
Dari beberapa kali benturan senjata, Guo Yun memperkirakan Pai Yun Cen Jen berada di tingkat yang sama dengan nya.
Mereka sama sama berada di Tahapan pendekar Langit, hanya saja dari segi tenaga dalam.
Guo Yun masih lebih unggul beberapa ratus lingkaran, di bandingkan Pai Yun Cen Jen.
Tapi Pai Yun Cen Jen memilki keunggulan di ilmu pedangnya yang unik.
Di mana bisa menciptakan kabut mirip awan putih, yang menutupi pandangan lawan nya.
Guo Yun kini berada dalam kondisi, yang sama sekali tidak bisa melihat di mana posisi lawannya berada.
Sehingga dia agak kesulitan melancarkan serangan berantai untuk menekan Pai Yun Cen Jen.
Karena kesulitan menemukan keberadaan lawannya.
Dia hanya bisa membalas menyerang, ketika dirinya di serang, alias melakukan serangan balik secara kilat.
Tapi hasil ini kurang maximal, sehingga dia belum bisa menekan dan memaksa Pai Yun Cen Jen mengaku kalah.
Ratusan jurus sudah berlalu, Guo Yun masih selalu berada di pihak bertahan.
Sambil terus bertahan Guo Yun berpikir dalam hati, bila terus seperti ini, mau sampai kapan pertarungan baru berakhir.
Padahal beban tugas yang di pikulnya masih banyak, semua sangat mendesak.
Dia tidak punya waktu banyak untuk itu.
Setelah berputar otak, tiba-tiba Guo Yun menemukan akal untuk menjebak Pai Yun Cen Jen.
Dalam satu kesempatan Guo Yun berpura pura terpeleset, sehingga posisi pertahanan nya menjadi sedikit terbuka.
Dengan cepat Pai Yun Cen Jen, yang jeli melihat hal itu, dia tidak membuang kesempatan.
Dengan cepat dia bergerak menusuk Guo Yun dengan pedangnya.
"Trangggg,..!"
Tapi tusukannya masih berhasil di tangkis oleh Guo Yun.
Tapi meski berhasil menangkis serangan tersebut, karena sedang tidak siap.
Guo Yun kembali terlihat terhuyung-huyung kehilangan posisi pertahanan nya.
Inilah cerdiknya Guo Yun, bila tadi dia pura pura terpeleset terus kena, Pai Yun Cen Jen yang sarat pengalaman bertarung pasti akan curiga.
Tapi dengan trik terpeleset berhasil menangkis tapi posisi menjadi jelek.
Ini akan membuat lawannya yakin, itu real bukan tipuan, sehingga Pai Yun Cen Jen pasti tidak akan menyangka nya.
Melihat posisi Guo Yun, Pai Yun Cen Jen,. dengan wajah sangat gembira.
Segera mengejar dengan pedangnya, kearah punggung Guo Yun yang terbuka.
"Crebbb,..!"
__ADS_1
Pedang Pai Yun Cen Jen, terlihat menembus dari punggung, hingga ujung tajamnya menyembul keluar di tubuh bagian depan Guo Yun.
Tapi saat melihat tidak ada percikan darah, maupun teriakan kesakitan dari Guo Yun.
Pai Yun Cen Jen menjadi curiga, dia buru-buru ingin menarik pedangnya kembali.
Tapi Pai Yun Cen Jen menjadi kaget, saat mendapat kenyataan pedangnya tidak berhasil di tarik.
Pai Yun Cen Jen semakin terkejut, saat dia melihat senyum kemenangan di wajah Guo Yun.
Dia langsung sadar, Guo Yun telah menjebak dan menipunya, pedangnya tidak benar menembus punggung Guo Yun.
Melainkan di jepit di ketiaknya Guo Yun, tapi sekarang sadar pun sudah terlambat.
Saat melihat pedang Guo Yun berkelebat cepat kearah tangannya.
Pai Yun Cen Jen terpaksa melepaskan pegangan pada gagang pedang nya, dan melompat mundur menjauh.
Saat Pai Yun Cen Jen berhasil melompat mundur menjauh,.dia baru sadar,.lengan bajunya ternyata robek parah hingga hampir putus.
Sedangkan pada bagian sambungan sikunya, jelas terlihat luka bekas goresan pedang.
Bagian yang terluka terasa panas dan perih, darah mengalir menetes turun ke ujung jarinya.
Pai Yun Cen Jen sepenuhnya sadar, Guo Yun telah berbaik hati, menahan serangan nya.
