
Di pagi hari kedua, terlihat Li Ba di kawal oleh Jendral Lim dan Jendral Fu, dengan 150.000 pasukan harimau hitam berbaris rapi di belakang mereka.
Mereka kini berbaris rapi di depan pintu gerbang kota sebelah timur kota Xin Cheng.
Li Ba yang duduk gagah di atas punggung kudanya, berteriak keras,
"Hei yang bernama Bai Mao, harap keluar dari persembunyian, untuk menyambut tuan besar mu..!"
Bai Hu adalah harimau putih, kini oleh Li Ba di pelintir menjadi Bai Mao atau kucing putih.
Tentu saja tantangan ini amat sangat menghina Bai Hu.
Bai Hu yang mengawas secara diam diam di atas menara pengawas.
Dia mengamati kekuatan lawan sambil menyimpan amarahnya.
Setelah mengawasi beberapa saat, dia berkata,
"Benarkah mereka kemari, hanya bawa pasukan sebegitu saja..?'
"Apa itu seluruh kekuatan mereka ?"
tanya Bai Hu ke kepala bagian intelijen nya.
"Lapor Jendral, memang cuma segitu kekuatan mereka.."
"Itu adalah seluruh kekuatan mereka.."
ucap kepala bagian kepala intelijen nya menjawab cepat.
"Dasar sombong, bila tidak ku beri pelajaran, kamu akan pikir aku takut dengan mu.."
"Jendral Fei Jendral Yi kalian berdua ikut dengan ku, siapkan 200.000 personil ."
"Kita tunggu hingga mereka lelah berjemur disana..kita baru kesana memberikan pukulan dadakan.."
"Siap Jendral.."
jawab Jendral Fei dan Jendral Yi cepat.
Lalu kedua orang itu setelah memberi hormat mereka langsung pergi mengatur segala sesuatunya.
Setelah mengatur tugas ke Jendral Fei dan Jendral Yi, Bai Hu berpaling ke Jendral pembantunya yang lain dan berkata,
"Jendral Han kamu pimpin 100.000 pasukan kita, pertahankan kota ini baik baik selama kami tidak di tempat.."
"Siap Jendral.."
ucap Jendral Han sambil memberi hormat.
Setelah memberi pesan dan delegasi tugas, Bai Hu dengan sikap tenang kembali mengamati situasi di depan sana.
Li Ba kembali berteriak,
"Hei Bai Mao,..! mengapa kamu belum juga keluar menyambut tuan besar mu..!?"
"Jendral Lim Jendral Fu, kalian lihat, apa semua Jendral Qin begitu pengecut..'
"Hanya tahu bersembunyi..! bahkan kentut pun tidak berani bersuara..!"
"Ha..ha..ha..ha..!"
Ha..ha..ha..ha..!"
Ha..ha..ha..ha..!"
Susul menyusul terdengar suara tawa, Li Ba Jendral Lim dan Jendral Fu.
Bai Hu diatas sana terus mengepalkan sepasang tinjunya dan berkata pelan,
"Kalian tunggu saja, aku mau lihat kalian bisa sombong sampai kapan.."
Beberapa waktu berlalu, Li Ba kembali berteriak,
"Kelihatannya panggilan Bai Mao, terlalu baik untuk mu..!"
"Layaknya kamu cuma bisa di panggil Bai Kui.atau Bai Su..!"
Bai Kui adalah kura kura putih, sedangkan Bai Su adalah tikus putih.
Ini adalah ledekan yang di lontarkan oleh Li Ba, menanggapi sikap pasukan Qin yang terus diam tidak bergerak di dalam benteng Xin Cheng.
Untuk menambah keruh suasana, Jendral Lim dan Jendral Fu, mengeluarkan suara tawa keras.
Tapi Bai Hu benar benar kebal, dia sengaja pura pura tidak mendengarnya, meski hatinya panas.
"Hei anak kura kura, kelihatannya bapak mu tidak sia sia di usia tua menetaskan penerus kejayaan keluarga kura kura..!"
teriak Li Ba semakin jadi.
Sekarang hinaannya sudah sampai membawa bawa orang tua, mungkin sebentar lagi leluhur pun, akan di kurang ajari nya.
Mendengar hinaan ini, sepasang mata Bai Hu mencorong tajam, melihat kearah Li Ba dengan geram.
Dia hampir saja bergerak keluar menyerang Li Ba.
