
Min Min langsung mencemberutkan bibirnya dan berkata,
"Ya..ya.. dia yang pertama, dia yang terbaik, semua orang juga tahu itu.."
"Hanya aku yang pelupa, maaf.."
Guo Yun tersenyum canggung sulit berkata kata, dia akhirnya memilih diam.
Lalu membantu menyumpitkan sayuran jamur, yang kini menjadi favorit baru selera makan Min Min.
Min Min perlahan-lahan kembali tersenyum dan berkata,
"Terhitung kamu masih ada sedikit nurani, masih ingat aku suka itu.."
Sepanjang perjamuan, istri Zhou Wei terlihat lebih banyak diam dan agak gugup.
Zhou Wei yang menyadari hal itu, akhirnya berbisik pelan.
"Sayang kamu kenapa ?"
"Apa kamu sedang kurang sehat..?"
"Ti..tidak..aku tidak apa-apa.."
"Aku hanya sedikit mules, aku permisi ke kamar kecil sebentar.."
"Sebentar aku baru bergabung kembali.."
Ucap istri Zhou Wei beralasan.
Zhou Wei mengangguk mengerti dan berkata,
"Pergilah, biar aku yang temani Yang Mulia di sini.."
Istri Zhou Wei mengangguk pelan, lalu dia memberi hormat kearah Guo Yun dan Min Min secara bergantian.
"Yang Mulia, maaf saya permisi sebentar,.."
Ucap Istri Zhou Wei sambil memberi hormat.
Guo Yun dan Min Min hanya mengangguk pelan, sambil tersenyum.
Mereka tidak berkata apapun, menanggapi permintaan istri Zhou Wei.
Istri Zhou Wei setelah memberi hormat, dia langsung permisi dari tempat itu.
Sepanjang perjamuan hingga berpisah Guo Yun dan Min Min sama sekali tidak berkata apapun, yang menyinggung tentang urusan rumah tangga Zhou Wei.
Mereka hanya ngobrol ngobrol ringan, tentang persiapan upacara sembahyang, yang sedang di persiapkan oleh Kasim Cao.
Tak lama kemudian rombongan Guo Yun dan rombongan Zhou Wei pun berpisah di depan restoran.
Guo Yun Min Min dan ketiga anak mereka, setelah berpisah dari Zhou Wei suami isteri.
Mereka langsung kembali ke istana, dalam perjalanan pulang Guo Yun berkata,
"Min Min sore ini, aku rencananya bersama Lie er dan Si Si, ingin pergi mengunjungi tepi sungai Han.."
"Aku ingin sembahyang di depan makam Zhang Yi, Zhou Tai, dan Ling Tong tiga saudara seperjuangan ku itu.."
"Kamu mau ikut tidak..?"
__ADS_1
Min Min merangkul mesra tangan suaminya dan berkata,
"Menurut mu bagaimana ? sebaiknya ikut atau jangan..?"
Guo Yun menoleh kearah Min Min dan berkata,
"Aku tidak akan memaksa, kamu mau ikut tentu aku gembira, tapi bila kamu tidak menginginkan nya.."
"Itu juga tidak apa-apa.."
Min Min membalas menatap Guo Yun dan berkata,
"Aku tentu saja ingin ikut menemani mu, tapi aku takut kedua istri mu yang lain tidak senang.."
"Terutama Li er mu itu.."
"Aku kurang nyaman dengan nya.."
Ucap Min Min berterus terang.
Guo Yun menghela nafas ringan dan berkata,
"Kamu jangan berpikir terlalu jauh, Li er itu memang sudah pembawaannya seperti itu.."
"Tapi aslinya orang nya baik, tapi kalau kamu kurang nyaman dengan nya.."
"Kamu bisa mengobrol dengan Si Si, kamu bisa coba belajar bersikap dari Si Si.."
"Dulu Li Er juga tidak menyukai Si Si, tapi kini kamu lihat mereka begitu akrab.."
"Kuncinya adalah,selalu berpikir positif, saling pengertian, saling menghargai dengan tulus..itu saja.."
"Aku tahu tidak mudah menjalaninya, yang penting kamu sudah berusaha.."
Ucap Guo Yun sambil merangkul lembut pundak istrinya.
Min Min mengangguk pelan, dan berkata,
"Baiklah aku akan mencoba menyesuaikan diri.."
