
"Apa hukumnya bagi pejabat yang mencelakai bawahan nya sendiri..?"
tanya Guo Yun dingin.
"Yang Mulia hamba tahu salah, harap maafkan hamba Yang Mulia.."
ucap Tuan Coa sambil merangkapkan sepasang tangannya di depan wajahnya, memohon dengan penuh ketakutan.
Guo Yun tidak menanggapinya, dia tatap dengan wajah dingin berkata,
"Apa hukumnya bila pejabat memperkosa wanita..?"
Wajah Tuan Coa semakin pucat, keringat dingin membasahi punggungnya.
Meski Tuan Coa tidak berani menjawab, Guo Yun tetap bertanya.
"Apa hukumnya pejabat yang tidak setia pada kerajaan nya.."
Wajah Tuan Coa terlihat kaget, dia buru buru bangun menyembah kearah Guo Yun dan berkata,
"Yang Mulia ampun Yang Mulia, harap Yang Mulia memeriksa dengan teliti.."
"Hamba biar punya nyali naga, juga tidak berani tidak setia kepada kerajaan Yue.."
ucap Tuan Coa gugup.
Guo Yun tangannya membentuk cakar diarahkan ke arah pintu yang jaraknya cukup jauh.
"Brakkkk...!"
Pintu kamar roboh, sesosok tubuh terhisap kedalam.
Masuk kedalam cengkraman tangan Guo Yun.
Sosok yang terhisap masuk kedalam cengkraman tangan Guo Yun adalah A Fei.
A Fei yang lehernya berada di dalam cengkraman tangan Guo Yun.
Dia memegangi tangan Guo Yun dengan kedua tangannya, dia terlihat terus berusaha meronta-ronta dengan sepasang kaki tergantung diudara.
Matanya terbelalak, lidahnya terjulur keluar, dia terlihat kesulitan bernafas, karena tenggorokannya terkunci oleh cengkraman tangan Guo Yun.
Guo Yun melempar tubuh A Fei hingga terbanting persis di samping Tuan Coa.
"Brukkkk..!"
Tanpa menghiraukan suara jerit tertahan A Fei, Guo Yun kembali berkata,
"Apa hukumnya orang yang mencelakai adik sendiri dan adik ipar sendiri..?"
tanya Guo Yun sambil menatap tajam kearah tuan Coa.
"Ini ..anu...ringan hukum rajam pan tat 100 kali, berat penggal.."
jawab Tuan Coa ragu ragu.
Mendengar vonis yang di jatuhkan oleh tuan Coa pada dirinya.
A Fei langsung bangkit duduk dan berkata,
"Tuan Coa,.. bukannya ini ide mu, kenapa kini kesalahannya kamu lempar pada ku..?!"
Tuan Coa tidak bisa menjawab, dia hanya bisa tersenyum canggung tidak berdaya.
Guo Yun dengan wajah tetap dingin kembali bertanya,
"Apa hukumnya bagi orang yang melakukan perdagangan manusia..!?"
Seketika wajah A Fei langsung pucat, dia buru buru berkata,
"Tuan aku tidak melakukan itu, itu fitnah, aku hanya bertugas mengirim orang pergi mencari kerja di wilayah lain.."
"Ini semua legal menurut dia.."
ucap A Fei tanpa ragu menunjuk kearah Tuan Coa.
Tuan Coa langsung pucat ketakutan dan berkata,
"Kamu jangan fitnah, kapan aku pernah bilang legal,? mana buktinya..?"
"Tidak ada kan..?"
ucap Tuan Coa penuh kemenangan.
"Kau...!"
teriak A Fei emosi..
"Yang Mulia perdagangan manusia hukumnya penggal Yang Mulia.."
jawab Tuan Coa cepat.
Dia ingin cepat cepat agar A Fei saksi berbahaya ini, segera di lenyapkan.
Minimal kalaupun di hukum, dia hanya akan di hukum rajam Pan tat, setidaknya meski setengah mati, tapi nyawa kecilnya masih bisa tertolong.
Dengan harta simpanan nya selama ini, meski tidak jadi pejabat pun.
Dia masih bisa hidup enak pindah dengan ke negara tetangga.
Baru saja Tuan Coa selesai berkata.
Opas Wu terlihat datang menerobos masuk kedalam ruangan dengan wajah cemas.
