
Guo Yun mendayung perahu kecilnya dengan santai mengikuti arus telaga.
Sambil menikmati ketenangan dan kejernihan air telaga.
Guo Yun duduk termenung menatap awan, dan bertanya tanya siapa dirinya sebenarnya.
Tapi beberapa waktu kemudian, Guo Yun menghela nafas panjang, membuang segala beban pikirannya.
Dia mengambil posisi duduk bersila, membiarkan perahunya bergerak sendiri, mengikuti arus telaga yang tenang.
Guo Yun mulai menyerap hawa langit dan bumi, sesuai dengan petunjuk Thian Ti Sen Kung yang terdiri dari 10 tahapan.
Kini Guo Yun baru berada di tahap ke 7, masih ada 3 tahap lagi yang perlu dia capai.
Sedangkan untuk Jek Ye Sen Cang dan Wu Ying Ru Tian, Guo Yun sudah berhasil menamatkan nya.
Hanya Thian Ti Sen Kung ini, yang paling rumit, belum mampu dia tamat kan.
Selain itu di dalam ruangan bawah tanah, dia kekurangan hawa langit murni, untuk membantunya mencapai kesempurnaan.
Untung nya ada ranjang batu hitam, yang membantunya.
Bila tidak mungkin dia hanya akan mencapai tahap 3 saja.
Kini setelah berada di alam terbuka, Guo Yun tidak mau sia sia kan waktunya untuk berlatih dan berlatih.
Dari cerita gurunya, dia sudah tahu orang seperti apa Lu Bu Wei yang akan menjadi lawannya.
Jadi dia tidak boleh lalai dalam berlatih, agar tidak mengecewakan harapan gurunya.
Guo Yun terus berlatih dan berlatih, dia bahkan lupa memperhatikan pergerakan perahunya.
Saking fokusnya dia menyerap hawa langit dan bumi sesuai petunjuk teori latihan tahap ke tujuh, untuk menembus tahap ke 8.
Baru setelah perahunya berguncang hebat hampir terbalik, di hantam gelombang anak sungai Yang Tze, yang dahsyat. Guo Yun baru membuka kembali matanya.
Untuk memperhatikan keadaan sekitarnya, Guo Yun mendapatkan dirinya sedang berada di daerah sebuah lembah hijau yang luas.
"Inikah lembah sungai Huai, sesuai petunjuk dari paman guru.?"
batin Guo Yun di dalam hati.
Tiba-tiba sungai kembali berguncang hebat, perahu Guo Yun sampai terlempar keudara, dihempas gelombang Besar itu.
Saat mendarat keatas sungai, perahu yang Guo Yun tumpangi telah pecah hancur berkeping-keping terapung di atas sungai
Guo Yun terpaksa berlompatan ringan diatas sungai, hingga tiba di tepi sungai.
__ADS_1
Saat tiba-tiba di tepi sungai, di mana tanah terus menerus berguncang hebat.
Seperti di Landa gempa besar, kini Guo Yun baru sadar, mengapa sungai yang tenang tiba tiba airnya bergolak hebat.
Hingga menghancurkan perahu yang di tumpangi nya, ternyata gempa inilah penyebab nya pikir Guo Yun.
Guo Yun mencoba mengedarkan pandangannya, ingin tahu apa penyebab dan menjadi sebab musabab, gempa yang datang tiba tiba itu.
Akhirnya Guo Yun menemukan penyebabnya.
Guncangan itu berasal dari dua orang yang sedang bertarung di puncak bukit sana.
Guo Yun dengan gerakan ringan, terbang di atas rumput, tubuhnya muncul dan hilang bagaikan kilat.
Sesaat saja dia sudah tiba di lokasi pertempuran.
Di sana Guo Yun menyaksikan dua orang yang berumur 50 an, mungkin hampir 60, mereka sedang bertanding dengan hebat.
Masing masing saling serang dengan hebat.
Tapi Guo Yun segera mendapat kenyataan, pria paruh baya yang bertubuh tinggi besar, berambut kuning, berkulit putih pucat dengan bola mata biru, yang mengeluarkan sinar mencorong.
Jauh lebih unggul segalanya, ketimbang lawannya, seorang pria lain bermata sipit, dengan jenggot dan kumis di pelihara dengan rapi.