Tapi saat setengah jalan dia kembali menahan sabar dan berkata,
"Kita lihat saja, siapa yang akan tertawa.terakhir nanti."
Bai Hu kembali mengurungkan niatnya.
Dia kembali mengawasi apa yang sedang di lakukan oleh Li Ba.
"Jendral Lim Jendral Fu, kelihatannya mereka ketakutan hingga sakit perut dan mencret.."
"Sudah kita jangan membully dan menghabiskan air ludah kita, buat pengecut keturunan kura kura seperti mereka."
"Lebih baik kita bersantai duduk minum minum.."
ucap Li Ba sambil turun dari atas kudanya.
Dia memilih duduk sembarang di atas tanah
Lalu dia mulai minum air putih, tapi menggunakan kendi arak.
Jadi seakan akan dia sedang asyik minum arak meremehkan Lawan mereka.
Sesaat kemudian terlihat Li Ba dan kedua bawahan nya terlihat asyik minum sambil duduk diatas tanah
Begitu pula pasukan harimau hitam, mereka juga ikut duduk duduk minum air putih, yang pura pura nya itu adalah arak.
Matahari mulai naik semakin tinggi cuaca mulai semakin panas.
Terlihat pasukan harimau hitam dari posisi duduk, kini mereka malah tidur malang melintang di tanah.
Senjata senjata mereka di lepaskan begitu saja.
Saat matahari naik semakin tinggi, dimana Li Ba dan kedua Jendral nya semakin lengah, begitu pula pasukan mereka.
Diam diam atas perintah Bai Hu, jembatan penghubung mulai di turunkan.
Gerbang pun mulai di buka, pasukan Qin di bawah pimpinan Bai Hu, dan kedua jendral bawahan nya, mulai bergerak keluar dari benteng kota.
Dalam suatu pergerakan cepat dengan suara sorakan gegap gempita penuh semangat.
Bai Hu, jendral Fei Jendral Yi memimpin pasukan Qin bergerak cepat melakukan serangan mendadak kearah pasukan Harimau Hitam yang sedang tidak siap.
Melihat kemunculan pasukan Qin secara tiba-tiba.
Pasukan Harimau Hitam terlihat panik, Jendral Lim dan Jendral Fu juga panik.
Mereka buru buru berdiri dan meminta pasukan mereka bersiap menghadapi kedatangan pasukan musuh.
Li Ba sendiri langsung melesat kedepan dengan tinju petir ungu nya.
Menghalau pasukan Qin yang datang.
"Blaaaarrr..!"
Puluhan pasukan Qin yang berada di baris depan langsung terjengkang ke belakang terkena ledakan pukulan petir Li Ba.
"Pengecut, berani kalian mau curang,..!"
"Rasakan mampuslah..!"
teriak Li Ba, sambil berulang ulang melepaskan sepasang tinju petir ungunya.
"Blarrr..! Blarrr..! Blarrr..! Blarrr..!"
"Blarrr..! Blarrr..! Blarrr..! Blarrr..!"
"Blarrr..! Blarrr..! Blarrr..! Blarrr..!"
"Blarrr..! Blarrr..! Blarrr..! Blarrr..!"
Suara ledakan petir beruntun terus terdengar memekakkan telinga
Setiap tinju petir Li Ba meledak, pasti puluhan pasukan Qin tumbang dengan tubuh gosong.
Bahkan bila mereka terpental menimpa temannya, listrik di tubuh mereka akan menjalar ke teman mereka, secara berantai.
Tinju petir yang Li Ba lepaskan dalam sekejab sudah menewaskan ribuan orang pasukan Qin.
Melihat hal ini, Bai Hu menjadi semakin kesal.
Dia langsung melesat terbang kedepan dengan sepasang telapak tangan nya.
Di dorongkan kearah depan, memunculkan ratusan tapak awan menyerang kearah Li Ba.
Li Ba tidak menghindar, dia mengeluarkan ilmu pelindung Genta Emas nya.
Seluruh tubuh Li Ba di lindungi oleh cahaya Genta emas.
"Dunggg,..! "Dunggg,..! "Dunggg,..!"
"Dunggg,..! "Dunggg,..! "Dunggg,..!"
"Dunggg,..! "Dunggg,..! "Dunggg,..!"
"Dunggg,..! "Dunggg,..! "Dunggg,..!"
Saat tapak awan bertemu dengan perisai cahaya emas, menimbulkan suara memekakkan telinga.
