
Si Si setelah mengatur segala sesuatunya, dia dan rombongan kecilnya segera kembali ke perkemahan di atas bukit.
Semua pekerjaan dan pengawasan d bagian hulu sungai Han, di percayakan ke Zhou Tai Jendral.tua yang penuh pengalaman itu.
Bahkan bahan peledak penghancur bendungan pun, sudah Si Si titipkan ke Jendral Zhou, sebagai pengawas sekaligus pelaksana tugas di tempat itu.
Sepeninggal Si Si Jendral Zhou dan seluruh pasukannya, langsung bekerja keras.
Sebagian bertugas menebang pohon pohon raksasa, untuk di gulingkan kearah sungai dangkal.
Sebagian lain bertugas mengisi tanah batu pasir kedalam karung karung.
Kemudian yang bertugas menyusun karung karung itu ke aliran sungai.
Mereka menjemputnya untuk di pindahkan ke tengah tengah aliran sungai.
Di sana mereka menyusunnya dengan rapi bagian bagian yang airnya masih bisa lewat di antara sela sela batu besar.
Sungguh pekerjaan yang berat dan sangat melelahkan.
Tapi karena mereka bekerjasama beramai ramai dengan penuh semangat.
Rasa lelah itu seolah olah tidak terasa.
Sementara itu Si Si begitu tiba di perkemahan dia segera berkeliling.
Melakukan pengawasan dan pengamatan, sambil menunggu bendungan yang di kerjakan Zhou Tai jadi.
Si Si menginstruksikan agar jumlah bendera di atas bukit di tambah di susun melebar diatas bukit sana.
Tambur genderang perang juga di persiapkan secara menyebar, di balik bendera.
Perkemahan di perbanyak, meski isinya hanyalah manusia rumput yang di kenakan seragam pasukan harimau hitam.
Agar dari jauh terlihat seperti pasukan harimau hitam.
Manusia jerami itu sebagian secara campur campur, di letakkan di antara pasukan yang sedang berjaga di atas bukit yang menghadap kearah tepi sungai.
Sehingga dari perkemahan pasukan Meng Li, terlihat jelas tempat mereka, sepenuhnya telah di kepung oleh pasukan Harimau Hitam, yang bersembunyi di dataran tinggi yang mengelilingi tempat itu.
Meng Li sendiri selama tiga hari menunggu dengan hati cemas dan ketar ketir.
Tapi lewat hari kelima, pasukan pengepung tidak juga menyerang, masih tetap diam tidak bergerak.
Dia menjadi curiga, berulang kali mengirim mata mata pengawas, untuk pergi memastikan pergerakan pasukan Harimau Hitam di atas bukit sana.
"Lapor Jendral,. kami sudah melakukan pengintaian terhadap gerak gerik lawan diatas bukit sana..'
"Dari jumlah kemah bendera, genderang perang, hingga personil yang berjaga, dan yang ada di seluruh perkemahan.."
"Kami menafsir jumlah pengepung kita setidaknya 3 kali lipat kekuatan kita.."
"Alasan mereka belum juga menyerang kami tidak mengerti.."
ucap komandan pasukan mata mata datang memberikan laporan.
"Komandan Lin, bagaimana dengan persiapan dan perkembangan pembuatan rakit untuk penyeberangan darurat..?"
"Kapan bisa rampung..?"
__ADS_1
tanya Meng Li kearah salah satu komandan nya yang bertanggung jawab terhadap tugas tersebut.
"Masih sedang di persiapkan Jendral, sulit di katakan, paling cepat mungkin 2 Minggu lagi.."
jawab Komandan Lin ragu ragu.
Meng Li menghela nafas panjang dan berkata,
"Semoga saja mereka mau menunggu selama itu.."
"Dari gerak gerik mereka yang belum bergerak, ada kemungkinan mereka ragu untuk menyerang secara frontal.."
"Mereka tidak mau kehilangan pasukan banyak dalam pertempuran berdarah ini.."
"Ada kemungkinan mereka sedang menunggu perbekalan kita habis, saling ribut sendiri."
"Saat itu mereka baru datang menyerang.."
ucap Meng Li pelan.
Dia lalu menoleh kearah komandan pasukan nya yang lain dan berkata,
"Komandan Cai, bagaimana dengan persediaan perbekalan kita, bisa bertahan berapa lama..?"
