LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
ZHANG YI DUDA TUA BERISTRI MUDA


__ADS_3

Zhong San menatap kearah Sian Sian dengan serius dan berkata,


"Aku Zhong San bersumpah, seumur hidup ku, aku bekerja dengan setia dan selalu menjaga garis batas ku.."


"Mana yang menjadi hak ku mana yang tidak dengan sangat jelas.."


"Aku tidak mungkin terlibat dalam kasus suap menyuap di perbatasan.."


"Biar langit dan bumi menjadi saksinya, bila aku melakukannya.."


"Biar langit dan bumi menghukum ku mati dengan mengenaskan.."


ucap Zhong San penuh semangat, dia menatap kearah Sian Sian dan Li Ba dengan berani.


Li Ba terlihat santai, wajahnya tetap dingin, sulit ditebak apa yang ada di dalam otak nya.


Sedangkan Sian Sian dengan agak ragu mulai mengeluarkan bukti untuk diletakkan di hadapan Zhong San.


"Perdana menteri Zhong, apakah stempel ini palsu ? bagaimana dengan tanda tangan mu di sini ? apa juga ada yang memalsukan nya..?"


"Bagaimana dengan kehidupan mewah dan semua rincian pengeluaran bulanan di tempat ini..?"


"Dari mana sumbernya..?"


"Coba kamu jelaskan..?"


tanya Sian Sian sambil terus menerus mengeluarkan satu persatu berkas di letakkan di hadapan Zhong San.


Zhomg San buru buru, mengambil tumpukan berkas itu, untuk menelitinya.


Beberapa saat kemudian Zhong San dengan wajah pucat menahan geram, dia berkata,


"Masalah ini aku harus memeriksanya hingga terang.."


"Mengenai keaslian stempel itu, aku katakan asli, sedangkan tanda tangan di sana jujur saja, itu sekilas sangat mirip tapi jelas tidak sama.."


"Sedangkan masalah pengeluaran di sini, aku kurang paham, yang mengatur pengeluaran pemasukan adalah Zhong Ting adik ku.."


"Aku hanya tahu mengirimkan 3/4 dari gaji ku kemari.."


"Sisa atau tekor aku tidak tahu menahu.."


ucap Zhong San apa adanya.


Sian Sian tidak berkata apa-apa,.dia hanya terus menatap kearah Zhong San dengan tatapan mata tajam.


Zhong San saling tatap bergantian sejenak ke Li Ba dan Sian Sian, lalu berkata,


"Karena stempel ini adalah asli, aku tahu, bagaimana pun aku tidak bisa terlepas dari masalah ini.."


"Pelayan ..!"


teriak Zhong San memanggil pelayan di kediaman ibunya itu.


"Ya Tuan besar,.. apa tuan besar ada pesan..?"


tanya seorang pelayan muda, yang kebetulan mendengar suara panggilan Zhong San.


Dia segera mendekat dan bertanya dengan sikap penuh hormat.


"Kamu pergi kerumah ku, panggil Paman Liu kemari.."


ucap Zhong San singkat.


"Baik tuan besar, segera di laksanakan.."


ucap pelayan itu hendak pergi dari sana.


"Hei kamu..tunggu..!"


teriak Li Ba


Pelayan itu dengan kaget langsung menghentikan langkahnya.


Dia buru buru membalikkan badannya dan berkata,


"Ya tuan..ada pesan lain..?"


"Di depan ada kereta, kamu gunakan saja biar cepat.."


ucap Li Ba santai.


Pelayan itu terbelalak kaget dan berkata,


"Tapi tuan kereta di depan adalah kereta untuk keluarga kerajaan.."


"Bagaimana kami bisa.."


Zhong San menoleh kearah Li Ba dan berkata,


"Dia benar Yang Mulia, itu tidak pantas."


Li Ba sambil tersenyum berkata,


"Aku bilang pantas dan boleh ya boleh.."


"Sekarang kakak tidak ada ucapan ku adalah titah,.."


"Jangan banyak cerewet jalankan saja.."


ucap Li Ba santai.


Zhong San menghela nafas, menatap kearah pelayan nya dan berkata,


"Masih tidak cepat berterimakasih kepada Yang Mulia, cepat jalankan tugas mu.."


"Terimakasih Yang Mulia.."


ucap pelayan itu girang.