Begitu melihat keadaan istrinya diatas ranjang sana, di tambah dengan kondisi penampilan tuan Coa yang seperti itu.
Amarah Opas Wu langsung meledak, tanpa banyak cakap, dia langsung menebaskan golok di tangan nya kearah leher Tuan Coa.
"Trangggg..!"
Golok di tangan tuan Coa patah menjadi beberapa potong, saat tertangkis oleh tangan kosong Guo Yun.
"Kamu tenanglah, istri mu tidak apa apa, hanya kaget saja, kalau tidak percaya, kamu boleh pergi bertanya pada istri mu ."
ucap Guo Yun tegas.
Opas Wu sedikit kaget melihat potongan gagang golok ditangan nya.
"Maaf tuan aku tadi terlalu terbawa emosi.."
"Terimakasih banyak, atas Budi baik tuan, terhadap kami suami istri.."
ucap Opas Wu sambil memberi hormat dengan tulus.
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Bila kamu mau berterimakasih, minta anak buah mu seret istri kesayangan nya kemari.."
"Setelah itu kamu boleh urus istri mu.."
ucap Guo Yun tegas.
"Siap tuan.."
ucap Opas Wu penuh hormat.
Dia lalu melangkah pergi meninggalkan kamar dengan langkah buru buru.
Sesaat kemudian, dia sudah kembali bersama beberapa bawahannya, menyeret seorang wanita cantik muda, yang pernah Guo Yun lihat duduk menghitung uang setoran dari A Fei.
Tuan Coa sedikit pucat dan berkeringat wajahnya, saat melihat kedatangan istri kesayangannya di bawa ketempat itu.
Opas Wu melempar wanita itu kehadapan Guo Yun dan berkata,
"Tuan inilah wanita kesayangan nya.."
Guo Yun mengangguk dan berkata singkat,
"Terimakasih.."
"Sama sama tuan.."
jawab Opas Wu penuh hormat,
Setelah itu dia buru-buru pergi menghampiri istrinya.
Melihat kedatangan suaminya, Siu Ning langsung menghambur kedalam pelukan suaminya.
Dia menangis sedih dalam pelukan suaminya.
Guo Yun tidak terlalu ambil perduli dengan pembicaraan suami istri, yang mejadi korban kebiadaban Tuan Coa dan A Fei.
Dia kembali fokus dengan tiga orang yang ada di hadapannya.
Guo Yun dengan wajah dingin menatap tuan Coa dan berkata,
"Apa hukumnya bagi yang menerima uang bagi hasil perdagangan manusia..!?"
Tuan Coa dengan tubuh gemetaran berkata,
"Penggal Yang Mulia.."
Opas Wu yang sedang menenangkan istrinya, yang sedang menangis sedih.
__ADS_1
Dia sedikit terhenyak, saat mendengar atasannya tuan Coa memanggil Guo Yun Yang Mulia.
Orang yang pantas di panggil dengan sebutan seperti itu, tentu hanya satu.
Dia menatap kearah Guo Yun dengan kaget, sesaat kemudian dia segera sadar.
Wajah itu, dia serasa pernah lihat lukisan wajah itu, di kamar kerja atasannya.
Opas Wu buru buru membimbing istrinya turun dari kasur, kemudian mereka berdua sambil berpelukan, memberi hormat kearah Guo Yun dan berkata,
"Terima salam hormat kami Yang Mulia, semoga Yang Mulia panjang umur dan sehat selalu."
Guo Yun mengulapkan tangannya dan berkata,
"Tak perlu peradatan, kalian berdirilah, bawa istri mu pulang.."
"Setelah itu baru kemari membantu ku.."
ucap Guo Yun singkat.
Opas Wu mengangguk cepat, setelah memberi hormat sekali lagi.
Dia segera memondong tubuh istrinya yang sebagian besar tubuhnya tertutup selimut, Dia berjalan dengan langkah buru buru meninggalkan tempat itu.
Guo Yun kembali menatap tajam kearah wanita cantik itu dan berkata,
"Kamu ceritakan dengan jujur semuanya, bila ada yang berani kamu tutup tutupi, aku jamin kamu akan menyesal pernah di lahirkan ke dunia ini.."
Suara dingin Guo Yun, ditambah aura dan wibawanya sebagai seorang raja.
