LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
IKAN PANCA WARNA


__ADS_3

Guo Yun dalam pertarungan terakhir nya melawan Lu Bu Wei.


Pedang walet emas ditangannya patah hancur hingga ke gagang, terlepas dari pegangan tangannya.


Saat tubuhnya melayang keluar dari tebing merah, sebelum terjatuh kedalam Sungai kuning, yang berarus deras.


Guo Yun yang terluka parah dengan sisa kesadarannya, mencabut pedang, yang menancap di perutnya.


Tanpa memperdulikan darah, yang menyembur deras dari luka di perutnya.


Guo Yun sambil tersenyum sedih penuh penyesalan, dia membiarkan tubuhnya jatuh tertelan sungai kuning, yang berarus sangat kuat.


Dalam sekejap mata tubuh Guo Yun, sudah tenggelam hilang terbawa arus sungai.


Saat timbul kembali keatas permukaan air, Guo Yun yang masih sadar sepenuhnya.


Berusaha menjangkau apapun yang bisa dia raih, di atas sungai berarus deras itu.


Mungkin karena ajal Guo Yun belum tiba, langit masih memberinya kesempatan untuk tetap hidup.


Secara kebetulan Guo Yun berhasil meraih sebatang pohon, yang sedang hanyut di atas sungai.


Dengan memeluk batang pohon itu erat-erat, Guo Yun mengikuti arus sungai kuat itu membawa batang kayu dan dirinya pergi, kemanapun arus itu ingin pergi.


Guo Yun terus bertahan di atas kayu itu, membiarkan arus sungai menyeretnya, sambil mencoba memulihkan luka dalamnya.


Sedangkan luka sobek di perutnya, Guo Yun hanya bisa membiarkan air sungai yang dingin menghentikan pendarahan nya.


Setelah tenaganya sedikit pulih, Guo Yun membantu dengan memberikan beberapa totokan di sekitar perut.


Untuk membantu menghentikan pendarahan, selain itu setelah luka dalam nya sudah lebih stabil.


Dia juga menggunakan energi 9 langit, untuk membantu pemulihan luka tusuk tersebut.


3 hari 3 malam Guo Yun terapung apung dan terombang ambing di atas sungai kuning.


Hingga hari keempat pagi, antara sadar dan tidak, Guo Yun mendapati dirinya di bawa oleh arus yang deras, terseret menuju cabang dari sungai besar itu.


Cabang sungai yang menyeret Guo Yun, sedikit lebih besar mulut cabangnya.


Tapi setelah beberapa saat sungai menyempit, tapi arus semakin kencang tak terkendali.


Guo Yun terseret melewati deretan batu batu sungai besar, baik yang muncul kepermukaan air.


Maupun yang ada di bawah air.


Guo Yun yang kelaparan dan kedinginan, banyak kehabisan darah dan sedang terluka di bagian dalam tubuhnya.


Meski ingin, tapi dia sudah tidak memiliki tenaga, untuk mempertahan arah gerak kayu yang sedang di peluknya.


"Brakkkk..!"


"Brakkkk..!"


"Brakkkk..!"

__ADS_1


"Duaakkkk..!"


Duaakkkk..!"


Batang pohon itu terpental kesana kemari menghantam kearah deretan batu sungai.


Sedikit demi sedikit gelondongan kayu itu mulai hancur dan patah di sana sini.


Dalam satu hantaman terakhit yang sangat keras.


"Brakkkk..!"


Gelondongan kayu itu, akhirnya tidak kuat lagi bertahan, gelondongan kayu tersebut akhirnya pecah hancur berantakan.


Guo Yun yang menyadari bahaya besar tersebut, dengan sisa tenaga, dia melepaskan pelukannya dari kayu tersebut


Membiarkan tubuhnya terseret air sungai, yang mirip arung jeram itu.


Terhempas kesana kemari, timbul tenggelam.


Akibat insiden tersebut, kepala Guo Yun berulang kali menghantam batu sungai, yang berderet deret disana.


Terutama batu yang tertutup di bawah air, darah mulai merembes keluar dari kepala Guo Yun.


Guo Yun akhirnya pingsan tidak sadarkan diri, membiarkan air sungai terus menyeretnya.


Tubuh Guo Yun timbul tenggelam, terseret air sungai yang deras.


Hingga tiba di penghujung sungai aliran arung jeram itu.


Tubuh Guo Yun yang pingsan, langsung melayang kebawah, mengikuti sebuah air terjun raksasa, jatuh dari ketinggian kebawah.


