
Guo Yun dengan sikap tenang
berjalan keluar dari dalam pondok nya.
Dia menyapukan pandangannya menatap seorang prajurit harimau hitam yang sedang berlutut di depan pondoknya.
Dengan suara pelan Guo Yun berkata,
"Kamu berdirilah, tak perlu peradatan.."
"Katakan saja, siapa yang mengutus mu kemari..?"
"Ada keperluan apa kamu mencari ku hingga kemari..?"
Prajurit itu bangkit berdiri, dengan kepala tertunduk, kedua tangan menjura kedepan dia berkata,
"Lapor Yang Mulia, saya di utus oleh Jendral Zhang Yun.."
"Khusus untuk menyampaikan surat cepat rahasia dari Gui Ji.."
Ucap Prajurit itu sambil menyerahkan sebuah tabung bambu kecil ke hadapan Guo Yun.
Guo Yun dengan alis sedikit berkerut, dia berpikir dan menerka mereka kabar berita penting apa dari Gui Ji.
Apa kabar bahwa pasukan Qin kembali datang menyerang, pikir Guo Yun dalam hati.
Sambil menerima tabung kecil itu dari tangan prajurit itu.
Setelah menerima tabung tersebut, Guo Yun tidak langsung membacanya.
Melainkan berkata pelan,
"Terimakasih kamu telah berusaha kemari.."
"Tolong sampaikan salam terimakasih ku pada Zhang Yun.."
"Kamu boleh kembali ke markas mu sekarang.."
Prajurit itu mengangguk cepat dan berkata,
"Siap Yang Mulia.."
Setelah memberi hormat sekali lagi, dia segera mengundurkan diri dari hadapan Guo Yun.
Guo Yun menunggu hingga prajurit itu pergi dari sana.
Dia baru membuka tutup tabung yang tersegel lilin.
Setelah itu dia baru mengeluarkan isi surat dan membaca isinya.
Begitu gulungan kertas kecil di rentangkan.
Melihat tulisan kecil rapi dan indah itu, Guo Yun langsung mengenalinya.
Itulah tulisan Gongsun Li istri pertamanya.
"Yun ke ke kamu di mana..?"
"Segeralah kembali..?"
"Ada laporan gawat darurat dari Bei Qi, pasukan Qin sudah mulai bergerak dari jalan Lang Ya, mendekati perbatasan kita.."
"Dari sisi laut timur dan selatan, pasukan air Qin, juga terlihat sedang mendekati pelabuhan Wu Hui dan pelabuhan Wu Jun.."
__ADS_1
Membaca isi surat tersebut Guo Yun sedikit tertegun.
Meski dari awal dia sudah menduganya.
Setelah mengirim wabah, Qin pasti akan datang menyerang.
Tapi dia benar benar tidak menyangka secepat ini, mereka datangnya.
Guo Yun meremas kertas surat di tangan nya dengan geram hingga hancur menjadi tepung.
Guo Yun dengan wajah geram bergumam sendiri,
"Kamu menginginkan nya, aku akan melayani mu hingga tuntas.."
"Kelihatannya bila tidak memberi mu pelajaran keras, kamu tidak akan pernah mengenal kata menyerah..'
"Sekali ini berani datang, jangan pernah berharap kamu bisa kembali.."
Geram Guo Yun sebelum kembali masuk kedalam pondoknya.
Saat Guo Yun masuk kedalam pondok tiba tiba terdengar suara dari dalam kamarnya.
"Yun ke ke,..! Yun ke ke ..!"
"Kamu dimana ? jangan tinggalkan aku dan anak anak kita..!"
"Yun ke ke..!"
Mendengar suara itu, Guo Yun buru buru bergegas masuk kedalam kamar nya.
Saat masuk kedalam kamar, Guo Yun melihat Min Min baru saja bangun dari tidurnya.
Dia terduduk diam di sana, dengan wajah pucat ketakutan, keringat terlihat membasahi wajah dan leher nya.
"Istriku aku di sini, jangan takut.."
"Kamu kenapa sayang .?"
Tanya Guo Yun lembut sambil menarik Min Min masuk kedalam pelukannya.
Min Min langsung membalas merangkul punggung Guo Yun dengan erat dan berkata dengan suara sedikit terputus putus,
"Aku mimpi buruk Yun Ke ke, tapi semuanya terlihat begitu nyata.."
