
Guo Yun dan Ling Thian sama sama terpental mundur saling menjauh.
Ling Thian menggunakan kesempatan itu menepis memadamkan api yang menjilat rambutnya.
Sedangkan Guo Yun memanfaat kesempatan ini menetralisir telapak tangan hingga ke pundaknya yang membeku.
Dengan menggunakan hawa intisari buminya, yang di penuhi hawa Yang, hawa panas dari inti bumi.
Setelah masing masing membenahi diri.
Mereka sambil terbang melayang mundur saling menjauh, sebelum mereka berdua menendang punggung kaki mereka sendiri.
Lalu sama sama kembali melesat saling mendekat.
Dalam satu gerakan 15 tusukan pedang kedua nya lepaskan dengan kecepatan tinggi .
Masing masing terarah kebagian tubuh berbahaya lawan seperti ingin mati bersama.
Cahaya biru merah berseliweran cepat di sekitar tubuh kedua orang itu.
Setelah masing masing berhasil menghindar dan menghalau serangan yang datang.
Keduanya masing masing melepaskan sebuah tebasan pamungkas kearah lawan mereka masing masing.
Ling Thian melepaskan Tebasan sinar biru sambil berteriak,
"Pai Yun Cu Kuang..!'
Seragam Ling Thian di dahului sekumpulan awan putih, kemudian dari balik awan muncul seberkas cahaya biru melesat lurus kearah Guo Yun.
Guo Yun menyambutnya dengan jurus ketiganya,
"Tebasan Pedang Sapu Jagad.."
Seberkas cahaya merah bergerak horisontal melesat kearah Ling Thian.
"Booommm,..!"
Terjadi ledakan di udara, saat kedua energi dahsyat bertemu di udara.
Ling Thian terpental mundur kebelakang.
"Ahhh..!"
Teriak Ling Thian kaget.
Karena tidak tahu bagaimana caranya, tahu tahu Guo Yun sudah berada tepat di belakangnya.
Hendak mencengkram kedua bahunya dengan sepasang tangan yang membentuk cakar.
Untungnya respon dan reflek Ling Thian sebagai petarung tingkat Wahid.
Dimana pengalaman bertarungnya sangat tinggi.
Di mana saat dalam keadaan terjepit, tanpa memutar tubuhnya, pedangnya dia tusukan melewati samping badannya.
Langsung tertuju kearah Guo Yun yang ada tepat di belangnya., di susul dengan kakinya yang melakukan tendangan berputaran setengah lingkaran kearah belakang.
"Trangggg..!'
Pedang Ling Thian berhasil mencapai sasaran kearah perut Guo Yun.
Tapi pedangnya tertolak oleh hawa pelindung tubuh Guo Yun
Sedangkan tendangan kerasnya.
"Deesss..!"
Meski kedua kakinya, tepat mengenai dada Guo Yun.
Tapi sebagai hasil akhir bukan Guo Yun yang berteriak ataupun terpental tubuhnya.
Sebaliknya Ling Thian lah yang berteriak keras.
"Aihhhh,..!"
"Apa apaan ini..!?"
"Ilmu sesat..!!"
Bentaknya kaget bercampur marah.
Tapi dari kaget wajahnya berubah pucat, karena kedua kakinya yang menempel tidak bisa di tarik kembali
Tenaga saktinya mengalir deras kedalam tubuh Guo Yun.
"Kau...!"
teriak Ling Thian sekali lagi, sambil menoleh dan mendelik marah kearah Guo Yun.
Dalam kemarahan nya, pedangnya dia sabet kan dengan deras ke arah leher Guo Yun.
"Tapppp...!"
Pedangnya yang meluncur deras, terjepit oleh jari telunjuk dan jempol Guo Yun yang penuh dengan energi gabungan Thian Ti Sen Kung dan tenaga yang di hisapnya dari Ling Thian.
Baru setelah serangan tebasan pedang tertahan di udara.
Guo Yun juga memainkan ilmu Shi Chi Hua Ming Sin Fa (Memindahkan Hawa Memusnahkan Jiwa) miliknya.
Sehingga Ling Thian semakin terjebak wajahnya semakin pucat.
"Bajingan curang..!"
Bentaknya marah, dengan secepat kilat Ling Thian menggunakan tenaga kasar, tanpa di aliri Chi.
