
"Tidak perlu kak,.. kakak' pergi cuci muka saja.."
"Setelah nya kita bisa kembali, ke Mo Cia Su Yuan, menemui guru.."
ucap Guo Yun lembut.
"Tapi baju mu,.."
ucap Gongsun Li tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, nanti juga kering.."
ucap Guo Yun santai sambil tersenyum lembut.
Setiap melihat senyum Guo Yun, tidak tahu kenapa, Gongsun Li merasa hatinya sangat nyaman dan tenang.
Gongsun Li tidak berani berlama lama menatap senyum Guo Yun, dia takut dirinya benar benar jatuh hati pada Guo Yun.
Dia tidak ingin dirinya menjadi wanita egois, di mana satu orang menginjak dua perahu.. makanya dia harus sebisa mungkin menahan diri.
"Baiklah adik Yun, kakak pergi dulu.. "
ucap Gongsun Li untuk mengingatkan dirinya sendiri.
Bahwa hubungannya dengan Guo Yun, hanya sebatas hubungan kakak beradik seperguruan, tidak lebih.
Mendengar ucapan Gongsun Li, Guo Yun hanya tersenyum pahit, dia tidak berkata apa-apa.
Guo Yun duduk santai di bawah sebatang pohon rindang, iseng-iseng dia mengambil sepotong kayu yang tergeletak di hadapannya.
Guo Yun mengisi waktu nya, dengan menggunakan potongan kayu itu, mencoba mengukir sebuah patung berdasarkan ingatan nya tentang Gongsun Li.
Belum selesai ukirannya, Gongsun Li keburu muncul, sehingga Guo Yun buru buru menyimpan potongan kayu tersebut, kedalam saku bajunya.
"Ayo kak, kita kembali ke Su Yuan sekarang ?"
ucap Guo Yun untuk menutupi rasa gugupnya.
Gongsun Li mengangguk dan berkata,
"Ayo kita pulang.."
Guo Yun dan Gongsun Li berjalan beriringan meninggalkan perkemahan.
Saat mereka tiba di depan gerbang, pintu keluar kota Xia, disana terlihat Li Ba dan Zhong Yu sedang menunggu kedatangan mereka, dengan 3 ekor kuda, yang siap di pergunakan dalam perjalanan pulang.
Guo Yun maju membelai belai leher kudanya, dia lalu melompat ringan naik keatas punggung kuda tersebut.
Li Ba juga mengikuti gerakan Guo Yun, dia ikut melompat ringan duduk diatas punggung kudanya.
Kini hanya tersisa Gongsun Li yang terlihat ragu ragu, menatap kuda di hadapannya.
Sesaat kemudian dengan wajah merah padam, menahan rasa malu.
Dia menoleh kearah Guo Yun dan berkata,
__ADS_1
"Adik Yun, maaf aku tidak bisa menunggang kuda.."
Mendengar hal itu Guo Yun sedikit kaget, tiba-tiba dia pun teringat.
Saat mereka meninggalkan ibukota, dia memang melihat Gongsun Li naik satu kuda berboncengan dengan Ching Ke.
Waktu itu dia mengira, hal itu di lakukan dengan sengaja, karena mereka adalah pasangan kekasih.
Tapi ternyata di balik itu ternyata inilah alasannya.
Guo Yun mengulurkan tangannya kearah Gongsun Li sambil tersenyum lembut.
Gongsun Li dengan wajah merah padam mengulurkan tangannya menyambut telapak tangan Guo Yun, yang tebal hangat dan lembut.
Begitu telapak tangan mereka saling menggenggam, dengan sekali sentak, tubuh Gongsun Li sudah melayang duduk di atas punggung kuda, tepat di hadapan Guo Yun.
Gongsun Li duduk memunggungi Guo Yun, sepasang tangan Guo Yun sedikit melingkar di pinggang Gongsun Li, agar bisa memegang tali kekang kuda di hadapannya.
Hal ini membuat Gongsun Li merasa seperti sedang di peluk oleh Guo Yun dari arah belakang.
Nafas hangat Guo Yun yang berhembus mengenai leher pipi dan terkadang tengkuknya.
Membuat Gongsun Li, wajahnya langsung berubah merah padam, jantungnya berdebar cepat tak terkendali.
Ini adalah pertama kali nya, dia duduk dengan seorang pria lain selain Ching Ke.
