LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
SEPASANG KAKEK ANEH


__ADS_3

Li Kui mengejar hingga ke kota Shang Qiu, mengikuti Indra penciuman nya.


Li Kui berhenti sejenak di depan benteng kota Shang Qiu, yang jembatan penghubungnya belum di turunkan, begitu pula pintu gerbangnya masih tertutup rapat.


Hal ini wajar, karena saat itu, baru menjelang subuh.


Cuaca di langit masih gelap gulita, ini adalah saat terindah bagi orang orang normal, yang masih asyik tertidur pulas di kasur dan ranjang mereka.


Li Kui setelah berhenti sejenak di depan jembatan penghubung, tiba tiba tubuhnya terbang keatas.


Menuju bagian atas tembok kota, di mana terlihat banyak bendera Qin berkibar kibar di sana


Sebelum Li Kui berhasil mendarat, langsung terlihat anak panah di lepaskan berhamburan kearahnya dari bagian atas tembok.


Mereka ini adalah pasukan yang telah terkontaminasi oleh racun Xue Sun dan bawahannya.


Mereka sebagian adalah mantan tentara kerajaan Han, sebagian lagi adalah penduduk kota Shang Qiu yang malang.


Tapi Li Kui tidak ambil peduli, yang menghalangi jalannya harus mati.


Li Kui membiarkan anak panah itu bebas mengenai seluruh tubuhnya.


Tapi anak panah yang membentur tubuhnya, semua langsung rontok.


Tidak ada yang bisa menembus kekebalan tubuh Li Kui.


Sebaliknya Li Kui langsung membalasnya dengan serangan sepasang cakar tangannya yang bisa memanjang, dan bergerak bebas kemanapun dia inginkan.


Setiap cakarnya menemui sasaran, sasarannya pasti tewas mengenaskan.


"Wusss...!"


"Crashhh..!"


"Arggghh...!"


Li Kui berhasil mendarat ringan diatas tembok kota, ribuan pengepung yang menghalangi pergerakannya.


Semuanya tewas sia sia terkena cakar tangan Li Kui yang terlihat berlumuran darah.


Berbeda dengan pasukan iblis yang hancur menjadi abu terkena cakar inti neraka.


Orang orang biasa yang terkontaminasi ini, seperti layaknya manusia biasa.


Mereka adalah manusia biasa yang terdiri dari darah dan daging. Jasadnya tidak hancur menjadi abu, melainkan terkapar malang melintang menumpuk di sana sini.


Perbedaannya mereka ini tidak takut mati, tapi kalau terluka parah mereka tetap akan mati.


Tidak bisa meregenerasi luka mereka.


Hal ini justru membuat keadaan menjadi jauh lebih menyeramkan, Li Kui telah menjadi iblis penyebar maut.


Kemanapun dia bergerak pasti ada puluhan nyawa melayang.


Li Kui seperti tidak mengenal puas dan lelah, dia terus membantai siapapun yang berani mendekat dan menghalangi langkahnya.


Malangnya ratusan ribu orang yang terkontaminasi ini, mereka dengan patuh mengikuti perintah Xue Sun.


Sedangkan Xue Sun sendiri bersembunyi berlindung di belakang mereka.


Dia memanfaatkan orang orang yang terkontaminasi ini, untuk menghalau dan melakukan Li Kui yang mengerikan dan sulit dia lawan


Xue Sun berharap setelah Li Kui kelelahan, dia baru akan muncul melumpuhkan nya


Kemudian mengkontaminasinya, bila dia bisa merubah Li Kui menjadi mayat hidupnya.


Dia akan mendapatkan bawahan yang kemampuannya, melebihi ratusan ribu orang yang menjadi bawahannya saat ini.


Seluruh pengorbanan pasukannya saat ini, akan terasa pantas.


Li Kui masih terus mengamuk dari gelap hingga terang, dari atas tembok kota, kini sudah berpindah hingga kedalam kota.


Mayat bertumpuk tumpuk di mana mana, dari ribuan berubah menjadi puluhan ribu, lalu menjadi ratusan ribu.


Saat ini sudah tak terhitung lagi orang yang telah di bantai oleh Li Kui tanpa ampun.


Hampir sebagian besar orang itu mati dengan luka leher robek, sebagian lainnya perut robek dengan usus berhamburan.


