LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
PEMBICARAAN TIGA BERSAUDARA


__ADS_3

"Aku ingin lihat apa silat mu, sehebat silat lidah mu..?"


ucap Cia Bun menahan kesal.


"Lihat pedang..!"


bentak Cia Bun sambil melepaskan 7 bayangan energi pedang menerjang Ke arah Guo Yun.


Guo Yun langsung mengeluarkan pedan darah di tangan.


Lalu memutarnya untuk menangkis dan menghalau energi pedang yang bergerak menyerang nya.


"Trangggg..! "Trangggg..!


"Trangggg..! "Trangggg..!


"Trangggg..! "Trangggg..!


"Trangggg...!"


Pedang Guo Yun yang berbenturan dengan tujuh bayangan mata pedang itu.


Mengeluarkan suara keras seperti logam keras saling berbenturan.


Bunga api juga terlihat berpijar saat berbenturan.


Ini menunjukkan bahwa energi pedang itu sudah berubah menjadi benda padat.


Sama seperti pedang mampu menembus apapun yang di lewatinya.


Energi Edang itu seperti punya nyawa, setiap di tangkis dia kembali mengejar dan mendesak Guo Yun.


Guo Yun yang baru pertama kali bertemu lawan yang bermain dengan Cien Chi ( Energi Pedang ).


Dia terlihat terdesak hanya bisa menangkis dan menghindar mengandalkan putaran pedang darahnya.


Memainkan jurus pedang 8 mata angin, dengan jurus itu Guo Yun meski tidak mampu membalas, karena lawan berdiri cukup jauh darinya.


Tapi setidaknya dia bisa mempertahankan diri, tanpa khawatir serangan lawan berhasil menembus pertahanan nya.


Melihat 7 energi pedangnya belum mampu menembus pertahanan Guo Yun.


Cia Bun meningkatkan lagi energi pedangnya, sehingga dari tujuh bayangan pedang.


Kini berubah menjadi puluhan bayangan pedang mengurung Guo Yun.


Guo Yun meski terlihat kerepotan, tapi lagi lagi dia berhasil menahannya.


Dengan 72 langkah ajaib, Guo Yun selalu berhasil meloloskan diri dari kepungan energi pedang yang datang menyerangnya.


Cia Bun dengan penuh penasaran terus meningkatkan energi pedangnya.


Semakin lama semakin penasaran, hingga dia ikut bergerak mendekat memberikan serangan langsung dengan ujung jari telunjuk dan tengahnya yang menembakkan sinar biru kearah Guo Yun.


"Cusss..!" Cusss..!" Cusss..!"


Guo Yun terus bertahan dan tidak membalas, tujuannya adalah ini.


Begitu Cia Bun mendekat, dalam satu kesempatan satu berkas cahaya merah bergerak horisontal melebar melesat cepat kearah Cia Bun.


"Singggg...!"


Cia Bun yang terkejut tidak menyangka Guo Yun pun mampu melepaskan energi pedang.

__ADS_1


Dia buru-buru menangkis dengan kedua tangannya yang membentuk perisai energi.


Menahan tebaskan sapu jagad yang dilepaskan oleh Guo Yun.


"Brakkkk...!"


Cia Bun tidak sanggup menahan kedahsyatan serangan pamungkas yang di lepaskan oleh Guo Yun secara mendadak.


Perisai yang di bentuk oleh Cia Bun hancur berantakan, sinar itu melintas melewati bagian leher Cia Bun.


"Cesss...!"


Tanpa ampun kepala Cia Bun jatuh menggelinding diatas tanah.


Kejadian itu terjadi begitu cepat di depan mata kedua saudara seperguruannya.


Mereka berdua juga tidak menyangka akan ada hal yang seperti itu.


Sehingga sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, kepala kakak seperguruan mereka telah jatuh menggelinding diatas tanah.


Saat mereka berdua sadar, sambil berteriak marah mereka berdua langsung melepaskan energi pedang menyerang Guo Yun.


Energi pedang yang mencapai ratusan itu datang bagaikan gelombang tsunami ingin menyapu habis Guo Yun.


Tapi serangan gelombang energi pedang mereka menemui tempat kosong.


Guo Yun sudah menghilang dari sana, muncul diatas kepala mereka.


Lagi lagi Guo Yun melepaskan Tebasan Pedang Sapu jagadnya.


"Singggg...!"


"Singggg...!"