Dua menggunakan sepasang jari telunjuk dan tengah nya yang terbuka untuk mencoblos bola mata Guo Yun.
Ling Thian terlalu emosi dan panik sehingga tidak memperhitungkan pedang darah di tangan Guo Yun yang bebas.
Saat sinar merah berkelebat lewat kedua jarinya terasa perih bukan main, darah muncrat kemanan mana.
Dua buah potongan jari terbang melayang keudara, di hadapannya.
Dia baru menyadari kekeliruannya, tai semua sudah terlambat jarinya sudah putus.
Tapi sebagai seorang jagoan tingkat Wahid yang banyak pengalaman bertarung.
Ling Thian menghentikan pengerahan hawa sakti nya, dia melakukan stop mendadak.
Baik kaki maupun pedang di tangan nya, dia mengubah nya menjadi dorongan dan pergerakan memutar dan menebas keatas, menggunakan tenaga luarnya.
Hal itu terbukti berhasil,
"Tringgg..!"
"Dukkk,..!"
Pedang nya berhasil terlepas dan menebas jari Guo Yun.
Tapi karena jari Guo Yun terlindung Thian Ti Sen Kung yang membuatnya sekeras baja.
Tebasan Pedang itu hanya bisa membuat jari Guo Yun terpental tanpa bisa melukai nya.
Begitu pula dengan tendangan dorongan kedua kakinya, hanya berhasil membuat Guo Yun terdorong mundur satu langkah.
Tapi juga tidak berhasil melukai Guo Yun.
Tapi dia sepenuhnya berhasil melepaskan pedang dan kakinya dari hisapan hawa yang di lakukan oleh Guo Yun.
Tapi Guo Yun setelah melalui berbagai pertempuran berat, pengalaman bertarung nya juga banyak.
Ditambah dengan kecerdasannya membaca situasi.
Memanfaatkan keadaan Ling Thian yang tidak terlindung hawa sakti.
Guo Yun melepaskan salah satu jurus dari Je Ye Sen Cien.
"Kekuatan Matahari menembus dunia.."
Seberkas cahaya merah menyebar melesat dari ujung pedang darah di tangan Guo Yun.
Berubah menjadi puluhan titik cahaya merah mengejar kearah Ling Thian.
Ling Thian mati matian menghindar, membuang diri kebelakang.
Hingga bergulingan di atas tanah, tapi diantara puluhan sinar merah itu.
Masih ada tiga yang mengenainya, satu yang di tujukan ke kening, meleset menghantam mahkota emas pengikat rambut di kepala nya.
Hingga pecah berantakan, rambutnya terurai bebas seperti orang gila.
Cahaya merah kedua yang ditujukan kearah dada, bergeser menembus pundak kanannya.
Sehingga Pedang Han Kuang Cien terlepas dari pegangan tangannya.
Tidak mampu dia pertahankan lagi.
Cahaya ketiga yang terarah ke ulu hati, dia geser menjadi menghantam perut sampingnya hingga tembus.
Dengan keadaan berantakan, Ling Thian kabur menyelamatkan diri, dengan menunggangi sebatang pedang kayu.
Dia melarikan diri dari Guo Yun, di tengah pelariannya, dia mengeluarkan ancaman penuh dendam.
"Guo Yun kamu tunggu saja, aku cepat lambat akan kembali menagih hutang mu hari ini, berikut bunganya..!"
Guo Yun tersenyum lebar dan sengaja memanasi nya,
"Kenapa harus menunggu,..!?"
"Kenapa tidak sekarang aja biar tuntas..!?"
Tapi teriakan balasan Guo Yun tidak di tanggapi oleh Ling Thian yang sudah kabur dari sana.
Ling Thian saking terburu buru, bahkan pedang Han Kuang Cien, dia tinggalkan tergeletak begitu saja di atas tanah.
Guo Yun mengambil pedang itu, mencoba memutar mutar nya beberapa kali di udara.
Cahaya biru berkeredep di sertai hawa beku yang membeku kan semua mahluk hidup yang dilewatinya.
Guo Yun menatap kagum pedang di tangannya itu, dan berkata pelan.
"Pusaka, benar benar pusaka langka ."
Guo Yun menyimpan pedang tersebut kedalam Cincinnya.
__ADS_1
Setelah itu dia bergerak ringan meninggalkan tempat itu, melayang lurus naik keatas bukit hutan Cemara.