Guo Yun tersenyum dan membelai kepala istrinya dengan lembut.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, menyusul anak anak yang berjalan duluan di depan sana.
Setelah kembali ke istana, tidak lama kemudian, Guo Yun dan ketiga istrinya menumpang di sebuah kereta yang di tarik oleh 4 ekor kuda, dikendarai oleh seorang kusir kereta.
Rombongan tersebut bergerak meninggalkan Ibukota Shoucun, dengan di kawal oleh puluhan pasukan elit pengawal istana.
Di dalam kereta terlihat Min Min memilih duduk di sebelah Si Si, menghadapi kearah Guo Yun.
Si Si menghadap kearah Gongsun Li.
Sedangkan Guo Yun duduk berdampingan dengan Gongsun Li.
Mereka berdua duduk, saling berhadap hadapan dengan Si Si dan Min Min.
"Li er apa kamu sudah kirim orang untuk mengundang keluarga Zhang, keluarga Ling dan keluarga Zhou ikut hadir di sana..?"
Tanya Guo Yun pelan.
"Sudah, mereka semua akan berkumpul dengan kita di sana.."
__ADS_1
"Kecuali Zhang Yun tentunya, karena dia sedang menjalankan misinya, ke kota Xian Yang.."
"Tapi istri dan anaknya, akan datang, mewakili nya."
Ucap Gongsun Li .
Guo Yun mengangguk, lalu dia menatap kearah Si Si dan berkata,
"Si Si selesai acara nanti, kamu mintalah, keluarga Ling dan keluarga Zhou tetap tinggal.."
"Aku ada urusan serius yang harus di bahas.."
"Keluarga Zhang selesai acara boleh pulung duluan.."
Ucap Guo Yun berpesan.
Gongsun Li dan Si Si saling pandang dengan heran.
Mereka tidak paham, apa yang sedang Guo Yun rencanakan.
Dalam hal ini, hanya Min Min yang bisa menduganya, tapi dia pilih diam karena itu bukan urusan nya.
Setelah menempuh perjalanan semalam suntuk, keesokan paginya, rombongan Guo Yun akhirnya tiba di tempat yang mereka tuju.
Guo Yun dan ketiga istrinya, setelah merapikan diri, mereka berempat buru buru menuruni kereta .
Di lokasi tepi sungai Han, di mana ada 3 makam sederhana, yang di bangun di sana.
Terlihat 3 keluarga besar, Zhang Zhou dan Ling, semuanya sudah hadir ditempat.
Mereka semua sudah bersiap di sana, untuk memulai prosesi sembahyang.
Hanya tinggal menunggu kehadiran Guo Yun, untuk membuka acara sembahyang tersebut.
Seluruh anggota ketiga keluarga, Zhang Zhou dan Ling langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Guo Yun.
"Semua nya berdirilah, mari kita mulai saja prosesi acara sembahyang nya.."
Ucap Guo Yun membuka acara prosesi tersebut.
Pendeta pendeta Tao, yang khusus di undang untuk membantu memimpin upacara sembahyang.
Segera memulai kegiatan doa mereka, untuk semua arwah penasaran yang gugur di lokasi tersebut.
Acara berjalan dengan penuh khidmat, setelah ritual doa selesai, satu persatu baru di persilahkan untuk maju melakukan sembahyang.
Guo Yun dan ketiga istrinya yang paling duluan maju kedepan.
Mereka berempat memberi hormat kearah makam Zhang Yi, Zhou Tai dan Ling Tong secara bergantian.
Secara bergantian, Guo Yun terlihat Menuangkan tiga gelas arak di masing masing makam Zhang Yi, Zhou Tai, dan Ling Tong .
Setelah itu dia baru menancapkan dupa di hadapan ketiga makam itu.
Guo Yun tidak berkata apapun, hanya sepasang matanya yang terlihat merah dan terus meneteskan air mata, membasahi wajahnya.
Saat dia berdiri termenung di hadapan makam ketiga teman seperjuangannya, yang paling setia itu.
"Kakak Zhang, Kakak Zhou, kakak Ling Budi besar kalian terhadap Guo Yun.."
"Guo Yun hanya bisa membalasnya di kehidupan berikutnya.."
__ADS_1
"Maafkan Guo Yun, yang bisa mengajak kalian turun gunung, tapi tidak bisa menjaga kalian dengan baik.."
Ucap Guo Yun penuh sesal di dalam hati dengan airmata bercucuran.