
Kang Yin yang masih mengenakan pakaian putih sekujur tubuhnya itu pun berjalan masuk.
Dia berjalan masuk sambil diiringi dengan angin sepoi-sepoi dari luar pintu. Ada sedikit kesedihan yang terpancar di dalam tatapan matanya itu. Ketika dia melihat Qin Ruojiu, dia pun tersenyum lembut seperti bunga yang bermekaran di musim semi.
Melihat Kang Yin berjalan masuk, Qin Ruojiu pun langsung mengambilkan kursi untuknya. Kang Yin yang melihat itu pun langsung menghalanginya, “Kesehatan kamu masih belum pulih total, biar aku ambil sendiri saja!”
Qin Ruojiu pun melihat ke arah wajah Kang Yin yang tampan itu dan tersenyum lembut. Lalu dia mengangguk kan kepalanya dan berkata, “Pangeran ke-9 ….”
“Aku suka kamu panggil aku Yin, seperti aku memanggilmu Ruojiu!” Kang Yin langsung memotong pembicaraan Qin Ruojiu.
Kang Yin melihatnya dengan tatapan yang dalam. Di dalam tatapan matanya itu terlihat perasaan rindu dan sedih yang mendalam.
Qin Ruojiu tidak sanggup menolak tatapannya lalu dia pun tersenyum lembut sambil mengangguk kan kepalanya, “Yin, hari ini kenapa kamu ada waktu buat ke mari?”
__ADS_1
Setelah mendengar itu, Kang Yin pun memberinya sebuah senyuman yang hangat. Qin Ruojiu yang melihat itu pun langsung membalas memberinya sebuah senyuman yang hangat juga.
Dia berkata “Karena aku ingin tahu kabar kamu bagaimana, jadi aku datang kemari.” Sebenarnya dia pengen bilang tiap hari juga dia ada waktu dan selalu merindukannya. Tetapi kata-kata ini hanya menambah pikiran buat Qin Ruojiu dan membuatnya khawatir. Jadi saat itu Kang Yin memilih untuk tidak mengatakannya.
Qin Ruojiu merasa bahagai di dalam hatinya, lalu dia menjawab, “Terima kasih.”
“Apakah masih sakit?” Tiba-tiba Kang Yin melihatnya dengan serius dan bertanya padanya dengan penuh perhatian.
Qin Ruojiu yang mendengar itu pun merasa malu dan wajahnya langsung memerah, dia menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Tidak sakit lagi.”
Melihat Kang Yin yang kehabisan bahan pembicaraan dan takut suasana menjadi canggung, Qin Ruojiu pun berkata, “Pangeran … oh bukan, Yin, jarang-jarang kamu bisa datang ke sini, bagaimana kalau kita main alat musik bersama?” Benar, ada beberapa kata-kata yang terlalu sulit untuk diucapkan di antara mereka berdua. Bagusan mereka menyimpannya di dalam hati dan menceritakannya dengan bahasa musik mereka sendiri. Mereka tidak usah mengatakannya, tetapi pihak lain bisa memahaminya dengan sendirinya.
Dengan begitu itu bukan hanya memecahkan suasana yang canggung, tetapi juga membuat mereka berdua merasa lebih dekat.
__ADS_1
Setelah mendengar saran dari Qin Ruojiu, Kang Yin pun melihatnya dengan senang. Tetapi sepertinya Kang Yin teringat akan sesuatu lalu dia berkata, “Biar aku yang mainkan seruling buat kamu dengan, badan kamu masih belum sehat, jangan main kecapi dulu.”
Setelah mendengar itu, Qin Ruojiu merasa begitu senang di dalam hatinya. Dia sangat berterima kasih kepada Pangeran ke-9 yang begitu perhatian padanya. Kemudian dia pun mengangguk kan kepalanya, “Baiklah, aku dengar saja.”
Kang Yin pun beranjak berdiri dan mengeluarkan seruling dari pinggangnya lalu meletakkannya di bibirnya yang indah dan tipis itu. Lalu dia pun meletakkan tangannya di atas seruling itu dan hendak memainkannya.
Dia pun melihat ke arah Qin Ruojiu dengan tatapan yang lembut.
Ketika dia melihat tatapan mata Kang Yin yang begitu lembut dan dipenuhi dengan perasaan itu, tiba-tiba di dalam benaknya itu terlintas bayangan Kaisar Zhaolie. Sepertinya pernah sekali ketika Kaisar Zhaolie memeluknya, dia juga melihatnya dengan tatapan yang lembut hangat dan tidak terlihat berbahaya.
Tetapi dia kembali menyadarkan pikirkannya. Dia itu iblis, dia berbuat seperti itu hanya untuk berpura-pura baik di depannya saja. Bagaimana dia bisa dibandingkan dengan Kang Yin. Kang Yin barulah pria yang tulus dan suci. Dia mana boleh menggabungkan mereka berdua? Kemudian, Qin Ruojiu yang tidak bisa menahan itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan pria iblis itu dari kepalanya.
Suara seruling yang baru dimainkan itu terdengar begitu lembut bagaikan rintik hujan di awal musim panas. Irama suara seruling ini membawakan perasaan yang mendalam. Walaupun hanya mendengar sepotong dari irama ini saja sudah bisa tahu kalau orang yang lagi memainkan seruling ini sedang kesepian. Dia seperti seorang pengembara yang tidak memiliki tempat sandaran dan tidak menemukan sandarannya. Jadi dia hanya bisa memainkan serulingnya itu sendiri.
__ADS_1
Kemudian, irama seruling itu terdengar semakin sedih dan penuh kekecewaan. Ada perasaan tidak berdaya di dalam irama musik itu yang membuat jiwa orang terpanggil. Qin Ruojiu pun mengangkat kepalanya dan melihat ke dalam mata Kang Yin.