LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
PULAU NERAKA


__ADS_3

Langit mulai cerah, matahari mulai terbit, laut kembali tenang, seolah tak pernah terjadi sesuatu.


Burung burung camar mulai beterbangan di atas lautan luas yang tenang.


Hujan juga sudah berhenti, langit terlihat sangat cerah.


Guo Yun akhirnya menyudahi latihan pengumpulan energinya.


Sepasang matanya kembali terbuka.


Dia menoleh melihat ke sekitarnya, di mana keadaan sudah mulai benar-benar tenang.


Guo Yun bangkit berdiri dari posisi duduknya, dia berjalan menuju lantai dua, yang berfungsi sebagai tempat pusat kendali kapal.


Guo Yun melihat Li Kui masih berdiri di sana, memegang kemudi kapal.


Sambil tersenyum lebar, Li Kui berkata,


"Kakak Yun kita berhasil melewatinya.."


"Untung semalam ada kakak , membantu mendorong laju kapal, bila tidak habislah kita semua.."


Guo Yun tersenyum dan berkata,


"Kamu pasti sudah lelah, pergilah istirahat, biar aku saja yang menggantikan mu.'


"Li Kui mengangguk dan berkata,


"Baik kak terima kasih, kalau begitu aku pergi tidur dulu.."


"Pergilah,.."


ucap Guo Yun singkat.


Guo Yun terlihat fokus mengendalikan kapalnya menuju arah timur, berdasarkan arah matahari terbit.


Beberapa waktu berlalu, Sian Sian pun menyusul naik keatas Geladak kapal.


Dia ikut memperhatikan arah kapal yang sedang di kendalikan oleh Guo Yun.


"Kakak Yun kenapa aku merasa kita tidak sedang menuju pulau Peng Lai, tempat tinggal kakek ku..?"


ucap Sian Sian sambil terus menatap sekitarnya


"Apa maksud mu adik Sian ? kamu jangan bercanda..?"


ucap Guo Yun sedikit kaget dan ragu.


Bagaimana pun, Sian Sian adalah penghuni pulau itu, dalam hal ini ada kemungkinan, dia lebih tahu daripada siapapun.


Jadi wajar Guo Yun terlihat cemas.


"Adik Sian kamu tolong panggil Li Kui kemari, sebelum kita tersasar lebih jauh.."


ucap Guo Yun sedikit cemas.


"Baik,.. sebentar kak.."


ucap Sian Sian patuh.


Lalu dia pun turun dari lantai dua, pergi ke lantai dasar di mana kamar Li Kui berada.


Sian Sian sangat terkejut, saat tiba di dasar kapal, dia mendapati bagian bawah kapal terendam air.


"Kakak Li Kui,..! Kakak Li Kui..!"


"Bagun kak,..ayo bangun kak..!"

__ADS_1


"Bagian bawah sini banjir kak.."


Sesaat kemudian terlihat Li Kui keluar dari kamarnya, dengan wajah kaget.


Li Kui buru buru berjalan mendekati kearah anak tangga, melintasi genangan air yang sudah naik hingga selutut orang dewasa.


"Sian Sian lambung kapal kita bocor, kamu tolong kabari kakak Yun.."


"Aku mau periksa kebocoran nya.."


ucap Li Kui cepat.


Sian Sian mengangguk, dia juga terlihat tidak kalah panik di banding Li Kui.


Sian Sian segera berlari kembali keatas, sementara Li Kui sudah menyelam kedalam air untuk memeriksa keadaan di bawah sana.


"Kakak Yun,.!.celaka,..!"


Teriak Sian Sian panik, begitu tiba di lantai dua kapal.


"Ada apa Sian er, ? apa yang terjadi..?"


tanya Guo Yun heran.


"Lambung kapal bocor kak, kini kakak Li Kui sedang menyelam untuk memeriksanya.."


"Tenanglah, kita harus tenang dan berpikir jernih.."


ucap Guo Yun kepada dirinya sendiri.


Sesaat kemudian dia berkata,


"Adik Sian,.. kamu tolong pegang kemudi ini sebentar, aku akan memeriksanya keatas.."


Sian Sian mengangguk, lalu dia memegang kemudi kapal itu.


Guo Yun terbang ringan keatas, menuju ujung tiang layar perahu.


Guo Yun mengarahkan ketajaman matanya, untuk melihat jauh kedepan.


Dia ingin mencari pulau terdekat, untuk singgah memperbaiki lambung kapal yang pecah.


