LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
PELABUHAN WU HU


__ADS_3

Sesuai instruksi Gongsun Li, pasukan harimau hitam dengan sadis, menggunakan tombaknya untuk menusuk nusuk tubuh yang sudah menjadi mayat tergeletak tumpang tindih.


Beberapa yang saat di tusuk langsung menjerit kesakitan, karena mereka hanya berpura pura mati.


Mereka langsung di habisi dengan tebasan di leher, ataupun tusukan tepat di jantung.


Setelah memastikan tidak ada yang masih bernyawa tersisa di sana.


Gongsun Li yang mendapat laporan dari komandan pasukan nya, atas hasil pekerjaan bawahan mereka.


"Bagus kalian sekarang boleh kembali ke pos kalian masing masing."


"Lakukan pendataan ulang, jumlah personil kalian, bila berkurang. Segera ajukan untuk di kirim personil pengganti.."


ucap Gongsun Li berpesan.


Setelah itu dia pun menggunakan ilmu meringankan tubuh tarian bidadari meninggalkan tempat tersebut.


Tidak jauh dari pos wilayah ketiga, Gongsun Li bersiul keras.


"Suittt,...! Suiiitttt...!!"


"Du,..Du..Duk..! Du,..Du..Duk..!"


"Du,..Du..Duk..! Du,..Du..Duk..!"


"Du,..Du..Duk..! Du,..Du..Duk..!"


Terdengar suara derap langkah kaki kuda mendekat, tak lama kemudian dari balik tingkungan, terlihat seekor kuda berbulu merah, bertubuh tinggi besar.


Berlari cepat menghampiri gong Gongsun Li.


Dengan gerakan ringan Gongsun Li melayang keatas punggung kudanya.


Lalu dia mengendalikan laju gerak kudanya, menariknya berputar arah.


"Hieeehh...!"


Kuda itu meringkik kaget, mengangkat kedua kaki depan nya tinggi tinggi.


Lalu berputar arah mengikuti arahan Gongsun Li yang duduk di atas punggungnya.


"Siao Hung,..ayo kita pergi dari sini."


ucap Gongsun Li sambil menepuk nepuk lembut, leher kuda tunggangan nya.


Sesaat kemudian Gongsun Li dan kudanya sudah meninggalkan tempat tersebut kembali ke perkemahan utama nya.


Di tempat lain Meng Thian yang berhasil meloloskan diri dengan sisa pasukan nya yang tidak sampai setengah nya lagi.


Semua komandan pasukan nya juga sudah di habisi tanpa sisa oleh Gongsun Li dan pasukan harimau hitam nya.


Meng Thian terlihat duduk di dalam kemah daruratnya, sedang menulis surat, untuk di kirimkan ke Ying Zheng.


Menceritakan kekalahan telak yang di deritanya, juga kondisi pasukannya saat ini.


Meng Thian kemudian memanggil pengawal untuk mengirimkan informasi Menggunakan merpati ke istana Zhao ke, yang terletak di ibukota Sian Yang.

__ADS_1


Di mana tuannya, rajanya, Ying Zheng bertahta.


Selesai menulis surat dan sudah di urus pengiriman nya.


Meng Thian pun berkeliling melihat keadaan pasukannya, sambil memberi mereka semangat.


Dia juga pergi memeriksa persiapan pertahanan mereka, di perkemahan darurat itu.


Setelah semua selesai, Meng Thian akhirnya kembali kedalam kemahnya.


Dia duduk termenung seorang diri di sana.


Ini adalah kekalahan pertamanya dalam pertempuran yang berakhir dengan sangat tragis dan memalukan.


Sepanjang sejarah dia memimpin pasukan, belum pernah dia mengalami kekalahan se tragis ini, ini adalah yang pertama kalinya.


Benar benar merupakan tamparan keras bagi wajahnya.


Meski dari awal Li Si dan Wang Jian sudah memperhitungkan, dia pasti akan kalah dalam serangan pembukaan ini.


Tapi dia benar benar tidak pernah menyangka akan kalah hingga tersungkur mencium tanah, seperti saat ini.


Sambil menghela nafas panjang, dengan ekspresi wajah tertekan.


Meng Thian bergumam,


"Semoga saja di tempat Meng Yu berhasil mendulang kemenangan.."


"Sehingga bisa menebus kekalahan memalukan ku, di tempat ini.."


"Saat ini kelihatannya hanya bisa seperti itu.."


ucap Meng Thian pasrah.


