
Hello! Im an artic!
Saat ini, Ji Mie hanya bisa dengan perlahan menarik Putri yang selalu dianggapnya sebagai permata ini ke dalam pelukannya, dengan lembut menepuk punggungnya dan berkata: “Jiu’er patuh, di mana pun Ayah berada, hati Ayah akan selalu bersamamu. Dan lagi, bukankah Jiu’er juga memiliki cinta Kaisar sekarang? Ayah akan menjadi tua dan akan meninggalkanmu, jadi kamu perlu bertahan dalam kondisi sesulit apapun dan juga terus melanjutkan hidup.”
Mendengar ucapan Ji Mie, Qin Ruojiu tidak tahu makna di balik kata-katanya itu, tapi Qin Ruojiu paham bahwa Ayahnya selalu berbuat demi dirinya. Saat ini, Qin Ruojiu hanya bisa mengangguk dengan patuh dan berkata dengan suara tercekat: “Ayah, Jiu’er mengerti …”
Hello! Im an artic!
Setelah Ji Mie pergi, Qin Ruojiu tampak tidak bersemangat.
Sampai malam tiba, Qin Ruojiu sudah seperti kucing yang ketakutan, dia meringkuk dan tertidur di ranjang lembut berpola phoenix. Kelelahan di siang hari tercetak jelas di wajahnya.
__ADS_1
Wajahnya pucat, alisnya berkerut, seolah Qin Ruojiu sedang menanggung sesuatu yang sulit ditanggungnya.
Saat sosok bayangan hitam tinggi memasuki ruangan, melihat tampilan rapuh dari orang yang sedang berbaring di ranjang, wajah tampannya itu samar-samar menunjukkan raut tidak tega.
Hello! Im an artic!
Dia perlahan-lahan berjongkok, telapak tangannya yang besar dengan lembut mengusap alis wanita itu yang sedang berkerut. Sinar bulan menembus sisi jendela dan terpapar di wajahnnya yang cantik.
Wanita yang begitu mempesona seperti ini benar-benar membuatnya teringat kembali pada seorang wanita cantik, Liqing …
Belakangan ini, bahkan Kaisar Zhaolie sendiri pun tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, semakin dirinya melihat tampilan Qin Ruojiu, semakin dirinya teringat pada Liqing yang sudah begitu lama berdiam di dalam hatinya. Perlahan-lahan dirinya sendiri tidak tahu apa dirinya menganggap Liqing sebagai Qin Ruojiu atau menganggap Qin Ruojiu sebagai Liqing.
__ADS_1
Qin Ruojiu di balik cadar hitam benar-benar sangat anggun dan menawan. Tapi itu malah membuatnya merasa khawatir, Qin Ruojiu melepas cadar hitam demi dirinya, tapi itu juga membuatnya menderita. Ketika memandang Qin Ruojiu dari waktu ke waktu, dirinya malah memikirkan kebaikan Liqing, dirinya tidak bisa menerima hatinya sedikit demi sedikit ditempati oleh Qin Ruojiu.
Dirinya selalu percaya bahwa keberadaan Liqing di hatinya itu satu-satunya, tapi perlahan-lahan, dirinya sudah merasakan pentingnya Qin Ruojiu di dalam hatinya.
Ya, wanita lugu, polos dan baik hati inilah yang memiliki kedudukan yang luar biasa di dalam hatinya. Tapi tidak peduli betapa cantiknya Qin Ruojiu, dia hanyalah putri seorang penyihir, bahkan jika Qin Ruojiu dinobatkan sebagai seorang Ratu, dirinya tetap masih memiliki perasaan buruk terhadap Qin Ruojiu.
Memikirkan hal ini, Kaisar Zhaolie yang sangat bimbang tanpa sadar meningkatkan kekuatan di tangannya, dirinya malah lupa bahwa orang yang sedang tertidur di bawah telapak tangannya itu sudah dikejutkan olehnya.
Qin Ruojiu mengelus alisnya yang terasa sakit, membuka matanya dengan linglung, menatap sosok dingin dan tampan tapi keberadaannya bagaikan Dewa di hadapannya ini dengan terkejut.
Dia memiliki alis yang luar biasa, di bawah sinar bulan, menatap dirinya dengan tenang, rambut hitamnya yang tidak teratur itu berkibar karena tertiup oleh angin, wajahnya begitu tampan dan matanya yang tajam itu tampak menjadi semakin tegas di malam yang gelap. Qin Ruojiu yang baru saja bangun itu bergidik tanpa sadar karena tatapan mata yang tampak seperti Dewa Kematian yang sedang memgang pisau di tangannya itu. Tapi Kaisar Zhaolie malah tersenyuman misterius yang membuat Qin Ruojiu tidak bisa menebak pemikirannya, perlahan-lahan dia mendekati Qin Ruojiu dan berkata: “Kenapa? Apa aku menyakitimu?”
__ADS_1
Qin Ruojiu begitu terkejut oleh tatapan matanya hingga bergegas bangkit, di saat bersamaan mengalihkan pandangannya karena malu, menatap Kaisar Zhaolie dengan sedikit tatapan bersalah dan berkata dengan suara pelan: “Kaisar, kenapa kamu datang kemari? Bukankah Kasim yang mengirimkan surat hari ini berkata bahwa Kaisar tidak akan datang?”