Seperti lonceng sedang di pukul bertalu talu.
Li Ba sambil bertahan dari tapak awan Bai Hu, dia menunggu hingga Bai Hu mendekati nya.
__ADS_1
Dia baru mendorong sepasang tinjunya keluar dari balik energi pelindung Genta Emas.
Menyambut kedatangan serangan sepasang tapak Bai Hu, yang di selimuti awan tipis bercahaya kemerahan.
"Booommm,...!"
Terjadi Ledakan dahsyat yang membuat siapapun yang berdiri dalam radius 1 Li dari mereka berdua akan terpental oleh daya ledak benturan kedua tenaga dahsyat itu.
Tubuh Li Ba terpental mundur menabrak kearah pasukannya sendiri yang sedang tidak siap hingga jatuh Tumpang tindih.
Sedangkan Bai Hu hanya terdorong mundur 3 langkah kebelakang oleh daya tolok kekuatan tinju petir Li Ba.
Li Ba setelah bangun berdiri, berteriak,
"Mundur,..! mundur..! mundur semuanya..!"
Pasukan Harimau Hitam begitu mendengar perintah dari Li Ba.
Mereka terlihat berlari berhamburan meninggalkan tempat itu.
Jendral Lim dan Jendral Fu juga tidak terkecuali, mereka juga terlihat berlari mundur dengan panik.
Li Ba menyusul paling belakang, sambil terus menerus melepaskan tinju petir nya.
Untuk menghadang pasukan Qin tidak bisa mengejar mereka.
"Blaaaarrr..!"
"Blaaaarrr..!"
"Blaaaarrr..!"
Tapi berulang kali, Bai Hu lah yang selalu muncul dengan sepasang tapak awan merah.
Menyambut tinju petir ungu Li Ba, hal ini membuat Li Ba berulang kali terpental mundur tunggang langgang di buatnya.
Tapi sambil terpental mundur Li Ba bergerak melarikan diri menyusul kearah pasukannya.
Bila sudah dekat, dia akan berhenti, lalu melepaskan tinju petir ungu nya.
Mencegah pihak pasukan Qin tidak bisa mendekat.
Lalu dia akan kembali berhadapan dengan Bai Hu, yang selalu berhasil membuatnya terjengkang saat tinju dan tapak mereka berbenturan.
Untungnya Li Ba terlindung oleh ilmu pelindung tubuh Genta Emas, sehingga dia meski terbanting kesana kemari.
Dia selalu bisa bangun kembali, dalam keadaan selamat, tanpa kurang apapun.
Kejadian itu terus berulang, hingga pasukan Li Ba berhasil, menyelamatkan diri ke bukit burung hantu.
Mereka bertahan di tempat tempat terlindung menembakkan panah dari atas, sehingga pasukan pengejar Qin sulit menjangkau mereka.
Akhirnya Bai Hu hanya bisa memberi instruksi agar pasukan nya melakukan pengepungan saja di bawah bukit
Di atas bukit sana, Li Ba setelah kembali ke markasnya, dia marah besar.
Memaki maki habis kedua Jendral Lim dan Jendral Fu.
Kedua Jendral itu hanya bisa diam tertunduk tanpa berani berkata apapun.
Pasrah menerima kesialan mereka menjadi bulan bulanan caci maki sunah serapah Li Ba.
Setelah puas melampiaskan emosinya yang meledak ledak.
Li Ba mengusir, dengan melempar keduanya menggelinding keluar dari kemahnya.
Semua pasukan harimau hitam hanya bisa diam tidak ada yang berani bersuara, meski didalam hati mereka bersimpati kepada kedua jendral mereka.
Dan mengutuk aksi brutal Li Ba yang tidak masuk akal, tapi semua itu hanya berani mereka lakukan di dalam hati.
Tidak ada yang berani mengeluarkan unek unek di hati mereka.
Sementara itu, setelah mengusir Jendral alim dan Jendral Fu dengan kasar keluar dari kemahnya.
Li Ba mulai minum mabuk mabukan di dalam kemahnya.
Hingga menjelang tengah malam, Li Ba baru keluar dari kemahnya dalam kondisi mabuk.
Dia terlihat melangkah dengan tubuh sempoyongan sambil membawa guci arak di tangan.
Li Ba berteriak,
"Anjing Lim dan Anjing Fu di mana kalian..!?"