Seketika membuat wanita cantik peliharaan Tuan Coa, nyalinya ciut.
Wajahnya langsung berubah pucat seperti kertas, dengan sepasang mata terlihat berkaca-kaca.
Dengan sikap takut takut dia menceritakan semua nya dari awal hingga akhir.
Bahkan di mana harta Tuan Coa di simpan juga dia ceritakan semua.
Dia juga menceritakan nama beberapa pejabat daerah lain, yang sering berhubungan dengan Tuan Coa.
Saat wanita itu menyebutkan Nama Han Wei dan Ying Wu di dalam nya ikut terlibat.
Sepasang mata Guo Yun langsung membelalak lebar.
"Maksud mu gubernur perbatasan Bei Qi Han Wei dan Si Qi Ying Wu..?"
tanya Guo Yun mencoba memastikan agar tidak salah dengar.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, dia menoleh kearah tuan Coa dengan wajah bingung.
Guo Yun ikut menoleh kearah tuan Coa dan berkata,
"Benarkah Gubernur Han dan Ying yang dia maksud."
Tuan Coa dengan wajah pucat pasi menganggukkan kepalanya,
"Setahu ku memang mereka berdua, tapi kami di sini biasanya melakukan setoran ke bupati Ding, selebihnya kami tidak tahu."
"Hanya saja menurut bupati Ding, dia dan bupati yang lainnya juga harus melaporkan ke gubernur Han, dan gubernur Ying."
Mendengar laporan ini kepala Guo Yun terasa berputar-putar sakit hingga mau meledak.
Han Wei dan Ying Wu adalah bawahan kepercayaannya yang ikut dengan dirinya berjuang dari nol.
Jasa mereka tidak kecil, tidak di tindak salah di tindak dia ada sedikit tidak tega.
Tapi urusan sudah kadung begini, bila tidak di tindak, cepat lambat kerajaan Yue pasti akan hancur di tangannya.
Setelah berpikir bolak balik Guo Yun akhirnya memutuskan, akan menindak tegas, siapapun yang terlibat tanpa terkecuali.
Masalah ini adalah masalah besar yang menyangkut kepentingan orang banyak.
Dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Setelah mengambil keputusan, Guo Yun langsung menoleh kearah Tuan Coa dan berkata,
"Kamu segera siapkan laporan tertulis.."
"Laporkan sebetulnya, juga siapa yang terlibat.."
"Semua yang mendatangkan keuntungan bagi mu, merugikan kerajaan Yue harus kamu buat laporannya.."
"Jangan sampai ada yang terlewatkan, ingat semua yang kamu laporkan dengan jujur akan saya ampuni.."
"Tapi bila di kemudian hari masih di temukan kesalahan yang lain, itu akan dianggap dosa baru, tidak akan bisa di ampuni lagi."
Ucapan Guo Yun membuat tuan Coa bersemangat kembali.
Tanpa berpikir lagi, dia langsung berteriak keras,
"Ya Tuan,.."
jawab seorang pelayan yang baru saja tiba di sana, dengan wajah takut takut.
"Asin segera siapkan peralatan tulis ku kemari..!"
ucap Tuan Coa cepat.
"Baik Tuan." jawab pelayan itu singkat kemudian segera berlalu dari sana.
Tak lama kemudian dia sudah kembali sambil membawa beberapa keperluan menulis, lengkap dengan sebuah meja kecil, untuk di letakkan di hadapan majikannya yang terlihat berantakan dan kacau.
Tuan Coa tidak sempat menghiraukan, apa yang menjadi pemikiran pelayannya.
Dia langsung sibuk menuliskan laporan yang panjangnya mencapai beberapa halaman, semua berisi dosanya, juga daftar nama siapa saja yang terlibat dalam kasus tersebut.
Selagi dia sedang sibuk menulis pengakuan dosa.
Opas Wu sudah hadir kembali kedalam ruangan tersebut.
Dia berdiri diam menunggu perintah dari Guo Yun.
Sedangkan Guo Yun sendiri terlihat duduk dengan tenang, sambil minum teh, menunggu hasil laporan dari Tuan Coa.
Tuan Coa setelah selesai menulis laporan, dia menghembuskan nafas lega
Dia terlihat membaca ulang hasil laporannya sekali lagi, bila ada yang kurang, dia langsung menambahkannya lagi.
