
"Ciaaa...!!"
Teriak Meng Thian sambil menarik tali kendali kuda nya keatas.
Kuda itu mengerti kehendak tuannya, sebelum panah yang Liu Qin Lung lepaskan tiba.
Kuda itu sudah melompat terbang duluan ke udara melewati Liu Qin Lung dan kudanya di bawah sana.
Jadi saat panah tiba hanya lewat di bawah kaki belakang kuda tunggangan Meng Thian.
Saat kuda Meng Thian terbang melewati Liu Qin Lung, Meng Thian langsung memberikan serangan tebasan maut, dengan tombaknya kearah leher Liu Qin Lung.
Serangan mengejutkan dan sangat di luar dugaan itu, membuat Liu Qin Lung sulit menangkis nya.
Dia sedang tidak siap tangan nya hanya memegang crosbow, tidak ada senjata lain.
Tiada pilihan lain bila ingin selamat, dia harus melompat turun dari punggung kudanya.
Cuma ada waktu tidak sampai sedetik untuk menimbang.
Liu Qin Lung dengan terpaksa, harus melompat meninggalkan punggung tunggangannya.
Liu Qin Lung melompat berguling satu kali, lalu dia bersiap dengan sepasang tangan kosongnya yang di selimuti cahaya hijau
Dia tadi terlalu buru-buru, sehingga tidak sempat menyambar tombaknya, yang terbawa pergi bersama tunggangan nya.
Kini dia hanya bisa mengandalkan tangan kosongnya untuk melanjutkan pertarungan.
Meng Thian bersama kudanya setelah mendarat di atas tanah.
Dia langsung mengontrol tali kekang kudanya,
"Yuuuuu...!"
Meng Thian mengeluarkan kode suara, agar kuda nya menahan langkah dan membalik arah.
Meng Thian sempat menoleh kearah bicah tanggung, yang sedang berteriak menantangnya dari kejauhan sana.
Meng Thian memutuskan mengabaikan nya, dia memberi kode kearah Jendral Lung, Hu, Pa, Siang.
Keempat pengawalnya, agar bergerak menghadang bocah tanggung itu .
Dia sendiri langsung memacu kudanya menerjang kearah Liu Qin Lung .
Dengan gerakan secepat angin, Meng Thian dan kudanya bergerak menerjang kearah Liu Qin Lung.
Liu Qin Lung hanya berdiri diam ditempat, dengan sepasang kaki terpentang lebar.
Kedua tangannya yang mengeluarkan cahaya kehijauan, dia sembunyikan di balik punggungnya.
Jurus maut gurunya, meski sangat dahsyat, jarang ketemu lawan.
Tapi menggunakan jurus itu, sangat boros tenaga.
Liu Qin Lung jarang menggunakan nya, bila tidak sedang terpaksa ataupun emosi.
Liu Qin Lung menunggu hingga Meng Thian datang menyerangnya dengan sabetan tombak.
"Wuutttt..!"
"Singgg..!"
Saat itu dengan menggeser langkahnya, Liu Qin Lung menghindari serangan Meng Thian.
Begitu serangan Meng Thian lewat, Liu Qin Lung langsung melepaskan pukulan balasan.
__ADS_1
Sepasang tinjunya yang mengeluarkan cahaya hijau, dia arahkan langsung ke Meng Thian yang duduk diatas punggung kudanya.
"Wussssh..!"
Wussssh..!"
Meng Thian menyadari bahaya, dia segera menghindar dengan berlindung di samping tubuh kuda nya.
Sehingga serangan itu pun lewat begitu saja, tanpa mengenai sasaran.
Meng Thian dan kudanya melewati Liu Qin Lung, Meng Thian kembali melakukan gerakan dan kode suara yang sama.
Agar kudanya berhenti berlari dan membalikkan badannya.
Begitu kuda nya, berbalik arah.
Meng Thian yang mendengar suara teriakan keras dan suara benturan senjata, di arena lainnya.
"Hyaaaaaat..!"
"Trangggg...!"
"Bukkkk..!"
Dia buru buru menoleh kearah asal suara teriakan tersebut.
Meng Thian terlihat kaget tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Bocah tanggung itu dalam satu gebrakan berhasil, mematahkan senjata tombak Jendral Lung.
Membuat Jendral Lung terpental jauh dari atas punggung kudanya.
Jendral Lung sehabis terjatuh keatas tanah, langsung tewas dengan panca Indra mengucurkan darah.