"Bangsattt ,..! cepat menggelinding kemari..!"
"Sebelum saya yang menyeret kalian kemari..!"
"Hikkks..! Hikkks..! Hikkks..!"
Teriak Li Ba seperti kesurupan, sambil terus menerus mengeluarkan suara cegukan tanpa henti.
Para pengawal yang berjaga di depan kemah Li Ba, buru buru berlari pergi memanggil Jendral Lim dan Jendral Fu datang menghadap.
Tak lama kemudian kedua Jendral sial itu dengan wajah pucat, berlari tergopoh-gopoh datang menghadap.
"Kami Jendral berdosa, datang menghadap tuan.."
"Mohon tuan sudi mengampuni kami.."
ucap Jendral Lim penuh hormat.
"Mana pengawal..!"
teriak Li Ba lagi.
"Siap tuan, kami di sini..!"
jawab 4 orang pengawal jaga dengan wajah pucat dan tubuh sedikit gemetaran.
"Bagus, ..! cepat ikat kedua anjing tak berguna ini, di tiang bendera sana..!"
"Cepat...!"
Bentak Li Ba dengan sepasang mata melotot lebar.
"Si...siap tuan.."
jawab keempat pengawal itu gugup.
Lalu dengan sikap canggung dan sungkan, mereka berempat menghampiri kedua jendral malang itu.
"Maaf jendral kami hanya menjalankan tugas.."
ucap salah satu pengawal itu sungkan.
Kedua Jendral itu tersenyum pahit dan berkata,
"Tidak apa-apa, jalankan saja tugas kalian.."
Jendral Lim dan Jendral Fu, dengan pasrah mengulurkan kedua tangannya untuk di ikat.
Keempat pengawal itu buru buru mengikat kedua tangan jendral itu.
Setelah nya, mereka berdua di bimbing untuk di ikat di tiang bendera depan kemah Li Ba.
Li Ba melihat proses di ikat nya kedua jendral itu, sambil terus menerus minum arak.
Setelah selesai dia baru berkata,
"Mana cambuk kuda ku..!?"
"Bawa kemari..!"
"Hikkks..! Hikkks..! Hikkks..!"
Bentak Li Ba sambil cegukan.
Keempat pengawal itu, salah satunya, buru buru berlari pergi mengambil barang yang di minta Li Ba.
Pengawal itu kemudian menyerahkan nya kepada Li Ba dengan tangan gemetaran.
"Kedinginan kamu,..dasar lembek..! minggir sana..!"
bentak Li Ba sambil merebut cambuk kuda dari kedua tangan pengawalnya.
Lalu dengan sekali dorong, pengawal itu langsung jatuh terjengkang kebelakang.
Li Ba kemudian dengan langkah sempoyongan, menghampiri kedua jendral nya yang terikat di tiang bendera.
"Pengawal,..! cepat lucuti baju mereka..!"
Bentak Li Ba.
Dua orang pengawal maju menghampiri kedua Jendral sial itu dan berkata,
"Maaf jendral,.. kami.."
"Lakukan saja, tidak apa-apa.."
jawab Jendral Fu sambil tersenyum pahit.
Kedua pengawal itu mengangguk cepat, lalu mereka mulai melucuti seragam militer kedua Jendral itu.
Kemudian baju luar mereka, di susul dengan baju dalam nya, sehingga kini tubuh bagian atas kedua Jendral itu terlihat polos.
"Dasar ba BI !... gentong nasi tak berguna,..! hanya tahu makan saja..!"
"Lihat lemak dan gajih kalian di mana mana..!"
tegur Li Ba sambil menarik narik lemak di bagian perut dan dada kedua Jendral Sial itu.
Kedua Jendral itu hanya bisa, berdesis sambil mengatupkan mulut rapat rapat menahan sakit.
Karena lemak daging dan kulit di tubuh mereka, di cengkram secara kasar dan di tarik tarik oleh Li Ba dengan sadis.
"Cetarrr..! Cetarrr..! Cetarrr..!"
Terdengar bunyi cambuk meledak ledak di udara, di gerak gerakan oleh tangan Li Ba.
Sebelum kemudian dengan sadis tanpa perasaan cambuk kuda di tangan Li Ba di lepaskan kearah tubuh kedua Jenderal malang itu.
"Cetarrr..! Cetarrr..! Cetarrr..!"
"Hufff,..!"
"Ahhhh...!"
