
Gongsun Li mengangguk pelan, dia segera menyiapkan semua pelengkapan yang di butuhkan Guo Yun untuk menulis surat.
Agar praktis Gongsun Li memindahkan sebuah meja kecil keatas tempat tidur.
Sehingga tanpa perlu berpindah tempat, Guo Yun bisa menulis sambil duduk diatas ranjang tempat tidurnya.
Gongsun Li membantu mengasah bak tinta, sedangkan Guo Yun dengan serius menulis selembar demi selembar kertas kosong yang tersedia di hadapannya.
Si Si dan Min Min duduk bersimpuh di bawah ranjang.
Sehingga apa yang Guo Yun tulis mereka berdua sama sekali tidak ada yang tahu.
Hanya Gongsun Li yang membantu mengasah tinta, yang bisa membaca semua nya dengan jelas.
Tapi dia memilih diam mengawasinya, tidak mau mengganggu' konsentrasi Guo Yun yang sedang fokus menulis.
Beberapa saat kemudian Guo Yun melipat satu persatu surat yang di tulis nya dengan rapi.
Kemudian dia masukkan kedalam tiga buah amplop surat secara terpisah.
Lalu dia menggunakan segel nya, untuk menyegel amplop surat itu rapat rapat.
Di depan amplop tidak tertulis surat itu akan di tujukan ke siapa.
Setelah menyelesaikan pekerjaan nya, Guo Yun menghela nafas pelan.
"Uhuk..! Uhuk..! Uhuk..!"
Guo Yun terlihat batuk batuk kecil.
Dia buru buru mengeluarkan sebuah sapu tangan sutra putih, bersulam sepasang burung Yen Yang.
Untuk menutupi mulutnya sendiri.
Melihat sapu tangan di tangan Guo Yun Gongsun Li tidak bisa menahan diri untuk kembali menangis.
Gongsun Li menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mulutnya sendiri.
Agar suara tangisnya jangan sampai terdengar keluar.
Gongsun Li sangat sedih dan terharu, Guo Yun sampai saat ini masih selalu membawa dan menyimpan dengan baik.
Sapu tangan yang dia sulam sendiri, sebagai mahar di malam pernikahan mereka.
Guo Yun melirik kearah sapu tangan ditangannya yang penuh bercak darah hitam.
Dia pun sadar bagaimana kondisi dirinya saat ini, agar tidak membuat khawatir ketiga istrinya.
Guo Yun buru buru menyimpan kembali sapi tangan itu kedalam saku bajunya.
Setelah itu Guo Yun baru menoleh kearah ketiga istrinya secara bergantian.
Dengan wajah serius Guo Yun berkata,
"Di sini ada 3 buah surat penting,
__ADS_1
bila setelah kematian ku nanti, Ying Zheng tidak menepati janjinya.."
"Dia berani datang menyerang Shoucun, maka tiga surat ini bisa di kirimkan secara terpisah..""
"Li Er kamu kirimkan surat ini ke Zhao Gao, Kasim utama yang selalu di sisi Yin Zheng."
"Pastikan surat ini sampai ke tangannya langsung.."
Ucap Guo Yun berpesan sambil menatap kearah Gongsun Li dengan serius.
Gongsun Li mengangguk dan menerimanya dengan baik.
Dia tahu apa isi surat itu, tentunya dia juga tahu apa yang Guo Yun rencanakan.
Sebuah rencana besar yang langsung akan meruntuhkan kekuasaan Yin Zheng.
Gongsun Li menyimpan surat itu dengan sangat hati hati.
Setelah Gongsun Li, Guo Yun kini menoleh kearah Si Si dan berkata,
"Si Si surat yang ini, tolong kamu sampaikan secara bersamaan dengan hari di mana Li Er sampaikan surat ke Zhao Gao."
"Tapi surat mu ini harus di serahkan langsung ke perdana menteri Li Si.."
Si Si maju menerimanya, dan menyimpannya dengan baik.
Surat terakhir Guo Yun serahkan ke Min Min dan berkata,
"Min Min surat ketiga aku titipkan padamu, tiga hari setelah Li er dan Si Si menyerahkan surat mereka ke Zhao Gao dan Li Si."