Bila tidak, saat ini dia pasti sudah kehilangan lengan kanannya sebatas siku.
Kehilangan lengan, berarti kehilangan seluruh kemampuan nya,. kedepannya dia tentu akan menjadi seorang cacat.
Itu sama saja, tidak ada bedanya dengan orang mati.
Guo Yun sambil tersenyum menghampiri Pai Yun Cen Jen, dia mengembalikan pedang Pai Yun Cen Jen..
"Ini pedang mu senior,.. silahkan.."
ucap Guo Yun sambil mendorong gagang pedang kehadapan Pai Yun Cen Jen.
Pai Yun Cen Jen menerima nya dengan wajah merah dan berkata,
"Terimakasih anak muda, aku mengaku kalah.."
"Ini barang yang kamu inginkan, bawalah pergi dari sini.,"
Guo Yun menangkap sebuah kotak kecil, yang di sabitkan oleh Pai Yun Cen Jen kearahnya.
Guo Yun mencoba membuka tutupnya sedikit, untuk melihat isinya.
Begitu tutup terbuka, uap dingin langsung menyebar keluar.
Di dalam kotak tersebut terlihat dua ekor ulat sebesar jari kelingking, sedang meringkuk diam tak bergerak.
Guo Yun buru buru menutup kembali kotak tersebut.
Lalu sambil memberi hormat kearah Pai Yun Cen Jen, Guo Yun berkata dengan penuh hormat,
__ADS_1
"Terimakasih senior atas kemurahan hati mu.."
"Bantuan mu ini, junior selamanya tidak akan pernah lupa.."
Pai Yun Cen Jen sambil tersenyum pahit, mengulapkan tangan nya dan berkata,
"Lupakan saja, sebagai pemenang pertaruhan, ini memang sudah hak mu .."
Setelah berkata, dia langsung membalikkan badannya berjalan kembali kedalam pondok sederhana nya.
Guo Yun menjura sekali lagi kearah Pai Yun Cen Jen, setelah itu tanpa berkata apapun.
Dia segera membalikkan badannya, bergerak melesat meninggalkan puncak awan putih.
Dengan di temani cahaya bulan, Guo Yun bergerak cepat meninggalkan puncak gunung itu.
Lalu dia melanjutkan perjalanan cepatnya kembali ke markas perampok di tengah hutan, yang terletak tidak jauh dari kaki gunung Ling San.
Menjelang matahari terbit akhirnya Guo Yun kembali tiba di depan gerbang markas perampok gunung itu.
Kedatangan Guo Yun langsung di sambut oleh Ling Tong dan Zhou Tai di depan pintu gerbang markas mereka.
"Bagaimana adik Yun,? apa kamu berhasil mendapatkan ulat es itu ?"
tanya Zhou Tai penuh harap.
Guo Yun sambil tersenyum mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sakunya.
Melihat kotak kecil di telapak tangan Guo Yun, tanpa perlu melihat isinya.
Zhou Tai dan Ling Tong sudah bisa menebak, Guo Yun pasti telah mendapatkan obat yang cocok untuk penyakit kakak mereka.
"Terimakasih adik Yun, ini sungguh luar biasa,.."
"Mari lewat sebelah sini adik Yun,..
mari kita temui tabib Dewa Xu Fu, yang sedang berusaha mengobati kak Zhang Yi di dalam markas."
ucap Zhou Tai sambil bergerak menjadi penunjuk jalan.
Guo Yun menganggukkan kepalanya, lalu dia dan Ling Tong bergerak mengikuti Zhou Tai dari arah belakang.
Sambil berjalan masuk kedalam markas, Guo Yun diam diam memperhatikan situasi di dalam markas.
Guo Yun menemukan para penjaga gerbang, berbaris rapi dalam posisi siap siaga.
Mereka sangat disiplin dalam melakukan penjagaan, baik bagian atas menara maupun bagian bawah gerbang utama.
Selain itu masih ada puluhan penjaga yang melakukan patroli dalam barisan yang rapi dan teratur.
Dari sini saja, Guo Yun melihat pasukan perampok ini, bahkan jauh lebih terlatih ketimbang pasukan negara Lu.
Ini semua menunjukkan pimpinan perampok di sini, pasti bukan orang sembarangan.
Saat melintasi lapangan luas, Guo Yun menyaksikan para perampok sedang di latih keras, memainkan tombak mereka secara kompak.
__ADS_1
Baik saat maju menyerang maupun saat bertahan, mereka semua terlihat sangat teratur dan rapi barisannya.