
Guo Yun membiarkan Si Si menangis sepuasnya, agar bisa melepaskan semua beban yang menghimpit perasaannya selama ini.
Dia tidak berkata-kata atau melakukan hal apapun, selain dengan lembut, tanpa henti dia terus membelai rambut Si Si, yang panjang lebat dan halus lembut itu.
Si Si yang terlalu sedih melepaskan tangisannya, akhirnya dia terkulai lemas dalam pelukan Guo Yun.
Guo Yun menggendongnya menuju sebuah pohon rindang, dia duduk bersandar di batang pohon itu, sambil memangku Si Si yang tertidur pulas dalam pelukannya.
Menjelang siang Si Si baru terbangun dari tidurnya pulsanya.
Melihat dirinya berada dalam pangkuan Guo Yun.
Meski hatinya sangat nyaman dan bahagia, dengan wajah merahan malu.
Si Si bangun melepaskan diri dari pelukan Guo Yun, dia bergerak menjauhi Guo Yun.
Sekaligus merapikan pakaian dan rambutnya yang sedikit kusut.
Si Si kemudian berkata pelan,
"Yun ke ke hari sudah siang, aku harus kembali ke paviliun."
"Terimakasih Yun ke ke sudah bersedia mendengarkan kisah ku yang membosankan.."
"Selamat tingga, jaga diri Yun Ke ke baik baik, semoga Yun ke ke berbahagia selalu."
"Selamat tinggal Yun ke ke.."
ucap Si Si.
Lalu tanpa menoleh lagi, gadis itu sudah berlari meninggalkan tempat itu.
Sesaat kemudian dia sudah menghilang dari hadapan Guo Yun.
Si Si sudah menghilang ke balik tembok melalui jalan rahasia.
Guo Yun berdiri termenung di sana, tidak tahu harus berbuat apa.
Ingin meminta peta dia tidak berani dan tidak sampai hati.
Tidak meminta peta, dia belum menemukan cara untuk menahlukkan kota Shang Qiu yang di kuasai oleh Xiong Pa dari Chu.
Ingin menempuh kekerasan dengan pasukannya saat ini, itu adalah mustahil.
Pasukannya sebagian besar adalah anggota baru, mereka belum punya pengalaman tempur.
Guo Yun yang dilema, berdiri mematung seorang diri.
Beberapa saat kemudian, dia baru melangkah kehadapan ketiga makam yang berjejer rapi itu.
Guo Yun mengambil dupa dan peralatan sembahyang, yang belum sempat di gunakan oleh Si Si.
Guo Yun mewakili Si Si menyembahyangi ketiga makam itu satu persatu.
Bagaimana pun setelah kejadian itu, antara dia dan Si Si.
__ADS_1
Mau di akui ataupun tidak, dia sudah terhitung bagian dari keluarga ini.
Jadi adalah wajar, bila dia menyembahyangi mereka, sebagai baktinya pada orang tua Si Si.
Setelah menyelesaikan sembahyang nya, Guo Yun memberikan penghormatan terakhir nya.
Dengan membenturkan dahinya keatas tanah.
Pada gerakan ketiga kalinya, sebuah kertas yang terlipat rapi melompat keluar dari saku bajunya.
Begitu melihatnya, sadarlah Guo Yun, demi dia Si Si sudah melepaskan semua nya.
Termasuk dendam keluarganya, yang begitu besar, dia sudah melepaskannya.
Si Si merelakan dendam nya yang tak mungkin bisa terbalaskan, dengan memberikan dukungan kepada dia.
Meski tidak memberikan dukungan secara langsung, tapi dengan di berikan nya peta ini.
Secara tidak langsung, dia sudah memaafkan keluarga kerajaan Song, yang telah menzolimi keluarganya.
Dan alasan dia melakukan hal ini sudah jelas, semua karena dirinya.
Karena Si Si terlalu mencintai dan menganggap penting dirinya.
Peta ini adalah warisan turun temurun yang selalu di jaga oleh orang tuanya, bahkan dengan taruhan nyawa.
Kini Si Si memberikan begitu saja pada dirinya, itu sudah lebih dari cukup, untuk membuktikan betapa pentingnya posisi dirinya di hati gadis itu.
Meski gadis itu tak pernah mengatakan apapun, Guo Yun sudah mengerti dan memahami perasaan gadis itu.