Selesai membaca dan termenung beberapa waktu, akhirnya Tuan Coa, dengan wajah ketakutan merangkak kearah Guo Yun, untuk menyerahkan laporannya.
Guo Yun menerima laporan itu membacanya satu persatu, wajahnya terlihat sangat berduka dan bersusah hati.
Dia terus menggelengkan kepalanya dengan tatapan mata penuh kekecewaan.
Beberapa saat setelah selesai membaca laporan tuan Coa, Guo Yun pun berkata sambil menoleh kearah Opas Wu,
"Opas Wu,.."
"Siap Yang Mulia.."
jawab Opas Wu penuh hormat.
"Bawa dan penjarakan kedua orang ini, atur orang mu, untuk berjaga dengan baik.."
ucap Guo Yun tenang.
"Siap Yang Mulia.."
jawab Opas Wu singkat.
Dia kemudian memerintahkan beberapa anak buahnya untuk meringkus A Fei dan Tuan Coa untuk di kirim ke penjara.
Selagi Opas Wu sedang sibuk, Guo Yun kini melirik kearah wanita cantik yang masih berlutut di sana dengan wajah penuh ketakutan.
"Kamu, segera antarkan aku ke ruang penyimpanan harta suami mu.."
Wanita itu mengangguk dengan cepat, lalu dia terburu-buru bangkit berdiri, dan berjalan dengan langkah cepat.
Meninggalkan tempat tersebut, setelah melewati sebuah koridor panjang.
Dia berbelok masuk kedalam sebuah kamar, sekilas lihat kamar tersebut adalah kamar kerja sekaligus kamar baca privasi tuan Coa.
Wanita cantik itu dengan gerakan sangat familiar langsung menuju sebuah rak, yang berisi hiasan beberapa macam barang antik.
Dengan memutar sebuah pot bunga kecil, lemari itu pun berderak.
Kemudian terbagi menjadi dua, bergerak ke kiri dan ke kanan.
Di balik lemari terlihat ada sebuah dinding batu tebal.
Tapi saat wanita itu mendorongnya, dinding batu tebal itu dengan mudah bergeser kedalam.
Di balik dinding batu tebal terlihat bertumpuk tumpuk kotak uang perak dan emas juga barang barang perhiasan berharga simpanan tuan Coa.
Wanita itu berdiri diam disana setelah dia menunjukkan ruang penyimpanan harta suaminya.
Guo Yun memasukkan semua harta itu kedalam cincin penyimpanan nya.
Setelah menguras seluruh ruang harta yang isinya sangat banyak itu dengan cara ajaib.
Guo Yun menoleh kearah wanita itu dan berkata,
"Masih adakah ruangan penyimpanan harta yang lainnya..?"
__ADS_1
Wanita itu buru buru menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak ada lagi Yang Mulia, setahu hamba, semua harta ada di sini.."
"Opas Wu .."
panggil Guo Yun.
"Ya Yang Mulia.."
jawab Opas Wu cepat.
"Bawa dia dan masukkan ke penjara yang terpisah dari kedua orang tadi.."
"Yang Mulia harap ampuni saya, saya kan sudah bersikap menurut dan bekerja sama dengan baik.."
"Tolong ampuni hamba Yang Mulia, jangan penjarakan saya, saya di rumah masih ada ibu mertua buta dan bayi yang harus di urus..."
ucap wanita itu sambil berlutut dan menangis ketakutan.
Guo Yun menoleh kearah Opas Wu dan berkata,
"Benarkah yang dia katakan ?"
Opas Wu mengangguk dan berkata,
"Yang dia katakan semua nya benar, suaminya A Bun di celakai oleh Tuan Coa."
"Lalu dia di ambil mejadi istri muda Tuan Coa, dirumahnya memang masih ada anak kecil dan ibu mertua buta orang tua A Bun.."
"Di mana A Bun sekarang..?"
tanya Guo Yun dengan alis berkerut.
"A Bun beberapa bulan yang lalu, sudah di kirim oleh A Fei untuk kerja paksa di Lang Ya, wilayah kekuasaan kerajaan Qin."
ucap Opas Wu menjelaskan apa yang dia tahu.
Guo Yun menghela nafas panjang, lalu dia mengeluarkan sebuah peti kecil berisi sejumlah uang dan berkata,
"Bawalah ini, jadikan modal untuk berusaha dengan cara benar dan jujur, mengenal suami mu.."