Hingga akhirnya tubuh Guo Yun, tercebur kesebuah kolam air terjun di bawah sana.


Saking tingginya tebing air terjun tersebut, meski kolam itu dasarnya sudah cukup dalam, tubuh Guo Yun yang meluncur deras terjun kedalam kolam.


Tetap saja tenggelam hingga kedasar, tanpa sengaja lagi lagi kepala belakang Guo Yun, kembali mengalami benturan keras.


Beberapa waktu kemudian, tubuh Guo Yun baru timbul kepermukaan, di dorong oleh arus air terjun, hingga tubuhnya nyangkut di bebatuan di pinggir kolam.


Menjelang tengah malam, di bawah penerangan sinar rembulan yang bersinar terang.


Guo Yun yang terbaring di bebatuan pinggir kolam, akhirnya terbatuk batuk dan memuntahkan sejumlah air dari mulutnya.


Paru parunya kembali bekerja, sehingga Guo Yun, bisa kembali bernafas dengan normal.


Jari tangan Guo Yun sedikit sedikit mulai bisa bergerak gerak, lalu di susul dengan sepasang pelupuk.matanya, mulai bisa terbuka kembali.


Guo Yun sambil berusaha bangun, dia sedikit berdesis menahan nyeri di bagian kepala dan perutnya.


"Aku di mana ini..?"


"Kenapa aku bisa ada di sini..?"


"Akhh,..! sakit sekali kepala ku.."

__ADS_1


"Apa yang terjadi? kenapa seluruh tubuh ku terluka parah..?"


"Siapa aku.?"


tanya Guo Yun dalam hati penuh kebingungan.


Sambil menahan nyeri, dia berusaha untuk bangkit dalam posisi duduk bersila.


Lalu dia mulai mengatur pernafasan, menggunakan tenaga sakti 9 langit, untuk mengobati luka dan menghentikan pendarahannya.


Menjelang sinar mentari pagi muncul menggantikan sinar rembulan.


Guo Yun baru perlahan-lahan membuka kembali matanya, mengedarkan pandangannya melihat kearah sekitarnya.


Guo Yun melihat dirinya ternyata ada di sebuah pinggir kolam besar, yang menampung jatuhnya air raksasa.


Selain kolam air terjun bebatuan sungai, hutan pohon Pinus dan pohon bambu, dengan bagian belakangnya di batasi oleh tebing tinggi dan curam.


Posisi Guo Yun bagaikan berada di dasar sebuah mangkok, yang di kelilingi oleh tebing tinggi.


Melihat keunikan tempat itu, seperti sebuah penjara alami bagi dirinya.


Guo Yun bergumam pada dirinya sendiri.


"Saat ini yang harus kulakukan adalah bertahan hidup dulu.."


"Hal lainnya nanti di pikirkan pelan pelan batin Guo Yun."


Guo Yun mencoba membuat dua buah tombak dari bambu runcing.


Setelah itu dia mulai menelusuri, aliran sungai kecil, yang berasal dari kolam air terjun.


Dengan mengikuti aliran sungai kecil, Guo Yun mencari ikan, untuk mengisi perutnya yang lapar.


Di aliran sungai dangkal berair jernih, Guo Yun banyak menemukan ikan panca warna.


Ikan itu berenang kesana kemari, terlihat jinak tidak takut terhadap kehadiran manusia.


Guo Yun memilih ikan dengan ukuran cukup besar, dia menombak dua ekor ikan itu tanpa kesulitan.


Lalu dia mulai mengumpulkan daun dan ranting kering, untuk membuat api.


Setelah api unggun tercipta, Guo Yun mulai bakar ikan untuk mengisi perutnya yang luar biasa laparnya.


Setelah ikan matang Guo Yun menghabiskan dua ekor ikan, yang dagingnya sangat gurih dan lezat itu.


Setelah habis dua, Guo Yun masih merasa kurang, dia menangkap dua lagi, untuk di bakar.


Setelah menghabiskan 4 ekor ikan panca warna besar.


Guo Yun merasa tubuhnya jauh lebih hangat dan segar sekarang.


Selesai makan, Guo Yun mulai mencari tanam tanaman, yang bisa dia gunakan untuk menyembuhkan luka di perut dan kepalanya.


Setelah di temukan, daun daun pahit itu di kunyah kunyah oleh Guo Yun, lalu di tempelkan ke sekujur lukanya.

__ADS_1


Setelah beres, Guo Yun kembali duduk bersila, lalu dia menggunakan tenaga saktinya, untuk membantu pemulihan kondisi luka nya."


__ADS_2