani menjawab.


Sesaat kemudian dia langsung berlalu dari sana.


Pergi menyiapkan putri kerajaan Goguryeo putri Ok Soo, yang di kirim sebagai tanda persahabatan kerajaan yang berbatasan dengan kerajaan Yan yang kini menjadi Wilayah tahlukkan Qin.


Kekuatan pasukan Qin dan Jendral Topeng Emas nya, membuat gentar Raja Goguryeo.


Takut menghadapi invasi dari Qin, Raja Goguryeo terpaksa merelakan putri Ok Soo di kirim kerajaan Qin.


Untuk mengeratkan hubungan antara dua kerajaan tersebut.


Ying Zheng yang sedang bernafsu setelah bertemu dengan Ratu Camelia.


Saat di sodorkan oleh Zhao Gao, putri Ok Soo yang cantik jelita dan lemah lembut.


Dia langsung melepaskan seluruh hasratnya yang meledak ledak.


Kasihan putri cantik itu, dimana pertama kalinya di rengut secara paksa dan cenderung kasar, oleh Ying Zheng.


Ying Zheng yang nafsunya sudah mencapai ubun ubun, saat melihat kecantikan dan kemolekan tubuh putri Ok Soo.


Dia sudah tidak bisa menahan diri untuk langsung menerkam dan mencabik-cabik nya.


Putri cantik itu hanya bisa merintih dan menangisi dalam diam, meratapi nasibnya yang suram.

__ADS_1


Ditempat lain seminggu kemudian pasukan besar Xiong Nu, yang di pimpin oleh Ratu Camelia dan tunangannya Attila.


Akhirnya melewati kota An Yi dan Tong Guan, yang di jaga oleh Meng Thian dan Meng Yu adiknya.


Mereka bisa melewatinya dengan mudah, karena mereka sekarang adalah sekutu.


Saat tiba di depan Han Gu Kuan, yang menjadi benteng pertahanan kota Luo Yang, yang terdiri dari 2 lapis tembok tebal dan parit dalam yang membentang di sepanjang tembok.


Dengan bagian ujung kiri kanannya, adalah tebing terjal bagian dari pegunungan Thian San dan Qing Ling San.


Attila menoleh kearah Camelia dan berkata,


"Kita harus melewati tembok tebal ini, bila ingin menguasai Luo Yang.."


"Tebing kiri kanan ini, aku bukan masalah, tapi kamu dan pasukan mu, tidak mungkin bisa."


Ratu Camelia mengangguk dan berkata,


"Apapun itu, bantulah aku tahlukkan kota ini.."


Attila mengangguk pelan dan berkata,


"Demi Budi itu, apapun mau mu aku pasti akan membantu mu mewujudkan nya.."


Ratu Camelia menatap tunangannya dengan tatapan mata penuh terimakasih.


Dia tidak berkata apa-apa hanya memberikan senyum lembut.


Attila menatap kearah Camelia, dia mengangguk kecil.


Tanpa berkata apa apa, dia kini menoleh kearah pasukan di belakangnya dan berkata,


"Saudara ku, bersiap lah kita akan rebut benteng di depan sana..!"


Suara Attila terdengar menggelegar, hingga terdengar dengan jelas oleh seluruh pasukan nya.


Saking kerasnya suara Attila, burung burung yang tinggal di sekitar dua tebing terjal di kedua sisi tembok Han Gu Kuan.


Semua pada terbang berserabutan meninggalkan sarang mereka.


Suara Attila langsung di sambut dengan suara teriakan penuh semangat pasukan di belakangnya..


"Hidup Attila,..! Hidup Attila,..!"


"Hidup Attila,..! Hidup Attila,..!"


"Hu..ha...Tong...tong...tong..!"


"Hu...ha..Tong...tong...tong..!"


"Hu..ha..Tong...tong...tong..!"


"Hu..ha..Tong...tong...tong..!"


Teriak pasukan Attila bersemangat, sambil terus menerus menggunakan senjata di tangan mereka, untuk memukul tameng di tangan mereka.


Suara membahana di seluruh lembah di depan Han Gu Guan.


Membuat Han Wei yang memimpin 300.000 pasukan harimau hitam, bertahan di atas dan di balik tembok Han Gu Kuan menatap dengan khawatir.


Han Wei langsung membagi bagi tugas pada 4 jendral bawahan nya, untuk menyiapkan barisan pertahanan menghadapi serangan lawan.


Attila sendiri menunggang kudanya seorang diri menghampiri tembok pertahanan Han Gu Kuan.


Langkahnya baru terhenti, saat beberapa batang anak panah di lepaskan dari atas tembok.


Menancap di depan kaki kuda nya, berjejer rapi di hadapan nya.


Attila menengadah ke atas tembok, untuk menghalau cahaya matahari yang menyilaukan pandangan nya.


Attila menggunakan tangan nya untuk menghalau cahaya yang datang.


"Wahai pimpinan pasukan di atas sana, bila punya nyali..!"


"Turunlah hadapi tantangan ku untuk duel..!"


