LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
RENCANA SELANJUTNYA


__ADS_3

"Kejar cepat..!"


"Tangkap mereka jangan sampai lolos..!'


teriak Ying Zheng sambil menunjuk kearah kereta di atas lereng itu.


Xiao Li buru buru memacu kudanya, bergerak secepat mungkin, berusaha kabur dari kejaran pasukan berkuda Ying Zheng.


Kejar kejaran pun terjadi di puncak lereng sempit itu.


Gongsun Li di dalam kereta, terguncang kesana kemari, karena kereta nya di bawa berlari kencang oleh Xiao Li.


"Xiao Li apa yang terjadi..!?"


teriak Gongsun Li dari dalam kereta.


"Kakak berpegangan yang baik, mereka sedang mengejar kita..!"


teriak Xiao Li sambil terus memacu keretanya berusaha berlari secepat mungkin.


Saking cepatnya, saat melewati sebuah tikungan tajam, roda kereta sebelah kanan sampai keluar dari ruas jalan menggantung diudara.


Kereta yang miring membuat Gongsun Li di dalam kereta, sedikit menjerit kaget.


Dia meski sudah mencoba berpegangan, tetap saja terbanting kesana kemari.


Pasukan berkuda Qin, terus melakukan pengejaran, jarak diantara mereka semakin lama semakin dekat.


Tanpa memperdulikan teriakan dari para pengejar, yang memintanya berhenti.


Xiao Li terus memacu kudanya berlari secepat mungkin, mencoba menjaga jarak dengan para pengejarnya.


Panah mulai berhamburan di lepaskan oleh para pengejar.


"Hentikan jangan gunakan panah..!"


"Dasar idiot..!"


teriak Ying Zheng marah, melihat aksi pasukan nya.


Pasukan Qin buru buru menyimpan panah mereka.


Tidak jadi menggunakan panah, untuk menghentikan laju kereta.


Xiao Li bisa sedikit bernafas lega, saat panah panah yang berseliweran di sekitarnya tadi, kini telah berhenti.


Xiao Li kembali fokus memacu kudanya menjaga jarak dari para pengejarnya.


Jalan mulai menurun, kuda yang berpacu kedepan, mulai lepas kendali terdorong oleh berat kereta di belakang.


Xiao Li yang masih kecil, bukanlah kusir sejati, dia bukan kusir kereta dalam artian sebenarnya.


Dia hanya pernah sekedar bisa saja, karena sering merawat kuda dan kereta.


Kini dalam keadaan jalan menurun seperti ini, wajahnya langsung pucat, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.


Jalan menurun yang tadinya lurus kini membelok tajam kearah kiri.

__ADS_1


"Mati aku...!"


hanya teriakan itu yang sempat keluar dari mulut Xiao Li.


Sebelum kuda di depan berlari membelok tajam, kereta yang tak terkendali akhirnya terhempas keluar dari jalan.


Gongsun Li terlempar keluar dari dalam kereta, sambil berteriak histeris.


"Ahhhhhh,...!"


Sedangkan Xiao Li sambil memejamkan matanya dia pasrah mengikuti kuda dan kereta terjatuh kedalam jurang.


Pangeran Ying Zheng dan rombongannya yang mengejar sampai di sana.


Mereka semua hanya bisa terdiam di tepi jurang.


Melihat kereta berikut kuda terhempas kedalam jurang gelap, yang tertutup kabut dasarnya.


"Bangsat,...!"


"Sialan..! dasar bocah sialan..!"


umpat Ying Zheng mencak mencak, karena keinginannya tidak kesampaian.


Dengan wajah lesu, akhirnya dia memutar kudanya meninggalkan tempat itu.


Di ikuti oleh Li Sin dan Fan Sui, dan seluruh pasukan Qin tanpa berkata apa-apa, segera bergerak menyusul.


Setelah kembali ke ibukota Xian Yang, yang seolah olah tidak pernah ada kejadian apapun.


Di bantu oleh Li Sin dan Fan Sui mereka membantu menutupi segala sesuatunya dengan rapi.


Fan Sui dan Li Sin mengesekusi semua pengawal pelayan dan penjaga gedung itu.


Mengkambing hitamkan mereka sebagai pelaku kekacauan, yang terjadi di kediaman Guo Yun.


Selain itu mereka juga meniupkan kabar bahwa pelaku, hanya pura pura mabuk, yang sebenarnya terjadi.


