
Bentakan Cui Ming Koai Jen, tidak membuat Cu Cu surut, dia malah maju menghadang di belakang punggung Suaminya dan berkata,
"Urusan seperti itu, kakek haris ku bilang berapa kali.."
"Mengapa tidak juga mengerti.."
"Hal seperti itu bukan kami mau langsung punya.."
"Juga bukan kami yang bisa tentukan, anak laki atau perempuan.."
"Ini adalah terakhir kalinya aku ingatkan kembali.."
"Bila kakek masih tetap seperti ini, jangan salahkan kami."
"Bila kami benar benar akan pergi, bahkan Sin Yi pun kakek jangan harap bisa lihat dan gendong lagi..!"
Bentak Cu Cu tidak mau kalah.
"Kau...!"
Bentak Cui Ming Koai Jen sambil melotot marah.
jarinya yang menunjuk Cu Cu sampai terlihat gemetaran, saking emosinya.
Bila di hadapan nya bukan cucu yang sangat di sayangi nya, pasti sudah dia jadikan bubur daging.
Tapi bagaimana marahnya dia, kakek itu tetap tidak bisa melakukan sesuatu menyakiti cucu kesayangannya itu.
Apalagi dia tahu persis sifat cucunya ini, dia berani bicara berani melakukan.
Bila terlalu memaksa, ada kemungkinan dia malah bisa kehilangan mereka semua.
Tentu saja Cui Ming Koai Jen tidak mau di hari tua jelang ajal cuma hidup berdua dengan si cebol yang bermulut besar itu.
Berpikir sampai di situ, Cui Ming Koai Jen akhirnya meninggal kan tempat itu sambil mendengus kesal.
Dia pindah duduk ke ujung bagian belakang perahu, sengaja' duduk menghadap kearah belakang.
Memunggungi Cu Cu, Li Kui, dan Guo Yun.
Dari pertengkaran tersebut, kini tahulah apa yang menjadi penyebab kedua kakek itu selalu mengincar adik ketiganya untuk di jadikan sasaran kemarahan.
Dalam hal ini, Guo Yun juga sadar dia sedikit banyak ada andil salahnya.
Bila dia tidak bawa bawa Li Kui dan Cu Cu, sebentar berperang sebentar ke timur, sebentar ke barat, lalu pindah ke selatan dan ke Utara.
Tentu Li Kui dan Cu Cu tidak mungkin jadi terlambat punya anak.
Berpikir sampai di situ Guo Yun pun berkata pelan, ke Li Kui.
Dia berbisik di telinga Li Kui.
Berbagi pengalaman cara dia mendapatkan anak laki ataupun perempuan.
Selesai menjelaskan Guo Yun pun berkata,
"Begitulah adik Kui, bila nanti kalian ada waktu, kamu boleh mencobanya."
"Tapi itu tidak jamin, semua tetap bergantung pada yang di atas, kalian banyak banyak berdoa saja.."
__ADS_1
ucap Guo Yun.
Setelah itu dia pun memisahkan diri, pergi ke bagian paling ujung depan kapal.
Guo Yun duduk santai seorang diri di anjungan kapal.
Dia membiarkan Li Kui dan isterinya untuk bebas berdiskusi sendiri.
Kehadiran nya di sana hanya akan membuat Li Kui sungkan dan Cu Cu merasa malu dan jengah.
Mereka berdua jadi kurang bebas bercerita dan membahasnya.
Sesuai dengan perkiraan Guo Yun, begitu dia pergi.
Cu Cu langsung bertanya dengan penuh penasaran.
"Suami ku, apa sih yang di bisikan kakak pertama pada mu.."
"Keliatan nya, serius sekali.."
ucap Cu Cu penasaran.
Li Kui dengan suara tertahan kemudian menjelaskannya, Cu Cu terlihat mendengarkan dengan serius.
Sesaat kemudian keduanya mulai terlihat saling berdiskusi dengan serius.
Sementara kapal terus melaju dengan cepat membelah samudra luas, menuju pulau neraka.
Setelah beberapa hari menempuh perjalanan, akhirnya wilayah yang tertutup kabut sepanjang tahun, mulai terlihat.
