
Selagi Min Min sedang menebak nebak, pintu kamar pun terbuka.
Min Min buru buru memutar badannya dan bersiap melontarkan makian.
Tapi saat melihat yang datang adalah seorang gadis muda, berpakaian sederhana melangkah masuk kedalam kamar sambil membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman.
Dia terpaksa menghentikan dan menahan makian yang hampir dia lontarkan.
"Di mana dia,..?"
tanya Min Min ketus.
"Maksud Nona..?"
tanya gadis itu dengan wajah lugu.
"Maksud ku bajingan yang selalu pake topeng emas itu, di mana dia sekarang..!'
ucap Min Min melampiaskan kekesalannya.
"Ohh tuan muda topeng emas, dia ada di luar sana.."
ucap gadis itu polos.
"Panggil dia kemari cepat.."
"Atau cepat bantu aku.lepaskan ikatan ini.."
ucap Min Min cepat.
Gadis itu meletakkan nampan berisi makanan di hadapan Min Min dan berkata dengan wajah polos,
"Tuan bilang, bila nona makan habis semua makanan ini.."
"Dia baru akan datang kemari.."
"Mengenai melepaskan ikatan, tanpa ijin tuan aku tidak berani.."
ucap gadis itu dengan wajah takut takut.
"Kamu siapa, sejak kapan dia mengambil mu menjadi pelayan nya.."
tanya Min Min sambil menatap penuh selidik.
Tiba-tiba ada rasa panas yang membakar dada nya, saat mendengar Si Topeng Emas merekrut pelayan wanita.
Pikirannya sesaat langsung melantur, membayangkan kebiasaan yang biasa terjadi di istana.
Di mana para pelayan sering dijadikan sebagai alat pemuas nafsu para bangsawan pejabat dan hartawan di kota raja sana.
Gadis itu menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Aku cucu pemilik kapal ini, aku tidak di tugaskan untuk melayani tuan."
"Aku hanya khusus di bayar untuk melayani keperluan tuan putri saja.."
"Aku bahkan di larang mendekat dan menemui tuan secara langsung.."
"Hanya kakek ku yang diijinkan menemuinya, bila ada masalah aku akan melapor dulu ke kakek..'
"Nanti kakek ku lah yang pergi menemui tuan muda
ucap gadis polos itu menjelaskan.
__ADS_1
Min Min tiba tiba mengangguk dan tersenyum puas.
"Baiklah kamu bantu aku untuk makan, setelah itu cepat lah panggil dia kemari.."
ucap Min Min yang terlihat sudah tidak sabar.
Gadis itu mengangguk cepat, lalu dia mulai menyuapi Min Min makan, hingga makanan di atas nampan habis.
Setelah itu dia baru keluar dari sana membawa nampan berisi piring dan mangkok, yang sudah kosong.
Selang beberapa saat, Guo Yun akhirnya melangkah masuk kedalam kamar tersebut.
"Maaf aku terpaksa melakukan hal ini.."
ucap Guo Yun dengan kepala tertunduk, tidak berani beradu tatap dengan Min Min.
Min Min tadinya berpikir ingin melontarkan makian, tapi dia membatalkannya.
Karena dia pikir, hal itu tidak akan membawa manfaat apapun bagi dirinya.
Bila dia melakukan hal itu, Guo Yun tinggal menotok syaraf gagu nya, maka semua pun selesai.
Dia tidak akan bisa merubah apapun.
Setelah berpikir cepat, Min Min merubah sikapnya secara drastis.
Dia menatap kearah Guo Yun dengan pasrah dan berkata,
"Yun ke ke tidak perlu minta maaf, bila dengan cara ini, bisa membuat Yun ke ke merasa nyaman.."
"Lakukan saja, Min Min tidak ada keluhan.."
"Terimakasih Yun ke ke sudah memikirkan semua nya untuk kebaikan Min Min."
Berusaha menahan air bening yang mengembang di matanya agar tidak runtuh.
Melihat hal itu, Guo Yun benar benar merasa tidak tega.
