
Hello! Im an artic!
Rangkaian pertanyaan “mengapa” itu dalam sekejap membuat Leng Bingxin tidak bisa berkata-kata, pada saat ini, selain menggunakan tawa untuk menutupi kepanikannya, Leng Bingxin bahkan tidak memiliki kekuatan untuk membantah. Ya, siapa itu Kaisar Zhaolie? Raja yang mendominasi semua nyawa di Negara Kangqing. Jika Kaisar Zhaolie ingin mengetahui sesuatu, maka itu bukanlah hal yang sulit baginya. Kaisar Zhaolie sudah mencurigai identitasnya, sekarang setelah temuan ini, bagaimana mungkin Kaisar Zhaolie bisa tertipu lagi oleh dirinya?
“Katakan, apa yang kamu inginkan, aku akan melakukan segalanya untuk memberikan penebusan padamu.” Kaisar Zhaolie menatap lekat ke arah Leng Bingxin, jauh di kedalaman pupil hitamnya, ada kilasan rasa bersalah dan penyesalan yang sangat jarang terlihat. Tatapan mata yang seperti itu, tidak seharusnya dimiliki oleh Kaisar Zhaolie, ya, itu bukan milik Kaisar Zhaolie.
Hello! Im an artic!
Leng Bingxin yang tahu bahwa dirinya tidak bisa lagi menyembunyikan dari Kaisar Zhaolie, mengangkat kepalanya dengan angkuh, mengulas sebuah senyum datar, senyum itu sedikit asing dan juga sedikit menawan. Ya, senyum seperti itu pernah dipelajari Leng Bingxin dari para gadis penari yang ada di Istana Negara Beifeng.
Senyuman seperti itu cukup untuk memikat dan menggoda dunia. Tapi menurut Kaisar Zhaolie, senyum itu malah terlihat begitu asing dan begitu jauh.
Leng Bingxin berkata: “Sepertinya aku sudah tidak perlu menyembunyikan darimu lagi, ya, aku adalah Qin Ruojiu, Qin Ruojiu yang dihancurkan oleh tanganmu sendiri.”
__ADS_1
Ketika Leng Bingxin mengakui identitasnya dan teringat pada masa lalu yang tak tertahankan itu, Leng Bingxin berpikir hatinya akan terasa sakit dan tidak nyaman seperti ditusuk oleh jarum, tapi sekarang Leng Bingxin menyadari bahwa di lubuk hatinya yang paling dalam, selain ironi dan kesedihan, tidak ada lagi perasaan lainnya.
Hello! Im an artic!
Pria di hadapannya ini pernah menjadi orang yang sangat dicintainya, dan juga orang yang paling menyakitinya. Dua tahun, dua tahun, luka yang diterimanya begitu menyakitkan hingga dirinya sudah menjadi mati rasa.
Semuanya sudah hilang. Cinta dan benci pada dasarnya saling bertentangan. Sekarang, Leng Bingxin sudah tidak memiliki cinta atau kebencian padanya.
Melihat kedinginan di tatapan mata Leng Bingxin, hati Kaisar Zhaolie terasa masam, tinju besar di balik lengan pakaiannya mengepal dengan erat lalu kemudian dilepaskan.
“Jiu’er, selama kamu bersedia kembali ke sisiku, aku bisa menjanjikan segalanya padamu, posisi Ratu adalah milikmu, apa kamu bisa kembali?”
Mendengarkan ucapan yang begitu terburu-buru dan penuh dengan permohonan ini, Leng Bingxin seketika merasa sangat aneh, apa itu adalah perkataan yang akan dikatakan oleh Kaisar Zhaolie?
__ADS_1
Kaisar Zhaolie berada di tempat yang begitu tinggi, dia begitu dingin dan kejam, Kaisar Zhaolie tidak ragu-ragu mengorbankan dirinya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Apa pria seperti itu akan berbicara padanya dengan menggunakan nada seperti ini?
Tidak, itu tidak mungkin.
“Kaisar, kamu harusnya tahu sejak parasku dihancurkan dan jatuh ke tebing, sudah tidak ada Qin Ruojiu kedua di dunia ini!” Leng Bingxin menarik telapak tangannya dengan susah payah kemudian berkata demikian dengan dingin.
“Benarkah? Jika begitu maka kamu masih menolak untuk menyetujuiku?” Mendengar jawaban Leng Bingxin yang seperti itu, telapak tangan Kaisar Zhaolie menegang, terdapat cahaya yang terlintas di tatapan matanya yang tampak begitu menakutkan.
“Qin Ruojiu yang dulu sudah mati.” Leng Bingxin mengangkat dagunya dengan angkuh dan mengucapkan kata-kata ini tanpa rasa takut.
Kaisar Zhaolie pertama-tama merasa terkejut, kemudian mata hitam itu perlahan-lahan memicing menjadi satu garis, mata hitam itu begitu dingin seakan bisa melesatkan panah yang tajam.
Kaisar Zhaolie menghempaskan lengan pakaiannya yang besar, tatapan matanya dipenuhi dengan cahaya dingin, dia lalu berkata dengan suara lantang: “Jika Qin Ruojiu sudah mati, maka aku menginginkan Leng Bingxin.”
__ADS_1
Leng Bingxin mendengar ucapan itu dan tertawa, tawa itu begitu sinis dan asing, seakan sudah seperti dedaunan yang jatuh di tengah angin yang beterbangan. Leng Bingxin berjalan perlahan ke sisi Kaisar Zhaolie, mengulurkan tangan putihnya untuk membelai wajah tampan itu, ada kegilaan yang terlintas di tatapan matanya, Leng BIngxin kemudian bergumam: “Benarkah? Tampaknya Kaisar benar-benar sudah mengambil keputusan. Tapi jika Kaisar menginginkan orang maka Kaisar harus menjelaskan pada Pangeran Xiang, bagaimanapun juga dia seharusnya sangat enggan untuk menyerahkanku dengan begitu mudah!”