
Camelia akhirnya menghela nafas kecewa dan berkata,
"Mengapa kamu tiba tiba jadi pintar mencari alasan untuk menolak ku.."
"Kamu tahu aku membencinya.."
ucap Camelia kesal dengan bibir ditarik cemberut.
Tapi meski dia sedang kesal, di mata Attila dia tetap selalu terlihat cantik luar biasa.
Attila tidak berani berkata kata, takut salah bicara.
Dia hanya bisa menatap sepasang mata Camelia dengan lembut dan mesra.
Sesaat kemudian Camelia tertunduk dan berkata,
"Apa kamu sudah tidak cinta dan tidak sayang lagi dengan ku..?"
Belum selesai ucapan nya airmata nya sudah jatuh meleleh.
Attila menatap Camelia dengan ragu, ingin rasanya dia maju memeluknya.
Menenangkan dengan cara lama mengiyakan apapun permintaan gadis itu.
Tapi Attila tahu itu tidak benar, dia tidak boleh melakukan nya.
Bila dia lakukan, menuruti keinginan Camelia.
Dua hanya akan menyeret mereka kedalam pusaran duka yang lebih dalam lagi.
Saat itu siapa pun tidak akan bisa lolos lagi dari pusaran penuh penderitaan dan penyesalan itu.
Saat teringat ingauan Camelia semalam, juga surat surat keinginan nya, yang masih tersimpan rapi di dalam saku bajunya.
Attila akhirnya mengeraskan hati, dia menyentuh kedua pundak Camelia dengan lembut dan berkata,
"Camelia dengarkan aku, penolakan ku ini demi kebaikan mu.."
"Percayalah, bila kamu mau berpikir dengan tenang, kamu akan mengerti niat tulus ku.."
"Aku tidak takut katakan padamu, di dunia ini selain kamu, tidak akan ada wanita kedua yang aku cintai lagi.."
ucap Attila apa adanya.
Camelia tersenyum mendengarnya, perlahan-lahan dia mengangkat wajahnya sambil menghapus sisa air bening di wajahnya.
"Attila katakan pada ku, apa yang kamu suka dari ku.?"
Attila menatap mata Camelia dalam dalam dan berkata,
"Semuanya, senyum mu, tawa mu, cara bicara mu, manja mu, keras kepala mu, keteguhan perasaan mu, dan masih banyak hal lainnya yang tidak bisa kusebut kan satu persatu.."
"Pokoknya semua yang ada pada dirimu, diri mu yang apa adanya aku menyukai nya.."
ucap Attila sambil menatap Camelia dengan senyum tulus.
Di saat bersamaan di dalam batin Attila berkata,
"Termasuk kebohongan mu, termasuk semua kepura-puraan mu, termasuk penderitaan yang kami torehkan berulang kali di hati ku, aku tetap menyukai mu.."
Tentunya semua ini hanya muncul di dalam hati dan pikirannya, tidak akan mungkin terucapkan keluar olehnya.
Mendengar ucapan Attila, Camelia kembali tersenyum manis.
Dia masih terus saling beradu tatap dengan Attila, sesaat kemudian dia kembali bertanya,
"Attila apa yang membuat kamu tertarik dengan ku..?"
Attila menatap Camelia dan berkata,
"Bolehkah aku jawab nanti dalam perjalanan..?"
Camelia menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kamu harus jawab semua pertanyaan ku, aku baru mau berangkat."
Attila sudah terbiasa dengan sikap tunangannya yang keras kepala, tidak pakai aturan, selalu mau menang sendiri.
Tapi mau bagaimana lagi, dia terlalu mencintai Camelia, tidak bisa menolak semua keinginannya.
Akhirnya sambil menghela nafas pasrah Attila berkata,
"Baiklah Camelia, aku akan jawab sejujurnya.."
"Aku tidak punya alasan jelas mengapa aku bisa tertarik dengan mu.."
"Aku hanya tahu, apapun yang ada pada dirimu, semuanya aku tertarik..mungkin hanya itu.."
ucap Attila sesuai dengan apa yang dia tahu.
Camelia kembali tersenyum dan berkata,
"Attila sekarang katakan pada ku mengapa kamu selalu ingin berada di sisi ku..?"
