
"Komandan Coa dengar perintah .!"
ucap Gongsun Li sambil menoleh kearah komandan Coa
"Siap Yang Mulia..!"
jawab komandan Coa maju kedepan.
Gongsun Li menatap komandan Coa dengan serius dan berkata cepat,
"Komandan Coa kamu pimpin sisa pasukan dari Shoucun untuk kembali berjaga di Shoucun.."
"Shoucun tidak boleh kosong, selama kami belum ada yang kembali.."
"Bertahanlah di dalam benteng apapun situasi nya, jangan pernah terpancing..!'
ucap Gongsun Li berpesan.
"Siap Yang Mulia, hamba akan ingat itu.."
"Orang ada, benteng ada, hamba mati hidup akan selalu bersama kota Shoucun.."
ucap Komandan Coa penuh tekad.
"Bagus segera laksanakan.."
ucap Gongsun Li.
Dia kemudian menoleh kearah Komandan Wang, ajudannya Zhang Yi.
"Komandan Wang dengar perintah, sisa pasukan tepi dermaga Yang Tze, segera kembali untuk pertahankan keamanan di sana..'
"Waspada dengan pergerakan Wang Jian dan Wang Ben putranya dari Gui Ji.."
"Gui Ji kini sudah jatuh ketangan Qin, jadi kalian harus lebih waspada.."
ucap Gongsun Li mengingatkan.
"Hamba tidak akan kecewakan harapan Yang Mulia.."
"Sekarang juga hamba pamit kembali ke tepi sungai Yang Tze.."
ucap Komandan Wang sambil memberi hormat.
Setelah itu dia segera menyusul komandan Coa meninggalkan tempat tersebut.
Gongsun Li sendiri setelah membagi tugas, dia menoleh kearah Si Si dan Liu Qin Lung.
"Kalian berdua berhati hatilah, sampai jumpa kembali, 3 hari kemudian di Shoucun.."
Selesai berkata, dia langsung memimpin pasukan berkuda nya melakukan pengejaran kearah barat.
Mengejar jejak kepergiannya Meng Yu.
Si Si dan Liu Qin Lung setelah menanggapi pesan Gongsun Li dengan anggukan kecil dan berkata Kakak juga jaga diri..
Mereka berdua segera bergerak melakukan pengejaran ke arah selatan dan Utara.
Liu Qin Lung mengejar kearah Utara di mana Meng Da pergi.
__ADS_1
Sedangkan Si Si mengejar kearah selatan di mana Meng Li pergi.
Mereka masing masing memimpin 50.000 pasukan bergerak menuju 3 arah berbeda jurusan.
Liu Qin Lung yang melakukan pengejaran kearah Utara, dia yang pertama kali berhasil menyusul rombongan Meng Da di hari kedua pengejarannya.
Meng Da dan barisannya sedang berkemah di atas sebuah dataran tinggi.
Liu Qin Lung yang sampai di tempat itu, dia tidak langsung memimpin pasukannya untuk mendaki keatas bukit itu, melakukan serangan frontal.
Dia lebih memilih untuk mengawasi dan mengamati situasi di sekitar dan situasi musuhnya yang bertahan di atas dataran tinggi sana.
Beberapa saat setelah mengawasi keadaan sekitar sana dan mendapatkan informasi keadaan geografis tempat itu.
Baik dari peta, maupun dari informasi mata mata yang dia kirimkan untuk melakukan pengamatan.
Dia segera menurunkan perintah untuk melakukan pengepungan di bawah bukit.
Liu Qin Lung sambil melakukan pengepungan di sekitar bukit, dia memimpin di barisan paling depan.
berdiri gagah di atas sebuah batu gunung besar, melakukan panggilan tantangan duel.
"Meng Da cucu kura kura..,!"
"Kamu dengar baik baik,..!*
"Kamu jangan hanya berani bersembunyi di atas sana..!:"
"Turunlah ke bawah sini, untuk menghadapi tantangan duel dari ku..!?"
"Wahai Meng Da cucu kura kura,..!"
teriak Liu Qin Lung dari atas batu besar itu.
Dia terlihat berdiri gagah diatas batu besar tersebut, sambil berkacak pinggang, menatap keatas bukit dengan mata setengah terpejam.
Karena sinar matahari yang menyilaukan mata, bersinar dengan sangat terik, menganggu penglihatannya.
