LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
PETA DU KANG


__ADS_3

Ching Ke mengikuti arahan Ying Zheng, dia bangkit berdiri kemudian berkata,


"Yang Mulia Raja Qin, maksud tujuan kedatangan hamba adalah untuk mewakili Kerajaan Yan.."


"Menyerahkan kedua benda ini, sebagai wujud pernyataan tahluk kami kepada kerajaan Qin yang agung."


"Kotak di tangan kanan saya adalah berisi kepala Jendral penghianat dari Qin yang melarikan diri ke kerajaan kami.."


"Sedangkan gulungan peta ditangan kiri saya, adalah peta Wilayah Du Kang, yang akan kami serahkan kepada kerajaan Qin yang agung, untuk di kelola langsung kedepannya.."


Saat Ching Ke menyebutkan isi kotak itu adalah kepala Fan Wu Ji.


Di bagian barisan belakang kursi kebesaran Ying Zheng.


Terlihat seorang wanita yang sangat cantik dan berpakaian mewah layaknya putri putri istana.


Wanita itu yang bukan lain adalah istri Fan Wu Ji yang di rampas paksa oleh Ying Zheng dari Fan Wu Zi karena kecantikannya.


Wanita itu terlihat pucat, berdiri dengan tubuh gemetaran dan airmata berlinang bercucuran membasahi sepasang matanya yang indah.


Dengan bibir gemetar, wanita itu terus bergumam pelan,


"Maafkan aku suami ku..."


"Maafkan aku.."


Ying Zheng sendiri terlihat sangat senang dan berkata,


"Saudara Ching Ke bawakan kemari kedua barang itu..dan tunjukkan langsung ke saya.."


Ching Ke mengangguk patuh, lalu dia membawa kedua benda itu menaiki undakan anak tangga untuk mendekati Raja Ying Zheng yang duduk diatas sana.


Di singgasana kebesarannya, di batasi oleh sebuah meja kayu yang ada beberapa gulung laporan menteri menteri nya juga ada sebuah stempel giok.


Stempel kekuasaan nya sebagai pimpinan tertinggi di kerajaan Qin.


Tapi baru saja kaki Ching Ke menginjak undakan anak tangga pertama.


Terdengar suara pengawal di depan pintu istana berteriak,


"Yang Mulia perdana menteri tiba...!"


Mendengar teriakkan keras tersebut Ching Ke terpaksa menghentikan langkahnya.


Semua pejabat yang hadir di ruangan tersebut, langsung menjatuhkan diri berlutut menyembah kearah pintu.


Semua pasukan elite istana, yang berjaga di luar ruangan istana juga terlihat menjatuhkan diri berlutut.


Ying Zheng sendiri juga tanpa sadar bangkit dari tempat duduknya.


Berdiri menatap kearah pintu masuk ruangan utama istana dengan tatapan mata segan.


Dari arah pintu terlihat Lu Bu Wei berjalan masuk kedalam ruangan dengan langkah tergesa gesa.


Di kawal oleh Bai Qi dan keempat orang ajudan Bai Qi.

__ADS_1


Mereka mengikuti langkah Lu Bu Wei dari belakang berjalan mendekati kearah hadapan Raja Ying Zheng.


Lu Bu Wei hanya memberi hormat dengan mengangkat kedua tangannya yang terkepal saling bertaut keatas.


Sedangkan Bai Qi dan keempat Ajudannya, mereka hanya berdiri diam di tempat tak bergeming.


"Tak perlu peradatan perdana menteri.."


ucap Ying Zheng sambil mengibaskan tangannya menerima salam dari ayah angkatnya itu


"Katakan saja, kenapa perdana menteri datang menghadap secara tiba-tiba..?"


tanya Ying Zheng pelan.


Lu Bu Wei tanpa menghiraukan pertanyaan Ying Zheng, dia menatap tajam kearah Ching Ke dan berkata,


"Bai Qi geledah dia, sebelum dia mendekati yang Mulia.."


"Siap perdana menteri.."


jawab Bai Qi lantang.


Tanpa memperdulikan respon semua yang hadir di sana, termasuk raja Ying Zheng sekalipun.