Tempat markas pasukan nya berkumpul, kedatangan Guo Yun langsung di sambut dengan sorak gegap gempita oleh pasukan nya.
Jendral Wen langsung maju menyambut Guo Yun dan berkata,
"Bagaimana keadaan Yang Mulia..?"
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Cukup baik, kamu tenang saja.."
"Tolong tunjukkan kemah ku.."
"Baik yang mulia.."
"Silahkan.."
ucap Jendral Wen cepat.
Jendral Wen mempersilahkan Guo Yun mengikuti nya, menuju kemah utama, yang memang di siapkan buat Guo Yun..
Guo Yun di antar hingga di depan pintu kemahnya.
Sebelum memasuki kemahnya, Guo Yun berkata,
"Minta pengawas terus amati keadaan benteng kota Dan Yang, begitu ada kode dari Jendral Nan kita harus segera memasuki kota Dan Yang sesuai rencana.."
"Selain ada kabar dari Jendral Nan, tanpa ijin dari ku, siapapun di larang memasuki kemah ."
"Aku sedang tidak ingin di ganggu ."
ucap Guo Yun tegas.
Jendral Wen memberi hormat dengan sepasang tangan terkepal di atas kepala, dan berkata,
"Siap Yang Mulia.."
Setelah menyelesaikan pesan nya, Guo Yun pun dengan tenang melangkah masuk kedalam kemahnya.
Begitu masuk kedalam kemah tubuh Guo Yun langsung limbung, sepasang kakinya seperti kehilangan tenaga
Dia langsung jatuh berlutut dengan kaki sebelah, sebelah tangan nya yang lain dia gunakan untuk menahan tubuhnya diatas tanah.
Agar tubuhnya tidak sampai terguling, Guo Yun tidak bisa menahan desakan darah yang bergolak di dalam perutnya.
Untuk terdorong keluar dari mulutnya.
Setelah memuntahkan darah segar cukup banyak, Guo Yun memejamkan matanya sebentar mengontrol pernafasan nya.
Setelah agak tenang, Guo Yun baru perlahan-lahan berdiri, dengan langkah Limbung dan tangan tidak berhenti menekan perut nya yang terasa nyeri luar biasa.
Saat tiba di depan pembaringan Guo Yun langsung jatuh terguling pingsan diam tidak bergerak.
Sebenarnya apa yang terjadi mengapa Guo Yun yang tadinya baik baik saja.
Tidak terlihat terluka sama sekali diakhir pertarungan pun dia menang telak.
Mengapa tiba tiba bisa seperti ini ?
Semua ini hanya punya satu alasan Guo Yun terlalu sering menerima hantaman keras lawan yang dia serap tenaga nya.
Meski efeknya tidak terasa, tapi tenaga tenaga dahsyat yang terus terakumulasi secara terus menerus.
Sedikit demi sedikit terkumpul, di dalam tubuhnya, tanpa Guo Yun sadari.
Puncaknya tadi adalah tusukan pedang Han Kuang Cien di perut Guo Yun.
Tenaga yang terkumpul hampir meledak, tapi masih tertahan oleh hawa Thian Ti Sen Kung.
Sehingga hawa itu tersebar kearah lain, baru saat Guo Yun tiba di perkemahan.
Di mana kondisi Guo Yun yang sedang dalam kelelahan, Dia tidak sanggup mengendalikan lagi Thian Ti Sen Kung nya
Sehingga hawa berbahaya, yang terakumulasi dalam tubuh Guo Yun, akhirnya memberontak dan meledak tak terkendali.
Guo Yun mulai merasakan keanehan itu, saat berjumpa dengan Jendral Wen.
Makanya dia terburu buru minta di antar ke kemahnya, dia ingin menyendiri di sana.
Guo Yun tidak ingin kondisinya, di ketahui oleh anak buahnya.
Bila hal itu terjadi, itu akan mengacaukan mental dan pikiran pasukannya.
Bila mental dan pikiran terganggu, otomatis semangat perang mereka akan menurun.
Bila sudah menurun dia akan sulit membangkitkan nya lagi.
Semangat dan moral pasukan yang menurun sangat berbahaya di dalam perang.
Sebagus apapun strateginya, bila semangat dan moral pasukan menurun.