Sinar matahari terik menyinari hampir seluruh area di sekitar Liu Qin Lung berdiri.
Sedangkan bagian pinggiran seluruh kaki bukit, yang terlindungi oleh pohon bambu, yang tumbuh subur di sekitar pinggiran sana, terlihat jauh lebih teduh dan sejuk.
Suara Liu Qin Lung yang keras, tentu saja terdengar hingga keatas bukit berbatu diatas puncak sana.
Meng Da tentu saja mendengarnya dengan jelas.
Dia segera menghampiri daerah pinggiran bukit berbatu, memunculkan kepalanya untuk melihat kearah Liu Qin Lung.
Sambil tersenyum licik dia berteriak dari balik batu.
"Hei marga Liu, kalau kamu punya kemampuan,!? kenapa tidak coba bawa pasukan mu naik keatas..!?"
"Aku jamin kami pasti akan menyambut kedatangan kalian dengan tangan terbuka..!"
"Ha..ha..ha..ha..!"
ucap Meng Da sambil tertawa mengejek, memancing emosi Liu Qin Lung.
Liu Qin Lung tentu juga tahu itu, dia tidak mungkin mau berbuat konyol.
__ADS_1
Memaksa pasukannya naik keatas puncak bukit berbatu, yang Medan untuk naiknya tidak lah mudah.
Bila dia memaksa, pasukannya bisa di hancurkan dengan mudah oleh Meng Da dan pasukannya, yang bersembunyi di atas sana.
"Meng Da si cucu kura kura,..!"
"Aku tidak akan naik keatas, aku akan menunggu mu sambil duduk di sini..!"
"Aku mau lihat kamu si cucu kura kura, bisa bertahan sampai kapan di atas bukit tandus tidak ada air itu..!?"
ucap Liu Qin Lung membalas sambil tersenyum sinis.
"Baiklah marga Liu, kalau begitu silahkan kamu tunggu sampai puas..!"
"Tapi jangan teriak teriak lagi, seperti orang kehilangan istri..!"
"Aku mau tidur dulu..!"
"Ha..ha..ha..ha..!"
Liu Qin Lung yang mendengar sindiran Meng Da, dia menggertakkan giginya dengan geram.
Karena ucapan Meng Da itu, secara tidak langsung justru mengenai luka hatinya yang masih basah.
Tapi Liu Qin Lung adalah orang yang cerdik pandai memilah milah mana kepentingan pribadi, mana kepentingan umum.
Dia selalu bisa menempatkan kepentingan umum dan pekerjaan diatas kepentingan pribadi nya.
Jadi meski dia sebenarnya sangat marah, dia tetap bersikap tenang.
Liu Qin Lung berdiri beberapa saat mengamati situasi, beberapa saat kemudian dia pun melompat turun dari atas batu besar itu.
Liu Qin Lung pergi memeriksa pasukannya, sekaligus menemui beberapa komandan pasukan nya.
Setelah menyampaikan apa yang harus mereka lakukan nanti.
Liu Qin Lung segera kembali lagi keatas batu besar di bawah bukit.
Dia duduk santai berselonjoran di sana, menunggu apa yang akan Meng Da lakukan.
Menjelang tengah hari, karena cuaca semakin panas, Liu Qin Lung pindah tiduran di bawah pohon bambu yang rindang dan sejuk.
Dia awalnya duduk duduk, kemudian saat ingin berbaring, dia sengaja melepaskan baju Zirah dan senjatanya.
Setelah itu dia pun tidur dengan lelap di bawah hembusan angin sepoi sepoi dari daun bambu yang rindang.
Melihat keadaan atasan mereka, bawahan nya pun satu persatu mulai menirunya.
Bahkan pasukan harimau hitam yang terkenal disipilin pun akhirnya ikut terbawa suasana.
Satu persatu mulai dari duduk duduk akhirnya ikut berbaring dan akhirnya tertidur.
Meng Da diatas bukit tandus, tentu berbeda suasana, dia dan pasukannya terlihat kepanasan hingga bermandi peluh.
Helm baja yang mereka kenakan diatas kepala sudah tidak terlihat lagi.
Helm itu panas di dalamnya hingga serasa bisa buat goreng telur.
Mereka sudah tidak sanggup mengenakan nya.
__ADS_1