Attila menghela nafas sabar dan berkata,
"Aku ingin menjaga, melindungi mu, aku tidak ingin ada yang membuat mu tidak bahagia.."
Camelia kembali mengangguk puas, dia menatap Attila dan berkata,
"Satu lagi ini pertanyaan terakhir, bila memuaskan, mulai saat ini aku akan patuh dan menurut padamu.."
"Aku akan ikut dengan mu, kemanapun kamu ingin pergi.."
ucap Camelia serius.
Attila tersenyum dan berkata,
"Aku tidak ingin itu, aku hanya ingin kamu menjadi diri mu sendiri.."
"Hidup dengan bahagia, itu sudah lebih dari cukup.."
"Attila mengapa kamu selalu begitu menggemaskan dan selalu membuatku ingin memeluk mu.."
ucap Camelia sambil tersenyum bahagia menatap Attila.
Attila tidak berkata apa-apa, dia memilih diam menatap kearah Camelia,. menunggu pertanyaan terakhir Camelia.
"Attila apa alasan yang membuat mu jatuh cinta pada ku..?"
tanya Camelia sambil menatap kearah mata Attila dengan lembut.
"Aku tidak punya alasan pasti, mungkin sepotong roti dan seguci air minum itu.."
"Aku juga tidak pasti, yang jelas bisa melihatmu tersenyum gembira dan bahagia, hati ku pun ikut bahagia dan bergembira."
ucap Attila sambil menatap kearah mata Camelia, penuh kejujuran dan kepolosan.
"Baiklah aku percaya padamu, ayo kita berangkat.."
ucap Camelia gembira sambil maju menggandeng tangan Attila.
Attila tersenyum dan berkata,
"Tidak bisa begini Camelia, kita harus bersiap-siap membersihkan diri, berpakaian rapi baru berangkat."
"Ehh ya, lihat aku terlalu bersemangat hingga lupa.."
ucap Camelia sambil tertawa.
Dia langsung berlari meninggalkan kemah Attila untuk kembali ke kemahnya sendiri.
Attila hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Camelia yang menggemaskan.
Di dalam hati Attila sedang berpikir bagaimana cara dia bisa tenang pergi dari sisi gadis itu tanpa ada kekhawatiran.
Dan bagaimana cara dia bisa melupakan nya perlahan-lahan, hingga bisa menemukan kembali dirinya sendiri yang dulu sebelum berdekatan dan mengenal Camelia.
Akhirnya Attila sambil menghela nafas panjang, dia juga ikut pergi meninggalkan kemahnya.
Pergi ke sungai kecil belakang kemah untuk membersihkan diri.
Beberapa waktu kemudian Camelia sudah terlihat duduk di dalam kereta nya, yang di kusiri oleh Attila sendiri.
Mereka mulai bergerak meninggalkan Han Gu Kuan, terus bergerak mengambil arah barat.
Guo Yun yang ikut dalam rombongan itu berada di barisan paling ujung.
Terlihat duduk santai bersandar di jeruji kayu yang mengurung nya.
Dia terlihat santai santai saja, tidak terlihat tertekan layaknya seorang tahanan.
Sepanjang perjalanan dia cukup menikmatinya, dia membuat dirinya merasa senyaman mungkin.
Saat cuaca panas terik dia akan berlatih hawa Im menjaga kondisi tubuh nya
Saat cuaca sedang dingin,.dia akan berlatih hawa Yang untuk menghangatkan tubuh nya.
Sepanjang perjalanan yang banyak melewati wilayah Padang pasir tandus dengan cuaca ekstrem.
Mau tidak mau Guo Yun harus mengandalkan hawa Im Yang di dalam tubuhnya untuk menjaga kestabilan kondisi nya.
Pancaran hawa Im Yang yang membuat daerah dia terkurung terasa selalu sejuk dan nyaman.
Membuat para penjaga yang bertugas menjaganya, justru sangat betah.
Mereka bisa beristirahat dengan tenang tanpa perlu khawatir dengan perubahan cuaca di sekitar mereka.
__ADS_1
Malam hari pemandangan langit yang berwarna warni seperti pelangi dengan jutaan bintang yang bersinar terang di angkasa, bagi Guo Yun itu adalah hiburan tersendiri yang tak terlupakan.
