Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 778 Maafkan Aku Karena Pergi Tanpa Pamit


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Sudah tidak mempedulikan lagi keindahan dan keburukan tulisan tangannya, She Jingtian dengan cepat membaca setiap kata dalam surat itu.


Teruntuk Tuan Putri kecil yang paling lucu dan baik hati di dunia ini — Nona Min’er, Wushuang sekarang ini sudah tidak memiliki hati untuk tetap tinggal di kota ini, jadi bermaksud untuk kembali melanjutkan perjalanan, di kemudian hari tidak tahu kapan baru bisa memiliki kesempatan untuk bertemu lagi denganmu, selama aku tidak ada, kuharap Nona Min’er bisa tumbuh dengan bahagia dan sehat, dengarkan ajaran Gurumu, nikmati dunia yang damai dan bahagia. Maafkan aku karena pergi tanpa pamit, kuharap kamu memaafkanku yang tidak memiliki hati ini, ada begitu banyak kata tapi pada akhirnya terangkum dalam satu kalimat, hiduplah dengan baik dan jaga dirimu, aku sudah pergi, jangan merindukanku.


Hello! Im an artic!


Di akhir kalimat adalah — Hormatku, Wushuang.


Hanya beberapa baris kata, tapi itu seakan membuat She Jingtian menghabiskan waktu seumur hidup untuk membacanya. Hujan terus turun di luar, tapi tidak ada orang di ruangan ini yang berani membuat suara.


She Jingtian sebagai majikan, raut wajahnya perlahan-lahan sudah menggelap, matanya yang tajam itu sudah seperti kilat yang membelah langit kapan saja, terdapat cahaya menakutkan yang membuat orang lain bergidik ketika melihatnya.


Ketika kembali mengangkat tatapannya, kertas surat yang awalnya masih rapi dan bersih itu seketika langsung hancur menjadi serpihan di tangan She Jingtian. Saat kertas itu terbang dan mendarat turun, itu sudah seperti serpihan salju di musim dingin.

__ADS_1


Hello! Im an artic!


Tidak ada yang tahu bagaimana She Jingtian melakukannya, tidak ada yang berani mengeluarkan suara, bahkan bernafas kencang pun tidak ada yang berani.


“Paman She… Paman She, aku tidak ingin Kak Wushuang pergi, apa Paman bisa menemukannya kembali?”


Min’er terisak-isak dengan suara pelan sambil menarik-narik sudut pakaian She Jingtian, tampilannya itu sudah seperti bayi malang yang ditinggalkan oleh orang lain.


She Jingtian tidak langsung menjawab, dia hanya melirik ke depan dengan dingin lalu memeluk Min’er dengan kaku, nada bicaranya dingin tapi di saat bersamaan juga memiliki ketegasan yang tidak perlu dipertanyakan lagi.


“Benarkah?” Mata Min’er yang jernih seakan kembali menemukan harapan, tanpa sadar mengulas senyum dengan mata berkaca-kaca.


She Jingtian memicingkan mata hitamnya, mengangguk dengan raut serius lalu melepaskan Shangguan Min’er, dia mengucapkan kata demi kata dengan tegas: “Bahkan jika harus menggeledah Kota Wuyou, aku akan menemukannya.”


“Tapi……”

__ADS_1


Melihat Min’er masih khawatir, She Jingtian tidak lagi menjawab dan hanya melirik dingin ke arah Bibi Hua: “Jaga Nona baik-baik, aku sekarang akan pergi untuk mencarinya.”


“Baik!” Bibi Hua menjawab dengan terpaku, dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk menatap She Jingtian secara langsung. Jarang sekali dirinya melihat Tuan Penguasa Kota yang biasanya selalu bersikap lembut dan baik, ternyata memiliki sisi yang suram seperti ini.


Setelah menerima jawaban Bibi Hua, She Jingtian langsung bergegas keluar dari Paviliun Wenxuan tanpa ragu, sosok tinggi dan tegap itu perlahan-lahan menjadi samar di tengah hujan, pada akhirnya menghilang tanpa jejak seperti cahaya dan bayangan.


Setelah sekian lama, Bibi Hua akhirnya baru menyadari bahwa She JIngtian pergi dengan begitu terburu-buru dan tidak membawa payung, bagaimana jika dia sakit karena terkena air hujan? Sepertinya Tuan Penguasa Kota benar-benar menyukai Nona Wushuang, tapi jika dia menyukainya, lalu mengapa Nona Wushuang pergi tanpa alasan?


Mereka saling menyukai satu sama lain… kenapa akhirnya malah menjadi seperti ini?


Suara gemuruh guntur terus-menerus terdengar, awan hitam di langit sudah seperti sekelompok kuda liar yang sedang meraung, lapisan demi lapisan menyelimuti di atas kepala, hujan deras juga terus turun dengan hebatnya…


She Jingtian sudah seperti seorang Dewa kematian di malam yang gelap yang membawa aura kemarahan, sepasang matanya dipenuhi dengan cahaya merah ketika menerobos hujan.


Para penjaga yang menjaga gerbang bersembunyi dari hujan di bawah atap, ketika mereka melihat She Jingtian datang, pada awalnya mereka terkejut, kemudian mereka memberi hormat di saat bersamaan: “Kami memberi hormat pada Tuan Penguasa Kota… ”

__ADS_1


Seluruh tubuh She Jingtian basah kuyup, raut wajahnya dingin dan tidak enak dilihat sudah seperti hantu neraka, sepasang mata hitamnya itu sangat kelam, dia melangkah maju dan meraih kerah sang pimpinan penjaga: “Mana Wushuang? Wushuang di mana? Cepat katakan!”


__ADS_2