
Setelah mendapat perintah, kedua dayang itu pun segera menganggukkan kepala, kemudian memakai kelenjar bunga oliva untuk menggosok-gosok pundak Qin Ruojiu.
“Aaa…”
Qing Ruojiu berteriak pelan, kemudian menarik pundaknya kembali.
Saat ini, kedua dayang itu langsung berlutut ketakutan dan bersujud-sujud, “Ampun, Permaisuri. Maafkan kami, maafkan kami, maafkan kami.”
Qin Ruojiu mengangkat kepala, wajah yang ditutupi cadar dan mata yang begitu cerah itu membawa rasa yang lembut.
“Kalian kenapa? Bangun, aku tidak menyalahkan kalian,” barusan, tidak tahu siapa yang menyentuh luka di pundaknya, mungkin karena tersentuh kelenjar bunga, lukanya terasa sedikit perih. Dia hanya merespon rasa sakit itu saja, tidak bermaksud menyalahkan mereka.
Karena Qin Ruojiu tidak marah seperti yang mereka bayangkan, kedua dayang ini pun semakin takut dan gemetaran.
“Permaisuri, kami tidak berani lagi, mohon hukum kami, mohon hukum kami....”
Begitu mendengar dayang yang gemuk memohon dihukum, dayang yang kurus pun mengangguk-anggukkan kepala mereka, dengan mata berkaca-kaca, “Iya… iya, Permaisuri, kami tidak berani lagi, mata kami buta, sehingga membuat Permaisuri merasa sakit! Ampuni kami!”
“Aku…” Qin Ruojiu pun merasa bingung saat melihat 2 orang yang tidak tahu ketakutan karena apa ini, bahkan wajah mereka pun sudah pucat karena takut.
Saat ini, datang seseorang yang berpakaian hijau, orang itu langsung jalan ke samping Qin Ruojiu, kemudian berlutut dan bersujud, “Permaisuri, hari ini adalah hari pertama mereka melayani Permaisuri, sehingga mereka belum terbiasa dan belum lincah. Mohon jangan salahkan mereka, maafkan mereka kali ini.”
__ADS_1
“Iya, ampunin kami!”
“Ampunin kami!”
Orang yang memohon untuk mereka adalah Lu’Er, dia juga berlutut dan memohon ampun kepada Qin Ruojiu dengan tulus.
“Aku tidak akan menghukum kalian! Pergilah!”
Qin Ruojiu juga tidak tahu harus bagaimana. Dia tidak menyangka kalau respon dia yang biasa-biasa saja bisa membuat mereka ketakutan. Saat ini, dia merasa tidak berdaya dan sedih. Yang membuatnya merasa tidak berdaya adalah dia tidak bermaksud menghukum mereka, tetapi mereka sendiri yang ketakutan. Sedangkan yang membuatnya merasa sedih adalah inilah kekuasaan dan kewibawaan seorang permaisuri, tinggi dan membuat orang merasa takut. Mulai sekarang, tidak ada orang lagi akan menganggapnya sebagai teman, apalagi bercerita padanya. Dia pasti akan sangat kesepian di istana ini.
Begitu mendengar Qin Ruojiu menyuruh mereka pergi, Lu’Er segera memberi kode mata kepada mereka berdua dan berkata dengan dingin, “Xiao Huan, Yan’er, cepat ucapkan terima kasih, Permaisuri sudah memaafkan kalian, cepat pergi.”
Kedua dayang itu terharu sampai menangis, kemudian berlutut dan bersujud lagi baru pergi.
“Permaisuri, mereka agak ceroboh, izinkan Lu’Er yang layanin kamu!” setelah mereka pergi, Lu’Er baru merasa lega kemudian bertanya kepada Qin Ruojiu.
Qin Ruojiu tersenyum pahit dan menggelengkan kepala, “Apakah aku begitu mengerikan bagi kalian?”
Lu’Er langsung terkagok dan merasa tidak tenang. Tangan yang memegang handuk pun terlepas, handuk putih itu pun terbang bagaikan turun salju.
“Mana mungkin, Permaisuri begitu mempesona… bermartabat ibu negara, mana mungkin berkaitan dengan kata itu…” karena merasa takut, Lu’Er pun menunduk untuk memungut handuk, dia tidak berani melihat Permaisuri dengan langsung.
__ADS_1
End
End
End
End
End
End
End
End
End
End
End
__ADS_1