
Gongsun Li sepasang matanya menyala marah, kedua tinjunya terkepal erat.
Saat dia melihat tindakan Meng Da yang curang, menggunakan Liu Lau Puo sebagai sandera.
Untuk memaksa Liu Qin Lung menyerah.
"Keparat..! sungguh kelewatan mereka..!"
Maki Gongsun Li kesal.
Bila tidak di tahan oleh Si Si mungkin dia sudah bergerak maju menerjang ke bawah bukit, di mana perkemahan pasukan Qin berada.
"Jangan sekarang kak, ayo kita mundur.."
"Saat ini tiada gunanya kita bergerak, ini adalah strategi mereka memancing kita turun ke bawah.."
"Tapi kita tidak bisa diam saja, melihat Liu Lau Puo yang baik dan putranya yang setia dan berbakti di perlakukan secara tidak adil begitu..?"
ucap Gongsun Li kurang puas.
"Kakak dalam perang ada kalimat Ping PU Yen Ca, kakak tidak mungkin tidak pernah mendengarnya kan..?"
ucap Si Si sambil menatap kearah Gongsun Li dengan sikap tenang.
Gongsun Li menghela nafas panjang dan berkata,
"Benar itu memang ada, tapi apa itu jadi bisa menjadi alasan orang untuk berbuat curang sekehendak hati..?"
Si Si menghela nafas panjang dan berkata,
"Pada dasarnya memang seperti itu, semua adalah strategi perang, tidak ada unsur dendam maupun kebencian pribadi, semua itu demi mencapai satu tujuan yaitu menang perang.."
"Meski pada prakteknya banyak terjadi campur aduk perasaan itu semua lumrah, karena kita semua hanya manusia biasa, bukan dewa.."
ucap Si Si pelan.
Ping Pu Yen Ca, artinya adalah Prajurit tidak akan menyesali jebakan.
Dengan arti lain sebagai orang militer semua orang harus berhati hati, dalam pengambilan keputusan.
Bila kalah karena jebakan lawan se curang atau selicik apapun, tidak bisa menyalahkan lawan.
Gongsun Li menggeleng gelengkan kepalanya dan berkata,
"Perang adalah sesuatu yang kejam dan tidak ada perikeadilan di dalam nya.."
"Bila ada yang mengatakan berperang demi keadilan, apalagi membawa bawa atas nama mandat langit ataupun perintah Tuhan."
"Itu semua cuma kampanye palsu di mulut belaka, untuk menggerakkan orang orang menuju kehancuran.."
"Demi kepentingan pribadi penguasa dan kelompok nya saja.."
__ADS_1
ucap Gongsun Li dengan wajah kecewa.
Si Si tidak langsung menanggapi nya, dia hanya diam saja memperhatikan Gongsun Li dengan sabar.
Sesaat kemudian dia baru berkata, memecah keheningan.
"Kakak sabarlah, cepat lambat kita pasti akan menyelamatkan mereka."
"Percayalah aku juga punya pemikiran dan keinginan sama dengan kakak.."
"Tapi saat ini bukan waktu yang tepat.."
"Bila waktunya tiba kita pasti akan menyerbu ke bawah,..ayo kita kembali ke kemah dulu.."
ucap Si Si mencoba membujuk Gongsun Li untuk kembali ke perkemahan mereka.
"Tapi SiSi bagaimana bila mereka membunuh mereka, sebelum kita tiba..?"
ucap Gongsun Li kembali.
Si Si sambil tersenyum sabar berkata,
"Kakak coba kakak pikir, bila mereka ingin membunuhnya, mereka bisa langsung mengeksekusinya di tempat.."
"Buat apa mereka repot repot mengikat dan menahannya.."
"Percayalah mereka masih ingin memanfaatkan nya, tidak akan secepat itu bertindak.."
ucap Si Si dengan penuh keyakinan.
"Semoga saja kami benar, bila tidak aku pasti akan sangat menyesal.."
"Baiklah ayo kita kembali.."
ucap Gongsun Li sedikit merunduk runduk bergerak meninggalkan tempat pengintaian tersebut.
Si Si menyusulnya di belakang dengan pergerakan yang sama.
Gongsun Li melewati dua hari itu dengan hati gelisah, puncaknya adalah dia mendapatkan laporan dari mata mata pengawasnya.