Ini adalah sebuah pengalaman baru baginya, dia bisa menikmatinya dengan tenang tanpa harus memikirkan segala macam urusan pemerintahan dan kerajaan yang bikin kepalanya pusing tujuh keliling.
Terkadang Guo Yun sedang berpikir, kapan dia bisa mengundurkan diri dari jabatannya.
Pergi keliling dunia dengan hati tenang dan pikiran ringan.
Tapi dia masih belum menemukan siapa pengganti dirinya yang paling cocok.
Sempat dia berpikir menyerahkan nya ke Zhongshan, tapi setelah kasus perbatasan, dia pun menjadi ragu ragu.
Tidak terasa akhirnya rombongan Attila tiba juga di kota Long Cheng.
Guo Yun yang melihat kemajuan kota itu di banding dulu dia pernah datang.
Diam diam Guo Yun semakin kagum dengan kepemimpinan Attila dan Camelia.
Dahulu dia datang kota ini yang megah adalah bangunan istana nya saja.
Tapi kini yang dia lihat, istananya masih mewah seperti dulu, tidak banyak perubahan.
Tapi bangunan tempat tinggal rakyatnya sekarang terlihat jauh lebih maju dan mewah.
Perdagangan terlihat sangat hidup, penduduk juga terlihat sangat ramai.
Ada satu hal yang menarik perhatian Guo Yun, yaitu saat dia melewati tempat kerumunan manusia yang sedang melakukan lelang budak.
Di mana pria dan wanita terlihat di taruh diatas sebuah mimbar untuk di lelang.
Pengunjung di bawah sana, bebas meneriakkan harga sesuai dengan kemampuan mereka bersaing untuk mendapatkan budak yang mereka inginkan.
Di antara para budak yang di perdagangkan, Guo Yun melihat di sana juga ada anak kecil, diantara mereka juga banyak yang berasal dari negerinya.
Guo Yun menatap dengan tidak puas, dia sebenarnya ingin pergi menolong mereka.
Tapi kondisi dirinya sendiri belum bebas, dia masih terikat dengan perjanjian nya dengan Attila.
Sehingga mau tidak mau Guo Yun harus menahan diri dengan sabar.
Untungnya tidak butuh waktu lama, Guo Yun sudah di bawa menuju istana.
Sehingga dia tidak perlu terus melihat pemandangan yang tidak dia sukai itu.
Setelah memasuki kawasan istana Guo Yun langsung di giring oleh pasukan Xiong Nu di bawah pimpinan Temusa menuju sebuah gedung yang masih terletak di dalam kawasan istana.
Hanya saja gedung itu mendapat penjagaan yang jauh lebih ketat.
Guo Yun di giring menuju sebuah kamar tahanan yang cukup baik dan layak untuk di tinggali.
Semua makan minum tersedia lengkap, kamar mandi dan kamar kecil.juga tersedia.
Satu satunya yang tidak di sediakan adalah kebebasan, Guo Yun tidak di ijinkan untuk bergerak bebas.
Dia tetap harus tinggal di ruangan tersebut tidak bisa kemana mana.
Untuk mengisi kegiatan nya, Guo Yun pun memanfaatkan waktu itu untuk berlatih.
Menganalisa pengalaman tarung terakhirnya melawan Attila.
Hingga suatu hari, Guo Yun diberikan pakaian mewah bahkan sempat di dandani, sebelum di bawa pergi menuju suatu tempat.
"Tuan Guo Yun, sesuai dengan pesan Yang Mulia Attila, Tuan Guo Yun terpaksa menunggu di sini."
"Sebelum ada kode dari Yang Mulia Attila, yang meminta Tuan Guo Yun keluar dari sini.."
"Tuan Guo Yun tidak boleh selangkah pun meninggalkan tempat ini.."
"Harap tuan Guo Yun bisa bekerja sama, dan tidak mempersulit kami dan Yang Mulia Attila.."
ucap Temusa berpesan pada Guo Yun dengan serius.
Guo Yun menanggapi nya dengan anggukan kepala.
Dia tidak mengerti apa keinginan dan kemauan Attila, dia hanya tahu yang jelas pasti ada hubungannya dengan Camelia.
Melihat tempat ini seperti sebuah bangunan tempat peristirahatan terakhir para raja.