Guo Yun membelai kepala istrinya dengan lembut dan berkata,
"Itu cuma mimpi, tidak perlu ada yang di khawatirkan.."
"Kamu hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran.."
"Makanya jadi terbawa bawa kedalam mimpi.."
Min Min menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak Yun ke ke,.. aku tidak pernah bermimpi senyata ini.."
"Aku benar benar takut, berjanjilah jangan pernah tinggalkan kami.."
Ucap Min Min yang jelas terlihat masih khawatir.
Guo Yun mengangguk pelan dan berkata,
"Kamu jangan khawatir, aku janji, aku tidak akan pernah tinggalkan kalian semua.."
__ADS_1
"Sekarang kamu tenanglah dulu,.."
"Ini minumlah dulu,.. "
Ucap Guo Yun sambil memberikan ke Min Min, sebuah kantung kulit yang di simpan di dalam cincinnya.
Kantung kulit itu adalah tempat persediaan air bersih buat minum, bila berada dalam keadaan darurat.
Min Min menerimanya dan meminumnya beberapa teguk, setelah air dingin membasahi rongga mulut dan tenggorokannya yang kering.
Perlahan-lahan keadaan Min Min mulai tenang kembali.
Melihat Min Min sudah mulai tenang, Guo Yun menggunakan tangan nya membantu menaikkan anak rambut Min Min yang jatuh menutupi wajahnya.
Anak rambut itu dengan lembut Guo Yun selipkan di daun telinga Min Min.
Guo Yun tersenyum lembut menatap wajah istrinya, lalu berkata pelan,
"Nah sekarang kamu cerita lah.."
"Apa yang terjadi dalam mimpi mu.."
"Jangan takut, aku akan selalu ada untukmu.."
Ucap Guo Yun sambil menggenggam tangan Min Min dengan lembut.
Min Min menatap wajah suaminya lekat lekat, seolah olah mencari kepastian di sana
Setelah yakin dia baru memulai cerita nya,
"Aku tadi bermimpi di mana mana adalah mayat yang bertumpuk tumpuk."
"Darah mengalir seperti anak sungai, seluruh hamparan rumput luas yang harusnya berwarna hijau, malah terlihat berwarna merah terkena noda darah.."
"Diantara mayat mayat bertumpuk tumpuk dan berserakan, aku melihat satu persatu orang terdekat yang ku kenal, tumbang di bantai prajurit Qin.."
"Terakhir hanya tersisa Yun Ke ke seorang diri berjuang menghadapi pengepungan pasukan Qin yang sangat banyak."
"Di dalam mimpi itu, Yun ke ke terlihat bersimbah darah dan terlihat sudah sangat letih.."
"Hingga sekedar mengangkat senjata saja, tangan dan kedua lutut Yun ke ke terlihat gemetaran."
"Seperti setiap saat akan jatuh dan tidak akan kuat melanjutkan perlawanan lagi.."
"Terlihat berulang kali pasukan Qin nekad datang menyerang dari berbagai arah depan tombak panjang berkait mereka."
"Tapi serangan mereka, semuanya tidak ada berhasil mencapai tubuh Yun ke ke."
"Sebelum mereka berhasil mencapai sasaran, senjata mereka selalu tertangkis terpental menjauhi Yun ke ke."
"Tapi karena mereka terus menerus menyerang akhirnya mulai ada satu dua senjata yang mulai berhasil melukai Yun Ke ke."
"Seperti satu pertanda, begitu satu serangan berhasil.
Serangan lainnya pun susul menyusul melukai Yun Ke ke."
"Tiba tiba ada 3 batang anak panah yang datang menyerang Yun ke ke, di saat Yun ke ke sedang sibuk menghadapi serangan tombak dari para pengepung."
"Anak panah gelap itu, satu berhasil menancapkan di bahu, satu lagi di telapak tangan Yun ke ke yang memegang pedang.."
"Sehingga Yun ke ke kehilangan kemampuan mempertahankan pedang di tangan Yun ke ke.."
"Panah terakhir datang menancap di dada kiri Yun ke ke, setelah itu berturut-turut puluhan tombak datang menusuk tubuh Yun ke ke dari berbagai arah.."
__ADS_1
Ucap Min Min dengan sepasang mata terbelalak ketakutan.