Mereka menerima sogokan Xiang Yan dari Chu, yang sangat membenci Guo Yun.


Tidak berhasil menarget Guo Yun, Xiang Yan beralih menarget keluarganya.


Akhirnya kabar itu dengan cepat tersebar di seluruh Qin,. dengan cepat kabar burung berubah menjadi fakta.


Sedangkan Ying Zheng sendiri melanjutkan penobatannya, menggantikan ayahnya menjadi Raja Qin, dengan gelar Raja Shi.


Di tempat lain Guo Yun, yang sedang memimpin pasukan besarnya, yang kini telah mencapai 20.000 personil.


Dia bergerak memasuki kota Qufu dengan aman, tanpa perlawanan sama sekali dari pihak Qi.


Hal ini bukan karena Qi takut dengan pasukan Guo Yun, tapi lebih karena Qi segan berurusan dengan Han Song dan Qin.


Dimana negara itu, kini beraliansi dan mendukung pergerakan Guo Yun sepenuhnya, untuk membebaskan negar Lu dari kekuasaan mereka.


Qi sendiri juga sedang sibuk menghadapi gangguan dari negara Yan, selain itu Chu yang datang dari wilayah Wu Yue, juga sedang menanti kesempatan.


Setiap saat bisa saja datang menyerang mereka, mengambil kesempatan dalam kesempitan.

__ADS_1


Bila negara Qi terlibat perang dengan negara tetangganya.


Apa yang menjadi pertimbangan dan pikiran negara Qi.


Semuanya sudah dalam perhitungan Guo Yun.


Makanya dengan tenang, dia berani secara terang terangan, memimpin barisan besar nya, memasuki kota Qufu.


Guo Yun saat memasuki kota Qufu, harusnya dia merasa senang karena tujuannya telah tercapai.


Tapi wajah Guo Yun saat ini malah terlihat muram, dan seperti sedang menyimpan beban pikiran, yang sulit dia ungkapkan.


Perasaannya dari semalam sampai sekarang sangat tidak enak dan tidak bisa tenang.


Apa yang menjadi penyebabnya, dia tidak mengerti.


Guo Yun setelah membebaskan Raja Sian dan keluarganya dari tahanan.


Dia membawa mereka kembali ke istana.


Dalam perjalanan kembali ke istana, Guo Yun menceritakan semua yang terjadi pada pangeran Ji Ao, juga harapan dan cita cita pangeran tersebut.


Mendengar cerita Guo Yun, raja Sian dari Lu, hanya bisa menangis sedih, atas kepergian putra, yang tadinya dia persiapkan untuk menggantikan dirinya.


"Relakan lah, dia beristirahat dengan tenang di sana, jagalah kesehatan yang mulia, saat ini itu lah yang terpenting .."


"Karena setelah ini tugas yang menanti yang mulia, untuk menanganinya akan sangat banyak.."


ucap Guo Yun sambil menepuk pundak Raja Sian dengan lembut.


Raja Sian mengangguk sedih dan berkata,


"Terimakasih banyak Yun er, putra ku bisa mengenal mu, itu adalah suatu keberuntungan dalam hidupnya.."


"Sayangnya dia tidak punya nasib untuk menikmati dan melihat semua ini.."


ucap Raja Sian sedih bercampur kecewa.


Guo Yun menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak Yang Mulia, bila Yun er tidak berjodoh bertemu dengan pangeran Ji Ao yang bijak.."


"Yun er juga tidak mungkin punya prestasi seperti saat ini.."


"Bila bicara keberuntungan, Yun er lah, yang beruntung bertemu dengan pangeran Ji Ao..'


Raja Sian mengangguk tidak membantah lagi.


Dia menatap Guo Yun lekat lekat dan berkata,


"Lalu apa rencana Yun er selanjutnya, ? bagaimana bila Yun er tinggal di sini, aku akan mengangkat Yun er sebagai panglima tertinggi negara Lu.."


"Yun er boleh memimpin seluruh angkatan bersenjata negara Lu.."


Guo Yun menghela nafas panjang dan berkata,


"Aku setelah ini hanya berencana pergi mengunjungi guru ku Mo Zi.."

__ADS_1


"Setelah ini, karena aku masih terikat dengan Qin, istri dan kakak istri ku masih di tahan di sana.."


"Aku harus kembali ke Qin, membantunya menahlukkan Chu.."


__ADS_2