Tapi bagi pandangan mata Li Kui semua itu biasa saja.


Kini Li Kui telah berubah menjadi manusia merah yang di kelilingi oleh api yang terpancar dari seluruh tubuhnya.


Seluruh tubuh Li Kui berlumuran darah sehingga membuat dia terlihat seperti manusia merah.


Mungkin lebih tepatnya adalah Iblis darah.


Li Kui masih terus bergerak ganas melesat kesana kemari.


Menghabisi para pengepungnya, yang semakin lama semakin dikit.


Xue Sun di tempat persembunyian nya mulai khawatir.


Melihat Li Kui setelah bertempur sepanjang malam hingga saat ini sudah memasuki sore hari.


Dia belum terlihat ada tanda tanda melemah.


Sebaliknya stok pasukan nya, dari manusia terkontaminasi hampir habis


Melihat tanda tanda tidak baik, yang tidak sesuai harapan.


Xue Sun diam diam mengundurkan diri, lalu mencoba untuk kabur dari sana


Diam di sana masih baik, karena Li Kui mencium bau Xue Sun di sekitar sana.


Dia bersikap tenang dan santai, begitu dia mencium bau Xue Sun menjauh.


Tiba-tiba Li Kui berteriak dengan suara menggelegar.


"Mau coba kabur kemana kamu Keparat..!"


Suara bentakan Li Kui membuat tanah seperti di Landa gempa.


Para pengepung pada jatuh terguling, tidak mampu berdiri.


Di saat itulah Li Kui melesat meninggalkan pengepung yang tidak mampu menghalaunya lagi.


Li Kui terus melesat cepat melakukan pengejaran kearah Xue Sun kabur.


Akhirnya dia berhasil menyusul Xue Sun yang berada di tepi sungai sedang mendorong sebuah perahu, masuk kedalam air.


Xue Sun hendak melarikan diri melalui jalan sungai, karena dia sudah menghadapi jalan buntu.


Melihat hal itu Li Kui melesat keudara melepaskan dua pukulan jarak jauh.


Dua bola api melesat kearah perahu yang sedang di dorong oleh Xue Sun.


"Brakkkk..!"


Perahu yang sedang di dorong oleh Xue Sun hancur berkeping keping.


Xue Sun yang terpojok akhirnya mengeluarkan suara lengkingan penuh kemarahan.


Tubuhnya melesat keudara kembali ke daratan, untuk menyambut datangnya Li Kui.


Di tengah udara Xue Sun mengeluarkan 4 buah botol kaca kecil berwarna merah.


Sekali tegak isi botol itu sudah habis semua.


Selesai menegak isi dari keempat botol kaca, terjadi perubahan pada Xue Sun, kini seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya berkilauan seperti berlian saat tertimpa matahari sore.


Kecepatan dan kekuatan nya meningkatkan beberapa kali lipat.


Li Kui juga tidak kalah gertak, tanpa terlihat letih dia juga mengeluarkan gerengan yang tidak kalah kerasnya.


"Groowaaarrrrrrr...!!"


Kedua nya akhirnya bertemu dan saling serang di udara.


Masing masing saling menyerang dengan cakar tendangan tebasan tamparan juga dorongan tinju dan dorongan telapak tangan di bagian bagian mematikan di tubuh lawan.


Tapi mereka cukup imbang, masing masing bisa menghindar menangkis dan membalas serangan lawan.


Hingga pada satu kesempatan, sepasang tinju Xue Sun terkena cengkraman cakar Li Kui.


Di saat kedua tangannya tertahan di udara.


Xue Sun secara tiba-tiba menggunakan sepasang kakinya menendang dada Li Kui yang tak terjaga


"Tabbbb..!"


"Blukkkk...!"


Li Kui terpental jauh cengkraman nya pada sepasang tinju Xue Sun otomatis terlepas, tubuh Li Kui terbanting keras keatas tanah.


"Brakkkk....!"


"Sreeet...!"


Saking kerasnya benturan, tubuh Li Kui terseret diatas tanah terdorong mundur puluhan meter.

__ADS_1


Membentuk sebuah lekukan memanjang mirip parit kecil.


Melihat kesempatan di depan mata, Xue Sun tidak menyia nyia kan kesempatan.


