LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE

LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE
KECERDASAN LI SI


__ADS_3

Sesaat setelah bisa menguasai kembali ketenangannya, Perdana menteri Li Si menatap kearah Komandan pasukan pengawal barisan belakang itu dengan wajah serius,


"Katakan berapa jauh jarak mereka dari kita ? siapa yang memimpin di sana..?"


Tanya Perdana menteri Li Si serius.


Kurang lebih mungkin sekitar 100.000 personil, bila di lihat dari bendera yang mereka bawa, seharusnya di sana ada Li Ba dan istrinya, juga ada Zhang Yun putranya Zhang Yi yang tewas di tangan kita sebelumnya.


"Apa...!"


Jerit Perdana menteri Li Si kaget.


Hingga Komandan di hadapannya terlonjak kaget, dia menatap atasannya dengan heran.


Di dalam hati dia berpikir bukankah cuma lawan yang datang.


Apa yang harus di takuti, tinggal mempersiapkan barisan melakukan perlawanan.


Mengapa harus seperti itu, paling buruk kalah mati itu saja.


Namanya juga medan perang.


Dasar pejabat istana, politikus nyali kecil, nafsu dan ambisi besar.


Batin komandan Qin itu kurang puas.


Tapi semua itu tentu saja di dalam hati saja, dia tidak mungkin berani menunjukkan nya keluar.


Bila di keluarkan sudah pasti dia akan di seret pergi, dipenggal duluan, sebelum musuh tiba.


Piciknya politikus istana ini, dia tidak mungkin tidak tahu.


Karena dia juga bukan baru satu dua hari mengabdi di bawah mereka.


Perdana menteri Li Si akhirnya menyadari sikapnya yang kurang tepat.


Dia segera menutupinya dengan senyum ramah yang agak dipaksakan.


"Komandan Wing,..coba kamu jelaskan lagi, berapa jauh jarak mereka dari kita, mereka adalah jenis Pasukan divisi apa.?"


Tanya Perdana menteri Li Si mencoba bersikap setenang mungkin.


"Sekitar setengah Li, mereka semua adalah pasukan berkuda."


Jawab komandan itu apa adanya.


Perdana menteri Li Si sudah pasti jatuh terduduk, bila kedua tangannya tidak sedang memegang pinggiran kereta.


Bila bawahannya tidak berada di sana, Perdana menteri Li Si pasti sudah menepuk jidatnya sendiri.


Saking stresnya, keringat terlihat mengucur deras membasahi kening nya.


Li Si termenung memikirkan bagaimana baiknya, menghadapi kedatangan pasukan yang datang dari arah barat ini.


Dia tidak takut dengan Li Ba, dia justru sangat takut dengan Zhang Yun.

__ADS_1


Ayah Zhang Yun mati di tangan nya, bagaimana mungkin Zhang Yun mau mengampuninya.


Sekalipun dia bersembunyi dalam tanah, Zhang Yun pasti akan menggali dan menariknya keluar.


Zhang Yun pasti akan memberikan pembalasan setimpal, untuk menghilangkan sakit hati dan kebenciannya pada dirinya.


Li Si sampai tidak berani berpikir, hukuman seperti apa yang akan Zhang Yun berikan padanya.


Bila dia sampai terjatuh kedalam tangan Zhang Yun.


Setelah berpikir dan menimbang nimbang beberapa saat, Perdana menteri Li Si kembali menatap kearah komandan nya dengan serius dan berkata,


"Kamu kembali ke pos mu, kumpulkan semua pasukan pertahanan bagian belakang kita.."


"Barisan depan bentuk pasukan tameng dan tombak, jatuhkan kuda mereka."


"Barisan lapis dua, cari tempat tinggi, hujani mereka dengan panah."


"Jatuhkan mereka sebanyak mungkin, sebelum mereka berbenturan langsung dengan pasukan kita."


"Siap laksanakan perdana menteri.."


Jawab komandan Wing penuh hormat.


"Pergilah,.. semoga semua lancar.."


Ucap Perdana menteri Li Si, sambil memberi kode agar komandan itu boleh segera pergi dari sana.


Komandan Wing tanpa berani berayal, dia segera bangkit berdiri memberi hormat, lalu segera meninggalkan tempat itu.


Begitu Komandan tadi pergi, Perdana menteri Li Si langsung berkata kepada 4 pengawal setianya.