Bahwa hari ini, Liu Lau Puo dan Liu Qin Lung sudah di giring menuju sebuah lapangan, yang terletak di tengah tengah perkemahan.
Mendengar kabar itu, dengan tidak sabar, Gongsun Li segera bergerak ke kemah Si Si.
Tapi baru saja dia keluar dari kemahnya, dia menemukan Si Si justru sedang menghampiri kemahnya.
"Si Si mereka sepertinya akan mengeksekusinya hari ini, kini mereka sedang di giring menuju ke tanah lapang."
ucap Gongsun Li menyampaikan dengan penuh ketidak sabaran.
Dia terlihat khawatir dan agak cemas, menatap kearah Si Si dengan serius.
__ADS_1
Si Si juga agak kaget mendengar ucapan Gongsun Li.
"Setidak sabar itukah mereka, kelihatannya aku sedikit salah perhitungan dan terlalu meremehkan mereka.."
"Ayo kak, coba kita pergi lihat kesana.."
ucap Si Si yang juga terbawa suasana cemas Gongsun Li.
Kedua wanita cantik yang berbeda gaya, yang satu lemah lembut, yang satu nya lagi gagah dingin pendiam dan tegas.
Mereka berdua terlihat melangkah cepat, setengah berlari menuju lokasi pengintaian.
Saat tiba di sana benar saja sesuai laporan mata mata pasukan mereka.
Di tengah lapang terlihat Liu Lau Puo dan putranya Liu Qin Lung mengenakan pakaian putih yang di penuhi noda darah di sana sini.
Terutama Liu Qin Lung, dia yang paling parah, sepertinya selama di tahan, dia menghadapi penyiksaan tidak ringan dari petugas penjara militer.
Si Si dan Gongsun Li menatap ke arah mereka berdua dengan tatapan mata cemas dan kasihan.
Liu Lau Puo dan putranya Liu Qin Lung dalam keadaan terikat, di paksa berlutut menghadap kearah Meng Yu yang duduk di tengah di batasi oleh sebuah meja panjang.
Di kanan kiri Meng Yu terlihat hadir Meng Da dan Meng Li yang ikut menghadiri prosesi hukum penggal yang sesaat lagi akan di laksanakan.
Meng Yu sesekali selalu memandang kearah matahari, seolah olah sedang menunggu sesuatu.
Liu Lau Puo dan putranya Liu Qin Lung terlihat menatap ke arah Meng Yu dengan tatapan geram, dan di penuhi perasaan penasaran juga kecewa.
Di sebelah mereka hadir seorang algojo bertubuh tinggi besar, berte lanjang dada, wajah dan dadanya terlihat di penuhi oleh bulu hitam lebat.
Di tangannya memegang sebatang golok besar yang bersinar berkilauan tertimpa cahaya matahari.
Algojo itu terlihat menatap dingin kedepan tanpa perasaan sama sekali.
Dia hanya menunggu perintah eksekusi yang akan di turunkan oleh Meng Yu langsung.
Meng Yu sekali lagi mengamati kearah matahari, setelah itu dia pun berkata,
"Waktu telah tiba..!"
Meng Yu mengambil sepotong papan pipih kecil, kemudian dia lemparkan ke hadapan Liu Lau Puo dan putranya yang sedang berlutut sambil menatap kearah nya dengan penuh kebencian.
Algojo yang melihat perintah sudah di turunkan, dengan wajah dingin dia mencabut papan tanda tahanan yang akan di ekseskusi dari balik punggung leher Liu Lau Puo dan putranya Liu Qin Lung.
Setelah melemparkan dua papan potongan kayu itu keatas tanah.
Dia mengambil sebuah guci arak meminum isinya langsung dari guci itu, lalu arak di dalam mulutnya dia semburkan kearah golok besarnya.
Sehingga golok besar tajam itu semakin bersinar berkilauan tertimpa cahaya matahari.
Setelah itu dia pun mengangkat goloknya tinggi tinggi keatas, siap di tebaskan kearah leher Liu Lau Puo.
__ADS_1
Orang pertama yang akan menjadi korban golok elmaut nya itu.
Baru saja golok akan dia ayunkan kebawah, gerakannya tertahan di udara.