__ADS_1
jerit tertahan keluar dari mulut kedua Jendral itu.
Saat cambuk kuda di tangan Li Ba, mulai di lecut kan, ke tubuh mereka.
"Cetarrr,..! aughh..! Cetarrr,..! Ahh!"
"Cetarrr,..! aughh..! Cetarrr,..! Ahh!"
"Cetarrr,..! aughh..! Cetarrr,..! Ahh!"
"Cetarrr,..! aughh..! Cetarrr,..! Ahh!"
Cambuk bertubi tubi di lepaskan, teriakan tertahan berulang kali juga selalu terdengar, mengiringi suara ledakan cambuk di tubuh kedua Jendral itu.
Para pengawal dan prajurit yang berjaga di sekitar sana, sebagian pada membuang muka.
Tidak tega melihat siksa yang di lakukan oleh Li Ba pada kedua Jendral nya.
Sebagian lagi yang bermental kuat, mencuri curi lihat adegan penyiksaan brutal itu.
Tapi setiap kali cambuk melecut dan meledak di tubuh kedua Jendral itu,
Ada yang sedikit tersentak tubuhnya, ada juga yang sedikit mengernyit ngeri.
Li Ba sendiri dengan sepasang mata melotot terus melakukan eksekusi itu seorang diri.
Kedua Jendral itu seluruh tubuh mereka, terutama bagian punggung sudah tidak karuan.
Ada garis darah beku, lalu pecah berdarah, hingga terbuka kulit dan dagingnya.
Bahkan ada beberapa bagian tulang putihnya terlihat.
Darah sudah membasahi seluruh tubuh, hingga celana abu abu yang mereka kenakan, pun kini berubah menjadi merah.
Saking tidak kuat lagi, keduanya pun pingsan tidak sadarkan diri.
Melihat mereka berdua diam pingsan tak bergerak.
Li Ba pun berkata,
"Dasar tak berguna, baru terkena cambuk kuda beberapa kali saja sudah pake acara Pingsan..!"
"Apalagi seperti saya yang menerima cambuk petir selama satu tahun lebih..!"
Teriak Li Ba tidak puas, sambil membuka bajunya sendiri.
Terlihat otot melingkar lingkar di tubuh Li Ba yang seperti seorang binaragawan.
Bagian pinggang kecil bagian atas lebar, membentuk segitiga sempurna.
Tapi di bagian punggungnya, justru terlihat bekas bekas luka malang melintang yang sangat banyak tak terhitung jumlahnya.
Ara prajurit harimau hitam menelan ludah mereka sendiri, ternyata jendral mereka yang satu ini.
Meski agak sedikit ekstrem, mirip orang gila, tapi dia tidak berbual ini adalah kenyataan.
Li Ba sambil mencak mencak tidak puas berkata,
"Siram dengan air..bangunkan mereka yang tidak berguna ini..!"
Para pengawal yang tidak berdaya menolak perintah dari Li Ba.
Mereka mengambil air untuk di siramkan ke wajah kedua Jendral itu.
Kedua Jendral itu sejenak gelagapan, saat wajah mereka disiram air.
Mereka pun kembali siuman dari pingsan.
Begitu siuman bunyi cambuk pun meledak ledak kembali, siksaan pun kembali berlanjut.
Hingga mereka berdua tidak kuat dan kembali pingsan.
Sekali ini untungnya guci arak di tangan Li Ba habis, sehingga dengan kesal dia membanting cambuknya keatas tanah.
"Siapapun tidak boleh melepaskan ikatan mereka,.. ! mengerti..!"
bentak Li Ba dengan suara keras.
"Mengerti..!"
jawab semua prajurit di sana dengan kompak.
Li Ba mengangguk puas, lalu dengan langkah sempoyongan, dia berjalan masuk kedalam kemahnya.
Melanjutkan minum minum seorang diri, hingga tertidur pulas di dalam kemah nya.
Hingga matahari naik tinggi, Li Ba baru terlihat berjalan keluar dari dalam kemah nya.
"Lepaskan mereka, bawa kemari..!"
bentak Li Ba keras.
Pengawal di sana, buru buru menjalankan perintah Li Ba, dengan tubuh dan tangan gemetar.
Lalu mereka memapah kedua jendral yang terlihat babak belur mengenaskan itu kehadapan Li Ba.
"Turunkan saja kebawah, jangan di papah.."
perintah Li Ba sadis tanpa perasaan.