Setelah memberi hormat kearah Li Ba, dia pun buru buru mengundurkan diri dari sana.


Pelayan itu girang bukan main, ini adalah pertama kalinya dia naik kereta.


Sekali naik langsung kereta kencana keluarga istana.


Bahkan dalam mimpi pun dia tidak pernah merasakan hal ini.


Sementara itu setelah pelayan itu pergi, Sian Sian pun berkata,


"Maaf perdana menteri Zhong, suami ku memang seperti itu.."


"Kami dulu juga cuma orang biasa, kini pun masih tetap sama, hanya saja kini kami dapat fasilitas dari negara.."


"Karena kami menjalankan tugas, yang di percaya kan oleh saudara saudara yang mengikuti kami, juga oleh seluruh rakyat kerajaan ini.."


"Mereka menaruh harapan agar kami bisa menjaga keamanan dan menjamin kehidupan mereka bisa lebih baik dan sejahtera."


"Untuk itu kami hanya bisa lakukan yang terbaik untuk menjaga kepercayaan mereka.."


"Semua fasilitas hanyalah titipan semata, bukanlah menjadi hak kami.."


"Itulah prinsip dan pandangan kami.."


ucap Sian Sian memberi penjelasan.


Zhong San diam diam memandang kagum kepada dua orang yang ada di hadapannya ini.


Pantas saja Raja Guo Yun sangat mempercayai mereka berdua, pikir Zhong San dalam hati.


Rasa respek dan hormat Zhong San terhadap kedua orang yang berasal dari bidang Wu ini semakin besar.


Bidang Wu adalah bidang silat, bidang kasar yang berhubungan dengan otot.


Biasanya oleh para cendekiawan bidang ini di pandang sebelah mata oleh mereka yang menekuni bidang Wen.


Bidang Wen adalah bidang sastra, bidang halus yang lebih banyak menggunakan otak.


Para sastrawan yang menguasai bidang Wen seperti Zhong San, mereka pada umumnya, menganggap orang orang yang menekuni bidang Wu, adalah orang yang hanya menggunakan otot mirip hewan yang tidak menggunakan otak untuk berpikir dalam bertindak.


Sebaliknya orang bidang Wu, mereka justru berpandangan orang bidang Wen adalah orang lemah, yang tidak bisa di percaya, licik penuh akal bulus.


Tidak gentle dalam bersikap, demi mencapai tujuan selalu menggunakan tipu muslihat dan lidah yang tidak bertulang.


Zhomg San selama ini respek terhadap Guo Yun karena dia anggap Guo Yun adalah orang luar biasa yang menguasai dua bidang.


Seorang Wen Wu Suang Cai.. dengan kata lain dia adalah seorang berbakat, yang menguasai dua bidang dengan sempurna.


Kini pandangan Zhong San terhadap Sian Sian dan Li Ba pun mulai berubah.


Dia benar benar menaruh respek dan hormat sepenuh hati terhadap kedua orang di hadapannya ini.


Tidak butuh waktu lama, pelayan yang dia minta pergi memanggil Liu Cong Kuan.


Orang kepercayaan nya, yang mengurus seluruh keperluan rumah tangganya.


Akhirnya tiba di hadapan mereka, setelah mengantarkan Liu Cong Kuan tiba di sana.


Pelayan itu pun langsung pamit mengundurkan diri kembali ketempatnya.


Liu Cong Kuan berdiri di hadapan Zhong San, siap menunggu perintah dari tuannya.


"Liu Cong Kuan, coba kamu jelaskan dengan jujur."


"Sepengetahuan ku hanya kamu yang bisa bebas keluar masuk ruang kerja ku.."

__ADS_1


"Sehingga hanya kamu yang bisa berinteraksi langsung secara bebas dengan stempel ku.."


"Apa kamu pernah diam diam menggunakan stempel ku tanpa ijin dari ku..?"


tanya Zhong San sambil menatap tajam kearah bawahan setia nya itu.


Mendengar pertanyaan tuan nya, dengan wajah pucat, Liu Cong Kuan langsung menjatuhkan diri berlutut dan berkata,


"Tuan ini adalah fitnah, mohon tuan bisa selidiki dengan terang dan jelas.."


"Hamba meski makan nyali macan, hamba juga tidak mungkin berani lakukan hal itu.."