Dia melesat menerjang kebawah bagaikan seekor elang yang sedang menukik.


Sambil mengeluarkan lengkingan keras.


Xue Sun menyerang dengan sepasang tinjunya yang mengeluarkan cahaya berkilauan kearah Li Kui yang sedang terlentang di atas tanah.


Xue Sun tidak menyangka ini adalah kesalahan terbesarnya.


"Blaaaarrr...!"


Begitu benturan terjadi antara dorongan tapak Li Kui yang penuh dengan tenaga sakti inti bumi, dengan sepasang tinju Xue Sun.


Tubuh Xue Sun langsung terpental ke udara bagaikan layangan putus.


Dari panca inderanya terlihat menyemburkan darah segar.


Kelihatannya Xue Sun akan segera tamat perlawanannya.


Li Kui menepuk tanah di sampingnya dengan kedua telapak tangannya, yang terisi tenaga sakti inti bumi.


"Booommm..!"


"Booommm..!"


"Wussss...!"


Tubuh Li Kui terbang mengejar keudara, dengan sepasang tangan yang berisi hawa sakti inti neraka.


Siap membakar habis Xue Sun, yang terlihat sudah lemas dan hampir tak berdaya memberikan perlawanan lagi


Tiba-tiba Xue Sun Tiba-tiba mengeluarkan seluruh persediaan terakhirnya.


Darah murni spesial yang di isi di 8 botol kecil di minum habis sekaligus olehnya.


Seketika terjadi ledakan kekuatan dahsyat, di seluruh Meridian tubuh Xue Sun.


Dia tiba tiba sembuh, pulih total, malah mendapatkan pasokan tenaga baru yaitu jauh lebih dahsyat lagi.


Sepasang cakar Li Kui menemui tempat kosong, karena hanya mengenai bayangan tubuh Xue Sun saja.


Sedangkan Xue Sun nya sudah berpindah kebelakang Li Kui.


Tangan yang satunya berhasil mencengkeram tengkuk Li Kui, sedangkan tangan yang lainnya mengunci rahang dan dagu Li Kui.


Dengan satu sentakan keras, Xue Sun ingin mencopot kepala Li Kui dari tempatnya.


Sayangnya dia lagi lagi terjebak oleh keanehan tubuh Li Kui.


Kepalanya tidak copot dari tempatnya, karena lehernya, secara elastis memanjang.


Kepalanya juga bisa berputar 360° kebelakang menghadap kearah Xue Sun.


Sebelum kaget Xue Sun hilang, dia merasakan dadanya nyeri luar biasa.


Saat Xue Sun menunduk untuk melihat apa yang telah terjadi, sepasang matanya terbelalak tak percaya.


Ternyata dadanya telah berlobang, di Tempus oleh kedua cakar Li Kui.


Dimana tangan nya juga bisa berpindah kebelakang seperti tidak punya sambungan engsel persendian.


Dari dadanya yang berlubang terlihat asap mengebul, dada nya yang berlubang telah berubah menjadi abu


Perlahan-lahan lubang itu semakin melebar, abu yang beterbangan semakin banyak.


Akhirnya seluruh tubuh Xue Sun terbakar habis tak bersisa, bagian kepalanya adalah bagian paling terakhir yang berubah menjadi abu.


Sampai hancur lenyap pun, tatapan mata Xue Sun masih terlihat tak percaya.


Dirinya bisa di kalahkan dan di musnahkan oleh Li Kui dengan cara tak terduga seperti ini.


Setelah Xue Sun musnah, di tempat lain di benteng kota Shang Qiu, orang orang yang terkontaminasi, tapi belum tewas di tangan Li Kui.


Mereka mulai tersadar, tapi mereka menatap ngeri dan terlihat linglung, melihat mayat mayat yang bertumpuk tumpuk di sekitar mereka.


Berulang kali mereka mengucek mata bahkan menampar pipi mereka sendiri dengan keras


Tapi pemandangan tetap tidak berubah, sadarlah mereka bahwa mereka tidak sedang bermimpi tapi semua itu nyata.


Mereka dengan sikap linglung berjalan kesana kemari tanpa arah tujuan.


Bagi mereka yang anggota keluarganya masih hidup datang menyambut mereka.