Kuat dugaan Guo Yun, lambung kapal mereka pecah, sebagai akibat dari badai dahsyat yang mereka hadapi semalam.


Setelah mengedarkan pandangannya selama beberapa waktu, Guo Yun akhirnya melihat.


Samar samar di arah barat laut, di balik kabut tebal ada sebuah bayangan hitam besar.


Kuat dugaan Guo Yun itu adalah sebuah pulau besar, atau gunung, atau mungkin gugusan karang.


Tidak pasti, cuma tempat itu adalah satu satunya pilihan terbaik mereka saat ini untuk di singgahi.


"Sian er putar kemudi kearah kiri dua kali..!"


teriak Guo Yun dari atas.


Sian Sian mengangguk, dengan sekuat tenaga gadis tanggung itu, berusaha dengan susah payah memutar kemudi.


Sesuai dengan instruksi dari Guo Yun, kemudi itu sangat berat.


tapi akhirnya Sian Sian berhasil memutarnya sebanyak dua kali.


"Bagus Sian Sian itu sudah benar, tahan di sana.."


teriak Guo Yun, dari atas sambil memantau arah gerak kapal mereka.


beberapa saat kemudian Li Kui muncul keatas dengan seluruh tubuh basah kuyup.

__ADS_1


Tidak tahu itu air atau keringat, semuanya terlihat masih menetes netes dari anak rambut Li Kui.


Li Kui mengangkat kepalanya, melihat kearah puncak layar, dan berteriak,


"Kakak Yun, !"


"Kebocoran sudah ku tambal untuk sementara!"


"Tapi belum sepenuhnya aman..!"


"Aku tidak tahu bisa bertahan berapa lama, sebelum kapal ini benar benar tenggelam..!"


ucap Li Kui setengah berteriak, sambil menutupi matanya dari silaunya sinar mentari.


Setelah itu dia menggantikan Sian Sian mengemudikan kapal mereka.


Guo Yun mengangguk dan berkata, setengah berteriak dari atas sana.


"Tidak apa-apa, di arah barat laut sana, aku ada melihat kabut tebal.!"


"Di balik kabut, mungkin ada pulau, kita coba saja kesana..!"


Li Kui mengangguk, dia memegang kendali, mengikuti petunjuk arah dari Guo Yun.


Sementara itu Sian Sian sendiri saat mendengar ucapan Guo Yun, kapal mereka sedang menuju kearah kabut tebal di posisi barat laut.


Wajahnya langsung pucat, bibirnya bergetar saat menyebut dua nama.


"Kabut Merah.."


"Pulau Neraka.."


Tiba-tiba Sian Sian berteriak, sambil melihat keatas.


"Kakak Yun, di balik kabut merah itu adalah pulau neraka, kita tidak boleh kesana berbahaya..!"


Mendengar teriakkan Sian Sian Guo Yun dan Li Kui sedikit terkejut.


Sesaat mereka menjadi ragu ragu, tapi tidak kesana, kapal mereka pasti akan menghadapi resiko tenggelam karena kebocoran, mereka tetap saja akan celaka.


Kesana atau tidak mereka tetap saja akan celaka.


Beberapa saat berpikir, Guo Yun dan Li Kui saling pandang mereka dengan kompak mengangguk.


Lalu kapal pun melanjutkan melaju mendekati pusat kabut merah di tengah lautan luas.


"Kakak Kui, apa yang kalian lakukan ? tempat itu tidak boleh di datangi berbahaya..'


"Bisa masuk tidak mungkin bisa keluar lagi.."


ucap Sian Sian panik, saat dia melihat kapal terus melaju mendekati kabut merah.


Li Kui menghela nafas tak berdaya dan berkata,


"Kita tidak punya pilihan lain Sian er.."


"Tidak kesana kapal ini karam, kita tetap saja akan celaka."


"Kesana atau tidak, bagi kita saat ini tiada bedanya.."


Sian Sian juga sadar, akhirnya dia hanya bisa diam pasrah, menatap kearah kabut itu dengan tatapan mata khawatir.


Sesaat kemudian dia berkata,


"Arus di dalam kabut itu sangat kuat, di dalam kabut juga ada barisan karang tajam."


"Kakak harus hati-hati,.sekali kapal kita pecah di hantam karang, kapal kita akan tenggelam.."

__ADS_1


"Ribuan ikan pemangsa, akan siap menyambut kita, merayakan pesta pora mereka.."


ucap Sian Sian dengan wajah ngeri


__ADS_2