"Kalian berempat segera kawal aku, kita ambil jalan selatan, langsung ke tepi sungai Han.."


Ucap Perdana menteri Li Si cepat.


"Maaf Perdana menteri, jangan salahkan hamba banyak mulut.."


"Bila Perdana menteri ikut pergi dengan kami, lalu siapa yang akan memimpin dan mengatur pertempuran yang sedang berlangsung di sini..?"


Tanya salah satu komandan pengawal Perdana menteri Li Si ragu.


Perdana menteri Li Si hampir saja menempeleng komandan di hadapannya ini.


Tapi dia batal melakukannya, karena saat ini, keselamatannya justru sangat bergantung kepada mereka berempat ini.


Setelah menenangkan perasaan nya, Perdana menteri Li Si menghela nafas sedih dan berkata,


"Kalian pasti berpikir aku egois pergi menyelamatkan diri sendiri, meninggalkan pasukan kita yang sedang bertaruh nyawa ..bukan begitu ?"


"Hamba tidak berani..!"


Jawab keempat pengawalnya kompak, menjatuhkan diri berlutut dihadapan nya.


Bahkan salah satu diantara mereka yang melontarkan pertanyaan tadi, terlihat sedang menampar pipinya sendiri dengan keras dan berkata,

__ADS_1


"Maafkan hamba Perdana menteri, hamba lah yang terlalu banyak mulut."


"Plakkkk..! Plakkkk..! Plakkkk..!"


"Maafkan hamba yang bersikap kurang pantas.."


"Plakkkk..! Plakkkk..! Plakkkk..!"


Perdana menteri Li Si buru buru turun dari kereta mencegahnya, dan berkata dengan suara sedih.


"Komandan An kamu jangan seperti ini, ucapan mu tadi tidak sepenuhnya salah.."


"Tapi di sini aku mau beritahu kan ke kalian.."


"Baik di depan dan di belakang, komando militer sudah ku serahkan ke mereka, yang bertanggung jawab sebagai pimpinan pasukan.."


"Jadi hadir atau tidaknya aku di sini, hanya sebuah simbol pemberi semangat.."


"Tapi bila aku sampai terjadi sesuatu, maka buyarlah nasib seluruh pertempuran ini.."


"Maka alangkah lebih baik, bila saat ini, aku bersama kalian, mencoba mencari jalan mengundurkan diri dengan baik.."


"Bila berhasil, kalian bisa segera kembali, memimpin sisa pasukan kita, mundur dari pertempuran.


Menyelamatkan diri dengan jalur yang akan kita cari sekarang ini.."


Keempat pengawal itu langsung mengangguk haru, merasa bersalah dan menyesal telah berpikir yang tidak tidak terhadap atasan mereka.


Sedangkan Perdana menteri Li Si, di dalam hati, dia justru sedang menertawai kebodohan bawahannya, yang mau saja mendengarkan bualan kosongnya itu.


Begitulah kehebatan para politikus bila berbicara, mereka akan mempengaruhi orang yang mendengarkan ucapan mereka.


Merasa bahwa tindakan mereka sepenuhnya untuk kebaikan orang banyak.


Padahal aslinya, yang untung cuma dirinya sendiri, dia hanya meminjam tangan orang banyak untuk membantunya mencapai tujuan.


Menghancurkan tembok penghalang, menggunakan tinju orang lain, tanpa harus menggunakan tangan dirinya sendiri.


"Sudahlah kalian semua bangkitlah, kita harus bergerak cepat, sebelum semua usaha jadi sia sia ."


Ucap Perdana menteri Li Si yang pandai bersandiwara.


Sehingga terlihat begitu penuh perhatian baik dan sangat pengertian.


Keempat orang itu yang merasa ucapan Li Si sangat tepat dan beralasan.


Mereka dengan cepat segera mengawal kereta Li Si bergerak mengambil jalur selatan menuju tepi sungai Han.


Perdana menteri Li Si dan keempat pengawalnya, memacu kuda mereka masing masing dengan secepat mungkin, meninggalkan arena pertempuran.


Memasuki kawasan hutan sebelah selatan.


Saat keluar dari dalam hutan tersebut, mereka akhirnya berhasil tiba di tepi sungai Han.


Tapi Perdana menteri Li Si dan keempat pengawalnya segera terbelalak kaget.

__ADS_1


Melihat pemandangan di hadapan mereka itu.


__ADS_2