Teriak Attila dengan suara lantang, yang ngebas suaranya.


Seperti suara Dwayne Johnson.


Diatas benteng Han Gu Kuan, seorang bawahan Han Wei, yang berwajah bulat bertubuh gempal.


Maju kedepan Han Wei memberi hormat, dan berkata dengan penuh semangat.


"Gubernur Han, ijinkan aku turun menyambut tantangan nya.."


"Atau dia akan mengira kita pasukan harimau hitam takut dengan nya.."


ucap salah satu dari 4 Jendral Han Wei sambil memberi hormat.


Han Wei menatap ragu kearah Attila sejenak, kemudian berkata,


"Baiklah Gao Lan, tapi kamu harus berhati-hati.."


"Kelihatannya dia bukan orang sembarangan.."


"Bila tidak mampu menandinginya, jangan berkeras, mundurlah kembali.."


ucap Han Wei sedikit khawatir, berusaha mengingatkan bawahan nya.


"Baik Gubernur Han, Gao Lan akan mengingatnya.."


ucap Gao Lan sambil memberi hormat.


Lalu dia segera mengundurkan diri dari hadapan Han Wei.


Sesaat kemudian pintu gerbang Han Gu Kuan terlihat terbuka, jembatan pun perlahan-lahan diturunkan.


Gao Lan terlihat memacu kudanya dengan kencang sambil berteriak,


"Ciaaa...! Ciaaa...! Ciaaa...! Ciaaa.!"


Sebelum jembatan diturunkan, Gao Lan yang sedang memacu kudanya dengan cepat, sambil membawa tombak di tangan.


Dia sudah menerbangkan kudanya melompat melewati jembatan yang belum di turunkan.


Dia dan Kuda tunggangannya terlihat melayang di udara, melewati parit lebar.


Kemudian mendarat di seberang parit menimbulkan debu pasir berhamburan keatas.


Aksinya menunggang kuda cukup mengagumkan.


Setelah mendarat Gao Lan langsung memacu kudanya menghampiri Attila sambil berteriak keras,


"Siapa nama mu !? lekas sebutkan, sebelum menjadi hantu tanpa nama..!?"


Attila dengan sikap tenang menanti kedatangan Gao Lan, yang sedang menunggangi kuda nya dengan kecepatan tinggi.


Attila tidak menjawabnya, dia hanya menatap tajam kearah Gao Lan sambil tersenyum dingin.


Saat memasuki jangkauan serangan, Gao Lan langsung menggerakkan tombaknya untuk menyerang Attila.


"Wussss...!"


Ujung tombak menerjang dengan cepat, berputaran di udara seperti mata bor.


Menikam kearah dada kiri Attila, bila mengenai sasaran Attila pasti akan mati dengan jantung berlubang.


"Braakkk...!"


Tombak Gao Lan seketika hancur berkeping-keping, saat bertemu dengan cakar Attila.


"Prakkkk..!"


Di detik lainnya, Gao Lan yang tidak sempat menahan laju kecepatan kudanya.


Kepalanya terkena tamparan cakar Attila yang lainnya.


Kepala Gao Lan langsung pecah meledak hancur berantakan, berubah menjadi embun merah, beterbangan di udara.


Sedangkan tubuhnya yang masih menyatu diatas punggung kuda nya.


Terus dibawa pergi oleh kudanya melewati Attila, baru beberapa saat kemudian tubuh tanpa kepala itu, roboh dari atas punggung tunggangan nya. punggung.


Han Wei yang melihat kejadian itu, menutup matanya, memberi kode agar jembatan di angkat, pintu gerbang di tutup kembali.


"Hei.. ! mengapa begitu cepat sudah di tutup kembali..!?"


"Apa diatas sudah tidak ada lagi orang bernyali..!?"


teriak Attila sengaja melontarkan ejekannya.


Han Wei tidak perduli dengan ejekan yang di lontarkan oleh Attila.


Karena dia menyadari betul, biar dirinya di gabung dengan tiga Jendral nya sekaligus maju mengeroyok Attila, mereka tetap tidak bakalan punya peluang menang.


Mereka hanya akan mengantar nyawa sia sia, pria di bawah sana itu jelas bukan kelasnya.


Jelas dia bukan tandingan nya, mungkin hanya Guo Yun raja nya yang mampu hadapi pemuda itu.


Tanpa memperdulikan tantangan dari pemuda itu, Han Wei membentangkan gendewa nya.


"Serrrrrrrt...!!"


Terlihat Lima anak panah sekaligus di lepaskan kearah Attila, sebagai jawaban atas tantangan yang di lontarkan oleh Attila.


Attila mengebutkan tangan nya, Lima batang anak panah yang mengejar kearah nya.


Di retur kembali keatas tembok, Han Wei buru buru membungkukkan badannya berlindung di tembok pembatas.


Sehingga panah panah itu lewat diatasnya, hingga menancap di atas papan dipuncak menara.


Papan kayu yang bertuliskan tinta emas, dengan tiga huruf Han Gu Kuan.

__ADS_1


__ADS_2