Bagi mereka yang keluarganya ditemukan tewas diantara tumpukan mayat, mereka terlihat menangis histeris sambil berlutut di tepi mayat keluarga mereka yang telah tiada itu.


Suasana suka cita menghiasi kota Shang Qiu, suara tangis riuh rendah menghiasi kota tersebut.


Li Kui sendiri terlihat melangkah dengan lesu masuk kedalam sungai.


Dia seperti ingin menenggelamkan diri kedalam sungai.


Dia terus melangkah hingga kepalanya seluruhnya tenggelam kedalam air.


Di permukaan air hanya terlihat gelembung gelembung udara kecil yang naik keatas.


Seterusnya keadaan pun berubah hening seolah olah tidak pernah terjadi apapun di tempat tersebut.


Baru saat matahari terbenam, perlahan terlihat sesosok tubuh seorang pria muncul dari dalam sungai.


Pria yang hampir setengah te Lan Jang itu, berjalan dengan sepasang mata merah kembali ke kota Shang Qiu.


Tanpa memperdulikan suasana berkabung yang sedang menyelimuti kota itu.


Di mana terlihat rakyat Shang Qiu sedang bahu membahu mengevakuasi mayat yang bertebaran di mana mana.


Li Kui terus berjalan memasuki kota tersebut lalu memilih naik keatas menara pengawas kota itu duduk termenung diam di sana tanpa berkata apapun.


Dia seperti orang Linglung yang tidak ingat apa-apa lagi, hanya duduk diam termenung disana kadang tertawa kadang menangis.


Ada beberapa orang penduduk yang berjalan sedang melakukan pemeriksaan.


Mereka langsung menghampirinya dan bertanya,


"Tuan anda kenapa ? kenapa seorang diri di sini ?"


"Di mana tempat tinggal mu ? bagaimana bila kami bantu antar pulang..?"


Melihat Li Kui tidak merespon, mereka semua saling pandang, salah satu diantara mereka yang bernyali besar.


Mencoba menyentuh pundak Li Kui dengan pelan, dan memanggilnya.


"Tuan..? tuan..?"


Karena tidak ada respon, dia mencoba mengguncangnya lebih keras.


"Tuannn,...!"


"Tuannn,...!"


"Tuannn,...!"


Panggil nya dengan suara lebih keras dan guncangan lebih kuat.


Tiba-tiba Li Kui menoleh sepasang matanya yang menyala merah, dengan senyum menyeringai.


Langsung membuat orang itu mundur ketakutan menjauhi Li Kui.


Bersama beberapa rekannya yang lain tanpa berkata apapun, mereka segera berlari meninggalkan menara pengawas.


Di tempat lain, Jendral Xing yang mendapat laporan dari anak buah mata matanya.


Akan kondisi kota Shang Qiu, juga adanya keberadaan orang aneh menyeramkan di menara pengawas kota Shang Qiu.


Dia dan rekannya, jendral Guan, langsung memimpin pasukan mereka bergegas ke kota Shang Qiu untuk menduduki posisi kosong di sana.


Setelah memasuki kota, Jendral Xing dan Jendral Guan langsung mengatur pasukan harimau hitam untuk membantu rakyat kota Shang Qiu mengurus pemakaman mayat mayat di kota tersebut.


Axie ikut membantu dan memediasi hubungan penghuni kota tersebut, dengan pasukan harimau hitam.


Dengan memberikan penjelasan dan informasi kepada penduduk kota itu, akan maksud dan tujuan kedatangan pasukan harimau hitam ke kota tersebut.


Akhirnya kehadiran pasukan itu bisa di terima dengan penuh rasa syukur oleh penduduk kota tersebut.


Dimana selama ini mereka selalu larut dalam ketakutan yang berkepanjangan.


Sejak runtuhnya kekuasaan kerajaan Song, di gantikan oleh kekuasaan kerajaan Qin.


Di mana kewenangan ada di tangan Xue Sun dan pasukan iblis penghisap darah itu.


Setelah situasi mulai tenang, oleh Jendral Guan, wewenang kota Shang Qiu di serahkan ke Axie untuk mengurusnya, sambil membentuk pasukan keamanan kota yang baru.


Jendral Guan dan Jendral Xing sendiri akhirnya mencoba naik kepuncak menara untuk melihat situasi.