Hingga dia lupa, Liu Qin Lung masih menantinya di sana.
Duel diantara mereka sendiri belum selesai.
Di arena pertempuran lainnya, si bocah tanggung setelah menghabisi Jendral Lung dalam satu kali tebas.
Kini dia harus bersiap menghadapi serangan dari Jendral Hu Jendral Pa dan Jendral Siang.
Jendral Hu datang membuka serangan dengan memacu kudanya mendekati bocah tanggung itu.
Dia lalu memberikan beberapa tusukan tombak yang berubah menjadi puluhan bayangan.
Menyerang keseluruh tubuh bocah tanggung itu dengan sangat cepat.
Bocah itu tidak melakukan gerakan rumit, dia hanya memutar Hwa Ci nya yang besar panjang dan berat menggores tanah, sebelum kemudian menangkis serangan tombak Jendral Hu.
"Trangggg..!"
"Brakkkk..!"
Hanya terdengar dua suara keras dalam bentrokan cepat tersebut.
Di sana terlihat syara benturan pertama berasal dari pertemuan Hwa Ci dengan tombak Jendral Hu.
Di mana tombak Jendral Hu saat berbenturan, langsung patah menjadi 3 potong.
Selanjutnya suara benturan kedua berasal dari Hwa Ci bocah tanggung itu membentur helm Jendral Hu.
Benturan keras kedua kontan, memecahkan helm baja pelindung kepala Jendral Hu.
Jendral Hu sendiri setelah benturan keras tersebut, tubuhnya yang duduk di atas punggung kuda, langsung jatuh tersungkur keatas tanah diam tidak bergerak lagi.
__ADS_1
Sedetik kemudian darah langsung menggenang di sekitar kepala Jendral Hu, yang terlihat tidak bergerak lagi.
Sementara Jendral Lung dan Hu tewas mengenaskan, dalam waktu singkat.
Jendral Pa dan Xiang juga tidak terkecuali, hanya dalam satu dua gebrakan cepat.
Mereka berdua langsung terpental dari punggung kuda tunggangan mereka.
Mereka tergeletak tidak mampu bangkit lagi, karena roh mereka sudah pergi menyusul kedua rekan mereka yang sudah berangkat lebih awal.
Jendral Meng Thian menggerakkan kudanya menghampiri bocah tanggung itu dan berkata,
"Bocah siapa nama mu ?!"
"Apa yang kamu kehendaki, berani ikut campur di sini..!?"
"Ha.ha..ha..ha..!"
"Dengar baik baik paman tua, nama ku Xiang Yu...!"
"Akan ada suatu hari aku akan menghabisi semua orang Qin, menyusul mereka..!"
Ucap Xiang Yu dengan gayanya yang sangat percaya diri.
Sehingga terkesan agak sombong dan arogan.
"Anak muda, jangan omong besar, buktikan kalau kamu mampu..!"
Bentak Meng Thian, sambil berusaha menahan emosi nya.
Di dalam hati Meng Thian berpikir, bocah luar biasa, bukan hanya kekuatan dan kemampuan, tapi sikap arogansi nya juga menunjukkan kelak dia bakal jadi orang besar.
"Aku sudah buktikan, apa paman sudah terlalu tua hingga tidak bisa melihat dengan jelas..!?"
"Justru saat ini, aku ingin tahu Jendral andalan Qin bisa apa..?"
Ucap Xiang Yu sambil tersenyum mengejek.
"Sombong..! rasakan ini..!"
Bentak Meng Thian.
Lalu dia mulai bergerak menyerang dengan permainan tombaknya.
"Trangggg..!"
"Trangggg..!"
"Wutttt..!"
"Wutttt..!"
Dalam dua kali berbenturan saling serang.
Meng Thian merasakan sepasang telapak tangannya yang memegang gagang tombak terasa perih.
Kedua lengannya terasa kaku dan kesemutan.
Dalam beberapa kali bentrokan, dia hampir saja kehilangan kepala nya, bila tidak cepat membuang diri menjauhi anak muda itu.
Anak muda itu memilki kekuatan dan kecepatan yang menakjubkan
Meng Thian terlihat semakin fokus dan menaruh konsentrasi penuh, terhadap pertahanan yang di milikinya.
Dia hanya akan membalas menyerang, bila ada kesempatan yang baik dan meyakinkan.
__ADS_1