Itulah pertanda mereka hampir tiba di tempat yang mereka tuju.
Karena pulau neraka sendiri justru terletak di sebelah dalam kabut ini.
Guo Yun yang pagi itu sedang duduk di anjungan kapal bersama Sin Yi.
Segera berkata,
"Sin Yi hubungi ayah mu, katakan padanya pulau neraka sudah dekat.."
"Baik Ta Puo.."
ucap gadis itu cepat.
Ta Puo itu seperti panggilan untuk Uwak, atau kakak dari ayah, atau Tua Pek, kurang lebih seperti itu.
Setelah itu Sin Yi langsung berlari cepat menuju kebangunan bilik dalam, untuk mencari ayah ibunya yang sedang asyik tidur.
Karena setelah mendapatkan petunjuk dari Guo Yun.
Li Kui dan Cu Cu dalam 3 malam ini, dengan penuh semangat selalu mencoba dan mencobanya berulang ulang.
"Tok..tok..tok..tok..!"
"Ayah Ibu buka pintu..!"
"Bangun bangun..!"
"Pulau kita sudah dekat..!"
__ADS_1
teriak Sin Yi kecil dari luar pintu.
Li Kui yang bangun duluan, dia segera menyelimuti tubuh istrinya yang putih mulus tidur dalam posisi tengkurap, tanpa sehelai benangpun menempel di sana.
Setelah itu Li Kui dengan buru buru, mengenakan celana dan jubah luarnya, pergi buka pintu kamar.
Tapi dia langsung keluar tidak ijinkan Sin Yi masuk kamar.
Dia langsung mengajak putrinya bergegas pergi melihat keluar.
"Ayah,.. ibu kenapa tidak di bangunkan dan di ajak bersiap siap..?"
tanya anak kecil itu penasaran.
"Ibu mu terlalu lelah, semalam dia tidur kemalaman, jadi lebih baik jangan di ganggu."
"Lagian Ta Puo mu juga cuma butuh ayah saja.."
"Yuk kita cepat kedepan.."
ucap Li Kui berdalih.
Lalu menarik tangan putrinya mempercepat langkahnya keluar dari bilik kapal.
Sesaat kemudian Sin Yi terlihat asyik duduk sendiri, bermain dengan mainan mainan yang Guo Yun belikan untuk nya.
Sedangkan Li Ba terlihat sudah gantikan Li Kui mengendalikan arah kapal yang sedang bergerak mendekati kabut yang jaraknya sudah semakin dekat.
Saat tiba di depan wilayah berkabut, Li Kui mengendalikan perahu.
Sedangkan Guo Yun mulai menurunkan sauh kapal, dan menutup.layar kapal.
Agar kapal itu berhenti melaju, tidak sampai memasuki kabut, yang di dalamnya banyak gugusan karang tajam menghadang perjalanan kapal mereka yang besar dan kurang praktis.
"Adik Kui, ku rasa kita harus berpisah di sini, di ujung kapal ada perahu yang berukuran lebih kecil."
"Gunakan perahu akan lebih mudah melewati deretan karang tajam di dalam kabut sana.."
ucap Guo Yun sambil melangkah menghampiri Li Kui.
Li Kui menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Kakak yakin mau berangkat sendirian kesana,?"
"Kakak gak mau mampir sebentar ke tempat kami..?"
ucap Li Kui yang merasa sedikit berat harus kembali berpisah dengan kakak' nya.
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Aku sebaiknya tidak ganggu kalian dulu, sampai kalian bisa penuhi harapan kakek mu.."
"Bila tidak kehadiran ku, justru hanya akan membuat kalian canggung dan selalu kena marah oleh mereka berdua.."
ucap Guo Yun pelan.
Sejak pertengkaran terakhir kemaren, kedua kakek itu memilih bersembunyi di kamar mereka.
Mereka sedang kesal, tidak mau bicara, juga tidak mau bertegur sapa dengan Guo Yun Li Kui dan Cu Cu.
__ADS_1
Hanya Sin Yi seorang yang di ijinkan untuk masuk kedalam kamar kedua kakek aneh itu.
Jadi untuk urusan makan minum, gadis cilik itulah yang mengantarkan kedalam kamar kedua kakek itu.