
Si Si hanya tersenyum menanggapi godaan Gongsun Li, dia tidak menanggapinya dengan serius.
Dia malah fokus mengemukakan rencananya, kepada dua orang di hadapannya.
Dia juga menerangkan secara terperinci, apa kira kira yang harus mereka masing masing lakukan dalam rencananya.
Sesaat kemudian mereka bertiga pun keluar dari dalam kamar masing masing bergerak kearah jurusan berbeda berbagi tugas.
Seperti yang di sampaikan oleh Liu Lau Puo, putranya Liu Qin Lung benar di turunkan jabatannya menjadi kepala bagian dapur.
Kini dia bahkan terlihat sedang turun tangan sendiri, memasak makan siang di sebuah kuali yang berukuran jauh dari normal.
Untuk mengaduk makanan di kuali yang begitu besar, bila tidak memilki tenaga yang besar jangan harap bisa mengaduknya.
Sudah pasti makanan itu bakal hangus gosong bagian tengah bawahnya.
Tapi Liu Qin Lung terlihat tanpa kesulitan mengaduknya, bahkan sesekali kuali yang super besar itu diangkat keatas dari tungku perapian.
Kemudian isi kuali dia lontarkan keudara, kemudian dia sambut kembali tanpa ada yang tertumpah sedikitpun.
Dengan cara ini adukan menjadi matang dengan merata dan lebih cepat matangnya.
Tapi tehnik ini bukan semua orang bisa lakukan, bagi yang tidak biasa.
Sudah pasti masakan di dalam kuali akan tumpah berantakan.
Liu Qin Lung ini dulunya, awal karirnya memang mengikuti Jendral Bai Qi sebagai juru masak.
Tapi Jendral Bai Qi yang kagum dengan bakatnya, setelah melihat pretasi Liu Qin Lung, yang berulang kali berhasil menyelematkan ransum perbekalan pasukan.
Saat Bagian perbekalan mereka di serang oleh lawan, Bai Qi kemudian mendidiknya langsung memberinya tanggung jawab mengurus keamanan bagian perbekalan.
Setelah sekian lama mengikuti Bai Qi, Bai Qi mulai menyerahkan berbagai tugas penahlukkan penting.
Semua berjalan dengan sangat lancar, Liu Qin Lung selalu berhasil menyelesaikan misi misi nya dengan sangat baik.
Untuk itu akhirnya Liu Qin Lung pangkatnya di naik kan oleh Bai Qi hingga dia menempati posisi Jendral.
Hingga Bai Qi meninggal dalam misinya di Medan perang, Jendral Liu Qin Lung di pindah tugaskan di bawah Meng Thian.
Dalam misi penahlukkan tepi sungai Han, Liu Qin Lung di perbantukan sebagai ajudan jenderal di bawah Meng Yu.
Berkat strategi yang di kemukakan oleh Liu Qin Lung, tepi sungai Han berhasil mereka tahlukkan.
Tapi saat menjalankan misi penahlukkan Shoucun, Liu Qin Lung sempat mengemukakan perbedaan pendapat nya dengan Meng Yu.
Menurut Liu Qin Lung, penahlukkan Shoucun harusnya menunggu bala bantuan dari perdana menteri Li Si.
__ADS_1
Karena dari informasi mata mat di Shoucun, Shoucun yang di jaga oleh Ling Tong dan Zhou Tai dua Jendral senior pasukan khusus hitam.
Mereka membawahi 200.000 pasukan, bila di tambah dengan bantuan penduduk sipil Shoucun, jumlah mereka mungkin mencapai 300.000.
Sedangkan pasukan pihak Qin di bawah Meng Yu cuma ada 150.000.
Ini adalah suatu misi yang mustahil, hanya pergi mengantar nyawa, menurut pendapat Liu Qin Lung.
Selain itu Liu Qin Lung juga mengemukakan alasannya tentang pasukan Qin yang sedang kelelahan setelah berperang di tepi sungai Han.
Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Shoucun, setidaknya butuh waktu 2 Minggu untuk beristirahat.
Tapi semua pendapat Liu Qin Lung di abaikan oleh Meng Yu yang tetap pada keputusannya, harus segera menahlukkan Shoucun.
