
Meng Thian mengangguk dan berkata,
"Baiklah senior Liu, bila begitu aku hanya bisa merepotkan tuan Liu, untuk naik keatas sana,.."
"Habisi mereka semua tanpa sisa.."
"Aku yakin mereka adalah.."
belum selesai Meng Thian menjelaskan permintaan nya.
Dewa Pedang kilat Liu Yang yang sedari tadi menggendong kedua tangannya di depan dada tahu tahu sudah menghilang dari hadapan nya.
Begitu muncul lagi Liu Yang si Dewa Pedang Kilat, sudah muncul di hadapan rombongan mata mata pasukan harimau hitam.
Rombongan yang terdiri dari 30 orang itu sangat kaget, melihat kemunculan Liu Yang Si Pedang Kilat.
"Siapa kamu,!? cepat laporkan nama mu, ! apa yang kamu lakukan di sini..!?"
Bentak pimpinan kelompok mata mata pasukan harimau hitam dengan curiga.
Semua yang hadir sudah menghunus pedang di tangan mereka masing-masing.
Bersiap siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk.
"Aku Liu Yang Si Pedang Kilat, selamanya tidak pernah merubah nama dan marga.."
"Ada yang mengutus ku kemari mencabut nyawa kalian, jadi bersiaplah.."
ucap Liu Yang Si Pedang Kilat dingin.
"Semuanya habisi..!"
belum selesai ucapan pimpinan kelompok mata mata itu.
Tubuhnya langsung tumbang keatas tanah, saat terdengar suara.
'Wusss...!"
"Cussss..!"
"Brukkk...!"
Terlihat sarung pedang Liu Yang Si Pedang Kilat, melesat menembus dada kiri pimpinan pasukan harimau hitam dengan kecepatan tinggi.
Sebelum di susul tubuh pimpinan itu jatuh tergeletak di atas tanah kehilangan nyawa.
"Cussss..!" "Cussss..!" "Cussss..!"
"Cussss..!" "Cussss..!" "Cussss..!"
"Cussss..!" "Cussss..!" "Cussss..!"
Sarung pedang itu setelah membunuh Pimpinan kelompok mata mata pasukan harimau hitam.
Sarung pedang itu terlihat seperti bernyawa mengincar kelompok mata' mata pasukan harimau hitam dengan kecepatan tinggi.
Baru setelah menghabisi orang kesembilan, dari mata mata pasukan harimau hitam, yang kini hanya tersisa 20 orang
Sarung pedang itu akhirnya berhenti bergerak, dalam posisi menancap di dada kiri orang ke sepuluh yang tewas di tembus oleh sarung pedang itu.
Sisa dua puluh orang pasukan harimau hitam, yang kaget bercampur marah, melihat pimpinan dan rekan mereka, tewas begitu mudah di hadapan mata mereka.
"Hyaaaaaat...!"
__ADS_1
Teriak mereka marah sambil menerjang dan menebaskan Pedang mereka kearah Liu Yang Si Pedang Kilat.
"Wuttt..!" Wuttt..!" Wuttt..!" Wuttt..!"
Wuttt..!" Wuttt..!" Wuttt..!" Wuttt..!"
Wuttt..!" Wuttt..!" Wuttt..!" Wuttt..!"
Terdengar suara pedang para anggota pasukan harimau hitam, berseliweran mengepung tubuh Liu Yang Si Pedang Kilat.
Tapi pergerakan mereka semua menjadi sia sia, malah nyawa mereka semua yang tergadai.
Saat Liu Yang Si Pedang Kilat melesat seperti bayangan kilat, bergerak kesana kemari dengan pedang berdesingan membelah udara.
"Singggg..! Singggg..! Singggg..!"
"Sraaat..! Sraaat..! Sraaat..!"
"Singggg..! Singggg..! Singggg..!"
"Sraaat..! Sraaat..! Sraaat..!"
"Singggg..! Singggg..! Singggg..!"
"Sraaat..! Sraaat..! Sraaat..!"
Bayangan biru berkilauan membelah udara, berkelebat kesana kemari dengan sangat cepat.
Satu persatu tubuh mata mata pasukan harimau hitam yang kurang beruntung itu, langsung bertumbangan.
Tidak sampai satu detik kedua puluh orang yang tersisa, kini sudah tergeletak kehilangan nyawa dengan masing-masing leher mereka.
Di hiasi sebuah garis merah kecil melintang di leher mereka.