"Harap tuan bisa memeriksa nya dengan teliti..kasus fitnah ini.."


ucap Liu Cong Kuan sambil berlutut dan menyembah di depan Zhong San.


Sejenak Zhong San menjadi terdiam dan meragu di tempatnya.


Dia terus menatap kearah bawahan setia nya dengan tatapan mata serba salah.


Sesaat kemudian Zhong San baru berkata,


"Baiklah Liu Cong Kuan,aku percaya padamu, kamu bangunlah.."


"Sekarang kamu katakan dengan jujur, selain kamu siapa lagi, yang bebas keluar masuk ruang kerja ku..?"


Liu Cong Kuan bangkit dari posisi menyembahnya, tapi masih tetap berlutut di hadapan Zhong San.


Dia mengangkat wajahnya menatap kearah Zhong San dan berkata,


"Tuan bila pelayan rumah, mereka masuk keruang kerja tuan, untuk beres beres, aku selalu mengawasi mereka bekerja.."


"Jadi tidak mungkin mereka.."


"Selain tuan besar, hanya nyonya tua, nyonya muda Ting Ting, dan suaminya, yang akhir akhir ini sering datang mengantar sup ginseng buat tuan.."


ucap Liu Cong Kuan jujur apa adanya.


Mendengar ucapan pembantu setia kepercayaannya.


Zhong San mendadak merasa pandangan matanya, dunia seolah olah berputar.


Zhong San terlihat mundur dengan tubuh terhuyung-huyung kebelakang.


Bila tidak di sanggah punggungnya oleh Li Ba.


Sudah bisa di pastikan Zhong San akan jatuh tergeletak di atas tanah.


"Perdana menteri Zhong tenangkan diri mu.."


ucap Li Ba pelan, dua merasa kasihan dengan Zhong San yang berada dalam situasi.


Zhung Siaw Kian Nan, artinya Berbakti dan kesetiaan sulit di jalankan secara bersamaan.


Satu sisi dia adalah seorang abdi negara yang jujur dan setia, menemukan kenyataan seperti ini.


Tentu adalah hal yang sangat memalukan, tidak punya muka untuk bertanggung jawab atas kepercayaan atasan pada nya.


Harapan rakyat terhadap dirinya.


Di sisi lain dia adalah seorang anak yang berbakti, bagaimana mungkin dia bisa bertindak terhadap ibu yang telah mengandung dan melahirkan nya.


Juga tidak mungkin bertindak pada adik kandungnya sendiri, yang tentu akan menyakiti perasaan ibunya.


"Tuan jaga kesehatan mu yang penting.."


ucap Liu Cong Kuan penuh perhatian, sambil maju membantu memapah Zhong San yang terlihat lemah dan pucat wajahnya.


Zhomg San setelah keadaan nya agak tenang, pikirannya mulai tenang.


Dia langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Li Ba dan Sian Sian.


"Yang Mulia Zhong San terima salah, apapun alasannya ini adalah kesalahan Zhong San seorang.."


"Zhong San siap menerima hukuman apapun juga.."


"Zhong San pantas mati.."


ucap Zhong San yang terlihat malu menyesal kecewa juga sedih.


Li Ba dan Sian Sian maju membantu Zhong San untuk berdiri dan berkata,


"Kamu memang bersalah, kesalahan mu adalah teledor tidak mengawasi wewenang kekuasaan dengan baik.."


"Sehingga memunculkan kesempatan orang untuk memanfaatkannya.."


"Tapi dosa itu, hukuman nya, tentu tidak sampai harus mati.."


"Asal kamu tahu salah tahu memperbaiki nya, bekerja dengan lebih baik lagi kedepannya.."


"Anggaplah ini proses pembelajaran dan peringatan untuk mu, jangan sampai ada kejadian yang berulang ."


ucap Sian Sian sambil menepuk pundak Zhong San.


"Ahhh Budi ini,..sampai mati Zhong San juga tidak bisa melupakan nya.."


"Terimakasih Yang Mulia..atas kebesaran hati kalian mengampuni Zhong San."


ucap Zhong San sambil kembali menjatuhkan diri berlutut di hadapan Sian Sian dan Li Ba.


Dia kini benar benar tahluk sepenuhnya terhadap kedua orang di hadapannya ini.