Semua akan jadi percuma, karena mereka menjalankan nya dengan setengah hati.
Hasil akhirnya bisa ketebak, mereka akan kalah total, mati konyol semua nya.
Guo Yun yang memahami banyak strategi militer sangat paham akan hal ini.
Makanya dia selalu sangat hati hati dalam menangani semangat dan moral pasukannya.
Dengan moral mereka terus tinggi, mereka akan berjuang bahkan di luar kemampuan mereka tanpa mereka sadari.
Itu adalah sesuatu yang sangat bagus bagi pasukan nya.
Semakin mereka percaya diri akan kemampuan mereka.
Lawan akan semakin sulit untuk mengalahkan mereka dalam berbagai pertempuran.
Guo Yun terkapar lemas tidak sadarkan diri di dalam kemahnya tanpa ada yang tahu.
Menjelang tengah malam, Guo Yun perlahan-lahan kembali pulih kesadarannya.
Setelah kembali sadar, Guo Yun mengatur pernafasan nya, untuk mengontrol sirkulasi Thian Ti Sen Kung miliknya.
Saat merasa jauh lebih baik, perutnya tidak begitu nyeri lagi.
Guo Yun pun bangkit duduk bersila, menggunakan hawa Thian Ti Sen Kung mengumpulkan hawa liat di dalam perutnya.
Untuk di tekan di kendalikan di bawah kontrol Thian Ti Sen Kung miliknya yang jauh lebih kuat.
Setelah berhasil di kendalikan, baru hawa itu diedarkan mengelilingi seluruh tubuhnya hingga tubuhnya terasa segar dan lancar
Semuanya baru dia simpan kembali kedalam Dan Tian nya
Guo Yun meminum beberapa pil luka dalam dari sebuah porselin kecil.
Di mana pil.pil di dalam porselin kecil itu adalah pil yang sengaja di buatkan oleh Min Min untuknya.
Tapi saat Min Min terluka olehnya, pil ini tidak berfungsi pada dirinya sendiri.
Karena luka yang di alaminya terlalu parah.
Selesai meminum obat, sambil menunggu reaksinya, Guo Yun duduk termenung seorang diri.
Menatap botol porselin di dalam genggaman tangannya.
Perlahan-lahan air matanya jatuh menitik tak terkendali.
Adalah suatu kebohongan terbesar di dalam hidupnya, saat mengatakan dia sudah merelakan kepergian Min Min dari sisinya.
Apalagi ucapan nya kepada Gongsun Li dan Si Si, bahwa dia sudah melupakan nya.
Tidak Guo Yun tidak pernah sedikitpun melupakan tentang Min Min yang telah melalui berbagai suka duka bersama.
Apalagi mereka sudah resmi menjadi suami istri.
Guo Yun seumur hidup tidak mungkin bisa melupakan nya.
Semua kebohongan itu hanya Guo Yun buat agar orang di sekitarnya ikut bersedih karena dirinya.
Dia hanya sedang menipu orang di sekitarnya juga dirinya sendiri.
Hanya saat dia sedang sendirian lah, semua kenyataan realita kehidupan nya yang menyedihkan akan muncul, menyelimuti seluruh akal dan pikirannya.
Seperti saat ini, Guo Yun selain terus menghela nafas panjang dengan airmata tidak berhenti menitik.
Sudah tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mengontrol kesedihan hatinya.
Guo Yun duduk termenung seperti orang linglung yang telah kehilangan kesadarannya.
Tidak tahu berapa lama dia duduk termenung seperti itu, saat sinar matahari lewat celah celah kecil menembus masuk kedalam kemahnya.
Di tambah suara kicau burung di luar sana, Guo Yun akhirnya baru menyimpan botol porselin putih di telapak tangannya.
Setelah menghapus sisa airmatanya, sambil sedikit menengadah menahan runtuh nya airmata berikutnya.
Sambil tersenyum sedih dan menghela nafas sedih.
Guo Yun baru bangkit berdiri dan berjalan keluar dari dalam kemahnya.
Keluarnya Guo Yun langsung di sambut pengawal di depan markasnya yang berlutut.
Guo Yun memberi kode kepada mereka untuk bangun berdiri dan berkata,
"Bangunlah kalian semuanya."
"Salah satu dari kalian pergilah panggil Jendral Wen menghadap."
ucap Guo Yun pelan.
