
Hello! Im an artic!
“Ya, wajah Pangeran itu pucat, terlihat sepertinya dia sakit parah, tubuhnya sangat lemah seolah akan jatuh jika tertiup angin. Aku dan Afang tidak berani mendesaknya untuk pergi, dia terlihat seperti bukan Pangeran biasa. Dalam 1 jam ketika menunggu Permaisuri, dia sudah mimisan 2 hingga 3 kali, jadi…” Berbicara sampai di sini, dua pelayan Istana itu sepertinya kembali teringat kengerian tadi, untuk sesaat mereka terlalu takut hingga tidak mampu untuk berbicara.
Setelah Lu’er mendengarnya, dirinya juga merasa panik dan tidak berani lagi membuat saran. Hanya bisa menatap lekat pada Qin Ruojiu dengan mata terbelalak.
Hello! Im an artic!
Qin Ruojiu menghela nafas pelan, melangkah maju dan berkata: “Ayo pergi, bawa aku untuk pergi melihatnya.”
Karena datang menemuinya dengan mempertaruhkan nyawa, maka sudah pasti ada hal yang mendesak. Qin Ruojiu bukanlah manusia yang tidak punya hati, bagaimana mungkin dia bisa mengabaikan masalah sebesar ini?
Di aula depan, Qin Ruojiu melihat seorang pemuda berpakaian biru dari kejauhan.
__ADS_1
Pemuda itu berdiri di dekat jendela, menatap ke kejauhan dalam diam, lengan pakaiannya yang lebar menutupi mulutnya, terdengar suara batuk ringan dari waktu ke waktu.
Hello! Im an artic!
“Permaisuri datang!” Pelayan yang ada di samping bergegas mengingatkan.
Pada saat ini, pria berpakaian biru itu dengan tergesa-gesa berbalik, terlihat parasnya yang begitu tampan, bibirnya merah dan giginya putih, benar-benar sangat menawan. Yang lebih jarang terlihat lagi adalah titik merah kecil bersinar yang terdapat di antara alisnya, mengenakan pakaian yang terlihat mewah. Tangan kanannya dengan perlahan merapikan helai rambutnya, mata tajamnya sedikit terangkat untuk menilai sekeliling.
Pemuda yang bagai Dewa ini seolah sama sekali bukan milik dunia fana.
Tidak hanya Qin Ruojiu saja, bahkan Lu’er, Yan’er dan yang lainnya juga terkejut olehnya, pria yang sangat tampan ini, pria yang terlihat begitu suci ini, pria yang setiap gerakan dan nada bicaranya begitu menawan… Tampaknya sangat sulit jika tidak membuat para wanita agar tidak jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.
Setelah orang itu melihat Qin Ruojiu, pertama-tama dia terkejut, kemudian berjalan menghampiri dengan cepat dan tersenyum padanya.
__ADS_1
Senyuman ini seakan seperti mimpi dan ilusi, seolah sudah lama tidak terlihat dan sudah lama terlupakan di dunia.
Ketika suara yang berat dan sedikit malu itu dengan lembut memanggilnya, Qin Ruojiu baru tahu bahwa orang ini adalah teman lamanya.
Dia berkata: “Ruojiu, Ruojiu, kamu Ruojiu bukan?”
Lu’er dan yang lainnya hendak mengkritik pria itu karena memanggil nama Permaisuri secara langsung, tapi Permaisuri malah tersenyum pada pria itu dengan tatapan mata gembira dan juga berkabut: “Tuyang, Kak Tuyang? Apa kamu Kak Tuyang?”
Apa di hadapannya ini benar-benar Kak Tuyang? Penyihir paling berbakat di antara para penyihir? Ayah berkata bahwa Kak Tuyang adalah Imam Besar termuda. Dan lagi Kak Tuyang juga satu-satunya orang yang bisa meramal nasibnya.
Ingatan terhadap Tuyang masih terpaku pada saat dirinya berusia 10 tahun. Kak Tuyang muncul di luar pintu rumahnya dengan berpakaian biru, bunga persik di luar jendela mekar dan Kak Tuyang seperti sedang tersesat. Berdiri di luar dengan linglung, mata tajam itu tidak memiliki kepolosan anak kecil tapi malah menunjukkan sikap pasrah pada takdir.
Qin Ruojiu sedang berada di depan jendela, menatap lekat pada bocah lelaki yang dua tahun lebih tua darinya itu. Ada keinginan yang terlihat di tatapan matanya, Qin Ruojiu ingin bermain dengan Kakak yang kesepian dan pendiam itu. Karena, dari matanya itu Qin Ruojiu bisa melihat sosok dirinya sendiri yang kesepian.
__ADS_1
Pada hari itu, angin agak kencang, cukup banyak bunga persik yang bermekaran di luar jendela yang tertiup angin, angin berhembus diiringi dengan aroma bunga, Tuyang dituntun oleh Ayahnya dan berjalan menghampiri di hadapannya.