Li Ba membantu Zhong San bangkit berdiri dan berkata,


"Tak perlu seperti ini, kita berada di satu perahu dengan tujuan yang sama.."


"Tidak ada manusia yang sempurna, tahu salah perbaiki kesalahan itu yang penting."


"Kami permisi dulu, sisanya kami percayakan pada mu mengurusnya sendiri.."


"Permisi.."


ucap Li Ba sambil menepuk pundak Zhong San.


Setelah itu Li Ba langsung menggandeng tangan Sian Sian meninggalkan kediaman megah tersebut.


Zhong San dan Liu Cong Kuan menghantar kepergian Li Ba dan Sian Sian dengan penghormatan membungkukkan tubuh mereka sedalam dalamnya kebawah.


Hingga kedua orang itu tidak terlihat lagi bayangan punggung nya.


Mereka baru kembali menegakkan badannya.


Zhong San di temani oleh Liu Cong Kuan yang membantu membawa berkas berkas bukti bukti dosa dosa nya, dalam kasus suap di perbatasan.


Zhong San langsung dengan langkah lebar, menuju ke paviliun bersantai tempat ibu, adiknya, dan adik iparnya biasanya berada.


Sesuai dugaan Zhong San mereka memang sedang ada di sana, menikmati segala kemewahan hidup yang di peroleh dengan cara yang sangat tidak terpuji.


"Ehh putra ku, kamu sudah kembali.."


"Bagaimana pembahasan pekerjaan kalian, apa berjalan lancar..?"


"Kalau lain kali ada waktu, ajak dan rekomendasikan adik ipar mu ke mereka, agar pangkatnya bisa di naikkan.."


"Di mana Yang Mulia Li Ba dan Putri Sian Sian, kenapa mereka tidak kamu ajak kemari..?"


ucap Ibu Zhong San masih tidak menyadari gejolak yang ada di dalam dada Zhong San hampir meledak.


Terutama saat ibunya meminta dia merekomendasikan adik iparnya yang korup dan memalukan itu.


Dia hampir saja tidak mampu menguasai emosinya.


Zhong San sambil berusaha menahan sabar berkata,


"Ibu maaf bukan Zhong San ingin bersikap kurang ajar dan tidak berbakti.."


"Tapi masalah ini perlu di bicarakan dengan jelas.."


"Ada masalah apa putra ku, katakanlah baik baik tidak perlu tegang begini.."


ucap Ibu Zhong San santai, seolah-olah tidak merasa bersalah sedikitpun.


Zhong San memberi tanda agar Liu Cong Kuan meletakkan semua barang bukti di atas meja.


"Ibu lihat sendiri, kalian berdua juga boleh ikut lihat, apa ini hasil karya kalian..?"


"Sehingga bisa terus hidup bersenang senang ber mewah mewah seperti ini.."


ucap Zhong San dingin.


Begitu melihat berkas barang bukti yang di tunjukkan oleh Zhong San.


Adik Zhong San dan suaminya saling pandang, mereka tersenyum mengejek.


Tidak sedikitpun terlihat ada rasa bersalah yang muncul di wajah kedua orang itu.


Sementara Ibu Zhong San hanya melihat sekilas pura pura tidak mengerti dan berkata,


"Ada apa ini putra ku ? hingga kamu harus membawa bawa berkas ini kemari..? apa yang telah terjadi..?"


Zhong San akhirnya tidak bisa menahan sabar lagi, dia langsung mencabut pedang hiasan yang tergantung di tiang tiang penyangga paviliun itu.


"Sringggg...!"


Zhong San tiba tiba mencabut pedang hiasan itu dan berkata,

__ADS_1


"Ibu,.. apa ibu tahu dosa dan hukuman dari perbuatan memalsukan tanda tangan dan mencuri menggunakan stempel kekuasaan ku, untuk meloloskan tawaran kerjasama yang merugikan kerajaan kita ini..?"


"Sudahlah putra ku, dengan kekuasaan mu saat ini, apa yang perlu di khawatirkan.."


"Bukannya hanya menerima beberapa gulung kain, permata, barang antik dan beberapa perhiasan.."


"Sisanya juga cuma buah dan makanan, apa yang perlu di ributkan sih..?"


"Apalagi sampai bawa bawa pedang segala, apa kamu mau bunuh kami semua baru puas..?'


tanya Ibu Zhong San sambil menatap kearah Zhong San dengan sangat tidak puas.