Salah satu pengawal maju memberi hormat, lalu dia bergegas pergi menjalankan tugas dari Guo Yun.
Tak lama kemudian, pengawal itu sudah kembali bersama Jendral Wen.
Begitu tiba Jendral Wen ingin memberikan penghormatan dengan berlutut.
Tapi dia keburu di cegah Guo Yun,
"Tak perlu peradatan Jendral Wen.."
"Cukup.katakan saja, apa ada kabar berita dari Jendral Nan ?"
tanya Guo Yun sambil menatap kearah Jendral Wen penuh perhatian.
"Maaf yang mulia sampai saat ini, belum ada kabarnya.."
__ADS_1
"Bila ada aku akan segera mengabarkannya.."
Guo Yun mengangguk dan berkata,
"Baiklah untuk sementara waktu sambil menunggu, pasukan kita biarkan berlatih saja.."
"Untuk mengisi waktu, juga bagus buat mereka saat menghadapi pertempuran nanti.."
ucap Guo Yun mengingatkan.
"Siap Yang Mulia, bila tidak ada hal lain, aku pamit permisi pergi awasi latihan mereka.."
ucap Jendral Wen sambil memberi hormat dengan sepasang tangan terkepal keatas.
Guo Yun mengangguk dan berkata
"Pergilah, aku sebentar lagi juga akan menyusul kesana."
Setelah Jendral Wen pergi, Guo Yun menoleh kearah pengawalnya dan berkata,
"Tolong siapkan sederhana.."
"Baik Yang mulia.."
jawab pengawal penjaga pintu penuh hormat.
Lalu dia bergegas pergi dari sana.
Sesaat kemudian dia sudah kembali ke kemah Guo Yun dengan ransum militer.
Berupa semangkuk bubur encer dan dua potong kue kering kasar.
Guo Yun sudah terbiasa, dia tidak terlalu masalah.
Dengan mencelupkan roti kering itu kedalam bubur, setelah lembut baru dia makan.
Terakhir baru dia minum habis bubur encernya.
Setelah selesai, Guo Yun langsung meninggalkan kemahnya.
Pergi mengawasi pelatihan pasukannya yang sedang berlatih.
Beberapa saat berkeliling mengawasi pelatihan, Guo Yun pun menghampiri Jendral Wen.
"Jendral Wen kurasa cukup, beri mereka istirahat.."
"Jangan terlalu di paksakan, karena tidak lama lagi mereka akan hadapi pertempuran berat ."
"Kita harus jaga kondisi mereka tidak boleh terlalu santai tapi juga tidak boleh terlalu lelah ."
ucap Guo Yun mengingatkan.
Jendral Wen memberi hormat dan berkata,
"Siap Yang Mulia.."
Setelah itu dia langsung bergegas pergi mendelegasikan perintah dari Guo Yun barusan.
Melihat pasukannya mulai istirahat, Guo Yun pun berjalan pergi meninggalkan perkemahan mereka.
Guo Yun sendiri pergi ke garis depan untuk melakukan pengamatan secara langsung.
Beberapa prajurit yang sedang melakukan pengawasan kaget dengan kehadiran Guo Yun di sana.
Mereka terlihat panik dan agak kikuk dengan kehadiran Guo Yun disana.
Mereka buru buru ingin berlutut memberi hormat.
Tapi mereka di cegah oleh Guo Yun.
"Tak perlu peradatan, bagaimana keadaan di sana ?"
tanya Guo Yun sambil ikut mereka duduk di balik rumput ilalang.
"Belum ada pergerakan Yang Mulia, Jendral Nan belum memberikan sinyal dan kabar apapun. "
jawab salah satu komandan regu yang ikut anak buahnya mengawas di sana.
Guo Yun mengangguk dan berkata,
"Baiklah tidak apa-apa, kita tunggu saja.."
Jendral Wen juga ikut menyusul menunggu di sana.
Baru menjelang matahari terbenam, terlihat seseorang berjalan santai keluar dari gerbang kota Dan Yang.
Dia terus berjalan dan berjalan, menuju kearah bukit, tempat Guo Yun, Jendral Wen dan beberapa pasukan pengintai berada.
Setelah jarak nya semakin mendekat, Jendral Wen pun berkata,
"Itu Siau Yu, dia anak buah Anan.."