Mereka sebenarnya juga sedang mencari cari keberadaan tuan mereka, yang menghilang.


Sejak pertarungan terakhir tuan mereka dengan Xue Sun penguasa kota Shang Qiu sebelumnya.

__ADS_1


Jendral Xing dan Jendral Guan tertegun saat melihat siapa pemuda yang rambutnya di biarkan riap riapan.


Wajahnya penuh dengan kumis jenggot dan brewok yang tak terurus.


Pemuda itu juga tidak berpakaian, hanya mengenakan celana pendek yang compang camping.


Seluruh otot otot di tubuh nya melingkar lingkar sempurna, satu satu nya yang membuat mereka heran dan seram adalah, pemuda itu sepasang matanya terlihat merah menyala.


Mereka berdua segera mengenali pemuda itulah atasan mereka yang sangat mereka hormati.


Kedua Jendral itu buru buru berlutut dan menyembah di depan Li Kui.


"Maafkan kami tuan, kami datang terlambat sehingga tuan jadi seperti ini.."


Mendengar ucapan suara kedua bawahan nya, Li Kui sepasang matanya perlahan-lahan kembali normal.


Dia perlahan-lahan menoleh kearah dua bawahan yang sedang menyembahnya dan berkata,


"Kalian berdua bangunlah, ini bukan kesalahan kalian.."


"Lakukan lah perintah terakhir ku, Pimpinlah pasukan kita untuk bergabung dengan kedua saudara ku Guo Yun dan Li Ba."


"Kabari mereka, bahwa Li Kui adik mereka telah gugur dalam tugas di Shang Qiu.."


"Selamanya tidak bisa membantu mereka lagi ."


"Satu lagi bawalah seluruh penghuni kota ini, segera kosongkan tempat ini, sebelum aku kambuh kembali.."


"Pergilah..!"


Bentak Li Kui tiba tiba, sepasang matanya sebelah normal, sebelah merah menyala mengerikan.


Kedua Jendral itu yang tahu situasi segera bergegas meninggalkan menara.


Tak lama kemudian terlihat seluruh penduduk kota itu di arahkan untuk pindah ke kota Chen dengan di pimpin oleh Axie.


Proses evakuasi menjadi cepat, karena dari puncak menara mulai terdengar suara gerengan kuat, yang menggetarkan seluruh tempat itu.


Mirip dengan suara kejadian sebelumnya, saat sedang terjadi pembantaian di kota tersebut.


Para penduduk yang ketakutan langsung bergerak cepat meninggalkan tempat itu.


Di bawah pimpinan Axie dan pasukan pengaman kota yang baru.


Setelah rombongan penduduk meninggalkan kota Shang Qiu.


Jendral Guan dan Jendral Xing memilih bertahan di bukit hutan Pinus, sambil mengirim informasi ke pusat, di ibukota Guiji kerajaan Wu Yue.


Mengabarkan ke Gongsun Li, lewat merpati pos, menjelaskan situasi yang terjadi di kota Shang Qiu.


Sambil menunggu informasi langkah selanjutnya yang akan mereka lakukan.


Terutama bagaimana menghadapi situasi atasan mereka kini yang terganggu pikirannya.


Di tempat lain di kerajaan Wu Yue, tepatnya di istana kerajaan Yue.


Pagi itu, Gongsun Li yang sedang berlatih ilmu pedang di taman istana.


Saat melihat seekor burung merpati mendarat tidak jauh darinya.


Dia pun menghentikan latihan pedang nya.


Dengan langkah cepat, dia menghampiri merpati jinak itu, menangkapnya dengan lembut.


Lalu melepaskan tabung yang terikat di kakinya, setelah itu dia baru melepaskan kembali merpati tersebut.


Gongsun Li dengan hati hati mengeluarkan isi tabung yang berisi gulungan kertas informasi.


Setelah membacanya beberapa saat wajahnya langsung berubah.


Tak lama kemudian dengan langkah buru buru Gongsun Li segera mendatangi Si Si di ruangan santainya.


Si Si terlihat sedang menyetel senar alat musik kecapinya yang tergeletak di atas meja.


"Adik kamu harus lihat ini..!"


ucap Gongsun Li begitu masuk kedalam kamar dengan wajah cemas.