"Ibu dan kalian berdua dengar baik baik, jangan bilang kelak aku tidak mengingatkan kalian.."


"Memalsukan tanda tangan ku, mencuri stempel kekuasaan ku, untuk keuntungan pribadi, hukuman nya adalah mati.."


"Lebih parahnya lagi meloloskan kontrak perjanjian, merugikan negara demi kepentingan pribadi.."


"Itu hukumnya sama dengan hukuman penjahat menjual negara demi kantong pribadi."


"Aku beritahukan ke kalian semua hukuman nya akan di penggal kepala di depan publik.."


"Nama baik keluarga akan tercoreng sebagai penghianat bangsa.."


"Selamanya anak keturunan tidak akan punya wajah untuk mengangkat kepala bertemu dengan orang.."


"Apa kalian paham..?!"


bentak Zhong San sedikit emosi.


Tentu saja bentakan nya lebih di tujukan ke adiknya dan adik iparnya.


Tapi adik nya Zhong San bukannya berpikir dan bertobat, tanpa terlihat merasa berdosa ataupun merasa bersalah.


Tanpa rasa takut sedikitpun, dia berkata dengan berani, untuk berbantahan dengan kakaknya.


"Kakak ini, bukankah kakak ini adalah perdana menteri, posisinya hanya di bawah satu orang, diatas puluh ribu orang.."


"Apa yang harus di takutkan ?"


"Siapa yang berani menyentuh kita..?"


"Lihat saja ini, ini sudah terbukti bukankah kita juga baik baik saja ?"


"Buat apa punya jabatan tinggi, bila harus hidup melarat, punya kekuasaan tidak di manfaatkan.."


"Mau tunggu sampai kapan lagi,? bila tidak di nikmati sekarang,? sebelum nantinya di pecat atau di pensiunkan.."


"Jadi orang jangan terlalu naif dan kepala batu kak, ikuti arus saja.."


"Lihat saja di kerajaan ini, siapa yang berani bilang dirinya bersih, tidak ikut makan suap.."


"Dari atas hingga bawah, baik Wen baik Wu semuanya juga terima suap.."


"Apa mau di penggal semua ? bila di penggal semua, siapa yang akan bantu jalankan pemerintahan ini..?"


"Ayolah kak berpikir terbuka, jangan kolot dan naif.."


ucap Zhong Ting dengan berani membantah ucapan Zhong San.


"Lebih parahnya Ibu nya Zhong San mengangguk anggukan kepala nya, seolah olah membenarkan ucapan putrinya yang sangat tidak bermoral itu.


"Kau,..! kalian..!"


"Haisss,..! aku malas berdebat dengan kalian..!"


"Kalian sebaiknya jaga sikap dan berpikir sebelum berbuat, agar tidak menyesal nantinya.."


ucap Zhong San.


Sambil membanting pedang hiasan di tangan nya hingga terbelah dua.


"Trangggg..!"


"Bila kalian tidak berubah, kedepannya hubungan kita, hanya bisa seperti pedang ini..!"


ucap Zhong San kesal, sambil memilih berjalan pergi meninggalkan tempat itu dengan jantung kirinya yang terasa sakit luar biasa.


Liu Cong Kuan yang melihat wajah tuannya, yang terlihat sangat pucat, dengan keringat dingin bercucuran membasahi keningnya.


Dengan khawatir khawatir dia langsung membantu memapah Zhong San meninggalkan tempat itu, sambil berkata,


"Tenangkan diri mu tuan, jaga emosi mu jaga kesehatan mu yang terpenting.."


Zhong San mengangguk kecil sambil meringis menahan nyeri, menanggapi ucapan pembantu setianya itu.


Sesaat kemudian Zhong San juga terlihat meninggalkan kediaman tersebut dengan kereta kuda dinasnya.


Liu Cong Kuan saat datang bersama pelayan yang memanggilnya tadi.


Dia sengaja menggunakan kereta dinas tuan nya kemari, berjaga jaga bila di perlukan.


Ternyata benar jadi di perlukan oleh tuannya, untuk kembali kekediaman mereka yang sederhana.


Di tempat lain Li Ba dan Sian Sian yang sudah kembali kekediaman mereka.