"Bila makan dengan normal, ransum paling lama bertahan satu Minggu, tapi bila makan dengan hemat mungkin nyampai dua Minggu.."
"Apa masih bisa di kencangkan lagi, bertahan untuk 3 Minggu..?"
tanya Meng Li sambil menatap komandan Cai.
"Itu sulit Jendral,.. bila di kencangkan lagi, pasti akan terjadi kekacauan dan keributan di internal pasukan kita.."
Meng Li menghela nafas panjang dan berkata,
"Baiklah kalau begitu, kalian semua kembali lah ketempat kalian masing masing.."
"Siap Jenderal.."
jawab kelima komandan pasukan Meng Li cepat.
Setelah mereka pergi, Meng Li duduk termenung seorang diri di dalam kemahnya.
Beberapa saat kemudian, dia baru menghela nafas panjang dan berkata,
"Kelihatannya hanya bisa menghitung dan melihat selangkah demi selangkah."
"Berharap ada keajaiban, selama mereka masih terus ragu untuk maju."
Di hari keenam pagi, Meng Li yang semalaman sulit tidur, baru menjelang pagi, dia sedikit pulas.
Tiba tiba terdengar suara keras pengawal di depan kemahnya berteriak.
"Komandan Cai mohon menghadap..!"
Meng Li yang kaget oleh suara tersebut, dia segera bangun untuk duduk dan berkata,
"Persilakan masuk..!"
Komandan Cai dengan langkah buru buru berkata,
__ADS_1
"Lapor Jendral ada perubahan, pagi ini tiba tiba sungai Han surut banyak.."
"Aku sudah suruh orang pergi memeriksanya, hasilnya mereka bisa berjalan menyeberang, dengan ketinggian air sebatas dada, saat berada di bagian paling dalam dan paling tengah dari sungai.."
Sepasang mata Meng Li yang tadinya mengantuk, mendengar laporan tersebut dia menjadi hilang kantuknya.
Dengan sikap buru buru, dia langsung bangkit dari pembaringannya dan berkata,
"Ayo kita lihat kesana.."
Selesai berkata dengan langkah buru buru, Meng Li di temani Komandan Cai langsung bergerak menuju tepi sungai Han.
Di mana sungai itu tiba tiba terlihat kering, di mana air surut cukup cepat.
"Kalian berdua pergilah periksa kedalam air.."
ucap Komandan Cai cepat.
",Siap Jenderal.."
Kedua prajurit pengawal yang ada disana, segera memberi hormat.
Lalu mereka berdua langsung pergi jalankan tugas mereka.
Mereka berdua terlihat dengan cepat melepaskan sepatu, pakaian, dan baju zirah perang mereka masing masing.
Lalu mereka berdua segera masuk kedalam sungai yang airnya masih sangat dingin.
Angin pagi yang berhembus kencang, membuat air dan cuaca di sekitar mereka menjadi semakin dingin.
Tapi kedua orang itu tanpa menghiraukan cuaca dan air yang dingin menusuk tulang.
Mereka segera bergerak memasuki air sungai, bergerak cepat hingga ke bagian tengah dan berteriak dari sana.
"Ini bagian paling dalam ..!"
Selesai berteriak dan berdiri sebentar di sana, agar terlihat oleh atasan mereka.
Di mana kini bagian terdalam hanya sebatas perut saja, sudah jauh lebih rendah dari sebelumnya.
Di mana saat itu air masih sebatas dada.
Kedua prajurit itu terus melanjutkan langkahnya, hingga akhirnya mereka tiba di seberang sana dengan selamat dan melambaikan tangannya kearah Komandan Cai dan Meng Li sambil tertawa-tawa dan bersorak gembira.
"Apa yang sebenarnya terjadi,? mengapa air sungai tiba tiba bisa surut.."
"Faktor alam atau manusia,..?"
tanya Meng Li ragu.
Komandan Cai yang berdiri di sampingnya pun angkat bicara dan berkata,
"Jendral kesempatan tidak akan datang dua kali.."
"Harap segera diputuskan, karena bila musuh tahu akan hal ini.."
"Mereka pasti akan segera bergerak menyerang kita habis habisan.."
Meng Li terlihat meragu mengambil keputusan.
__ADS_1
Belum sempat dia memberi keputusan dari atas bukit sudah terdengar suara genderang perang di bunyikan bertalu talu.