Keempat pengawal itu, dengan gugup buru buru melepaskan pegangan mereka dari Jendral Lim dan Jendral Fu.
Begitu terlepas dari pegangan tangan mereka, Jendral Lim dan Fu langsung jatuh berlutut di hadapan Li Ba dengan kepala tertunduk.
"Apa kalian tahu salah ?"
tanya Li Ba dingin.
"Kami tahu salah dan kami menerimanya.."
ucap kedua Jendral itu dengan suara lemah.
"Bagus, ini obatnya,.. oles dan sembuhkan luka kalian ."
"Tiga hari kemudian, bila tidak bisa membawa kepala Bai Kui ( Kura kura putih ) itu kemari, lebih baik siapkan kepala kalian sebagai gantinya.."
ucap Li Ba tegas.
Kedua Jendral itu saling pandang dengan wajah pucat gemetaran.
Ini adalah suatu permintaan yang sangat tidak logis.
Bila mereka mampu, bahkan Li Ba sendiri tidak mampu sebagai pimpinan.
Makanya mereka semua bisa ada di sini, bila mampu mereka semua tidak perlu terkurung di bukit ini..
Bisa meloloskan diri dari kepungan aja sudah hebat, apalagi mau ambil kepala Bai Hu.
Itu adalah perintah konyol dan sangat mustahil.
Tapi tentu saja mereka tidak berani membantah, selain mengangguk patuh.
Karena menolak sama dengan cari penyakit, menggali lubang untuk diri sendiri.
"Baik tuan kami akan laksanakan.."
ucap kedua Jendral itu dengan wajah terpaksa
"Sudah enyahlah dari hadapan ku ."
ucap Li Ba seenak hati.
Lalu Li Ba kembali masuk kedalam kemahnya, meninggalkan kedua jendral itu.
Di mana mereka berdua harus di bantu di papah oleh bawahan mereka, baru bisa kembali istirahat di kemah mereka.
Sementara di bukit sana terjadi keributan, di bawah bukit sana, Bai Hu dan kedua Jendral nya, beberapa kali memimpin pasukan Qin mencoba menerobos keatas.
Tapi mereka selalu berhasil di pukul mundur oleh pasukan harimau hitam yang bersembunyi dan bertahan di atas bukit sana.
Setelah berulang kali gagal, akhirnya Bai Hu, memutuskan melakukan pengepungan dan bertahan saja, di bawah bukit.
Tepat tiga hari berlalu, terlihat Jendral Lim dan Jendral Fu yang sudah sembuh.
Mereka berdua datang ke kemah Li Ba, masing masing di kedua tangan mereka.
Mereka berdua Terlihat datang sambil membawa dua guci arak.
Melihat kedatangan kedua Jendral itu, pengawal penjaga segera masuk kedalam kemah Li Ba memberikan laporan.
"Lapor tuan, Jendral Lim dan Jendral Fu di luar sana mohon menghadap.."
"Apa tuan berkenan..?"
tanya pengawal yang memberi laporan ragu.
"Suruh mereka berdua masuk.."
ucap Li Ba santai.
Tak lama kemudian Jendral Lim dan Jendral Fu terlihat berjalan masuk dengan sikap tenang.
"Ada apa kalian kemari ? mengapa belum juga pergi ambil kepala Bai Kui itu kemari..?"
tanya Li Ba sambil menatap kearah mereka berdua dengan tajam.
Sambil tersenyum lebar, senatural mungkin Jendral Fu pun berkata,
"Kami datang khusus membawa ini, untuk minum bersama tuan."
"Kami ingin merayakan hari baik yang akan membawa kejayaan buat kita semuanya.."
"Ohh itu, boleh boleh.."
ucap Li Ba gembira.
"Bawakan kemari, ayo kita minum minum bersama, sebagai perayaan keberangkatan kalian ke Medan perang .."
ucap Li Ba bersemangat.
Kedua Jendral itu menyerahkan masing masing dua guci arak ke hadapan Li Ba.
Li Ba dengan rakus membuka salah satu tutup guci arak mendekatkan wajahnya menciumnya.
Lalu sambil tertawa gembira berkata,
"Ha..ha..ha..ha..! arak bagus,..! arak bagus..! selera kalian boleh juga..!"
__ADS_1
"Mari kita minum dan bersulang bersama.."
ucap Li Ba yang terlihat gembira dan sangat bersemangat.