Posisi duduk seperti ini, juga adalah posisi duduk berkuda berdua, yang baru pertama kali di alami oleh Gongsun Li.
Sebelumnya bila dia berkuda bersama Ching Ke, adalah dia duduk di belakang, sedangkan Ching Ke duduk di depannya.
Kali ini berbeda, kali ini justru dirinya di depan, Guo Yun lah yang duduk di belakangnya.
Meski tidak sampai terjadi kontak fisik secara langsung, tetap saja Gongsun Li merasa malu gelisah dan kurang nyaman.
Sebaliknya Guo Yun tidak berpikir macam macam, dia membiarkan Gongsun Li duduk di depan.
Semata mata hanya demi mempermudah dirinya mengawasi dan menjaga keselamatan Gongsun Li.
Tidak ada niat lain sama sekali di dalam pikirannya.
Guo Yun dan Li Ba memacu kuda sekencang kencangnya, begitu mereka bergerak meninggalkan kota Xia.
Awalnya Gongsun Li merasa grogi dan kurang nyaman, tapi setelah menempuh perjalanan hampir setengah harian, di mana dia sempat tertidur pulas berbaring dalam pelukan Guo Yun.
Perlahan-lahan dia mulai betah nyaman dan cukup menikmati perjalanan tersebut.
Meski saat sadar dia sedikit malu dan canggung, tapi perlahan-lahan rasa grogi malu dan kurang nyaman itu akhirnya hilang.
Setelah melakukan perjalanan selama dua hari satu malam, akhirnya mereka tiba juga di ibukota negara Lu.
Mereka bertiga memutuskan langsung kembali ke pondok tempat peristirahatan Mo Zi.
"Li er Yun Er Ba er kalian bertiga darimana saja,? kenapa baru pulang.?"
tanya Mo Zi sambil tersenyum lembut menatap ketiga muridnya.
__ADS_1
Guo Yun meski merasa heran dengan pertanyaan gurunya, tapi dia tidak mau menjawab..
Di sini ada Gongsun Li yang terhitung kakak seniornya, jadi sudah sepantasnya Gongsun Li lah yang menjelaskan semuanya.
"Tugas kami baru rampung, jadi kami baru pulang, apakah ada yang salah guru..?"
jawab Gongsun Li sekaligus bertanya balik.
"Ahh tidak, guru hanya merasa heran kalian berangkat berempat, kenapa pulang bertiga..?"
"Kakak seperguruan kalian dari beberapa hari yang lalu sudah pulang duluan.."
ucap Guru Mo Zi sambil menatap ketiga muridnya dengan wajah ingin tahu.
Mendengar ucapan gurunya, Li Ba yang sudah tidak tahan langsung berkata,
"Su,..sudah baik,..aku ti..tidak menyuruhnya memberi sa..salam pada ku sebagai kura kura ke..Keparat.."
"Di..dia malah bersikap,..o..orang ja..jahat lapor du,..duluan.."
"Ma..maling Te..teriak ma...ma.."
"Adik Ba jangan tidak sopan..!"
bentak Guo Yun mencegah Li Ba berbicara banyak.
"A..apa a..aku salah..Ka..kakak Yun.?!"
teriak Li Ba kurang puas
Guo Yun tidak menanggapi Li Ba, melainkan memberi hormat kearah Mo Zi dan berkata,
"Maaf guru,.. adik Ba tidak tahu urusan dan kurang terdidik sopan santun, ini salah ku.."
"Aku tidak mendidiknya dengan benar.."
"Harap guru memaafkan kami.."
ucap Guo Yun sambil membenturkan dahinya keatas lantai.
"Yun er tak perlu begitu, Ba er tidak salah,.. mengapa tidak biarkan dia bercerita..?"
ucap Mo Zi sambil tersenyum penuh pengertian.
"Tidak Guru,..di sini masih ada kakak senior pertama dan kakak senior kedua, yang memberi penjelasan.."
"Bagaimana pun dan apapun ceritanya, belum bergilir hingga kami buka suara.."
"Sekali lagi maaf guru,..Yun er permisi.."
ucap Guo Yun memberi hormat.
Lalu dia menowel tangan Li Ba, memberi kode agar Li Ba mengikutinya meninggalkan tempat tersebut.
Melihat ekspresi serius Guo Yun, Li Ba tidak berani banyak bantah.
__ADS_1
Setelah ikut memberi hormat, Li Ba pun buru-buru mengikuti Guo Yun meninggalkan tempat itu.