Mereka berdua langsung larut bekerja hingga larut malam, mempersiapkan berkas berkas yang mereka perlukan untuk mengunjungi tempat tinggal Zhang Yi esok harinya.


Di kerajaan Yue selain Guo Yun dan mereka berdua, sedangkan Li Kui suami istri sudah memilih mengundurkan diri.


Bila di jabatan Wen, itu di pegang oleh Zhong San yang memegang kekuasaan tertinggi.


Bila di jabatan Wu itu di pegang oleh Zhang Yi yang tertinggi.


Setelah itu baru secara berurut di pegang oleh Ling Tong dan Zhou Tai dengan kekuasaan yang sama, tapi masih di bawah Zhang Yi.


Zhang Yi sebenarnya juga sudah tidak muda lagi, tapi berkat rajin berlatih dan menjaga pola makan dengan bervegetarian, tidak makan makanan bernyawa.


Dia tetap terlihat sehat segar dan awet muda.


Pagi itu Zhang Yi terlihat sedang berlatih seorang diri di Lien Wu Ting miliknya.


"Hyahhh..!"


"Hyaahh..!"


"Hyahhh..!"


"Hyaahh..!"


"Cetarrr..!" "Cetarrr..!" "Cetarrr..!"


"Cetarrr..!" "Cetarrr..!" "Cetarrr..!"


Zhang Yi terlihat sedang berlatih memainkan senjata cambuknya dengan bertelanjang dada.


Tubuhnya terlihat masih kekar dan berotot, meski rambutnya sebagian besar sudah banyak putihnya.


Jenggot pendeknya yang tercukur rapi pun, terlihat sebagian besar mulai memutih.


Zhang Yi terus berlatih seorang diri dengan penuh semangat, hingga peluh membasahi celana panjang longgar yang dia kenakan.


"Suami ku,.. beristirahatlah dulu..kamu juga sudah berlatih cukup lama.."


"Jangan sampai kelelahan dan dehidrasi, ini minumlah dulu sedikit.."


ucap sebuah suara lembut yang berasal dari seorang gadis muda yang termasuk cukup cantik.


Gadis muda yang baru berumur 24 tahun itu adalah istrinya Zhang Yi.


Istri kedua Zhang Yi ini dahulu adalah pelayan setia istri pertama nya Zhang Yi.


Dia sudah lama ikut dengan keluarga Zhang Yi, dia sangat mengenali tabiat Zhang Yi dan kebiasaan kebiasaan Zhang Yi.


Dia sebenarnya sudah lama kagum dan menyukai pria yang meski tua.


Tapi sangat penyabar penuh kasih sayang dan bertanggung jawab terhadap keluarga.


Semasa nyonya nya masih hidup tentu saja dia tidak beran berpikir


macam macam.


Tapi setelah nyonya tua nya meninggal melihat Zhang Yi yang kesepian dan selalu bersedih sendirian.


Dia menjadi kasihan dengan Zhang Yi, sehingga selalu berusaha menemani dan menghibur Zhang Yi yang sedang berduka dan kesepian.


Suatu hari karena mabuk, Zhang Yi tidak sengaja meniduri nya.


Akhirnya Zhang Yi pun memutuskan bertanggung jawab melamarnya menjadi istri kedua.


Karena dia juga setuju dan tidak berkeberatan, akhirnya menikahlah mereka berdua.


Dari hubungan tidak sengaja di kala mabuk, Zhang Yi kembali memperoleh anak kedua, yang saat ini sedang di kandung oleh istri keduanya ini.


Sedangkan Putra Zhang Yi dari istri pertama nya, sudah besar dan sudah berkeluarga.


Putra Zhang Yi dari istri pertama bukan orang sembarangan.


Dia adalah Jendral muda Zhang Yun yang gagah perkasa.


Sangat di hormati di kalangan militer karena kemampuan dan kecerdikan nya dalam memimpin dan mengatur barisan pasukan.


Zhang Yun mewarisi sikap ayahnya, tenang sabar cerdas, setia jujur.


Zhang Yun bahkan sudah menoreh jasa besar di pertempuran Shoucun membantu Guo Yun mengalahkan Fan Sui.

__ADS_1


Zhang Yun ikut serta dalam formasi Pat Kwa yang di buat oleh Guo Yun, untuk menghancurkan pasukan gabungan serikat dagang.


__ADS_2