Beberapa prajurit pengintai di sana, mereka juga menganggukkan kepalanya.
Tanda menyetujui pendapat dari Jendral Wen barusan.
"Kita tunggu saja, lihat berita apa yang dia akan kabarkan ke kita.."
ucap Guo Yun tenang
Tak perlu menunggu lama, orang itu sudah ikut duduk bergabung bersama mereka.
Melihat Guo Yun juga ikut hadir di sana, dengan kaget Siau Yu ingin memberi hormat.
Tapi lagi lagi Guo Yun mencegahnya dari berkata,
"Tak perlu peradatan, ceritakan saja apa informasi yang kamu bawa dari sana..?"
Siau Yu mengangguk lalu berkata,
"Situasi di dalam kota Dan Yang, agak sedikit gawat.."
"Di dalam kota itu sudah tidak ada penduduk, yang menjadi penduduk di sana adalah pasukan Qin yang menyamar."
"Kami tidak bisa merebut tempat tempat penyimpan, karena seluruh tempat itu di segel, dan di awasi dengan sangat ketat."
ucap Siau Yu menjelaskan.
Guo Yun mengangguk dan berkata,
"Tapi kalian sudah hapalkan di mana letak posisi posisi bahan peledak itu..?"
"Siau Yu mengangguk cepat.."
Dia menatap kearah Guo Yun dengan serius, menunggu perintah selanjutnya.
Guo Yun berpikir sejenak kemudian berkata,
"Apa kalian bersepuluh cukup menempati posisi posisi peledak itu berada..? ada berapa titik yang mereka tempatkan peledak..?"
Siau Yu terlihat menghitung hitung, tak lama kemudian dia menunjukkan 5 jari nya kedepan.
"Lima..?"
tanya Guo Yun.
Siau Yu menggelengkan kepalanya dan berkata,
"50 Yang Mulia.."
Guo Yun di dalam hati kaget mendengarnya, tapi di luar dia tetap bersikap tenang dan berkata,
"Baiklah kalau begitu kamu pilih 40 saudara yang lain, masuklah kedalam kota Dan Yang secara bertahap.."
"Bila masing masin sudah menempati posisi di setiap titik."
"Segera kabari kami, dengan lepaskan tanda ke udara.."
"Siap Yang Mulia.."
ucap Siau Yu cepat.
"Jendral Wen kamu bantu Siau Yu sediakan 40 personil lagi,.masuk kedalam kota secara bertahap.."
ucap Guo Yun sambil menoleh kearah Jendral Wen.
"Siap Yang Mulia.."
jawab Jendral Wen cepat.
Guo Yun kembali menoleh kearah Siau Yu dan berkata,
"Agar pihak lawan tidak curiga.. sebaiknya menyelundup masuk nya."
"Kalian mengambil arah berbeda-beda saja, baik asal datangnya, maupun asal masuknya kedalam gerbang kota.."
"Siap Yang Mulia,.."
Jawab Siau Yu cepat.
"Jendral Wen kita terpaksa menunggu beberapa hari lagi, kabar dari mereka baru bisa bergerak.."
ucap Guo Yun sambil menoleh kembali kearah Jendral Wen.
Jendral Wen mengangguk dan berkata,
"Siap Yang Mulia, aku akan segera mengaturnya.
Guo Yun menepuk pundak Siau Yu dan Jendral Wen, dengan lembut dan berkata,
"Aku mengandalkan kalian.."
Kedua orang itu mengangguk dengan penuh semangat.
Selesai memberi pengarahan, mereka bertiga pun berjalan kembali ke markas.
Guo Yun langsung menuju kemahnya.
Sedangkan Siau Yu mengikuti Jendral Wen untuk pergi memilih personil yang cocok dengan misi nya.
Pada hari ketiga pagi, Guo Yun yang mendapat laporan dari Jendral Wen.
Bahwa sudah ada tanda sinyal yang di lepaskan oleh Jendral Nan .
Guo Yun dan pasukan besar nya langsung bergerak dengan teratur menuruni bukit, langsung menuju kota Dan Yang.
__ADS_1
Kedatangan Guo Yun langsung di hadang oleh pasukan Qin yang jumlahnya tidak kurang dari 300.000 personil bersenjata lengkap.
Pimpinan di pihak Qin adalah Jendral Xiong Xin.