
Mendengar jawaban istrinya, Li Kui paham istrinya tidak mungkin bisa ikut.
Bila di paksakan, dia hanya akan membawa bencana buat Guo Yun dan Sian Sian.
Li Kui kini berada dalam pertentangan batin, tadinya dia berharap bila istrinya bisa ikut semua akan jadi mudah.
Selesai mengantar Sian Sian dan Guo Yun, mereka baru kembali ke pulau neraka.
anggap saja itu sebagai petualangan jalan jalan mereka berdua, sebelum kembali dan menetap selamanya di pulau sepi ini, menghabiskan sisa hidupnya bersama Cu Cu.
Demi Cu Cu dia akan kuburkan semua keinginan dan cita-cita nya, untuk ikut berpetualang bersama saudaranya Guo Yun.
Tapi setelah mendengar jawaban Cu Cu, semua harapan dan pikirannya menjadi runtuh.
Di satu sisi dia ingin menyelesaikan tugas nya, membantu saudaranya hingga tuntas.
Di satu sisi dia terikat dengan Cu Cu yang tidak bisa ikut pergi, meninggalkan Cu Cu dia tidak tega, Dia juga tidak ingin menyakiti perasaan istri, yang baru di nikahi nya itu.
Tidak pergi, dia merasa bersalah pada Guo Yun dan Sian Sian, mereka berdua pasti akan kesulitan meninggalkan pulau ini, tanpa bantuan dirinya yang lebih ahli dalam mengendalikan kapal.
Bila kedua sahabatnya itu terjadi sesuatu, bukankah dia akan menanggung dosa dan penyesalan seumur hidup.
Semakin di pikir otaknya semakin buntu, akhirnya dia hanya bisa menghela nafas panjang.
Sambil menatap kearah langit langit gua dengan perasaan tertekan.
Cu Cu sendiri hanya bisa bercucuran air mata dalam diam, karena mulutnya dia tutup rapat dengan telapak tangannya sendiri.
Akhirnya dia kembali buka suara,
"Suami ku,.. apakah kamu benar-benar, sangat ingin pergi dengan mereka.?"
Li Kui menghela nafas kemudian berkata,
"Istri ku, andai saja ada orang lain yang bisa menggantikan posisi ku,"
"Membantu mengendalikan kapal dengan selamat meninggalkan pulau neraka.."
"Dan mengantar Sian er dan kakak Yun kembali ke tempat tujuan mereka dengan selamat."
"Aku tentu akan dengan senang hati melepas semuanya, seumur hidup menemani mu disini."
"Hingga ajal ku tiba, selamanya tidak akan pernah meninggalkan pulau ini."
Mendengar ucapan suaminya, Cu Cu terdiam, tanpa berkata apa-apa lagi.
Dia lalu mengibaskan tangannya memadamkan penerangan dalam ruangan itu.
Cu Cu dalam gelap memejamkan matanya, membiarkan dua butir airmatanya, jatuh membasahi tempat tidurnya.
Sementara itu Li Kui sendiri tanpa berkata apa-apa lagi, dia ikut memejamkan matanya.
Dia sudah mengambil keputusan, besok, dia akan pergi menemui Guo Yun."
"Meminta maaf ke Guo Yun dan Sian Sian, mengabari ke mereka, bahwa dia tidak bisa ikut membantu mengantar mereka."
Kedua insan itu masing masing larut dalam pikiran masing-masing, diam dalam hening.
__ADS_1
Sebelum hari pagi, Cu Cu sudah bangun lebih dulu, dia pergi mempersiapkan bekal makanan dan puluhan butir buah hijau kesukaan suaminya.
Setelah semuanya siap dan secara diam diam sudah dia persiapkan di atas kapal.
Dia baru kembali ke gua, menyalakan penerangan, duduk di tepi ranjang menatap wajah suaminya lekat lekat beberapa waktu.
Seolah olah dia ingin ukir wajah suaminya di dalam hati.
karena setelah ini, dia tidak tahu, apakah masih punya jodoh.
Bisa kembali bersama sama, atau hanya sekedar bisa melihatnya lagi.
Beberapa waktu larut dalam keheningan, akhirnya Cu Cu, menggoyang lengan suaminya dan berkata,
"Sayang bangunlah,.."
"Sayang,..ayo bangun.."
