
Usia gadis itu sekitar 16 – 17, berpakaian hijau, tubuh yang kecil dan terlihat lincah.
“Kamu…”
“Permaisuri, aku adalah dayang yang akan menjagamu, namaku Lu’Er!”
“Apa yang terjadi dengnmu?” tenaga Qin Ruojiu masih belum pulih, sekujur tubuhnya sakit.
Lu’Er pun menjadi kaget, “Permaisuri, berbaring dulu. Lu’Er akan segera membawakan air hangat untuk mengelap luka-lukamu!”
Begitu mendengar kata luka, Qin Ruojiu pun teringat pengalaman semalam yang keji itu, dia pun tersenyum pahit, ekspresinya pun menjadi dingin, “Tidak usah, masak air saja, aku mau mandi!”
“Tetapi… Permaisuri, kata tabib, luka di badan Permaisuri sangat banyak, tidak boleh kena air.”
“Tidak apa-apa, aku ingin bersih-bersih, kalau tidak, aku akan merasa tidak nyaman.”
Ucap dia dengan pelan kemudian memalingkan kepala dan tidak berkata apapun lagi.
Lu’Er yang ingin mengatakan sesuatu pun terdiam, kemudian pergi.
Setelah berbaring beberapa saat, Qin Ruojiu yang berpikiran kacau pun tertidur lagi.
“Permaisuri…”
__ADS_1
“Permaisuri!”
Qin Ruojiu membuka mata dengan perlahan. Terlihat 2 dayang yang berpakaian merah muda, satu gemuk satu kurus, wajah yang penurut, nada yang lambat dan lembut, membuat hati orang menjadi tersentuh.
Qin Ruojiu memperhatikan mereka dan hendak bangkit, tapi kakinya terasa sakit. Setelah mendesah pelan, kedua dayang itu pun segera menopangnya, “Permaisuri… kamu kenapa?”
Qin Ruojiu menatap gadis cantik yang putih dan berwajah bulat ini, lalu tertawa, “Aku baik-baik saja, tolong bantu aku bangun…”
“Iya, Permaisuri!” kedua gadis itu mengeluarkan tenaga untuk memapahbadan Qin Ruojiu.
Setelah turun dari ranjang, Qin Ruojiu melihat tong air mandi yang terletak di tengah-tengah istana, masih ada uap air yang keluar dari tong air mandi dan menebarkan wangi.
“Bawa aku ke sana, aku mau mandi.”
Dengan bantuan 2 dayang tersebut, Qin Ruojiu mulai melepaskan pakaian yang dia pakai, kulit yang lembut membuat kedua dayang itu merasa iri. Tetapi di saat bersamaan, tubuh yang penuh dengan luka itu pun terlihat begitu mengerikan. Apalagi kedua kakinya itu, terlihat panjang lembut bagaikan teratai salju. Tubuh yang begitu indah itu ternyata dipenuhi begitu banyak bekas darah, bahkan daging di kakinya hampur terlihat.
Kedua gadis itu pun terkejut dan saling menatap, tidak berani mengatakan apapun.
Qin Ruojiu berusaha menjadikan mereka sebagai topangan untuk masuk ke dalam tong mandi. Bunga mawar yang terapung-apung menebarkan aroma yang wangi.
Air yang membasahi luka membuatnya kesakitan, bagaikan tubuhnya dirobek-robek. Dia berjongkok, memejamkan mata, saat rasa sakit yang menyelimuti seluruh tubuhnya berkurang, dia pun merasa sedikit lebih rileks. Matanya masih terpejam daritadi, dia merendam dirinya dengan begitu tenang, rasa sakit pun digantikan oleh rasa nyaman secara perlahan.
“Kalian pergi dulu!” Qin Ruojiu ingin menyendiri, dia tidak terbiasa dilayanin oleh dayang.
__ADS_1
Dayang yang kurus itu ragu-ragu dan berkata dengan tidak tenang, “Permaisuri, Kakak Lu’Er menyuruh kami memandikan Permaisuri, katanya anda dalam keadaan terluka, tidak bebas bergerak.”
Begitu mengungkit Lu’Er, Qin Ruojiu pun merasakan kehangatan, dengan mengangguk pelan, “Baiklah, tolong gosok pundak saya!” begitu teringat kejadian semalam, dia dilemparkan begitu saja seperti sampah, sampai kedua pundaknya merasa pegal dan sakit.
End
End
End
End
End
End
End
End
End
End
__ADS_1