
Hello! Im an artic!
Senyuman itu seakan tampak sedang mengolok-oloknya karena begitu kasihan dan menyedihkan, dan juga seakan-akan sedang mengingatkannya bahwa dirinya adalah orang yang hanya dimanfaatkan oleh semua orang. Selain itu, dirinya tidak layak untuk diungkit.
Ye Wushuang menatap semua ini dengan tidak berdaya, Ye Wushuang tahu bahwa dirinya sekarang tidak memiliki hak untuk melawan. Tapi suatu hari nanti, Ye Wushuang pasti akan membuat semua orang yang meremehkannya ini tahu bahwa dirinya, Ye Wushuang, bukanlah orang yang bisa dikendalikan oleh siapapun dengan seenaknya.
Hello! Im an artic!
Pagi-pagi sekali, ketika langit baru saja benderang, di atas langit biru samar-samar masih bertabur beberapa bintang yang tersisa. Di luar jendela, daun-daun mulai bertunas, embun sebening kristal berkilau dengan cahaya yang memabukkan. Hembusan angin pagi menerpa, segala sesuatu di sekitar tampak begitu hidup.
Ye Wushuang bangun pagi-pagi dan berjalan-jalan seorang diri di hutan bambu yang ada di belakang paviliun, ketika kembali, kebetulan dirinya bertemu dengan Yuya yang sedang membawakan makanan untuknya.
Selama makan, Ye Wushuang menyadari bahwa Yuya yang biasanya selalu banyak bicara itu sangat pendiam hari ini. Sepasang mata kecil yang berbinar itu terkadang meliriknya diam-diam dari waktu ke waktu.
Akhirnya, ketika Ye Wushuang sudah hampir menyelesaikan makannya, dia meletakkan piring dan sumpit, wajah cantiknya menatap Yuya dengan sedikit tegas dan berkata: “Yuya, apa ada yang ingin kamu katakan padaku?”
__ADS_1
Hello! Im an artic!
Yuya yang pemikirannya diketahui oleh Ye Wushuang tampak sedikit panik, wajahnya sedikit ketakutan dan dia tampak tidak berani berbicara.
“Apa aku sangat galak?” Ye Wushuang bertanya dengan lembut, selama ini, orang yang paling dekat dengannya adalah Yuya. Mungkin itu karena Yuya memang baik hati dan manis, mungkin juga karena alam bawah sadarnya merasa bahwa dirinya berhutang terlalu banyak pada Yuya yang satu lagi, karena itu Ye Wushuang memperlakukan “Yuya” yang ini dengan perhatian khusus.
Yuya menggigit erat bibir merahnya dan menggelengkan kepalanya dengan panik.
“Lalu apa kamu membenciku?”
“Jika bukan semuanya, lalu kenapa kamu memiliki masalah tapi malah tidak bertanya padaku?”
“Aku… aku baik-baik saja…”
“Kita sudah bersama selama hampir tiga bulan, jika kamu benar-benar baik-baik saja, apa mungkin kamu akan terlihat seperti ini? Yuya, meskipun kamu adalah pelayan yang diperintahkan oleh Pangeran Ping untuk melayaniku, tapi aku selalu menganggapmu sebagai Adikku. Karena dulu aku juga memiliki seorang adik yang memiliki nama yang persis sama denganmu.”
__ADS_1
“Lalu di mana dia?” Yuya berubah menjadi penasaran saat mendengar ucapan itu. Ketakutannya tadi juga sudah menghilang tanpa jejak.
Sepasang mata Ye Wushuang menjadi suram, ekspresinya dipenuhi dengan kesedihan yang tak bisa diungkapkan, Ye Wushuang melihat ke luar jendela, pikirannya sedikit melayang jauh: “Dia sudah pergi…”
“Pergi ke mana?” Yuya yang tidak tahu hanya berasumsi bahwa dia telah pergi jauh dan tidak berasa di sisi Ye Wushuang saja.
Siapa tahu, Ye Wushuang malah menjawab dengan suara yang rendah dan sangat sedih: “Pergi ke dunia lain, di situ sangat dingin, tempat di mana aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi.” Otaknya masih mengingat senyum Yuya pada saat itu yang membicarakan segala macam hal di luar Istana. Sebenarnya Yuya bisa tidak terseret oleh masalah ini sama sekali, tapi pada akhirnya dikarenakan dirinya……Yuya malah kehilangan nyawanya yang masih muda. Dalam kehidupan ini, Ye Wushuang tahu bahwa dirinya berhutang pada gadis yang bernama Yuya itu.
Yuya akhirnya mengerti apa yang Ye Wushuang maksud dengan kata-kata “Dia sudah pergi…”.
“Maaf, Nona Wushuang, aku tidak bermaksud mengingatkanmu akan kesedihanmu…” Yuya buru-buru meminta maaf, matanya terlihat merasa bersalah, wajahnya tampak seperti dirinya tidak tahu harus berbuat apa, membuat orang lain merasa kasihan padanya.
Yuya memang seperti ini, selalu begitu polos seperti anak kecil. Sedangkan Yuya yang asli malah merupakan orang yang pintar dan tenang, dia tidak banyak bicara, tapi pemikirannya itu jauh lebih jernih dari siapapun. Dia juga tidak mempercayai orang lain dengan mudah, begitu mempercayainya maka dia bahkan bisa mengorbankan nyawanya demi orang itu.
“Tidak masalah, itu sudah berlalu.” Ye Wushuang menggelengkan kepalanya, berusaha menahan air mata di matanya dan mencoba menjawab dengan nada acuh, tapi siapa tahu Ye Wushuang tercekat ketika mengucapkan kalimat itu.
__ADS_1