"Aku akan mengirim orang mencarinya kembali, bila dia memang masih hidup."
ucap Guo Yun sambil meletakkan peti kecil itu di hadapan wanita cantik itu.
"Terimakasih Yang Mulia,.. terimakasih banyak.."
ucap Wanita itu sambil menangis gembira, dia sampai menyembah nyembah kearah Guo Yun, dengan sangat berterima kasih.
Guo Yun tidak menanggapinya, dia memberi kode agar Opas Wu dan anggotanya.
Ikut dengan nya meninggalkan tempat tersebut.
Dalam perjalanan meninggalkan tempat tersebut, Guo Yun berkata,
"Opas Wu, besok pagi kamu bantu siapkan beberapa personil mu ikut dengan kita."
"Kita akan berangkat menuju kota Pei.."
"Kamu bisa kan..?"
"Bisa,..bisa Yang Mulia, besok pagi kita akan berangkat kesana."
Kota Pei adalah kota setingkat kabupaten, yang membawahi puluhan kota kecil setingkat kota kecamatan, yang di pimpin oleh pejabat pejabat seperti Tuan Coa.
Kota Pei sendiri di pimpin oleh bupati Ding, yang merupakan atasan setingkat diatas tuan Coa.
Guo Yun berencana akan mulai menelusuri dari bawah hingga keatas, sambil mengumpulkan bukti sebanyak mungkin.
Baru akan di putuskan hukuman apa yang akan di terima seluruh pejabatnya nanti di ibukota Guiji.
Ibukota pusat kerajaan Wu Yue, yang terletak di daerah ujung selatan.
Selesai memberi pesan, Guo Yun pun berpisah jalan dengan Opas Wu.
Opas Wu langsung mengatur anggota yang di persiapkan untuk berangkat.
Mereka masing masing di ijinkan untuk pulang kerumah, melakukan persiapan menjelang berangkat besok.
Sedangkan sebagian lainnya, mereka di tugaskan oleh Opas Wu untuk menjaga penjara dan kediaman Tuan Coa yang sementara ini di segel.
Guo Yun sendiri setelah berpisah dari Opas Wu, dia mencari sebuah penginapan di kota itu untuk melewatkan malam.
Keesokan paginya, Guo Yun dan rombongan Opas Wu mereka langsung bergerak menuju kota Pei.
Mereka semua melakukan perjalanan cepat dengan menunggang kuda.
Guo Yun yang melihat sikap jujur Opas Wu, dia diam diam sudah mengatur rencana jabatan dan tugas yang akan di emban oleh Opas Wu kedepannya.
Makanya dia sengaja membawa Opas Wu untuk menyertainya dalam tugas pembersihan ini.
Guo Yun sendiri masih ragu, sampai sejauh mana tingkat kekacauan yang terjadi di dalam kerajaannya.
Siapa saja yang terlibat, sampai sejauh mana, dia masih harus terus menyelidikinya dari bawah hingga keatas.
Satu hal yang Guo Yun diam diam khawatirkan adalah orang orang di pusat pun jangan jangan ada yang terlibat.
Ketiga istrinya dan Li Ba, Guo Yun tidak khawatir, yang Guo Yun khawatir justru saudara saudara kepercayaan seperjuangannya itu.
Setelah Han Wei dan Ying Wu, Guo Yun tidak tahu kejutan siapa lagi yang daftar nama nya ikut terseret dalam pusaran kasus besar ini.
Guo Yun sadar semua ini pasti ulah Ying Zheng, dari Qin.
tapi dia tidak bisa menyalahkan Ying Zheng.
Karena internalnya yang lemah jadi Ying Zheng punya kesempatan itu.
Sementara Guo Yun sedang sibuk di daerah kekuasaan Han Wei dan Ying Wu.
Di kota Chen, Cai, Dan Yang, Xin, dan kota Shang Qiu.
Pedagang dari kerajaan Qin mulai mendirikan serikat usaha dagang mereka di kota kota tersebut.
Mereka mulai menyewa dan membeli tanah tanah kosong yang di tinggalkan oleh rakyat kerajaan Yue, yang telah pergi bekerja ke negara Qin.
Mereka juga menyewa dan membeli lahan lahan para pengusaha besar di kerajaan Yue, yang kini beralih profesi menjadi penyalur barang dagangan dari kerajaan Qin.