Liu Qin Lung pun akhirnya tetap di berangkatkan bersama pasukannya dalam misi penahlukkan Shoucun.
Dan hasil yang terjadi sudah bisa di duga, Liu Qin Lung dan pasukannya gagal.
Meng Yu yang marah atas kegagalan tersebut, menuduh Liu Qin Lung sengaja bekerja setengah hati.
Mengacaukan semangat dan mental pasukan, jadi dia di jatuhi hukuman penurunan jabatan dan kembali bertugas di bagian dapur.
Meski sangat tidak puas, Liu Qin Lung terpaksa menerimanya.
Karena pasukan yang bertugas di dapur sedang di tarik ke barisan depan.
"Suiiitttt..!"
Sebuah anak panah yang membawa sepotong kertas, melesat cepat mengincar kearah wajah Liu Qin Lung.
Dengan sigap Liu Qin Lung menggunakan tangan kirinya untuk menangkap anak panah tersebut.
Liu Qin Lung dengan heran membuka lipatan kertas yang di bawa anak panah itu.
Sedangkan anak panahnya dia patahkan dan lemparkan kedalam tungku pembakaran.
"Putra ku, ayah menunggu mu, malam ini.."
"Hutan bambu diatas bukit batu, tidak bertemu tidak bubar.."
Hanya dua baris kalimat singkat itu saja di dalam kertas itu.
Liu Qin Lung tahu ayahnya tidak bisa baca tulis, tulisan yang begitu rapi dan indah pasti tulisan wanita.
Juga tidak mungkin tulisan istrinya, karena dia mengenali tulisan istrinya.
Tapi anak panah tadi, dia tentu sangat mengenalnya.
__ADS_1
Karena itu adalah anak panah kesayangan nya, sewaktu kecil, yang sengaja ayahnya buat khusus untuk nya.
Jadi dia tidak mungkin tidak mengenalinya.
Rasa rindu yang begitu besar yang selama ini dia tahan tahan. Karena terhalang karir dan tugas,
juga sebagai wujud balas Budi dia atas semua kebaikan Bai Qi senior sekaligus gurunya.
Kini seolah olah kalah terhapus kan oleh perasaan rindu yang memuncak terhadap ayah juga istrinya.
Liu Qin Lung meremas kertas tersebut melemparnya kedalam tungku api.
Dia kemudian menghapus air bening yang mengembang di sepasang mata nya.
"Ayah maafkan Lung Er yang tidak berbakti.."
"Maafkan Lung Er ayah.."
ucap Liu Qin Lung yang terlihat sedih dan menyesal.
Liu Qin Lung sesaat kemudian sudah kembali melanjutkan pekerjaannya.
Memindahkan hasil masakan nya ke beberapa baskom ukuran besar.
Setelah menyiapkan beberapa sendok besar di setiap baskom, Liu Qin Lung langsung membawa satu persatu baskom itu meninggal kan dapur.
Liu Qin Lung menjalankan semua tugas nya dengan baik tanpa keluhan.
Tidak terlihat sama sekali ada perubahan apapun pada dirinya.
Baru menjelang malam tiba, saat semua orang sedang asyik tidur di tenda masing masing.
Liu Qin Lung yang sudah hapal jadwal jaga dan patroli pasukan Qin, dengan mudah dia menghindari mereka.
Lalu dia diam diam kabur meninggalkan perkemahan, mendaki bukit berbatu, menuju hutan bambu di atas sana.
Saat tiba di tengah-tengah hutan bambu, Liu Qin Lung langsung menemukan seorang pria tua sedang berdiri memunggunginya.
Liu Qin Lung langsung mengenali perawakan pria tua itu sebagai ayahnya.
Dengan airmata bercucuran, Liu Qin Lung segera maju menghampiri orang tua yang sedang memunggunginya itu.
Liu Qin Lung langsung menjatuhkan diri berlutut di belakang orang tua itu dan berkata dengan suara serak,
"Ayah,.. putra mu yang tidak berbakti datang memberi hormat pada mu.."
Mendengar suara putranya di belakang sana Liu Lau Puo, dengan cepat memutar badannya, menghadap ke arah belakang.
__ADS_1