Guo Yun menduga bangunan itu, kemungkinan dibuat khusus, sebagai tempat pemakaman para raja dan leluhur kerajaan Xiongnu.
Guo Yun yang tidak mengerti kemauan Attila, akhirnya dia pilih duduk diam dan melihat apa yang akan terjadi.
Kira kira vonis apa yang akan dia terima dari si gadis manja Camelia, yang pernah meludahinya.
Tidak butuh waktu lama, Camelia dan Attila terlihat saling bergandengan tangan mesra.
Mereka berdua muncul di sana sambil bergandengan tangan dengan mesra.
Lebih tepatnya Camelia lah yang merangkul lengan Attila dengan mesra.
Attila sendiri terlihat lebih banyak diam mendengarkan dan sesekali menanggapinya dengan singkat.
Kedua pasangan itu saat tiba di depan makam para leluhur Camelia.
Mereka berdua mulai mengikuti prosesi doa dan sembahyang sesuai dengan bacaan doa Agama kepercayaan mereka.
Selesai dari komplek makam leluhur, mereka berdua pun berpindah ke kompleks pemakaman yang lebih kecil.
Di sana terdapat makan Raja Chan Yu ayah Camelia, Raja Agahai kakak Amelia, dan terakhir makan Chan Kiev paman Camelia.
Attila dan Camelia mengikuti prosesi sembahyang dengan khidmat hingga selesai.
Setelah semua acara sembahyang selesai, Attila pun akhirnya buka suara.
"Semuanya kalian mundurlah dari sini.."
Temusa, Hanif, Hasan, kalian bantu aku sterilkan tempat ini.."
"Tanpa perintah ku, tidak ada yang boleh kemari.!"
ucap Attila tegas.
"Siap Yang Mulia.."
jawab ketiga mantan bawahan Agahai itu dengan sangat patuh.
Mereka langsung bergerak membimbing semua keluarga kerajaan, dan pemuka agama yang hadir di sana, untuk prosesi sembahyang, segera mengosongkan tempat itu.
Tidak butuh waktu lama tempat itu pun menjadi tenang dan hening.
Hanya tersisa Attila Camelia dan Guo Yun, yang duduk bersembunyi di belakang salah satu patung Dewa Raksasa, yang ada di ruangan tersebut mendampingi makam para leluhur Camelia.
Camelia menatap kearah Attila dengan penuh tanda tanya, menanti apa yang akan di sampaikan tunangan nya di depan makam leluhur dan makam ayah dan kakaknya.
Attila terlihat termenung menatap kearah salah satu patung dewa yang ada di sana.
Dia sudah merencanakan ini semua jauh jauh hari, dia juga sudah berlatih, apa yang akan dia katakan di momen ini.
Tapi saat tiba saatnya, semua latihannya buyar, tidak ada kata kata satupun yang melekat di otaknya.
Semuanya blank begitu saja, sehingga kini dia jadi terdiam termenung tidak tahu mau bilang apa ke Camelia yang sedang menanti apa yang mau dia sampaikan.
Beberapa saat termenung dan mengumpulkan seluruh tekadnya, diakhiri dengan sebuah helaan nafas panjang.
Attila pun menoleh menatap kearah Camelia dan berkata pelan,
"Camelia hari ini aku akan kabulkan keinginan hati mu yang terdalam yang selama ini kamu sembunyikan dengan rapat dari kenyataan.."
Camelia terlihat sedikit terkejut dengan ucapan Attila, dia melihat Attila dengan serius dan berkata,
"Apa maksud mu Attila, ?"
"Apa yang telah aku sembunyikan..?"
Camelia di dalam hati berharap Attila tidak membicarakan hal itu, hal tentang perasaan nya yang ingin dia kubur dan lupakan.
"Camelia meski kamu tidak pernah bicara secara langsung, tapi setiap malam setiap kita tidur.."
"Tanpa sadar lewat mimpi dan ingauan mu saat tidur, aku sudah mengetahui nya.."
"Untuk itu di hari ini di saksikan oleh ayah paman dan kakak juga leluhur mu.."
"Aku sudah putuskan akan penuhi keinginan mu itu, demi kebahagiaan mu.."
"Aku akan batalkan pertunangan kita.."