Bai Qi langsung berjalan maju menggeledah seluruh tubuh Ching Ke dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Ching Ke bersikap tenang, tidak melakukan perlawanan sedikitpun.


Dia membiarkan Bai Qi menggeledah dirinya dengan sepuas hati.


Tapi sekali ini dia harus menangkap angin kosong, karena Ching Ke dengan gerakan gesit sudah menghindar.


Bai Qi yang tidak berhasil merasa malu, dia segera bergerak dengan sepasang cakarnya yang mengeluarkan cahaya kehijauan.


Ingin mencoba memaksa merebut kedua benda itu dari tangan Ching Ke.


Alhasil bukannya mendapatkan benda yang ingin dia rebut.


Sebuah tendangan Ching Ke mendarat tepat di ulu hati Bai Qi, sehingga membuat Jendral itu terpental mundur menabrak keempat ajudannya.


"Cukup,..!"


Bentak Ching Ke.


Dengan gagah dia menatap kearah Raja Qin dan berkata,


"Yang Mulia, kedua benda ini adalah tanda niat ketulusan kerajaan Yan terhadap Yang Mulia.."


"Kedua benda ini hanya boleh di terima oleh Yang Mulia sendiri.."


"Aku Ching Ke di sini meski berkorban nyawa, juga tidak akan biarkan dua benda titipan kerajaan Yan.."


"Di kotori oleh tangan manusia tidak jelas.."


ucap Ching Ke tajam.

__ADS_1


Melihat suasana menjadi tegang, Bai Qi yang kembali hendak maju bersama keempat Ajudannya.


Lu Bu Wei pun memberi tanda kode kearah Bai Qi dan bawahannya agar mundur.


Dia kemudian berkata,


"Baiklah silahkan antarkan langsung kehadapan Yang Mulia.."


"Letakkan saja barang mu di atas meja sana.."


ucap Lu Bu Wei tenang, sambil melangkah menaiki anak tangga.


Kemudian dia berdiri tepat di sisi Yimg Zheng, yang kini telah kembali duduk di kursi singasananya.


Ching Ke di dalam hati mulai meragu, dengan kemunculan Lu Bu Wei yang tiba tiba hadir mendampingi Ying Zheng.


Dia tidak dapat menebak kemampuan Lu Bu Wei yang sangat misterius ini.


Tapi dari sikapnya yang tenang dan kekuasaannya yang begitu besar, bahkan seperti melampaui Raja Qin sendiri.


Ching Ke sadar, orang ini tidak bisa di pandang remeh.


Tapi kini dia tidak punya pilihan, bila masih tidak cepat menjalankan rencananya.


Semua rencana yang sudah dia persiapkan dengan teliti dan rapi bisa hancur semuanya.


Dia tidak bisa berpikir banyak lagi, dia hanya bisa mempertaruhkan semuanya.


Lagipula apapun hasilnya, dia tidak akan pernah bisa keluar hidup hidup dari tempat ini.


Berpikir sampai di situ, Ching Ke segera kembali menaiki undakan anak tangga dengan langkah tenang.


Pertama dia meletakkan kotak kayu di tangan kanannya keatas meja.


Lalu dia membuka penutup kotak itu, yang langsung menampilkan kepala Fan Wu Ji di sana dengan sepasang mata terpejam.


Wanita cantik yang berdiri di belakang Ying Zheng, melihat wajah pria yang pernah mengisi hati dan hidupnya itu.


Kini kepalanya tergeletak di sana, dia hanya bisa menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan nya.


Berusaha menahan suara jeritan dan Isak tangisnya yang tak terbendung.


Airmata semakin mengucur deras dari sepasang matanya yang indah.


Tubuhnya terlihat gemetaran menahan kesedihan mendalam yang hanya bisa dia rasakan seorang diri.


Saking sedih dan berduka nya, akhirnya wanita itu pingsan tidak sadarkan diri.


Langsung di bawa oleh para dayang meninggalkan ruang sudang utama.


Kejadian itu tidak terlalu kentara dan menarik perhatian, karena kini semua orang sedang fokus dengan hadiah kedua.


Peta wilayah Du Kang yang sedang di gelar di atas meja, perlahan lahan di buka oleh Ching Ke sedikit demi sedikit.


Sambil menjelaskan kota kota di dalam peta Wilayah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2