"Kamu harus bersiap-siap pergi menemui kakak Yun, jangan sampai telat.."
Li Kui buru buru membuka matanya dan berkata,
"Ehh sudah pagi..ya..?"
"Belum,.. tapi hampir.. ayo bersiaplah..jangan sampai terlambat.."
ucap Cu Cu sambil berusaha tersenyum.
Li Kui menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Baiklah, aku mandi bentar, setelah itu kita bisa pergi kesana.."
Tak lama kemudian, kedua insan itu sudah terlihat berada di tepi pantai.
Mereka berjalan bergandengan tangan, menghampiri Guo Yun yang terlihat sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Tanpa menoleh, Guo Yun yang sudah menangkap langkah kaki Cu Cu dan Li Kui, dia pun berkata,
"Kalian sudah tiba, bentar ya,.."
Li Kui langsung meninggalkan Cu Cu, membantu Guo Yun mempersiapkan segala sesuatu nya dan membawanya keatas kapal.
Setelah semuanya selesai, dia baru berkata
"Kakak Yun aku ada yang mau di bicarakan dengan mu sebentar.."
Guo Yun memutar badannya menghadap kearah Li Kui.
Guo Yun menepuk pundak Li Kui dan berkata,
"Katakan saja adik Kui tak perlu sungkan.."
"Kakak Yun aku,.."
ucapan Li Kui belum selesai, sudah di potong oleh Cu Cu yang baru saja mendarat di sana sambil membawa Sian Sian.
Mereka berdua berdiri di anjungan kapal.
__ADS_1
"Suami ku akan ikut dengan kakak Yun, tolong jaga dia dengan baik..!"
"Suami ku, pergilah aku mengerti, aku mengijinkan mu untuk pergi..!"
Selesai berkata, Cu Cu dengan gerakan ringan mengangkat jangkar kapal yang berat.
Hanya dengan sekali sentak, lalu dia meletakkannya di anjungan kapal.
Sambil tersenyum kearah Sian Sian , dengan satu pukulan ke bawah,
"Deesss...!"
Yang membuat kapal bergerak menjauhi pantai, lalu dengan ringan tubuh Cu Cu melayang meninggalkan kapal.
Dengan bersalto di udara 3 kali, Cu Cu sudah mendarat mulus di tepi pantai.
Dia melambaikan tangannya kearah Li Kui, yang mengejar dirinya hingga keanjungan kapal.
Li Kui yang tidak menyangka akan tindakan yang di ambil oleh istrinya.
Dia hanya bisa berdiri bengong di anjungan kapal, terus menatap kearah istrinya, yang jaraknya semakin lama semakin menjauh darinya.
Karena kapal mulai terseret arus menuju ketengah lautan.
Akhirnya Li Kui sambil menghapus dua butir air mata, yang menetes dari sudut matanya.
Dia mengangkat tangannya membalas lambaian tangan istrinya dan berteriak,
"Aku pasti akan kembali..!"
"Aku pasti akan kembali..!"
"Aku pasti akan kembali..!"
"Tunggulah aku istri ku..!"
teriak Li Kui penuh haru.
Cu Cu di tepi pantai sana hanya terus tersenyum dengan airmata bercucuran tiada henti.
Sama seperti tangannya yang tak pernah berhenti melambai, hingga kapal yang membawa pergi suaminya.
Menghilang sepenuhnya di balik kabut.
Menghilang dari hadapannya, dia baru menurunkan tangannya.
Lalu, dia jatuh berlutut diatas pasir pantai yang lembut, dia menggunakan kedua tangannya menutupi wajahnya, menangis tersedu-sedu seorang diri di sana.
Dunia yang tadinya cerah tiba tiba menjadi gelap, segelap suasana hatinya saat ini.
Airmata yang menganak sungai, tetap tidak bisa mengobati hati dan perasaannya yang sedang berduka
Sehari demi sehari berlalu, hampir setiap hari Cu Cu selalu berdiri disisi tebing tertinggi menghadap ke laut.
Dia selalu berdiri di sana menatap kearah laut, berharap bisa melihat ada kapal, yang membawa Li Kui suaminya kembali lagi ke sisinya.
Dari matahari terbit hingga matahari terbenam, tapi yang dia dapatkan hanya kekecewaan sehari pun berlalu.
__ADS_1
Terganti dengan asa di hari esoknya lagi.