"Biarlah kita menjadi sahabat, atau anggap saja aku kakak mu.."
ucap Attila sambil tersenyum sedih.
Camelia terlihat terbelalak pucat mendengarkan semua ucapan Attila yang bagaikan suara petir yang berkumandang di samping telinga nya.
Hal yang paling dia takutkan selama ini akhirnya terjadi juga.
Akhirnya dia sendiri telah mengacaukan kebahagiaan semu dengan kebahagiaan nyata nya.
Camelia hanya bisa terdiam menggelengkan kepalanya, menutupi mulutnya yang setengah terbuka dengan kedua tangannya.
Air bening mulai mengembang di sepasang matanya yang indah.
Dia berusaha menahan suara sedu sedan dan Isak tertahan nya.
Sambil menatap lekat lekat kearah wajah Attila yang tegas, berharap Attila akan menarik kembali keputusan nya itu.
Tapi yang dia temukan adalah tatapan mata Attila yang tekadnya sudah bulat.
Melihat hal ini, akhirnya Camelia tidak bisa lagi bisa menahan diri, dia akhirnya berteriak panik maju mendekati Attila.
__ADS_1
"Tidak..! Attila,..! tidak..! kamu tidak boleh seperti itu..!"
"Katakan pada ku,! ini tidak nyata kan..!"
"Ini pasti cuma mimpi..! kamu tidak mungkin tega berkata seperti itu..!"
"Tidak ini pasti bukan kamu..!"
"Attila,..! Attila..! Attila ku sayang..! katakan lah..! ini tidak nyata..!"
"Ini tidak benar..!"
"Aku tidak mau...! aku tidak mau Attila..!"
"Ku mohon jangan..!"
teriak Camelia sedikit histeris dengan airmata bercucuran.
Dia terus menarik narik baju di bagian dada Attila dengan kuat, lalu menguncang guncangnya.
Attila terlihat memejamkan matanya tidak berkata apapun, selain dua titik air bening yang turun mengalir dari kedua sudut matanya.
Attila sendiri sedang berjuang keras, agar dia tetap teguh dengan keputusan nya.
Jangan sampai menjadi lemah oleh sikap Camelia, bila dia mengikutinya dan kembali mengalah.
Dia hanya akan membuat Camelia dan dirinya menderita seumur hidup, hidup dalam perasaan yang palsu.
Orangnya bersama nya, tapi hatinya tidak, mereka berdua nantinya akan tertekan oleh perasaan ini.
Camelia yang terus menarik dan menguncang baju di bagian dada Attila, tanpa sengaja, membuat kantung dibagian dada Attila terbuka lebar.
Sehingga tumpukan kertas harapkan dan keinginan Camelia yang di rekatkan di Lampion yang di terbangkan.
Dan secara tidak sengaja di temukan oleh Attila kini jatuh berserakan di atas lantai.
Camelia sangat terkejut melihat tulisan keinginan dan harapannya di kertas tersebut kini semua berceceran di hadapannya.
"Ini...ini...Attila apa maksudnya semua ini..!?"
"Kamu,.. darimana kamu peroleh semua ini..!?"
"Apa kamu menggunakan kepandaian mu, untuk mencuri lihat dan mengambilnya tanpa ijin ku..!"
Bentak Camelia emosi.
Attila sangat terkejut dengan reaksi dari tuduhan Camelia padanya.
Seolah-olah dalam hal ini dia yang bersalah.. padahal jelas jelas Camelia lah yang menipu perasaannya, dan menipu perasaan dirinya sendiri.
Mengapa setelah terbuka semua nya,.malah menyalahkan dirinya.
Attila membuka kembali sepasang matanya, menatap kearah Camelia dengan dingin dan tajam.
Hingga tanpa sadar Camelia melangkah mundur dua tindak kebelakang.
Melihat Camelia yang ketakutan, Attila pun menyadari kesalahannya.
Tatapan matanya kembali melembut dan berkata,
"Maafkan aku Camelia.."
"Bila di mata mu, aku adalah seorang pria yang rendah dan hina seperti itu.."
"Baiklah anggap saja itu benar.."
"Aku tidak akan berdebat dengan mu.."
"Guo Yun keluar lah, !"
"Sekarang waktunya penuhi janji mu..!!!"