Di tempat lain Meng Yu yang memimpin 200.000 personil mulai bergerak menyeberangi Han Jiang, sungai Han.


Mereka bergerak dari sisi timur, tapi di tengah jalan Meng Yu membaginya menjadi tiga unit pasukan air.


Satu unit berjumlah 100.000 personil bergerak mengikutinya langsung menuju sisi tur sungai Han.


Unit kedua berjumlah 50.000 personil di pimpin oleh keponakan kembarnya, Meng Li menuju arah barat tepi sungai Han.


Sedangkan unit ketiga, unit terakhir, berjumlah 50.000 personil di pimpin oleh Meng Da.


Di tugaskan bergerak ke arah bagian tengah antara wilayah perbatasan timur dan barat.


Dia disiapkan sebagai barisan pendam yang akan mencegat sisi barat memberikan pasukan bantuan.


Juga mencegah pasukan bantuan bisa kembali lagi ke pos nya di sisi barat sana.


Semua ini sudah di atur dan di perhitungkan dengan matang, oleh perdana menteri Li Si dan Jendral tua Wang Jian.


Mereka menggunakan kekalahan Meng Thian, untuk membuat musuh senang.


Sehingga kewaspadaan musuh menurun, baru mereka ada kesempatan memetik hasil.


Menyerang dengan menyeberangi sungai Han.

__ADS_1


Di sisi lain jauh ujung di daerah Qi sana, Wang Jian dan putranya Wang Ben, sedang bergerak secara diam diam memimpin 400.000 pasukan melalui jalan air menuju ibukota Guiji.


Mereka menarget dermaga Wu Hu dan Wu Jun yang menjadi dua gerbang pelabuhan yang langsung terhubung dengan ibukota Guiji.


Wang Jian membentuk masing masing dua unit kapal layar dagang, yang berisi barisan pendam pasukan Qin yang bersembunyi di bagian bawah lambung kapal.


Bagian atas hanya terdiri dari puluhan orang, yang menyamar menjadi pedagang, pengawal, dan anak buah kapal.


Dengan setumpuk barang kain, arak, dan ransum makanan, seperti jagung gandum dan beras.


Saat kedua kapal itu memasuki dermaga Wu Hu dan Wu Jun.


Pasukan yang di tempatkan oleh Xiang Yan dan Xiang Po langsung melakukan pemeriksaan keatas kapal.


Tapi dengan cerdik kapten kapal yang berwenang langsung maju menghampiri komandan pasukan pemeriksa.


"Tuan besar, kapal kami hanya berisi kain ransum makanan dan arak.."


"Tidak ada yang lainnya..Tuan besar dan anak buah tuan boleh lakukan pemeriksaan dengan bebas.."


"Sementara mereka memeriksa, tuan besar lebih baik duduk menanti di dalam.."


"Di dalam kami sudah siapkan arak bagus dan makanan lezat, untuk menyambut tuan besar.."


ucap kapten kapal yang bertugas merebut dermaga Wu Hu, dengan sopan dan ramah.


"Tidak bisa, kami sedang bertugas, mana boleh minum arak.."


"Itu sudah melanggar pantangan militer.."


ucap kepala komandan pasukan harimau hitam itu tegas.


"Ohh begitu ya maaf, maafkan ketidak Tahuan hamba, sehingga menawarkan hal yang tidak patut.."


"Begini saja, bagaimana bila arak di ganti dengan anggur merah dan teh, kurasa itu tentu tidak akan terlalu melanggar aturan militer.."


"Harap komandan tidak menolak sedikit niat tulus dan tanda ketulusan persahabatan dari kami.."


"Ini..."


ucap komandan tersebut mulai melunak dan meragu, apalagi bau masakan sudah mulai menyebar keluar dari dalam bilik perahu.


Perutnya yang memang belum sempat terisi, langsung protes.


Kapten kapal itu dengan sigap langsung maju menggandeng tangan komandan itu dan berkata,


"Marilah tuan besar, saya harap tuan jangan menolaknya lagi.."


"Keselamatan kami dan seluruh isi kapal dagang ini, kelak masih bergantung pada perhatian tuan besar, dan pasukannya yang gagah perkasa."


"Ketimbang kami membayar upeti tidak jelas dari preman, begal dan pencuri di pelabuhan.."


"Lebih baik kami menjalin hubungan baik dengan petugas keamanan sah dari pemerintah.."


"Benar tidak tuan besar..?"


ucap kapten kapal sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


__ADS_2