Dirinya yang monster mengapa Min Min yang harus di ikat, kalau pun mau di ikat juga, seharusnya dirinya lah yang harus di ikat, bukan Min Min.
Berpikir seperti itu tanpa banyak bicara Guo Yun menyentil kan jarinya kearah Min Min.
Sebuah energi transparan melesat mengenai tali pengikat di tubuh Min Min.
"Tasss,..! Tasss,..! Tasss,..!"
Tali langsung putus, ikatan Min Min pun terlepas.
Guo Yun membalikkan badannya dan berkata,
"Min Min Yun ke ke bersalah pada mu.."
"Maaf.."
Guo Yun langsung meninggalkan tempat itu.
Dia langsung kembali kedalam kamar nya, membelenggu dan menggembok dirinya di dalam kamar dengan rantai besar dan gembok raksasa yang sengaja dia pesan khusus.
Kim Kim setelah terlepas dari ikatannya, dengan gembira dia menggerakkan anggota tubuhnya yang pegal pegal.
Lalu dia diam diam keluar dari kamarnya berjalan mencari cari dimana letak kamar Guo Yun.
"Tak perlu di cari, aku di sini masuklah sekarang sepenuhnya aman.
__ADS_1
ucap Guo Yun yang bisa mendengar langkah kaki Min Min dengan jelas.
Min Min begitu masuk kedalam kamar tersebut, senyum canggung di wajahnya langsung hilang.
Tergantikan dengan ekspresi wajah kaget.
"Yun ke ke apa yang kamu lakukan,. mengapa harus begini.."
ucap Min Min sambil berlari mendekati Guo Yun.
Dia menatap Guo Yun dengan tatapan mata kasihan, air bening kembali mengembang di sepasang mata nya yang indah.
"Min Min tak perlu bersedih, aku memang harus seperti ini.."
"Aku sudah biasa, ini bukan masalah.."
"Min Min tolong bantu aku pegang kuncinya untuk sementara waktu.."
"Bila kita sudah sampai di dermaga kota Luo Yang, baru bantu aku lepaskan rantai ini.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum lembut.
"Sudah jangan bersedih lagi, lebih baik bantu suapin aku makan boleh..?"
ucap Guo Yun sambil tersenyum.
Min Min buru buru menganggukkan kepalanya dengan cepat, hingga dua air bening itu langsung runtuh.
Sesaat kemudian Min Min terlihat buru buru, berlari meninggalkan kamar Guo Yun.
Dia langsung pergi mencari gadis nelayan itu, memintanya menyiapkan makanan.
Lalu Min Min sendiri yang membawanya kedalam kamar Guo Yun.
Dia menyuapi Guo Yun makan, hingga selesai.
Selesai makan Guo Yun berkata,
"Terimakasih banyak Min er.."
"Sekarang kembali lah ke kamar mu, besok kita baru ngobrol lagi sambil sarapan bersama.."
ucap Guo Yun hati hati.
Dia takut ucapan nya, akan menyinggung perasaan Min Min, tapi di luar dugaan ternyata tidak.
Gadis itu malah membalasnya dengan anggukan kepala dan tersenyum lembut.
Min Min tanpa berkata apapun, setelah mencium pipi Guo Yun.
Gadis itu langsung berlari pergi meninggalkan kamar Guo Yun.
Kini hanya tersisa Guo Yun yang duduk termenung seorang diri di sana.
Guo Yun sedang berpikir alangkah akan bahagianya, bila dirinya tidak terkena penyakit aneh itu.
Dia bisa dengan bebas menerima dan membalas perasaan Min Min yang sangat tulus itu.
Sementara Guo Yun sedang menempuh perjalanan.
Di tempat lain, seluruh kota Da Liang kini sudah di kepung banjir, kota itu hampir tenggelam, setengahnya.
Raja Jia yang tidak sanggup bertahan lebih lama lagi, akhirnya menyerahkan diri dan mengakui kedaulatan Qin.
__ADS_1
Wang Ben sukses menahlukkan kerajaan Wei tanpa perlu harus berperang, dan harus kehilangan satu orang pun prajuritnya.