"Pegang janji mu, penuhi apapun keinginan nya .!"
selesai berkata Attila sudah menghilang dari sana.
Menghilang selamanya dari sisi Camelia, menghilang dengan membawa sejuta luka di hatinya.
"Attila,...! Attila...! Attila...!"
teriak Camelia sedikit menyesal dan mencoba mengejarnya.
Tapi dia mana mungkin bisa mengejar kecepatan Attila, yang kemampuan nya, bahkan masih diatas Guo Yun.
Camelia akhirnya terjatuh duduk bersimpuh di atas tanah sambil menangis sedih.
Guo Yun melangkah keluar dari persembunyiannya, dia berjongkok di samping Camelia dan berkata pelan.
"Camelia mengapa kamu begitu bodoh dan merusaknya,? seharusnya kamu bisa menghargai apa yang sudah kamu miliki itu.."
"Dia benar-benar sangat mencintai mu, siapa pun bisa melihatnya bahkan orang buta sekalipun.."
ucap Guo Yun sambil menatap Camelia penuh simpati dan iba.
Camelia hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil menutupi mukanya sendiri dengan kedua tangannya.
Guo Yun tidak berkata apa-apa lagi, dia hanya duduk diam di sana menemani Camelia yang sedang menangis sedih.
Setelah melepaskan semua kesedihannya lewat tangisan panjang.
Camelia yang mulai tenang perasaan nya, dan merasakan jauh lebih lega.
Sambil menghapus sisa air mata nya, dia menoleh menatap kearah Guo Yun dan berkata,
"Sebenarnya apa yang terjadi ? mengapa kamu bisa tiba tiba ada di sini..?"
Guo Yun tersenyum pahit dan berkata,
"Tidak takut kamu tertawakan, jujur saja... aku adalah pecundang yang kalah bertarung dengan nya.."
"Sebagai tukar, dia menerima permintaan menyerah ku"
"Dia meminta ku 3 syarat yang harus aku penuhi.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum pahit.
"Apa itu..?"
tanya Camelia penasaran.
"Apa dia tidak cerita pada mu..?"
tanya Guo Yun heran.
"Bila dia cerita apa perlu aku bertanya pada mu, omong kosong..!"
bentak Camelia kesal.
Guo Yun tersenyum sabar dan berkata,
"Sikap mu ini, hanya dia yang sabar menghadapi mu, kurang baik bagaimana dia ?"
"Aku curiga bukan dia tidak cerita, tapi kamulah yang tidak memperhatikan ucapan nya.."
"Kamu terlalu sibuk dengan pikiran mu sendiri benar kan ?"
"Kentut,..! sembarangan bunyi saja, siapa bilang aku tidak dengar dengan baik.!?"
sembur Camelia keki.
Lalu dia langsung melanjutkan nya tanpa jeda,
"Emang dia seperti kamu, mulut bau bicara' sembarangan.."
"Dia memang cuma bilang Luo Yang dan Da Liang jadi milik kami.."
"Lalu aku bertanya, "Bagaimana dengan dia, ? apa kamu berhasil membunuhnya..?"
"Dia cuma jawab sesuai harapan mu, aku sudah menyelesaikan nya.."
"Ehh tahunya kamu makah nongol disini, menyebalkan dan bikin kesal saja.."
Omel Camelia kurang puas.
Guo Yun tersenyum dan berkata,
"Itulah salah mu, makanya dia malas cerita.."
"Coba kamu pikir sendiri, bila kamu jadi dia, kamu mengalahkan wanita lain yang menjadi saingan mu.."
"Tapi dia malah menanyakan keselamatan wanita yang kamu kalahkan itu.."
"Kira kira gimana perasaan mu.."
"Kamu jelas tahu dia suka dengan mu, tapi kamu malah tanyakan keselamatan lawannya.."
"Kamu pikir saja sendiri, apa itu pantas..?"
"Orang bilang dada besar otak kecil, kelihatannya ada benarnya.."
ucap Guo Yun sambil tersenyum mengejek.
"Kau... bajingan cabul..aku benci kamu..!"
"Plakkkk... Plakkkk..Blukkk...!"
Camelia yang kesal otomatis maju menghajar Guo Yun tanpa ampun.
__ADS_1