"Surat mu ini serahkan lah ke Yin Zheng langsung, bila dia masih hidup.."
Min Min maju menerima dan menyimpannya dengan baik seperti yang lainnya.
Guo Yun minum seteguk air yang di siapkan oleh Si Si untuk nya.
Setelah itu dia melanjutkan berkata,
"Apabila setelah kematian ku, dia menepati janjinya tidak lagi datang menyerang, "
"Maka surat itu kalian boleh simpan, hingga tepat 10 tahun masa perjanjian berakhir.."
"Baru kalian jalankan tugas yang ku berikan tadi.."
Ucap Guo Yun pelan, sambil mencoba menahan suara batuk nya.
Karena darah di dadanya kembali bergolak ingin menyembur keluar dari mulutnya.
Tapi Guo Yun berhasil menahan, dan menelan kembali darah yang sudah sampai di tenggorokannya itu.
Sesaat dia memejamkan matanya sejenak, menggunakan hawa saktinya untuk menahan gejolak itu
Setelah lebih tenang, Guo Yun baru membuka kembali matanya menatap kearah ketiga istrinya dan berkata,
"Kalian tenang saja, aku baik baik saja, kalian tak perlu khawatir."
__ADS_1
"Li Er aku kangen dengan masakan mu, bolehkah aku.."
Ucap Guo Yun sambil tersenyum.
Gongsun Li buru buru mengangguk kan kepalanya, tanpa berkata-kata.
Dia langsung berlalu dari kamar Guo Yun sambil menutupi mulutnya sendiri menahan suara tangis.
Setelah Gongsun Li pergi, Guo Yun menoleh kearah Min Min dan berkata,
"Min Min aku khawatir dengan anak anak, ini di kapal soalnya.."
"Lebih baik kamu pergi membantu Sian Sian mengawasi mereka.."
Min Min mengerti, itu cuma alasan Guo Yun memintanya pergi secara halus.
Tentu nya Guo Yun ingin berbicara berdua dengan Si Si.
Dia segera mengangguk, sambil menghapus airmatanya yang juga terus mengalir deras.
Min Min berjalan meninggalkan kamar tersebut.
Setelah Min Min pergi, Guo Yun sambil tersenyum lembut, melambaikan tangannya kearah Si Si dan berkata,
"Sayang kamu kemarilah, aku ingin melihat mu dari dekat.."
Si Si berusaha untuk tersenyum, meski itu teramat sulit.
Akhirnya dia bisa tersenyum tapi airmata justru mengucur dengan deras membasahi wajahnya.
Guo Yun membuka kedua tangannya lebar lebar, menyambut Si Si, yang sudah menubruk kedalam pelukannya dan dia tidak bisa lagi menahan diri untuk menangis sedih di sana.
"Si er diantara semuanya kamu adalah yang paling mengerti aku, kamu juga yang paling pengertian sabar dan tenang dalam berbagai situasi.."
Ucap Guo Yun sambil mencium dan membelai rambut Si Si yang hitam halus dengan lembut dengan penuh kasih sayang.
Si Si tidak menjawab, dia masih terus menangis, melepaskan semua perasaan nya yang tertahan tahan selama ini.
"Si Er tahukah kamu, aku selalu merasa bisa bersama mu adalah suatu anugrah dan keberuntungan terbesar dalam hidupku.."
"Sayangnya aku bukanlah seorang suami yang baik dan sempurna untuk mu.."
"Sehingga aku selalu merasa berdosa dan sangat sangat banyak berhutang pada mu.."
"Kehidupan ini takutnya aku sudah tidak sempat lagi menebus semuanya.."
"Mungkin aku hanya bisa menebus semua nya, di kehidupan ku yang berikutnya.."
Si Si menggeleng pelan berulang kali dalam pelukan Guo Yun.
Di penghujung ucapan Guo Yun.
Si Si pun melepaskan pelukannya, dia duduk di hadapan Guo Yun.
Menatap Guo Yun lekat lekat
__ADS_1
Tanpa berkata apapun, Si Si langsung maju mendaratkan ciuman lembutnya, mewakili seribu, bahkan selaksa kalimat, yang tidak bisa dia ucapkan satu persatu.
Semua hanya bisa dia ungkapkan lewat ciuman mesra itu.