Begitu menyelesaikan tugas nya, sarung pedang Liu Yang Si Pedang Kilat, yang masih menancap di dada kiri salah satu anggota mata-mata pasukan harimau hitam .
Begitu sarung pedang kembali ke dalam tangan Liu Yang Si Pedang Kilat, dia langsung melesat meninggalkan tempat itu.
Saat muncul lagi Liu Yang Si Pedang Kilat sudah kembali ke punggung kudanya yang berada di sisi Jendral Meng Thian.
"Terimakasih senior Liu, maaf jadi merepotkan anda.."
ucap Meng Thian dengan sikap penuh hormat.
"Itu cuma masalah kecil, sudah jadi tanggung jawab ku..."
"Jendral Meng Thian tidak perlu bersikap sungkan.."
"Bila ada pesan lagi, silahkan saja.."
"Atau kita bisa kembali melanjutkan perjalanan dengan secepatnya.."
ucap Liu Yang Si Pedang Kilat bersikap santai.
Meng Thian mengangguk pelan, lalu dia segera memberi kode kearah pasukannya, untuk mengikutinya bergerak memasuki
Jalan yang di apit oleh dua tebing tinggi itu.
Saat memasuki jalan tersebut, keadaan berlangsung tenang, Meng Thian memimpin pasukan nya, memasuki jalan celah sempit itu dengan hati hati.
"Siao Chiang,..! Siao Ma..!"
kalian bawa 100 personil untuk membuka jalan dan melihat situasi di depan sana.."
__ADS_1
ucap Meng Thian kepada dua anak buah kepercayaan nya.
"Siap Jenderal.."
ucap kedua orang itu cepat.
Mereka segera membentuk satu unit pasukan berkuda, bergerak ke garis depan untuk melakukan penyelidikan.
Meng Thian bergerak dengan lebih hati hati dan lambat sambil menunggu datangnya informasi dari kedua anak buah kepercayaan nya.
Tapi setelah menempuh perjalanan sekian lama, kelompok kecil yang di utus nya pergi ke garis depan tidak juga kembali.
Meng Thian mulai curiga dan khawatir dengan nasib kedua bawahan kepercayaan nya itu.
Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, Meng Thian akhir nya menemukan nasib kedua bawahannya dan 100 personil yang mereka bawa.
Siao Chiang dan Siao Ma terlihat tergeletak berserakan dengan tubuh terpisah pisah berserakan di atas tanah.
Begitupula dengan barisan pasukan yang mengikutinya.
Bahkan kuda yang menjadi tunggangan mereka pun mengalami hal yang sama.
Melihat keadaan itu, Meng Thian menjadi sedikit emosi, dia langsung memacu kudanya hendak mendekati lokasi tempat kejadian.
"Jendral Meng tahan..!"
ucap Liu Yang Si Pedang Kilat cepat.
Meng Thian terpaksa menahan pergerakan kuda tunggangan nya.
"Hieeehh..!"
Kuda tunggangan Meng Thian meringkik keras, sambil mengangkat kedua kaki depan nya keatas.
Karena kaget, gerakan berlari kedepannya di hentikan secara tiba-tiba oleh tuannya.
Meng Thian menepuk nepuk leher kudanya mencoba menenangkannya.
Setelah kudanya tenang, Meng Thian baru menoleh kearah Liu Yang Si Pedang Kilat.
"Ya senior Liu, apa ada yang salah..?"
Tanya Meng Thian heran.
Liu Yang Si Pedang Kilat tanpa berkata apa-apa, menjawab pertanyaan Meng Thian.
Dia melompat turun dari atas kudanya, lalu dari jarak jauh dia membuat beberapa potong tubuh yang berserak terbang ke udara.
Kejadian aneh Langsung terlihat, begitu potongan tubuh itu melayang ke udara.
Potongan tubuh itu langsung terpotong potong menjadi beberapa bagian yang lebih kecil.
Meng Thian terbelalak melihat nya.
Dia dengan penasaran bertanya, "Apa yang terjadi..senior Liu,? mengapa bisa demikian..?"
Liu Yang Si Pedang Kilat memberi kode agar Meng Thian turun dari kudanya.
Mengikutinya, untuk mengamati secara lebih dekat, melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Liu Yang Si Pedang Kilat kemudian menunjuk kearah benang tipis transparan yang malang melintang di sekitar tempat itu.
Meng Thian ikut memperhatikan dari jarak dekat, dia dengan penasaran mencoba menyentuh benang halus transparan itu.
__ADS_1
"Ahhh...!"
Begitu di sentuh, jari Meng Thian langsung terluka dan berdarah.