Bila bukan hatinya sudah terisi oleh Gongsun Li, bukan mustahil Guo Yun akan membalas perasaan gadis itu dengan sepenuh jiwa raga.
Dia akan memberikan seluruh cintanya, hanya untuk membahagiakan gadis yang sangat luar biasa itu.
Guo Yun dengan hati hati memungut peta yang ada di hadapannya.
Guo Yun mengangkat peta itu diatas kepala nya, lalu dia memberi hormat 3 kali ke makam menteri Zhao.
"Semoga kakek tidak menyalahkan aku, yang membalas kekejian dengan kebajikan, melalui peta buatan kakek ini..'
Setelah memberi hormat, Guo Yun pergi mengambil arak daging dan kue bulan, yang tadinya dia beli untuk di makan dan ingin di nikmati bersama Si Si.
Tapi kini Si Si sudah tiada di sana, Guo Yun menyimpan semuanya kedalam baki kosong. Si Si, yang masih tertinggal di sana.
Dengan menggunakan peta di tangannya, Guo Yun mengantar baki itu kembali, hingga tiba di balik pintu rahasia menuju kamar pribadi Si Si.
Di sana Guo Yun mengetuk pintu rahasia beberapa kali, hingga terdengar langkah kaki Si Si mendekat
Guo Yun pun pergi meninggalkan baki itu di sana.
Si Si saat membuka pintu rahasia di sana hanya ada baki nya, tidak ada orang nya.
Sambil menahan senyum bahagia, dia membawa baki itu kedalam kamar nya.
Si Si yang mengira baki itu kosong, tapi saat di angkat terasa ada isinya.
__ADS_1
Dengan penuh penasaran, dia meletakkan baki itu diatas meja, lalu membukanya untuk melihat isi di dalamnya.
Begitu melihat isi di dalamnya adalah arak wangi daging kering dan dua kotak kue bulan.
Sambil tersenyum bahagia, Si Si bergunaan sendiri.
"Masih terhitung punya hati nurani kamu.."
"Termasuk tidak sia sia aku begitu menyayangi mu.."
"Semoga semua berjalan lancar, dan Yun ke ke akan berbahagia selalu.."
Saat Si Si mengambil kotak Kue bulan, di bawahnya ternyata ada sepucuk surat yang ditulis dengan sangat rapi oleh Guo Yun.
Si Si buru buru membacanya,
"Si Si aku minta maaf atas segala kesalahanku pada mu.."
"Meski kita tidak bisa bersama, karena aku sudah ada dia.."
"Tapi aku bersumpah, selama aku masih bernafas, aku tidak pernah akan melupakan mu, melupakan semua tentang kita.."
"Kamu akan menempati satu sisi dalam perasaan ku yang terdalam, selamanya tidak akan tergantikan dan terhapus kan dari sana.."
"Semoga kamu paham, apa yang aku rasakan,..sahabat terbaik ku yang paling ku sayangi.."
"Tertanda,.. Guo Yun."
Membaca surat tersebut, seluruh perasaan Si Si bercampur aduk,
ada rasa gembira bahagia, sekaligus sedih.
Si Si sambil tersenyum bahagia memeluk kertas itu di dadanya dengan air mata jatuh menitik.
Guo Yun sendiri dengan peta itu dia bebas bergerak melalui jalur rahasia.
Mengintip kegiatan Siung Pa dan seluruh kebiasaannya.
Guo Yun juga bisa, diam diam memperhatikan kelima Jendral andalan Siong Pa.
Guo Yun hampir menghabiskan waktu sebulan di kota Shang Qiu, hanya untuk mengamati situasi, dia sama sekali tidak ingin melakukan pergerakan.
Dia terus menunggu waktu yang tepat, menunggu ketiga Lo Sa yang berbahaya itu pergi.
Dia baru punya keyakinan penuh, akan kesempatan yang lebih besar saat beraksi nanti.
Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba, selama masa tunggu ini.
Guo Yun tidak berhenti berlatih di ruang rahasia.
Begitu pula dengan seluruh pasukannya, yang berada di dalam hutan Pinus sana.
Sehari hari mereka hanya menghabiskan waktu untuk berlatih tanpa henti.
Begitu memastikan ketiga Lo Sa sudah pergi jauh, dari kota Shang Qiu.
__ADS_1
Guo Yun pun memutuskan mulai bergerak