"Apa yang terjadi kak ? kenapa pagi pagi kakak sudah terlihat begitu panik..?"


ucap Si Si lembut tenang sambil menerima gulungan surat informasi yang di kirim oleh Jendral Xing dan Jendral Guan.


Begitu selesai membaca isi surat tersebut, ekspresi wajah Si Si juga terlihat berubah.


Dua buru buru berdiri dan berkata,


"Masalah ini secepatnya harus di bicarakan dengan Cu Cu dan kedua kakeknya.."


"Masalah paman ketiga ini, mungkin hanya mereka yang tahu cara menanganinya.."


ucap Si Si serius.


Gongsun Li mengangguk setuju, lalu kedua istri Guo Yun dengan kompak bergegas pergi kekediaman Li Kui.


Di mana Li Kui menempati bangunan bekas tempat tinggal Jendral Wen Zhong dan Mu Gui Ying istrinya, saat mereka masih mengabdi pada raja Guo Jian ayah kandung Guo Yun.


Saat tiba di gedung tersebut, mereka langsung di antar oleh seorang pelayan menuju ruang tengah di mana Cu Cu bersama kedua kakeknya yang aneh itu sedang sarapan pagi.


Melihat kedatangan Gongsun Li dan Si Si, sambil tersenyum gembira.


Cu Cu langsung bangkit berdiri dan berkata,


"Ada angin apa yang membuat kedua kakak cantik ku, datang berkunjung kemari..?"


"Ayo kak kita sarapan bersama.."


ajak Cu Cu sambil tersenyum ramah.


"Terimakasih adik Cu Cu, tapi sarapan nya nanti saja, kami datang bawa informasi ini.."


"Bacalah.."


ucap Si Si sambil menyerahkan kertas informasi yang di bawa merpati cepat untuk mereka.


Cu Cu menerimanya dengan heran, lalu membacanya.


Baru baca setengah airmatamu sudah runtuh tak berhenti, lalu saat selesai membaca dia menoleh kearah kedua Kakek nya dengan marah dan berkata,


"Suami ku adalah orang paling baik dan berhati paling welas sedunia..!"


"Kini dua menjadi iblis, semua gara gara kakek, kakek berdua harus tanggung jawab..!"


"Kembalikan Kui ke ke ku..!"


ucap Cu Cu marah sambil meletakkan surat itu diatas meja dengan menggebrak nya.


Hingga masakan di meja pada berhamburan tumpah semua.


Sepasang mata Cu Cu terlihat merah dengan air mata tiada berhenti mengalir.


Kedua kakek Cu Cu menatap heran kearah cucu mereka itu.


Tiada angin tiada hujan, tadi masih baik baik saja kini tiba tiba marah marah ke mereka berdua.


"Cu Cu ada masalah apa ceritakan baik baik, tak perlu seperti ini.."


tegur Cui Ming Koai Jen dengan suara lembut.


Ini sangat bertolak belakang dengan sifatnya saat berhadapan dengan orang lain.


"Kakek berdua punya mata, kenapa tidak baca sendiri .!"


bentak Cu Cu sambil membanting kakinya.


Lalu dia langsung melesat pergi dari sana.


Cu Cu kamu mau kemana ?! jelaskan dulu..!?"


tanya Cui Ming Koai Jen sedikit berteriak.


"Aku mau cari suami ku, kalian yang telah mencelakai nya..!"


teriak Cu Cu fari luar sana, karena dia sudah bergerak cepat meninggalkan tempat tersebut.


Cui Ming Koai Jen kini menoleh kearah Gongsun Li dan Si Si dengan tatapan mata dingin dan berkata dengan suara yang seperti keluar dari lubang kubur.


"Apa yang terjadi ? apa yang kalian lakukan pada cucu ku..?"


suaranya terdengar begitu dingin, dan penuh nafsu membunuh.


Tanpa sadar Si Si melangkah mundur berlindung di belakang Gongsun Li.


Gongsun Li terlihat tenang, dia berkata pelan tak kalah dingin,


"Bacalah senior, anda akan mengerti.."


"Cari mampus kamu bocah betina..!"


Bentak Cui Ming Koai dengan nada semakin dingin.

__ADS_1


__ADS_2