Penduduk kerajaan Qin mulai di kirim masuk kedalam kota kota perbatasan kerajaan Yue.
Mereka disana di pekerjakan oleh pengusaha besar kerajaan Qin, untuk menggarap lahan pertanian perkebunan dan pertambangan yang mereka beli dan sewa dari pemilik tanah.
Tentu saja dalam hal ini pengusaha kerajaan Qin memberikan bagi hasil ke pejabat kerajaan Yue.
Di mana para pejabat itu dengan senang hati menerima dan mendukung proyek proyek usaha dari pengusaha kerajaan Qin.
Karena mereka tanpa susah payah bekerja dan mengeluarkan modal investasi yang beresiko, mereka mendapatkan pembagian hasil 25% dari para pengusaha kerajaan Qin.
Bahkan di beberapa daerah yang sulit ditembus dengan program kerjasama itu, pihak pengusaha kerajaan Qin berani membagi hasil hingga 40%.
Hal ini tentu saja membuat langkah mereka berjalan dengan sangat mulus.
Setelah pengusaha mereka semakin besar dan kuat, mereka mulai merekrut pasukan bayaran setempat, maupun pasukan yang di kirim oleh kerajaan Qin.
Untuk membangun benteng benteng pertahanan kecil, dengan alasan untuk melindungi keamanan kelompok serikat dagang mereka.
Benteng benteng pertahanan ini semakin lama semakin besar dan kuat, bahkan hampir melampaui Kekuatan pertahanan wilayah kota perbatasan setempat.
Para pejabat kota setempat tidak merasa terganggu, meski terkadang di bawah sana sering terjadi bentrokan kecil, antara pasukan keamanan wilayah kerajaan Yue, dengan pasukan pelindung keamanan serikat dagang dari kerajaan Qin.
Hal ini karena pucuk pimpinan mereka, selalu di banjiri hadiah dan uang dari para pengusaha serikat dagang Qin.
Sehingga mereka selalu tutup mata, bahkan mereka tidak segan segan menghukum anak buah mereka sendiri.
Sehingga lambat laun pasukan kerajaan Yue semakin sedikit, sebagian besar dari pasukan kerajaan Yue mengundurkan diri,
mereka banyak yang pindah menjadi pasukan serikat dagang, yang pekerjaannya dan prestise nya, juga penghasilan nya, jauh lebih tinggi dari pasukan kerajaan Yue.
Di samping itu ajaran ajaran keagamaan yang terus menghembuskan ajaran, bahwa Ying Zheng adalah putra langit, anak tuhan yang di kirim oleh Tuhan, untuk memimpin umat manusia ke kehidupan yang jauh lebih baik, mulai berkembang dengan pesat.
Memasuki berbagai lapisan masyarakat, terutama masyarakat golongan tingkat bawah yang jumlahnya lebih banyak.
Para pemuka agama itu mulai membentuk kekuatan sendiri, untuk menganggu ketertiban, berusaha ingin menggulingkan pemerintahan yang Sah.
Hal ini semakin membuat kota kota perbatasan Wilayah Yue, hidup seperti kota dalam sekam bara api yang terus membara.
Kekacauan yang semakin membesar dan tidak sanggup lagi tertangani oleh pejabat setempat.
Mereka akhirnya mengirim kabar ke pusat, untuk meminta bantuan pasukan untuk penertiban pemberontakan rakyat.
Pusat yang berulang kali harus mengirim pasukan melawan rakyat sendiri, membuat kas negara perlahan lahan mulai terganggu.
Begitu pasukan pusat tiba, pemberontakan pun berhenti.
Begitu pasukan pusat mundur.
Mereka mulai kembali melakukan kerusuhan.
Kekacauan ini sungguh membuat pimpinan pusat dan para pimpinan pasukan Harimau Hitam jadi pusing tujuh keliling.
Pemborosan sumberdaya yang terus menerus, membuat kerajaan pusat mulai terpuruk dalam keadaan sulit bahan makanan.
Bahaya kelaparan mulai melanda rakyat beberapa wilayah di pusat sana .
__ADS_1
Di saat saat kekacauan inilah, utusan serikat dagang Qin datang ke pusat untuk menawarkan bantuan militer penertiban pemberontakan.