Cahaya merah kembali melintas melewati tubuh kedua orang itu secata vertikal dari atas kebawah.


Dengan 3 kali serangan dadakan yang cepat dan tepat, Guo Yun telah menghabisi ketiga lawan dari Cing Ling San itu.


Ketiga orang ini sudah mengetahui rahasia dan keberadaan dirinya.


Guo Yun tidak mungkin bisa melepaskan mereka.


Bila salah satu dari mereka bertiga ada yang lolos, Guo Yun pasti akan menghadapi masalah yang jauh lebih besar lagi.


Jadi mau atau tidak mau Guo Yun harus bersikap kejam.


Guo Yun tahu musuhnya ini tidak mudah di kalahkan, bila dia langsung memainkan ilmu puncaknya.


Mereka pasti akan berwaspada dan melawannya mati matian, bila itu terjadi.


Guo Yun tidak yakin, dia mampu mengalahkan kerjasama mereka bertiga dengan mudah.


Kalau pun berhasil mengalahkan mereka, belum tentu dia bisa menghabisi mereka bertiga sekaligus.


Bila tidak berhasil, resiko yang harus di tanggung nya terlalu besar.


Oleh karena itu, Guo Yun harus menciptakan situasi ini, untuk menjebak mereka.


Setelah menghabisi ketiga orang itu Guo Yun mengumpulkan jasad mereka menjadi satu, lalu membakarnya dengan melepaskan tapak matahari.


Melihat api sudah berkobar kobar, setelah memberi hormat, Guo Yun pun kembali ke kota Shoucun.


Untuk mengatur segala sesuatunya, sebelum melanjutkan langkahnya berikutnya.

__ADS_1


Menahlukkan kota Cai, yang masih merupakan eks wilayah Wu Yue.


Guo Yun kembali ke kota Shoucun seolah olah tidak pernah terjadi apapun di bukit sana.


Di pintu gerbang kota Guo Yun di sambut oleh Jendral Yong.


"Dalam hormat yang mulia.."


ucap Jendral Yong penuh hormat.


"Tak perlu peradatan.."


"Jendral Yong kamu pilihlah beberapa orang mengikuti mu."


"Kalian segera berangkat ke kota Cai, untuk mencari informasi tentang kekuatan pertahanan di sana ."


"Aku mengandalkan informasi dari kalian, baru bisa bergerak.."


ucap Guo Yun serius.


"Siap laksanakan Yang Mulia, aku sekarang juga akan mengaturnya dan kami akan segera berangkat kesana.."


Jawab Jendral Yong cepat.


"Gunakan burung merpati, jadi kalian tidak perlu repot bolak balik memberikan informasi..'


ucap Guo Yun memberi saran.


"Siap Yang Mulia,.."


ucap Jendral Yong cepat.


Melihat Guo Yun sudah tidak ada pesan lagi, Jendral Yong pun segera pamit permisi dari hadapan Guo Yun, pergi jalankan tugasnya.


Sore itu menjelang matahari tenggelam, terlihat tiga bersaudara itu.


Duduk santai di atas tembok benteng kota sambil mengobrol santai.


Mereka bertiga duduk menghadap kearah barat, sehingga wajah mereka bertiga bermandikan cahaya matahari sore.


Setelah mengobrol santai cukup banyak, mereka bertiga terlihat duduk diam tidak saling bicara, hanya menikmati hembusan angin dan hangatnya sinar matahari sore yang menyilaukan mata.


Tiba-tiba Li Kui yang buka suara,


"Kakak selanjutnya apa rencana kita..?"


Guo Yun tanpa menoleh berkata, "kota Cai.."


"Setelah ini kita akan merebut kota Cai kota Chen dan Dan Yang.."


"Semua kota yang pernah menjadi milik Chu, harus segera kita ambil menjadi wilayah kita."


"Itu adalah pokok dasar kita untuk berhadap hadapan dewan Qin kelak.."


"Hanya dengan wilayah yang luas, kita baru punya kekuatan keuangan dan kekuatan militer untuk bersaing dengan nya."


ucap Guo Yun mengemukakan alasannya.


Li Kui mengangguk paham.


Li Ba tiba tiba menoleh kearah Guo Yun dan berkata,


"Kakak, apa kakak, ingin menjadi penguasa dunia, setelah menahlukkan Qin nanti..?"

__ADS_1


Guo Yun termenung cukup lama, kemudian dia menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Untuk saat ini aku belum tahu ."


__ADS_2