Pria itu jauh lebih terdesak, sepertinya tidak akan butuh waktu lama lagi, pria bermata sipit itu pasti akan tewas di tangan pria bermata biru itu.
Di sebelah lain juga ada pertempuran yang pecah, antara seorang pria bermata biru berambut hitam.
Pria kedua itu berhadapan dengan 7 orang bertopeng dan berpakaian serba hitam.
Meski satu lawan 7, tapi dia masih tetap lebih unggul, setiap Pukulan tangan kosongnya, selalu berhasil membuat lawannya yang bersenjata terpental mundur.
Guo Yun tidak tahu siapa benar, siapa salah, sehingga dia tidak berani sembarangan turun tangan membantu
Dia hanya berdiri menonton saja di sana, mengamati jalannya pertandingan.
Tiba-tiba pria yang sedang menghadapi 7 orang lawan itu, melirik kearah Guo Yun.
Begitu melihat Guo Yun sepasang matanya langsung mengeluarkan api.
Tanpa menghiraukan ke 7 lawannya yang sedang bergerak menyerangnya.
Dia malah membalikkan badannya menghadap kearah Guo Yun dan berkata,
"Tuhan memberkati ku, dia mengirim mu kemari."
"Jadi aku tak perlu mencari mu kemana mana,..!"
__ADS_1
"Guo Yun serahkan nyawa mu pada ku..!!"
teriak pria yang terlihat sebaya dengan Guo Yun penuh kebencian.
Serangan dari ke 7 orang itu tertahan oleh cahaya keemasan, yang membentuk kubah perisai pelindung di belakang tubuh pria itu.
"Arghhhh..!"
Dengan satu teriakan keras sambil menghentakkan energi dahsyat nya.
"Boooom..!"
Kubah pelindung cahaya keemasan itu meledakkan tubuh ke 7 orang berpakaian hitam itu, hingga terpental jauh bagaikan layang layang putus.
Saat mereka terbanting keatas tanah, ke 7 orang itu terkapar pingsan tak sadarkan diri.
Sedangkan pria yang menghentakkan energi nya itu, dia kini mengeluarkan sepasang Cakra emas di tangannya, berputaran mengeluarkan suara, yang sangat keras dan menyakiti pendengaran
"Wunggg,..! Wunggg,..!"
Pria itu adalah Raja Agahai dari kerajaan Xiongnu di barat sana.
Sedangkan pria berambut pirang yang sedang menekan lawannya, dia adalah Chan Kiev, paman Agahai, yang mengasingkan diri di daerah pegunungan Altai.
Dia turun gunung, karena mendengar kematian saudaranya Raja Chan Yu, yang hubungan nya sangat dekat dengannya.
Di tambah lagi keponakannya sendiri yang datang berkunjung jauh jauh mencarinya.
Dia tidak mungkin diam berpangku tangan atas masalah tersebut.
Di tempat ini secara kebetulan, dia dan keponakannya, yang sedang mencari Guo Yun, Raja Ying Zheng, dan Lu Bu Wei.
Mereka justru bertemu dengan Lu Bu Wei dan Chi Sa, yang hendak pulang kembali ke Qin.
Setelah mengunjungi perbatasan Qin dan Zhao yang masih terus berperang.
Di bawah pimpinan Bai Qi mewakili Qin, melawan Zhao yang di wakili oleh Lian Po.
Sehingga pecahlah pertempuran dahsyat di tepi lembah sungai Huai ini.
Lu Bu Wei si serigala tua, awalnya sangat kaget melihat kemunculan Guo Yun, yang di kiranya sudah tewas.
Tapi ternyata belum, dan terlihat sehat sehat saja.
Secara kebetulan Guo Yun malah muncul di saat dirinya, dan bawahannya, sedang dalam posisi terjepit.
Dia sudah sempat berpikir hari ini, pasti tamatlah sudah riwayatnya.
__ADS_1
Tapi melihat Gui Yun diam saja, tidak maju menyerang, ataupun menegurnya.
Lu Bu Wei langsung curiga, ada yang gak beres dengan Guo Yun, seolah olah tidak mengenali dia dan Chi Sa lagi.